Cinta Muslimah Si Gadis Bisu

Cinta Muslimah Si Gadis Bisu
Ayah... Apakah anak mu ini kotor?


__ADS_3

"Ada apa? Ceritakan sama Mba," ujar Mba Lisa lembut seraya melepaskan pelukannya dan menatap kedua bola mata Indah Uswah yang terlihat berbinar dengan cadar nya yang telah basah.


Hanya air mata lah yang dapat mengutarakan isi hati ku yang sedang di lema kesedihan.


"Ayah... Apa anak mu ini kotor?" Batin ku yang mengingat di saat diriku kecil menanyakan hal itu kepada sang ayah.


Flash black On.


"Ayah... Apa anak mu ini kotor?" Tanya diriku yang memperlihatkan baju serta telapak tangan ku yang telah kotor terkena tanah.


"Tidak.. anak ayah selalu suci, dan ini bisa di bersihkan.." ujar lembut pak Hamzah seraya mengusap lembut kedua telapak tangan ku serta baju ku yang terkena tanah.


"Wah! Ternyata aku bersih!" Girang diriku saat melihat baju serta telapak tangan ku yang telah bersih kembali.


"Nak, jagalah kesucian mu... Jangan biarkan ada seseorang yang mengambil nya kecuali suami mu kelak," ujar Pak Hamzah lembut seraya mengusap lembut pucuk kepala ku.


"Baik, Ayah!" Jawab ku yang pada saat itu tidak mengerti. Namun, tetap ku turuti perintah nya.


Flash black Of.


Setelah diriku dewasa, aku mulai mengetahui apa yang di maksud oleh ayah ku tersebut.


Hingga kini, "Ayah, apakah anak mu ini masih suci?" Tanya ku yang hanya membayangkan jika ayah ku sedang mengangguk tersenyum di depan ku.


"Ayah.. aku rindu, Ayah. Kak," isyarat tangan ku.


Mba Lisa melihat ku dengan iba seraya berkata, "Kita bilang ke umi dulu, 'yuk?"


Diriku mengangguk seraya berdiri dan berjalan mengikuti Mba Lisa.


Ceklek!

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," Ujar Mba Lisa.


"Wa'alaikumussalam," jawab Umi Adiba serta Diana yang berada di sana.


"Umii..." Diriku berlari berhamburan memeluk tubuh Umi ku yang masih terbaring lemas di atas ranjang.


"Umi, kenapa?" Tanya Mba Lisa saat melihat Diana sedang melilit kain kompresan didalam wadah khusus.


"Umi, hanya demam sedikit," jawab Umi dengan lemas, dan benar saja saat diriku memeluk tubuhnya yang terasa panas.


"Tapi, umi tidak apa-apa, 'kan?" Isyarat tangan ku khawatir seraya melepaskan pelukan ku.


Umi ku mengangguk seraya tersenyum. Lalu, mengusap lembut wajahku yang tertutup cadar hitam.


"Ada apa, nak? Mengapa kamu menangis?" Tanya Umi ku yang menyadari kesedihan ku.


"Umi... Ada seseorang yang mengambil paksa mahkota ku dan ia berhasil merenggut nya!" Diriku kembali memendam nya. Lalu, berisyarat. "Aku tidak apa-apa,"


Diriku hanya tersenyum di balik cadar ku dan menggeleng.


"Umi sekarang sudah rentan sakit, apakah aku tega menceritakan semuanya dan menambahkan rasa khawatir kepadanya?!" Batin ku mengelak saat ingin menceritakan nya.


"Kalau kamu tidak mau menceritakan nya kepada Umi, tidak apa-apa. Tetapi, ceritakan lah semuanya kepada Allah. Ya, nak?" Ujar Umi ku yang ku jawab dengan anggukan kepala.


"Umi, di saat umi telah baikan. kita akan berziarah ke makam Abi," ujar Mba Lisa.


"Benarkah, nak?" Tanya Sang Umi dengan mata berkaca-kaca.


Mba Lisa tersenyum seraya mengangguk.


"Semoga tidak ada benih yang tumbuh di dalam rahim ku..." Lirih ku terdiam menatap sayu bawah lantai.

__ADS_1


"Ada apa, dengan Adik ipar ku?" Batin Mba Lisa saat menyadari tatapan sayu ku.


Di lain tempat, tepat nya disebuah ruangan pribadi sang CEO Cassanova.


"Apakah dia tidak akan membenci diriku, setalah ia tau yang akan tumbuh di dalam rahim nya. Ia lah darah daging ku?" Gumam Rendi yang sedang termenung melihat pemandangan indah dari atas di balik kaca.


Ceklek!


"Permisi, tuan," ujar Daniel.


"Ada apa?" Tanya Rendi dingin.


"Ada tuan Andrew yang ingin bertemu dengan Anda," ujar Daniel dengan bahasa formal.


"Sekarang?" Tanya nya.


"Iya, tuan. Tuan Andrew baru saja sampai dari Amerika dan telah menunggu Anda di lobi," Jawab Daniel.


"Baiklah," jawab Rendi seraya berjalan keluar dari ruangan menuju lift.


"Assalamu'alaikum!" Ujar Andrew saat melihat Rendi baru saja keluar dari lift dan berjalan menghampiri dirinya.


"Wa'alaikumussalam," jawab Rendi seraya bersalaman ramah dengan nya.


"Mengapa datang ke Indonesia secara mendesak? Apakah ada yang ingin di sampaikan dalam kerja sama kita?" Tanya Rendi setelah duduk di sofa.


"Ini tidak ada sangkut paut nya dengan kerja sama kita, saya hanya ingin bisa bersilahturahmi dengan Anda Tuan Rendi," jawab Andrew ramah.


"Bagaimana jika, kita mengobrol di restauran atau semacam nya? Dikarenakan sudah memasuki waktu makan siang," ujar Rendi.


"Kebetulan sekali! Sepertinya saya juga sedang lapar," ujar Andrew menyetujui nya. Lalu, mereka pergi ke restauran sea food di dekat sana.

__ADS_1


__ADS_2