
"Apa yang kamu lakukan?!" Bentak Rendi saat sedang sibuk bermesraan bersama wanita itu dikursi kemegahannya.
"Cih! Kenapa kau semakin menjijikan!" Ketus Daniel menatap tajam kearah Rendi.
"Hhmm..." Rendi hanya berdehem lalu kembali bermanja-manja bersama wanita itu.
"Azizah telah kembali!" Ketus Daniel seraya berbalik arah lalu keluar dari ruangan nya.
Degg! "Siapa? Azizah?" Batin Rendi dengan tubuhnya seketika mematung.
"Ada apa?" Tanya sang wanita.
"Ternyata ia... Telah kembali!" Gumam Rendi seraya berjalan pergi meninggalkan wanita itu sendiri.
"Daniel!" Panggil Rendi saat melihat Daniel tertawa bersama karyawan wanita di resepsionis.
Daniel menoleh kearah sumber suara dan ia melihat Rendi yang berlari menghampiri dirinya.
"Kau! Cepatlah cari dia!" Tegas Rendi dengan menatap tajam kearah Daniel.
Glek!
"Ternyata benar yah?! Kamu menyukai nya?" Ujar Daniel menghindari tatapan tajam Rendi kepadanya.
"Entahlah! Cepat cari dia! Atau kau, ku pecat!" Tegas Rendi yang membuat Daniel berdecak ngeri sembari berlari saat melihat kedua bola mata Rendi yang kini tidak bersahabat.
"Tapi kenapa aku peduli?" Batin Rendi keheranan seraya mencari Daniel yang kini sudah tidak ada Batang hidung nya.
"Lumayan cepat!" Gumam Rendi.
"Sayang... Aku lapar," Ujar wanita itu saat melihat Rendi terdiam di resepsionis.
"Kamu mau makan dimana sayang?" Tanya Rendi seraya mengajak sang wanita untuk berjalan keluar lobi.
"Aku ingin ke Mall!" Seru wanita itu.
Bumm...
Breem...
"Baiklah, kamu boleh belanja sepuas nya!" Ujar Rendi santai setelah masuk kedalam mobil lalu menyetir.
"Benarkah?! Aku semakin sayang padamu!!" Girang sang wanita sangat bahagia seraya menyenderkan kepalanya kepada bahu Rendi.
"Apapun untuk mu, sayang,," jawab Rendi senang.
Sesampainya di Mall Central park.
"Sayang! itu bagus sepatu nya!" girang wanita itu seraya berjalan menghampiri toko sepatu disana.
"Ambillah sesukamu! aku yang akan bayar," tukas Rendi seraya duduk di kursi yang telah tersedia didepan toko sepatu itu.
Di lain tempat, ada seorang wanita berhijab panjang-cadar hitam sedang berjalan bersama keponakannya didepan Mall itu.
"Kak, beli eskrim di Mall, 'yuk?" tanya Diana seraya berlari memasuki Mall itu.
Uswah hanya tersenyum melihatnya seraya mengikutinya dari belakang.
"Dimana keponakan ku itu??" Batin Uswah seraya mencari keberadaan Diana setelah masuk kedalam Mall.
"Ternyata masih ada di jaman sekarang yang memakai pakaian ******* seperti itu!" Batin Rendi saat melihatnya berlari menghampiri seorang anak perempuan yang sudah mengantri disepanjang antrian penjual Es krim.
"Diana jangan nakal! ingat kata bunda apa?!" isyarat tangan Uswah setelah sampai dan menarik Diana untuk keluar dari antrian.
"Bahasa isyarat?" Batin Rendi saat melihat pergerakan tangan wanita yang ia bilang ******* itu.
"Iya,, tapikan aku ingin es krim..." Gumam Diana sedih.
"Kita beli es krim ditempat lain saja! disini sudah terlalu ramai,," isyarat tangan Uswah seraya menggandeng tangan Diana dan membawanya ke penjual Es krim lainnya.
"Hikss...Hikss... tapi hanya es krim itu yang terlihat enak!" Gumam Diana dengan air mata yang telah jatuh membasahi pipi nya, namun ia sembunyikan dari Uswah.
"Anak itu menangis?!" Gumam Rendi seraya berjalan tergesa-gesa menghampiri mereka.
"Mba!" ujar Rendi.
Uswah dan Diana menoleh ke arah sumber suara dibelakang nya.
*Glek! "Bukankah diaa..." Batin Uswah terkejut.
Rendi mendekati Diana yang berjongkok didepannya*,
Wajah datar tanpa ekspresi yang Uswah lihat tadi seketika berubaha menjadi sangat teduh nan menenangkan.
"Kamu ingin es krim itu?" Tanya Rendi menunjuk kearah penjual Es krim tadi tanpa menoleh kearah Uswah.
__ADS_1
"Iya,, Paman," lirih Diana
"Jangan menangis! Paman akan belikan untukmu,, yuk?" ujar Rendi seraya menggandeng tangan Diana untuk kembali berjalan ke arah penjual Es krim tadi.
"Benarkah? TERIMAKSIH Paman!" girang Diana seraya berjalan dengan sangat gembira.
"CEO perusahaan LANCARJAYA datang!" ujar seorang lelaki berambut ikal berkulit hitam.
"Mana? mana?"
"Wahh.. ternyata sudah punya anak ya?"
"Anaknya cantik sekali,"
"Aku kira masih bujang,,"
Semua orang memberikan jalan untuk Rendi dan Diana yang berjalan menuju meja pesanan.
"Beli es krim caramel and coklat, dua!" tegas Rendi yang membuat para pegawai itu dengan cepat langsung melaksanakan nya.
Uswah terdiam mematung ditempat dengan terus memperhatikan keduanya bagaikan seorang 'ayah' dan 'anak'.
"Nih,, makanlah," ujar Rendi lembut seraya memberikan Diana ea krim yang telah tersaji di meja pesanan.
"Terimakasih Paman baik!" Girang Diana seraya mengmabil kedua es krim itu lalu berlari kearah Uswah.
Supp... Tanpa sengaja es krim yang ia bawa mengenai jas hitam Rendi.
"Ya Allah! Paman, maafkan aku..." Ujar Diana merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, cepatlah kembali ke ibumu,," ujar Rendi seraya membersihkan noda es krim itu dengan tisu.
"Baik, Paman!" Girang Diana seraya berjalan dengan sumringah menghampiri Uswah.
"Kak, ini untukmu,," ujar Diana seraya memberikan satu ea krim kepada Uswah yang terdiam memperhatikan Rendi.
"Kak!" Ucap Diana sedikit keras hingga membuat Uswah menoleh kearahnya.
"Sejak kapan Diana ada disini?" Isyarat tangan Uswah yang memang tidak menyadarinya.
"Dari tadi aku udah kesini,, kakak, lihatin paman itu terus sih!" Kesal Diana dengan menjilati es krim ditangannya yang mulai cair.
"Sayang, jas mu kenapa??" Kejut sang wanita menghampiri Rendi dengan jas nya yang masih ada sedikit noda es krim.
"Hah?! Ternyata anak perempuan itu bukan anaknya,, lantas siapa wanita yang mendekati nya itu??"
"Kamu sudah selesai belanja nya, sayang?" Tanya Rendi yang berjalan sembari melingkarkan satu tangannya memeluk perut ramping wanita itu.
"Sudah! Kita kembali pulang saja,," ujar wanita itu tiba-tiba merasa ada yang tidak beres dengan tatapan Uswah kepadanya.
"Sangat menjijikkan!" Batin Uswah seraya berjalan bersama Diana ke toko lainnya.
"Es krim nya enak! Kakak, tidak mau?" Ujar Diana memperlihatkan tangannya lengket akibat es krim yang tak ada habis nya.
"Makanlah yang benar,," isyarat tangan Uswah seraya membersihkan es krim yang belepotan disepanjang bawah bibir Diana.
Ddrrttt...
"Andrew ingin Vidio call?" Batin Uswah terkejut seraya mengangkat panggilan Vidio Call tersebut.
"Uswah, Gawat!" Ujar Andrew tiba-tiba yang membuat Uswah kembali terkejut.
"Ada apa?!" isyarat tangan Uswah yang melihat kepanikan nya Andrew.
"Apa benar, kamu akan menikah?" Tanya Andrew yang mengetahui itu dari para karyawan Uswah yang bergosip bila ia akan menikah.
Uswah mengangguk.
"Gawat! ini, benar-benar Gawat!" Batin Andrew.
Tuutt....
"Ada apa dengannya??" Batin Uswah saat melihat Vidio Call nya di matikan secara sepihak.
KEESOKAN HARINYA
Uswah mendatangi perusahaan DERLABA GROUP untuk menghilangkan kebosenan, ia mendapatkan tugas dari sang kakak untuk mendatangi lahan pertanian milik keluarga nya selebar 20.000 H.
DESA KALIASRI
Cchiitt...
"Sepertinya ini tempatnya,," Batin Uswah seraya turun dari mobil dan memperhatikan para petani yang sedang bekerja menanam padi.
"Cuaca nya sangat asri,," Batin Uswah senang seraya menghampiri para petani tersebut.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum,," isyarat tangan Uswah yang dimengerti oleh semua para petani disana.
"Wa'alaikumussalam,, Neng Uswah! Kan, 'ya?" Ujar salah satu petani yang memakai topi jerami.
Uswah mengangguk dan tersenyum dibalik cadar hitam nya.
"Saya dengar Non, ingin mengecek tanaman disini,," ujar petani lainnya dengan tangannya dipenuhi tanah.
"Silahkan Neng, jika ingin mengecek nya bisa saya yang antarkan,," ujar petani bertopi jerami itu.
Uswah mengangguk seraya mengikuti pak petani itu.
"Disini Neng, kami menanam padi serta tanaman sayuran lainnya dengan kualitas yang sangat baik!" Ujar petani bertopi jerami itu.
"Bisa di cek Neng,," ulang petani itu.
Uswah menyentuh pohon padi yang sudah menunduk itu dan memperhatikan daun nya yang sangat terjaga serta tidak ada lubang-lubang akibat gigitan ulat.
"Sangat terjaga,," Batin Uswah.
"Ini sudah jam makan siang, semuanya mari kita makan!" Ujar seorang paruh baya sembari membawakan beberapa makanan ke gubuk yang ada di tengah-tengah sawah.
"Mari Neng,, kita makan," ajak petani bertopi jerami itu yang membuat Uswah kembali mengikuti nya ke arah gubuk itu.
"Ini Neng Uswah, anak pak Hamzah ya?!" Ujar seorang wanita paruh baya itu.
Uswah mengangguk seraya tersenyum.
"Sudah besar ya sekarang,, padahal dulu masih sangat kecil, sekitar tiga tahun,," ujar wanita paruh baya itu seraya mempersilahkan Uswah untuk duduk di gubuk itu.
"Ibu kenal ayahku?" Isyarat tangan Uswah yang juga di mengerti oleh wanita paruh baya itu.
"Iya lah Neng,, dulu kami adalah teman masa kecil di kampung ini..." ujar wanita paruh baya itu.
"Ayah dulu tinggal disini??" Isyarat tangan Uswah.
"Iya! Dulu ayahmu selalu bermimpi ingin membeli lahan pertanian ini dan akhirnya ia bisa mewujudkan nya, namun takdir telah memulangkannya kembali,," ujar wanita paruh baya itu dengan pandangan sayu menatap lahan pertanian itu.
"Hhm... Ternyata ini lah tempat masa kecil ayah,," Batin Uswah seraya menoleh sekeliling nya.
"Sudah! Kok malah jadi sedih, dimakan atuh!" Ujar wanita paruh baya itu menyembunyikan rasa sedih dihatinya saat melihat Uswah ikut bersedih.
Uswah tersenyum sembari mengangguk.
Selang beberapa menit, mereka telah usai makan. Uswah mencoba untuk ikut dalam penanaman padi tersebut dengan menggunakan topi jerami diatas kepalanya.
"Begini Neng, menanam sayur kangkung nya jangan terlalu berdempetan dengan lainnya agar bisa tumbuh lebat,," ujar pak petani bertopi jerami itu dengan mempraktekkan nya.
Uswah memperhatikannya dengan cermat.
"Cobalah, pelan-pelan saja Neng,," ujar petani bertopi jerami itu seraya memperhatikan Uswah.
Pukk... "Bismillah,," Batin Uswah seraya menepuk-nepuk tanah itu.
"Sangat baik!" Ujar pak petani bertopi jerami itu bangga.
Uswah tersenyum kepadanya dan melihat para petani lainnya sedang mencabuti rumput di lahan tempat penanaman sawi.
"Sepertinya seru!" Batin Uswah seraya menghampiri para petani itu.
"Ehh... Neng," ujar para petani itu saat menyadari keberadaan Uswah.
"Boleh saya bantu?" Isyarat tangan Uswah dengan sedikit tanah yang menempel di telapak tangannya.
"Jangan atuh Neng! Nanti tangan nya tambah kotor,," ujar salah satu petani.
Uswah menggeleng seraya menggunakan kedua tangannya ia menarik rumput yang lumayan besar nan kuat itu dengan susah payah.
"Kenapa keras sekali?!" Batin Uswah yang terus berusaha menarik rumput itu dengan sekuat tenaga.
Brekk... Brrukk... "Aduh!" Rintih Uswah dalam hati saat ia terjatuh dan mendapati rumput itu telah lepas.
"Ya Allah! Neng, Gpp?" Tanya para petani khawatir.
Uswah menggeleng seraya tertawa dibalik cadar nya tanpa suara.
Chiitt...
Tiba-tiba datang satu mobil yang terparkir tepat disebelah mobil Uswah. Keluarlah seorang lelaki berparas tampan dengan pakaian formal serta kaca mata hitam terpasang di kedua matanya.
Ia menoleh kearah para petani dan satu wanita bercadar di tengah-tengah sawah itu dengan angkuh.
Cekrek! Dan keluar juga kedua anak buahnya dengan tampang yang sedikit menyeramkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN**😊**
KOMEN YUK?? KOMEN,,KOMEN,,😆😉