
KEESOKAN HARINYAA...
Di rumah megah nan tingkat.
"Apakah benar ini rumahnya?" Batin Rendi seraya turun dari mobil lalu berjalan kearah gerbang tinggi nan besar.
"Gerbang nya besar banget! Ternyata benar, dia anak pemilik perusahaan DERLABA GROUP" Gumam Rendi seraya menekan tombol bel yang memang berada di dekat gerbang.
Tingg... Nonggg...
"Apakah tidak ada orang?" Gumam Rendi seraya terus menekan tombol bel.
Brekk... Gerbang terbuka lebar, tampaklah seorang lelaki berdiri tegak menghampiri nya.
"Kau! Ngapain kau kesini?!!" Tegas kak Aldi.
"Paman, eehh... Kak, saya ingin bertemu dengan Azizah," Ucap Rendi penuh keyakinan.
"Gak ada guna nya kau kesini!" Tegas kak Aldi.
"Kenapa? Apakah Azizah tidak ada di dalam?" Kejut Rendi.
"Iya! dia tidak ada disini!" Tegas kak Aldi seraya menekan tombol di sisi gerbang, membuat gerbang tertutup kembali.
"Kak! Saya mohon!"Teriak Rendi, ini pertama kali nya ia memohon.
"Ck." Decak Rendi seraya meninju angin.
"Aku harus mencari tahu!" Gumam nya seraya berjalan kearah mobil.
Breem... Ia menancap gas dengan kecepatan tinggi.
"Bila dia tidak ada dirumahnya, dia sekarang ada dimana??" Gumam Rendi seraya menelusuri seluruh kota yang ada di Indonesia hingga menjelang malam hari.
Di lain tempat, ada seorang wanita berhijab panjang dengan air bening memenuhi sudut matanya di pesawat yang telah lepas landas.
"Bila aku jujur, sebenarnya aku pun sama seperti mu..." Batin Azizah sedih seraya menatap kosong kearah langit malam di balik kaca pesawat.
"Namun, aku lebih memilih untuk meninggalkan sesuatu karena Allah, daripada aku meninggalkan Allah karena sesuatu," Batin Azizah seraya menulis sesuatu di buku diary nya.
"Ketika diriku lebih memilih dirimu maka akulah yang akan dirugikan nantinya, jangan menunggu diriku... Aku akan pergi meninggalkanmu!"
"Dimana kamu, Azizah!!" Teriak Rendi frustasi di dekat jembatan.
"Aku telah lelah mencari mu..." Lirihnya dengan menatap sendu kearah air sungai yang mengalir deras di bawah jembatan.
"Aku tidak mau sakit hati lagi!! Aku membenci kalian para wanita!!!" Teriak Rendi sangat frustasi seraya menaiki pembatas jembatan itu.
"Hey! Apa yang kau lakukan?!" Teriak seorang wanita berpakaian minim dengan rambut lurus nan panjang nya yang di cat warna pink menghampirinya.
"Cepat turun!" Ucap wanita itu yang bernama Isma.
"Astaga!" Kejut Rendi tanpa sadar pegangan nya lepas dan...
"Aaaahhh... Tolong gue gak mau mati!!" Teriaknya dengan mata tertutup.
__ADS_1
"Ck. Diamlah! Kalau gak mau mati, kenapa naikin pembatas," ketus Isma seraya menangkap tangan Rendi.
"Astaga!" Kejut kembali Rendi saat melihat keatas ada kedua benda kembar yang terpampang jelas di matanya.
"Apa yang kau lihat?!" Sinis Isma seraya menarik tangan Rendi.
"Huuhh... Terimakasih," Ucap Rendi setelah kakinya menginjak tanah.
"Kau, siapa?" Ucap Isma.
"Rendi," jawab Rendi dengan nafas yang masih terengah-engah.
"Apakah kau mengetahui tempat apa ini?" Tanya Isma.
Rendi menggeleng.
"Memang ini tempat apa?" Tanya Rendi.
"Inii..." Jawab Isma pelan.
"Isma!" Teriak seorang lelaki dari arah belakang nya.
"Paman! Mengapa Paman kesini?!" Ucap Isma seraya menghampiri pamannya itu.
"Paman..." Ucap Paman nya terhenti seraya menatap Rendi dengan tatapan tajam.
"Siapa lelaki itu?" Tanya pamannya.
"Dia Rendi, Paman," jawab Isma.
"Seperti nya memang benar," Batin pamannya seraya menghampiri Rendi.
"Apa kau telah menikmati nya tuan?" Tanya paman Gilang.
"Menikmati apa?" Tanya Rendi tidak mengerti.
"Apakah tuan menginginkan nya?" Tanya paman Gilang dengan memperhatikan setiap inci tubuh Isma.
"Astagfirullah! Apa maksud mu?!" Kejut Rendi yang memang beragama Islam dari lahir namun, setelah 5 tahun ia tidak lagi mau beribadah karena suatu hal.
"Tidak usah malu tuan, disini kami mempersiapkan hal-hal menyenangkan lainnya," Ucap Paman Gilang seraya mengajak Rendi kesuatu tempat.
"Apa maksud mu?!" Tanya Rendi yang memang tidak mengerti sama sekali.
Isma hanya mengikuti mereka dari belakang.
Glek!
Terlihatlah para wanita cantik berpakaian minim dengan kedua gunung kembar nya terpampang jelas karena pakaian mereka yang juga transparan.
"Astaga!" Batin Rendi seraya mengalihkan pandangannya dari pemandangan yang sangat indah itu.
"Apakah tuan menginginkan mereka?" Tanya paman Gilang.
"Apa maksudnya sih?!" Kesal Rendi dalam hati.
__ADS_1
"Nggak! Saya tidak menginginkan apapun! Umur saya masih 18 tahun!" Kesal Rendi yang sudah tidak tahan dan berlari keluar dari gedung tempat dimana banyaknya maksiat.
"Kembalilah saat umur mu sudah dewasa!!" Teriak Paman Gilang saat melihat Rendi pergi.
"Apa yang Paman katakan! Dia masih muda!" Ucap Isma.
"Tidak ada yang tahu, kedepannya sepeti apa," Ucap Paman Gilang santai.
"Astagfirullah! Bertambah lah dosa gue!" Ucap Rendi kesal seraya pergi dengan mobil dari tempat itu.
Breem... "Dia anaknya wanita itu," Batin Paman Gilang yang mengenal ibu nya Rendi.
FLASHBLACK ON.
"Pria mana lagi, yang kamu bawa Rinda?!" tegas pak Surya saat melihat sang istri membawa seorang pria asing kerumah.
"Itu bukan urusanmu!" ketus mamah Rinda yang membawa pria itu masuk kedalam kamar.
Plakk! satu tamparan mengenai pipi mamah Rinda yang tadinya putih nan halus menjadi berwarna merah membentuk sebuah tangan.
Mamah Rinda menyentuh pipi nya yang terasa perih, dan menatap tajam kedua bola mata suaminya.
"Kamu gak berhak membawanya kesini!" tegas pak Surya.
"Mari sayang, kita lanjutkan permainan nya," Ucap lembut mamah Rinda kepada pria itu tanpa mempedulikan rasa sakit dipipinya.
"Apa yang kamu lakukan?!" titah Pak Surya seraya menarik tangan sang istri.
"Lepas!" kesal mamah Rinda seraya menarik tangannya.
"Ayuk sayang, kita pergi dari sini," Ucap Mamah Rinda seraya menggandeng tangan pria itu.
"Pergi kamu! jangan kembali lagi!!" Teriak tegas pak Surya seraya menutup pintu.
Ceklek! "Dia benar-benar telah berubah!!" Gumam Pak Surya seraya mengepalkan telapak tangannya.
"Papah... Mamah..." lirih Rendi yang berumur lima tahun saat mendengar itu semua dibalik tembok seraya berlari kearah kamarnya.
"Ya Allah, kenapa engkau sekejam ini? memberikan sebuah masalah kepada kedua orang tuaku?!" lirih Rendi kecil dengan wajah yang ia tutupi dengan bantal.
"Aku sangat membenci mu! mulai saat ini aku tidak ingin lagi meminta kepadamu!" janji Rendi kecil yang belum mengerti apapun.
FLASHBLACK OF.
Saat itulah yang membuatnya tidak lagi beribadah kepada Allah.
"Azizah, kamu ada dimana?!!" ngigau Rendi yang telah terlelap di dalam mobil yang terparkir didepan rumahnya.
"Nak?" Ucap seorang wanita berumur 39 tahun yang menatap lekat wajah Rendi.
"Maafkan, mamah.." lirih mamah Rinda yang melihat sang anak tidak ingin masuk kedalam rumah dan malah tidur didalam mobil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Bagaimana nih pendapat kalian tentang chapter ini?
__ADS_1
BANTU AUTHOR UP DONG...🤗 DENGAN LIKE AND KOMENNYA😆😆🥀