Cinta Muslimah Si Gadis Bisu

Cinta Muslimah Si Gadis Bisu
DI LARANG BALAS DENDAM!


__ADS_3

KEESOKAN HARINYA...


Hari ini Intan masih di rawat di rumah sakit dan tidak sekolah, Azizah yang hanya seorang diri karena Viona juga yang izin untuk menjenguk Intan.


"Hahaha....pasti dia trauma deh!" Ucap Bianca senang saat berada di kantin bersama geng nya.


"Iya lah, Sudah pasti! biar tau rasa tuh temannya yang bisu itu. Berani sekali kakak nya membuat kita hampir di penjara!". Ucap Raya kesal.


"Iya, hahaha...kita rayakan kemenangan kita!!". Sorak Bianca dengan bersulang bersama geng nya.


Tingg...terdengar benturan dari masing-masing gelas yang saling bertabrakan.


Glek!


"Hahaha...bukankah dia juga di operasi?". Ucap Mita setelah minum.


"Iya, ternyata separah itu perbuatan kita. Hahaha..." Ucap Raya sangat senang tanpa berhenti tertawa.


"Tambah! Gue yang traktir hari ini!". Sorak Bianca sangat senang tanpa merasa bersalah sedikit pun.


Ada seorang siswi ber hijab panjang mendengar semua percakapan mereka dari awal yang membuat siswi itu mengepalkan tangannya.


"Kalian!!". Batin Azizah marah saat melihat mereka bisa tertawa setelah apa yang mereka lakukan pada Intan.


"Eehh...lihat deh! Ternyata ada si bisu!". Sorak Raya saat melihat Azizah berdiri terdiam di dekat tembok.


"Apa?! Lu mau balas dendam?". Teriak Bianca.


Azizah masih terdiam.


"Sini maju! Gue ga takut!" Teriak Bianca dengan memberanikan diri mendekati Azizah.


Brrukkk...


"Lu tuh jangan sok jagoan!". Ucap Bianca.


Bianca mengangkat bagian baju depan Azizah yang masih tertutup hijab panjang nya dan membenturkan tubuh Azizah ke tembok.


Azizah masih terdiam dan menunduk.


"Hahaha...pasti lu hanya bisa membuat orang pingsan saja kan? Ternyata kemampuan lu tidak sebanding dengan gue!" Pamer Bianca.


Tak berselang lama, tangan kanan Azizah menggenggam erat tangan Bianca yang mengangkat baju bagian depannya dan menatap tajam kedua bola mata Bianca.


"Apa?! Hah!". Tantang Bianca.


"Astagfirullah". Batin Azizah dengan kembali menunduk.


"Kenapa?! Gak berani ya?". Ledek Bianca.


"Cepat lepaskan!". Isyarat tangan Azizah dengan kepala yang masih menunduk.


"Apa? Lu isyarat apaan?!". Teriak Bianca.


Sreepp...


Azizah melepas tangan Bianca dari baju nya yang tertutup hijab dengan kasar lalu pergi berlalu begitu saja.


"Tunggu dulu, kita belum selesai". Ujar Bianca dengan menarik ujung hijab belakang Azizah.


Tubuh Azizah terhenti karena jika ia paksain berjalan maka auratnya akan terlihat.


Azizah menoleh kebelakang dan kembali menatap tajam kedua bola mata Bianca.


"Ck. Kau bisu sih! Makanya ga bisa bicara langsung". Kesal Bianca.


"Cepat lepaskan!". Ulang isyarat Azizah.


"Bi, cepat lepaskan! Udah ada tatapan seramnya. Hahahah..." Ledek Raya.


"Lu kira gue akan takut dengan tatapan jelek mu itu?!". Ucap Bianca dengan tangannya yang masih menarik hijab Azizah.


"Bila aku melawan, tidak ada beda nya aku dengan mereka". Batin Azizah dengan menatap satu persatu geng girls beautiful.


Tangan Azizah menarik paksa hijab bagian belakang nya.

__ADS_1


Brrukkk...


Bianca ikut ketarik dan akhirnya terjatuh menyenggol meja lalu makanan yang berada di meja itu ikut terjatuh mengenai seluruh tubuh Bianca.


"Aakkhh...basah!". Teriak Bianca.


"Astaga! Bi, lu Gppkan?". Ucap geng nya yang khawatir dan menghampiri nya.


"Gpp gimana?! Udah tau jatuh, bantuin dong!". Kesal Bianca.


Terlintas senyuman kecil di sudut bibir Azizah saat melihatnya.


"Ihh...dia malah senyum lagi!". Bisik Mita kepada Bianca yang telah berdiri dengan baju basah terkena kuah bakso.


"Ck. Nanti kau, urusan kita belum selesai!". Ancam Bianca.


"Hhmm...ga ada bosen-bosennya apa? Cari masalah terus di sekolah". Batin Azizah heran seraya pergi dari kantin.


"Pulang sekolah aku jenguk dia lagi deh". Batin Azizah setelah sampai di kelas.


Waktu pulang....


Setelah pulang dan mengganti baju, Azizah datang ke rumah sakit tempat dimana Intan di rawat.


"Azizah!". Girang Intan, disana masih ada Viona yang sedang terduduk di sofa.


Azizah tersenyum dan langsung memeluk tubuh Intan dengan erat.


"Maaf yaa...Azizah, kemarin aku takut saat melihat baju putih abu". Ujar Intan.


Azizah mengangguk dan senyuman tak pernah pudar dari kedua sudut bibir nya.


"Ouh ya, bagaimana cara ku membayar biaya rumah sakit ini?". Gumam Intan.


"Tadi aku ingin bayar, tetapi kata resepsionis nya sudah di bayar lunas oleh seseorang". Ujar Viona.


"Seseorang?". Gumam Intan.


"Ouh ya, apakah adik-adik ku sudah tau aku disini?". Ujar Intan.


"Iya, tadi aku mengabari bibi dan Paman mu, mereka akan segera datang". Ucap Viona.


"Intan, Azizah aku mau pulang dulu ya? Mau ganti baju". Ucap Viona dengan membawa tas kecil yang selalu ia genggam.


Azizah mengangguk lalu memeluk tubuh Viona.


"Baiklah, hati-hati di jalan dan terimakasih". Ucap Intan dengan tersenyum.


"Iya, dah...". Ujar Viona di depan pintu setelah memeluk satu persatu temannya itu.


"Om, Tante". Sapa Viona saat berpapasan dengan Paman, bibi nya Intan.


"Kamu temannya Intan?". Ucap Bibi Kurnia.


"Iya, Tante". Ucap Viona dengan menunduk hormat.


"Hhmm...anak itu punya teman yang kaya raya ternyata". Batin bibi Kurnia.


"Kalau begitu, saya permisi". Pamit Viona dengan pergi dari hadapan bibi Kurnia.


"Assalamu'alaikum, kakak!". Sorak kedua adik Intan yang bernama Puspa dan Deni.


"Wa'alaikumussalam, adik-adik ku tersayang". Girang Intan dengan memeluk kedua tubuh adik kecil nya itu.


"Kenapa kakak masuk kerumah sakit?". Ucap Puspa khawatir yang telah ber umur 8 tahun sedangkan Haikal berumur 3 tahun.


"Kakak...." Ucap Intan.


"Ini teman mu juga?". Ucap Bibi Kurnia.


"Iya, bi". Ucap Intan.


Bibi Kurnia menatap Azizah dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Pakaian nya seperti orang miskin". Batin Bibi Kurnia yang melihat pakaian sederhana Azizah.

__ADS_1


"Cepat sembuh! Di rumah sudah banyak cucian yang belum selesai!". Ujar Bibi Kurnia.


"Udahlah sayang, diakan lagi sakit jangan di tambah bikin sakit". Bisik Paman Dodi.


"Dia pasti ga ada kerjaan disini mas, lebih baik di rumah untuk nyapu dan ngepel". Ucap Bibi Kurnia.


Azizah ingin salim kepada bibi dan Paman nya Intan, namun bibi Kurnia menepis tangan itu.


"Jauhkan tangan kotor mu dari ku!". Ejek bibi Kurnia.


"Anak baik". Ujar Paman Dodi saat melihat Azizah mengatup kan kedua tangannya di depan dada saat berhadapan dengannya.


"Nama mu siapa?". Ujar Paman Dodi lembut.


"Azizah". Isyarat tangan Azizah.


"Oooohh...ternyata bisu yah? Kasian". Ledek bibi Kurnia.


"Sayang udah!". Bisik Paman Dodi.


"Huhh". Bibi Kurnia mendengus kesal.


"Salim dong sama kak Azizah". Ujar Intan kepada kedua adiknya.


Setelah mendengarnya, mereka langsung berlarian ke arah Azizah lalu menyalimi nya.


"Anak Sholeh, Sholehah". Batin Azizah dengan mengelus lembut pucuk kepala kedua adik Intan itu.


"Sudahlah mas! Kita pulang saja sekarang!". Ucap Bibi Kurnia.


"Tapi, kami ingin temani kakak disini". Ucap kedua adik Intan serentak.


"Sekalian saja kalian tinggal disini dan jangan pulang lagi!". Ancam bibi Kurnia.


"Bibi, jahat! Hikss...Hiks...". Ucap Puspa dengan memeluk erat tubuh Azizah.


"Hikss...hikss...iya, bibi jahat!". Ucap Haikal dengan memeluk erat tubuh Intan dan mendekap kan wajahnya.


"Cih! cepat kita pergi mas, biarin mereka tinggal disini". Ujar Bibi Kurnia dengan menarik paksa tangan suaminya.


"Tetapi....." Ujar Paman Dodi yang tak dapat mengelak.


Blumm... (Pintu tertutup)


"Hikss...kita harus bagaimana sekarang kak?". Ujar Puspa dengan menatap Intan yang terlihat sedih.


Azizah memperbaiki posisi nya agar sejajar dengan tinggi Puspa.


"Hikss...hikss..." Puspa nangis dengan tersedu-sedu.


Azizah tidak tega lalu mengelap lembut air mata Puspa yang terus membanjiri wajah mungil nya.


"Kakak....". Ujar Puspa dengan kembali memeluk Azizah.


"Aku harus bagaimana sekarang?". Pertanyaan itulah yang terus di pikirkan oleh Intan dengan nasib adik-adik nya.


Setelah kedua adik Intan sedikit tenang, mereka kembali bermain di sofa dengan permainan yang mereka dapatkan dari perawat.


Azizah menghampiri Intan yang masih menunduk sedih.


"Ikutlah kerumah ku". Tulisan di buku diary Azizah.


"Tapii...." Ujar Intan ga enak hati, namun ia khawatir dengan kedua adiknya.


"Tidak apa-apa, mereka akan senang berada disana". Tulisan Azizah kembali.


"Baiklah". Ucap Intan senang dan menatap secara bergantian kedua adiknya.


"Melihat senyuman mereka, seperti senyuman ibu dan ayah". Batin Intan saat melihat kedua nya sedang tertawa riya.


Azizah tersenyum melihatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


**Hay😉 kangen ga nih, sama author kece?😂🤣

__ADS_1


TERIMAKASIH TELAH MAMPIR😍😆


JANGAN LUPA TEKAN LIKE NYA....👇👇😊**


__ADS_2