
"Memang dia menganggap ku apa?" Batin Isma seraya melanjutkan makan nya.
Di lain tempat, tepatnya di Amerika. ada seorang wanita berhijab panjang sedang bermain boneka bersama keponakannya bernama Daini yang sekarang telah menginjak usia 5 tahun.
"Si raja jahat telah datang... HAHA!!" Ujar Daini yang sedang menggerakkan sebuah boneka raja.
"Sang Putri kerajaan Sinan menghampirinya dengan berkata 'Tuanku, maukah anda melepaskan ku??" Tanya sang Putri yang telah di sekap oleh para prajurit didepan matanya.
*"AKU TIDAK AKAN MELEPASKANMU!! SEKARANG JUGA KAMU HARUS MENIKAH DENGANKU!!"* Ujar sang raja dengan menarik kasar lengan sang Putri.
Hati sang Putri menjadi sangat takut, hingga para prajurit melakukan tugas nya yaitu 'mempersiapkan acara pernikahan secepatnya!'
"Saya mohon!! Tuan tolong ampuni saya!!" Ngelak Putri dengan memohon kepada raja jahat itu.
*"TIDAK AKAN!! KITA AKAN MENIKAH SEKARANG JUGA!!"* Tegas raja jahat itu seraya menarik secara kasar lengan sang putri dan membawanya untuk segera menikahi nya.
"Tidak!! Saya tidak akan menikah dengan mu, tuan!!" Tegas sang Putri seraya menarik tangannya dan berlari meninggalkan istana.
"Cepat!! bawa dia kembali!" tegas sang raja seraya berjalan kearah kamar mewah miliknya.
"Saya mohon!! jangan tangkap saya!" ujar sang Putri dengan memberontak dari pegangan para prajurit.
"Ini, saya!" Ucap seorang prajurit seraya membuka masker yang menutupi wajahnya.
"Pangeran??" kejut sang Putri saat menyadari wajahnya.
"Dan pangeran membawa sang Putri dengan kuda menuju istana nya, Selesai..." ujar Daini seraya tersenyum kearah Uswah yang memainkan boneka sang Putri.
"Kak, Uswah. pantas menjadi sang Putri nya!" Ucap Daini antusias saat melihat wajah Uswah sangatlah cantik tanpa makeup.
"Kamu bisa aja.." isyarat tangan Uswah seraya mengusap lembut punuk kepala Daini.
"Nak, setelah selesai bereskan!" ujar Kak Della yang sedang sibuk memasak.
"Baik, Bu!" jawab Daini seraya langsung merapikan mainannya dan membawa boneka itu ke kamarnya.
"Nak, umi mau bicara,," jelas umi Adiba saat melihat Uswah di ruang tamu.
Uswah mengangguk seraya mengikuti umi Adiba menuju kamar.
"Nak, bacalah ini,," jelas umi Adiba seraya memberikan secarik kertas kepada Uswah.
Uswah menerimanya dengan keheranan seraya membaca kertas tersebut.
*"Anakku Azizah, walau engkau masih kecil,, namun ayah selalu ingin yang terbaik untukmu.
Satu pesan ayah untuk mu... Disaat kamu dewasa, tetaplah menjadi wanita Sholehah yang berpegang teguh pada agama dan ayah telah bersepakat dengan sahabat ayah, bila kamu akan di jodohkan oleh anak laki-laki nya yang kini juga berusia sama seperti mu.
Bulir-bulir air mata telah lolos dari mata indah nan lentik sang empu yang sedang membaca, membuat secarik kertas itu terkena tetesan demi tetesan air bening kerinduan itu...
"Di- di jodohkan?!" Batin Uswah terkejut seraya menatap sang umi.
Umi Adiba tersenyum dengan mengangguk.
"Itu pesan ayahmu, kepadamu nak," ujar umi.
"Kapan kita akan bertemu dengan mereka?" Isyarat tangan Uswah.
"Nanti kita akan bertemu mereka di restauran,," jelas umi Adiba.
"Baiklah ayah, in shaa Allah aku akan menjalani amanah terakhir mu ini,," Batin Uswah.
"Kamu sudah dewasa sekarang, nak." Ucap Umi Adiba memeluknya bangga karena tidak ada bantahan sama sekali dari sang anak.
"Kamu bersiap-siaplah, kita akan bertemu dengan mereka," ujar umi Adiba seraya melepaskan pelukan dan keluar dari kamar Uswah.
Ceklek!
"Hikss...Hiks.. Ya Allah, hamba harus bagaimana? Di sisi lain hati ku telah ber tetap di satu hati yang kini telah lama ku tunggu kehadiran nya yang berani langsung menemui orang tuaku dan menyatakan perasaannya."
"Kenapa aku selalu menunggu nya yang tidak pasti?! Sedangkan ini sudah bertahun-tahun lamanya ku pendam rasa ini... Mulai saat ini aku akan melupakannya! Dan memulai kehidupan baru dengan menerima perjodohan ini," Tekad Uswah dalam hati.
Brukk...
Ia terduduk lemas di atas kasur empuk nya seraya menangis tanpa suara.
Bugh... Pukk...
"Hati! Sudahlah, lupakan saja dia!!" Batin Uswah seraya memukuli dadanya yang terasa sakit bukan di luar melainkan didalam.
Andai hati bisa berbicara, maka ia akan bercakap "Aku tidak bisa melupakannya! Aku akan berjuang menunggu dirinya!"
"SUDAHLAH! Kamu, akan lelah menunggu nya!" Batin Uswah seraya terus menangis dengan keras walau tanpa suara.
Selang beberapa menit, Uswah keluar dari kamarnya dengan pakaian rapih serta cadar nya dan kedua bola matanya yang terlihat membengkak karena menangis.
__ADS_1
"Nak, kenapa matamu tiba-tiba bengkak?" Tanya sang umi yang telah menunggu nya.
"Tidak apa-apa umi, mari kita bertemu mereka,," isyarat tangan Uswah seraya berjalan keluar dari rumah.
"Nak, persiapkan semuanya,," ujar umi Adiba kepada kak Della yang sibuk menyirami bunga di depan rumah.
"Baik, umi," jawab kak Della dengan tersenyum karena ia tau apa yang dimaksud kan.
"Dek, kenapa mata mu bengkak?" Tanya kak Della saat melihatnya.
Uswah hanya menggeleng seraya masuk kedalam mobil.
Umi dan kak Della saling menatap dan tersenyum lesuh melihatnya.
DI RESTORAN...
Uswah melihat ada seorang wanita berumur berhijab panjang yang sedang duduk di sebelah seorang lelaki tampan yang memakai jas hitam dengan dasi terpasang rapi di lehernya.
"Ustadzah Ainun!" Ujar Umi Adiba seraya menghampiri mereka bersama Uswah.
"Assalamu'alaikum..." ujar umi Adiba seraya memeluk sahabat lamanya itu.
"Wa'alaikumussalam, apa kabar Dib?" jawab Umi Ainun seraya membalas pelukannya.
Kedua bola mata lelaki tampan itu menatap lama kepada Uswah yang terus menundukkan pandangan tanpa berkedip.
"Matanya..." Gumam Reno yang mengenal pemilik mata itu.
"Mata nya,, seperti wanita yang pernah ku suka saat SMA," Batin Reno yang terus menatap kedua bola mata Uswah yang terus menunduk.
"Jaga pandangan mu, nak," ujar Umi Ainun saat melihat kedua bola mata sang anak terus menatap kearah Uswah.
"Astagfirullah,," batinnya istighfar.
"Ini, nak Uswah.. ya?" Ucap umi Ainun seraya memeluk lembut Uswah.
Uswah mengangguk.
"Mengapa namanya jadi Uswah?" Batin Reno yang sangat mengenal pemilik mata indah nan lentik itu.
"Maa Shaa Allah, cantik sekali,," ujar Umi Ainun seraya menempelkan pipi nya ke pipi Uswah yang tertutup cadar.
"Baiklah, mari duduk,," ujar umi Ainun mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Bagaimana, bila secepatnya melangsungkan pernikahan saja?" Ujar Umi Ainun yang membuat dua anak muda itu terkejut.
Uhuukk.. Uhukk...
"Pernikahan siapa?" Kejut Reno.
"Kalian berdua,," jelas umi Ainun yang membuat Uswah juga terkejut.
Glek!
"Secepat itu??!" Batin Uswah seraya tanpa sengaja kedua bola matanya kini bertatapan secara langsung mata sang lelaki itu.
Degg!
"Tuh! Kan, mereka saja sudah tidak bisa menahan pandangan saat melihat satu sama lain,," ujar Umi Ainun saat menyadari nya.
"Astagfirullah,," Batin kedua nya saat tersadar.
"Afwan umi, boleh ana bicara berdua bersama nya? Tetapi dengan jarak yang sangat jauh,," jelas Reno yang membuat Umi Ainun berfikir.
"Baiklah, nak," jawab Umi Ainun seraya mengajak umi Adiba untuk duduk sebentar di kuris lainnya.
"Afwan sebelum nya, apakah benar anti adalah Azizah?" Tanya Reno memastikan.
Jari jemari Uswah bergetar dengan wajahnya yang ia tundukkan.
"Maaf sebelumnya, ana tidak bermaksud menakuti anti, namun ana hanya ingin memastikan,," jelas Reno.
Uswah menjadi bimbang di buatnya dan terus terdiam.
Selang beberapa menit, akhirnya Uswah mengangguk yang membuat Reno tersenyum.
Deg! Degg!
"Astagfirullah! Tampan sekali,," Batin Uswah saat tanpa sengaja menatap sekilas kearah Reno yang tersenyum, itu membuat jantung nya berdetak kencang.
"Akhirnya ana kembali bertemu denganmu,," ujar Reno senang.
"Apakah anti sudah membaca surat dari ana? Ulang Reno.
Uswah mengangguk.
__ADS_1
"Berarti dia sudah mengetahui nya,," Batin Reno.
"Sudah, ya? Tidak baik berbicara berdua lama-lama,," ujar Umi Ainun yang menghampiri mereka bersama Umi Adiba.
"Na'am, Umi," jawab Reno.
Di lain tempat, tepatnya di Indonesia(Jakarta)
Drrtt... Drtt...
"Halo?" Ujar Rendi.
"Ren, apa kamu tidak mempedulikan wanita yang bersama mu kemarin?!!" Ucap Daniel di sebrang telfon.
"Iya! Aku tidak peduli,," jawab Rendi santai seraya menutup telfon secara sepihak.
Tuutt...
"Ck! Dia selalu saja membuat masalah yang membuatku terlibat!" Kesal Daniel seraya mengurus wanita itu yang masih pingsan dengan bantuan para bawahan nya.
"Cepat! Bereskan! Jangan sampai saat bos datang, ini semua belum selesai!" Tegas Daniel seraya pergi meninggalkan para bawahan nya itu diruangan Rendi.
"Aku akan berangkat,," ujar Rendi seraya pergi dari meja makan.
"Tunggu!" Ujar Isma seraya menghampiri Rendi.
"Pasanglah yang rapi! Walau kamu adalah bos nya,," Ucap Isma seraya membenarkan dasi Rendi.
"Hhm... Terimakasih,," jawab Rendi seraya pergi dari rumah.
"Dia sudah dewasa,," Gumam Isma senang saat melihat punggung tegal Rendi telah hilang dari pandangannya.
*Di perusahaan LANCARJAYA GROUP...*
"Selamat pagi, tuan," sapa para karyawan.
"Hmm... Daniel, kau sudah membereskan nya?" Tanya Rendi saat melihat Daniel keluar dari lift tanpa mempedulikan sapaan dari para karyawan nya.
"Hhm..." Daniel mendengus kesal.
"Itu memang sudah tugasmu!" Tajam Rendi seraya masuk kedalam lift.
"Huh! Kalau dia Rendi temanku dulu, akan ku pukul tuh kepalanya!" Gumam Daniel mengumpat.
"Aku mendengarnya!" Tegas Rendi saat pintu lift perlahan-lahan mulai tertutup.
Glek!
"Habislah, aku,," batin Daniel seraya berlari menjauh dari lift.
Ddrtt...
"Ada apa?!" Kesal Daniel setelah menjawab telfon.
"Bawakan aku wanita yang lebih cantik nan seksi!" Tegas Rendi disebrang telfon.
"Cuih! Yang kemarin saja tidak dipedulikan, sekarang minta lagi?!" Batin Daniel.
"Kau, mendengarnya?!!" Tegas Rendi.
"Iyaa,, aku mendengarnya," jawab Daniel seraya menutup telfon.
Ceklek!
Datanglah seorang wanita seksi dengan pakaian yang sangat minim dengan kedua paha putih nan mulus terlihat jelas, membuat kedua bola mata Rendi menatap tajam kepadanya bagaikan seekor singa ingin melahap mangsa nya.
"So ****,," Gumam Rendi yang membuat wanita itu mendekatinya.
"Kita mulai, yuk? Tuan,," ujar sang wanita itu yang telah siap melayani nya.
Rendi tak menjawab, ia hanya menatap kedua paha putih nan mulus itu yang membuat sang jantan meminta jatah.
Bbrukk... Karena sudah tidak tahan, akhirnya Rendi kembali melakukan nya di sofa bersama wanita itu.
Selang beberapa jam, permainan mereka telah usai dengan pakaian yang berserakan dimana-mana.
"Aku sangat menikmati nya, sayang..." ujar sang wanita itu dengan tubuh polos mereka tertutup oleh selimut.
Rendi hanya memperlihatkan senyuman terpaksa nya kepada wanita itu.
"Ck! wanita ini kenapa mirip sekali wajahnya dengan wanita itu?!" Batin Rendi seraya menatap tajam kearah wajah sang wanita yang memeluknya dalam keadaan mata tertutup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BANTU UP DONG... DENGAN LIKE AND KOMENNYA😊
__ADS_1