
''Ini sudah kelewat dari jam sholat! A-aku harus sholat!'' Isyarat tangan Uswah yang gelagapan saat menyadari tatapan dirinya seperti orang yang nafsuan.
Ia segera berjalan menuju ke kamar mandi,, lalu menutup pintu dengan pelan.
Ceklek!
"Ouh ya? mengapa aku tidak mengganti pakaian ku didalam kamar mandi tadi??" Gumam Rendi yang sudah selesai menggantikan pakaian basahnya.
"Biarkan sajalah! Toh! sudah halal,," Ujar Rendi santai seraya memakan makanan yang tadi diantarkan pelayan.
"Mengapa dia lama sekali? kan sudah ingin adzan magrib??" Gumam Rendi saat melihat pintu kamar mandi belum juga terbuka padahal jam telah menunjukkan pukul 17:30.
Tokk... Took...
Ia mulai mengetuk pintu kamar mandi dan dapat membuat Uswah seketika terdiam didalam.
"*Bagaimana inii???" Batin Uswah bingung saat menyadari jika dirinya sedang datang bulan dan lupa membawa pembalut.
"Apa aku harus meminta bantuannya?" Batin nya bimbang bertambah malu*.
Ceklek! Dengan malu-malu ia mengeluarkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi.
Deg!
Glek!
"Kenapa harus sedekat ini?!!" jerit Uswah dalam hati saat tanpa sengaja dahi nya dengan dahi Rendi menempel satu sama lain.
"Ada apa?" Tanya Rendi dengan nafas yang dapat dirasakan oleh wajah Uswah.
"A-anu,, Tolong aku..." Isyarat tangan Uswah yang juga ia keluarkan dari balik pintu.
"Tolong apa?" tanya nya dengan dahinya yang terus menempel bagaikan diolesi lem dengan dahi Uswah.
"Pembalut!" Isyarat tangan Uswah yang benar-benar malu karena dirinya hanya memakai handuk kimono serta handuk kecil yang dililitkan diatas kepalanya.
"Pembalut? itu apa?" Tanya Rendi polos yang memang tidak pernah tau barang yang biasa digunakan wanita seperti itu.
"Aiiss... Kok dia gak ngerti sih?!" Batin Uswah kesal seraya dengan berat berjalan keluar kamar mandi.
Glek!
Lagi,, Dan Lagi,, ia melihat pemandangan yang sangat menakjubkan dan hanya bisa dilihat olehnya saja.
__ADS_1
"Aakhh... Si*l!" pekik Rendi dalam hati saat merasakan bagian bawah ada sesuatu yang menegang.
Ia melihat betis putih mulus nan bersih tanpa bulu sedikit pun itu terpampang jelas dikedua bola matanya ditambah dengan leher jenjang Uswah yang dapat menggoyahkan iman nya.
Kreek....
"Pembalut itu,, seperti ini!" Isyarat tangan Uswah seraya memperlihatkan sebuah bungkusan pembalut yang ia ambil di dalam laci meja nakas.
"Eehh... kok ada?" Batin Uswah yang memperhatikan bungkusan itu masih ada isi didalamnya.
"Apa itu,, yang disebut pembalut??" Ujar Rendi tanpa menghiraukan bungkusan itu, ia hanya terus terdiam menatap pemandangan yang sangat nyata didepannya.
"I-iya,, " isyarat tangan Uswah dengan menoleh menatap Rendi yang sedang menatap kedua kaki miliknya.
"Huuh! Ternyata dia menikmati keindahan ku?" Batin Uswah kesal seraya kembali masuk kedalam kamar mandi.
Ceklek!
Rendi kembali tersadar, dan terdiam.
"Mengapa aku menginginkan wanita lain? sedangkan istriku sendiri sangatlah cantik seperti bidadari,," Gumam Rendi.
"Namun, apakah dia ingin memberikan mahkota yang selama ini ia jaga untukku? sedangkan, aku lah yang memaksa nya untuk menikah denganku,," Gumamnya kembali.
Ceklek!
"Tapi,, dia gak ninggalin aku ditempat ini, 'kan?" Batin Uswah khawatir seraya kembali memakai cadarnya lalu berjalan keluar dari kamar.
"Aduh! dia ada dimana?? aku kan ga tau tempat apa ini? dan aku juga tidak membawa dompet,," Batin nya khawatir seraya turun kelantai satu menggunakan lift.
Chett... (Lift terbuka)
"Apa,,??" Batin Uswah mematung melihat Rendi dengan wanita lain sedang bermesraan di sofa.
Wanita berambut ping serta berpakaian minim itu terus saja mengajak Rendi untuk melakukan 'itu'.
"Ayuklah sayang! aku akan memuaskan mu dalam hal 'itu' "ujar Wanita berambut ping itu.
"Cih! Tidak penting!" Batin Uswah jijik melihat kelakuan suami nya sendiri lalu berjalan keluar dari lift dengan melewati mereka.
"Uswah!" Batin Rendi seraya terbangun dari duduknya lalu berjalan mengikuti Uswah dari belakang.
"Kau,, mau kemana??" Tanya Rendi setelah mereka telah berada diluar hotel.
__ADS_1
Uswah tidak berhenti, ia terus berjalan menelusuri disetiap jalan yang sudah sepi karena kini matahari mulai tenggelam bergantian tugas dengan sang rembulan.
"Kau,, mau kemana?!" Kini Uswah mendengar bentakan Rendi kepadanya kembali.
"Jika ingin wanita lain,, mengapa kau menikahi ku?!!" isyarat tangan Uswah dengan tatapan dingin menoleh kearah belakang.
"I-itu,," ujar Rendi yang tidak dapat menjawab.
"Cih! Lelaki murahan!" Isyarat tangan Uswah yang benar-benar sudah muak!
"Murahan dia kata??" Batin Rendi terdiam memikirkan isyarat Uswah tadi.
Uswah kembali berjalan walau ia tidak tau kemana arah pulang,, karena hotel ini adalah hotel pribadi untuk orang melakukan 'itu'
Chhitt... Ada sebuah mobil hitam Alphard yang berhenti tepat disebelah Uswah berjalan.
Takk... Bruuk...
Dua orang berbadan besar dengan tampang yang menyeramkan keluar dari mobil, langsung menarik secara paksa tubuh Uswah untuk masuk kedalam mobil.
"Siapa mereka?!" Batin Uswah terkejut seraya terus memberontak dan membela diri.
Pukk... Seorang lelaki berambut pirang dari salah satu orang berbadan besar itu, memukul tengkuk leher Uswah dari balik jilbab nya.
Dan membuat Uswah pingsan, memudahkan mereka untuk membawa tubuhnya masuk kedalam mobil.
Bruum...
Tanpa Rendi sadari, ternyata Uswah telah menghilang dari pandangannya setelah mobil hitam itu kembali berjalan.
"Kemana dia??" Gumam Rendi bingung seraya melihat sekeliling.
INI VISUAL MOBIL HITAM NYA😉
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TERIMAKASIH TELAH MAMPIR😆
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN READERS😆😆
KOMEN YUKK? KOMEN,, KOMEN,,😄
__ADS_1