
"Huuff... Capek!" Keluh Isma setelah berhenti menggayung.
"Kita masih di tengah danau," ujar Rendi yang membuat Isma terkejut.
"Hah?! Berarti dari tadi, gak jalan-jalan nih perahu?!" Kesal Isma.
"Hmm..."
"Hadeh! Padahal udah capek-capek!" Keluh Isma dengan tangan yang lemas.
"Nih! Pakai ini saja," ketus Rendi seraya menarik tali yang memang terpasang disisi perahu yang di ikatkan ke pohon besar di tepi danau.
"Bilang kek dari tadi!" Kesal Isma seraya melihat kearah ombak kecil yang ada di danau.
"Ituu... Seperti,," gumam Isma seraya terus memperhatikan buih-buih air itu.
Buarr... Seekor buaya memunculkan kepalanya menghampiri perahu mereka.
"Buaya!" Kejut Isma seraya berjalan kearah dekat tali yang Rendi tarik.
"Cepat! Kamu duduk di kursi ku!" Tegas Isma seraya sekuat tenaga menarik tali itu.
Rendi yang melihat ada buaya pun akhirnya menuruti perintahnya.
"Buaya,, itu!" Batin Rendi yang melihat buaya itu berjalan kearah tangan Isma yang sedang menarik tali.
"Tanganmu!" Teriak Rendi yang membuat Isma secara refleks melepaskan tarikannya.
Byurr.... "Hampir saja,," lega Isma.
Bruuk... Brukk...
"Buaya nya!" Kejut Rendi yang melihat buaya itu terus menabrakan kepala nya ke perahu.
"Kita harus cepat!" Ujar Rendi yang membuat Isma kembali menarik tali.
Byurr... Bughh... Perahu terbalik yang mengakibatkan mereka menyebur ke danau.
"Wuahh! Cepat kita ketepi danau!" Teriak Isma yang melihat Rendi terapung di dekat perahu.
"Ada buaya di belakang mu!" Teriak Rendi yang melihat buaya itu membuka lebar mulut nya seraya mendekati Isma.
"Hah?!" Kejut Isma seraya menoleh kearah belakang.
Brekk... "Untung saja,," ujar Isma yang mengganjal ranting besar ke mulut buaya itu. Karena di dalam air tumbuhlah berbagai macam tumbuhan termaksud yang beranting.
"Cepat! kita harus ke tepi danau!" Teriak Isma seraya berenang menuju tepi danau.
Prekk... Ranting itu patah, dan buaya kembali mengejar Isma yang masih berenang.
"Cepat!" ujar Rendi saat dirinya telah sampai di tepi danau.
Byur... Byuur.... Buaya itu menarik pakaian Isma dan membawanya ke dasar danau.
"Astaga!" kejut Rendi seraya berenang ke dasar danau.
Byurr... "Dia dimana?" batin Rendi yang melihat di danau banyak ranting-ranting menghalangi nya.
"Rendi!!" jerit Isma didalam hati saat melihat Rendi di balik ranting-ranting.
"Itu,," Batin Rendi seraya memalingkan pandangannya.
__ADS_1
"Kenapa ia memalingkan pandangan?" Batin Isma yang sedang menahan buaya itu memakan nya.
"Pakaian ku!!" jerit Isma didalam hati saat melihat pakaian minim nya kini telah lepas dari tubuhnya akibat buaya itu yang terus merobek nya.
"Huuh! ini buaya membuatku kesal!" Batin Isma seraya menendang buaya itu didalam air.
Bughh... "Rasain!" Batin Isma yang melihat buaya itu pergi meninggalkan nya setelah di tendang.
*Byur... "Oksigen! aku butuh oksigen!" jerit Isma dengan tubuh mengapung di tengah danau. Rendi melakukan hal yang sama.
"Huh... Huuh..." Isma ngos-ngosan.
Rendi yang mengetahui jika Isma tidak memakai pakaian akhirnya menjauhi nya dan berenang ke tepi danau.
"Aku akan membawakan mu pakaian,," ujar Rendi yang melihat air danau menutupi tubuh Isma hingga di atas dada.
"Baiklah,," jawab Isma yang merasa malu dengan pipi nya telah berwarna kemerahan.
Selang beberapa menit, Rendi datang membawakan pakaian nya dan ia segera memakainya di balik pohon besar.
"Sudah!" ujar Isma yang membuat Rendi membalikkan tubuhnya.
"Cantik,," Gumam Rendi tanpa sadar saat melihat pakaian yang ia berikan kepada Isma berbaju muslimah.
"Apa, aku gak kayak ibu-ibu??" ujar Isma keheranan dengan pakaian yang ia kenakan.
"Nggak! kamu Muslim, 'kan?" Tanya Rendi.
"I-iyaa,," jawab Isma.
"Itulah pakaian mu sebenarnya," ujar Rendi yang membuat Isma sedih.
"Iya sih, tapi karena pakaian inilah aku dibuang,," Gumam Isma yang dapat didengar oleh Rendi*.
"Dia mendengarnya?" Batin Isma*.
Flashblack Of. (*Nanti di lanjut lagi)
"Hahh?!" kejut Rendi terbangun dari tidur nya.
"Apa aku tertidur?" gumamnya.
"Wanita itu,, jangan sampai membuatku bermasalah," gumamnya seraya berjalan kearah kamar mandi.
"Wajahnya pucat,," Batin nya seraya menggendong tubuh wanita itu dan menaruhnya di atas kasur.
"Terimakasih*, Wanita murahan!" *ujar Rendi yang menebalkan nada suara di akhir ucapannya seraya menutupi tubuh polos wanita itu dengan selimut.
"Cepat datang keruangan ku!" tegas Rendi di dalam telfon.
"Baik!" jawab orang di sebrang telfon.
Selang beberapa menit, seorang dokter wanita datang dengan seorang suster dan mulai memeriksa wanita itu. Sedangkan Rendi, pergi meninggalkan ruangannya.
Takk... Taak...
"Menyusahkan saja!" Gumam Rendi seraya kembali berjalan masuk kedalam mobil mewah miliknya.
Bremm... ia mulai menancapkan gas mobil menuju rumah mewah yang dia miliki seorang diri.
KESOKAN HARINYA...
__ADS_1
Rendi mulai membuka secara perlahan kedua bola matanya yang kini telah terkena sinar mentari pagi dari balik kaca.
"Kenapa,, dadaku terasa berat?" Batin nya seraya menoleh kearah sebelahnya.
"Sejak kapan dia tidur disini?" batinnya saat melihat Isma memeluk tubuhnya dalam keadaan tidur.
"Kamu sudah bangun?" ujar Isma yang melihat Rendi tiduran dalam keadaan mata melek.
"Iya,," jawab Rendi.
"Ehh...ya,, maaf!" sadar Isma seraya menarik tangannya dari dada bidang Rendi.
"Sudah berapa lama kamu bangun?" tanya Isma seraya mulai turun dari kasur dan mengambil handuk.
"Sudah dua jam lamanya,," ujar Rendi seraya turun dari kasur dan langsung masuk kedalam kamar mandi.
Brekk... "Ada apa dengannya?" Gumam Isma yang melihat Rendi terburu-buru.
Krukk... Krruk.. "Aku turun saja deh!" batinnya seraya keluar dari kamar dan menuruni satu persatu tangga disana karena rumah itu bertingkat 3.
"Apa dia sudah pergi?" Batin Rendi yang mengintip sedikit di celah pintu toilet.
"Dia sudah tidak ada,," Gumam nya seraya kembali membuka pintu.
Degg.. "Kenapa jantungku berdetak kencang?" batinnya seraya keluar dari kamar menuju meja makan.
"Selamat datang, tuan,," sapa para pelayan saat melihat Rendi baru saja turun dari tangga.
"Sayangku, duduk sini!" ujar Isma seraya menepuk-nepuk kursi sebelahnya.
"Baiklah,," jawab Rendi seraya duduk di sebelah Isma.
"Kamu mau makan apa?" tanya Isma seraya menyiapkan makanan untuk Rendi.
"Apa saja,," ujar Rendi singkat.
Setelah mendengarnya, Isma dengan cekatan mengambil satu persatu lauk yang telah tersedia di meja makan.
"Bukankah,, mereka bukan suami istri, ya?" bisik para pelayan wanita yang menemani mereka dengan berdiri.
"Iya, mereka bukan suami istri! tetapi kenapa bisa tinggal serumah??" jawab lainnya dengan berbisik.
"Kalian pergilah!" tegas Rendi setelah mendengarnya.
"Hah?! Dia mendengarnya,," Gumam para pelayan wanita itu seraya pergi meninggalkan mereka berdua.
"Sudah, tidak apa-apa,," jawab Isma seraya melanjutkan melahap makanan nya.
"Hhmm..."
"Tapi saya tidak suka!" Gumam Rendi.
Isma yang mendengarnya, hanya diam saja.
"Memang, dia menganggap ku apa?" Batin Isma.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BANTU UP DONG... DENGAN LIKE AND KOMENNYA😊😊
TERIMAKASIH TELAH MAMPIR🤗
__ADS_1
SALAM DARI AUTHOR KEPADA PARA READERS YANG BELUM KENAL Dengan ku🤗🤗😊