
"Dia menagis?" batin Azizah dengan penglihatan samar-samar karena hanya ada satu lampu yang menyala tepat di atas nya saja.
"Kamu gak usah takut... Disini kita hanya ingin berbicara baik-baik denganmu," ucap pak Cristian saat melihat ekspresiekspresi waspada nya Azizah.
"Cepat buka borgol nya!" perintah pak Cristian saat melihat Azizah seperti kesakitan.
Greek...
Setelah borgol terbuka, Azizah langsung berjalan kerah pintu keluar. Namun, beberapa orang berbadan besar itu menghalangi nya.
"Memang dengan badan besar seperti itu bisa menghalangi ku?" batin Azizah seraya bersiap meninju satu persatu dari mereka.
Bughh.... "Kenapa gak mempan??" batin Azizah heran setelah memukul perut salah satu nya dengan sekuat tenaga.
Bughh... Bughh...
"Huhuhh..." batin Azizah ngos-ngosan karena semua pukulan dan tendangnya gak mempan sama sekali kepada mereka.
"Dia bisa bersilat ternyata," batin pak Crintian saat hanya diam menonton nya yang memukul dengan sangat lincah.
"Aku harus melakukannya!" batin Azizah seraya menedang satu persatu barang berharga milik ketiga orang berbadan besar itu.
"Aakhh..." rintih ketiga nya.
"Berhasil! Viona? Viona dimana?" batin Azizah saat mencari keberadaan Viona.
"Itu Viona!" batin Azizah saat melihat Viona berdiri di pojok ruangan itu dengan lesuh.
Ia langsung menarik tangan Viona dan berlari keluar dari rumah tua itu.
"Lepas!" Tegas Viona saat sudah keluar dari rumah tua itu seraya menarik tangannya.
"Cepat! Kita gak ada waktu!" isyarat tangan Azizah seraya kembali menarik tangan Viona menuju mobil.
"Gak ada guna nya!" tegas Viona seraya kembali menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Azizah.
Tiba-tiba, datang empat orang berbadan besar yang dari tadi telah menungu di dekat rumah tua itu.
"Mau kemana?!" tegas salah salah satu dari mereka.
"Hmm..masih ada ternyata," batin Azizah waspada seraya melihat kearah mereka yang telah menghalangi nya.
"Kenapa dia hanya diam saja?!" batin Azizah saat melihat Viona hanya terdiam lesuh di belakang nya.
Satu persatu orang berbadan besar itu mulai melayangkan tinju besar nya kearah Azizah. Namun, dengan gesit Azizah bisa menghindari nya tetapi, tidak bisa melawan karena tenaga mereka lebih besar.
Buugh...."Gak mempan!" batin Azizah saat sekali mencoba mrmukul tubuh mereka.
"Huftt... Bagaimana ini?" batin Azizah yang mulai kewalahan menghadapi mereka.
"Berhenti!!" teriak seseorang dari belakang.
Azizah menoleh dan terkejut.
"Atau ku bunuh dia!!" Ancam pak Cristian seraya mendekap nya dan mengarahkan pisau ke leher Viona.
"Viona!" batin Azizah khawatir seraya terdiam.
Bughh... Buggh... Satu demi satu tinju besar itu terus mengenai pipi mulus nan putih Azizah yang kini terdapat banyak lebam.
"Azizah..." lirih Viona yang hanya diam saja melihat keadaan Azizah yang kini sudah sangat memprihatinkan.
Brukk... Azizah terjatuh ketanah dengan banyak nya luka lebam memenuhi wajah cantik nya.
"Berhenti!" perintah pak Cristian seraya melepaskan Viona dan menghampiri Azizah yang tidak sadarkan diri.
"Apa yang kalian lakukan?!!" bentak pak Cristian.
"Maaf, bos," jawab semua orang berbadan besar itu.
"Perintah ku hanya menyuruh kalian menghalangi nya! Kenapa kalian malah membuat nya terluka!!" Bentak pak Cristian.
Bughh... Sleep... Brukk...
"Aakhh..." Rintih nya.
Satu dari mereka terjatuh karena pak Cristian menancapkan pisau itu ke kaki nya.
"Ini akibat dari kelalaian kalian!!" tegas pak Cristian.
Slepp... Sleep... Bruukk...
__ADS_1
Mereka semua terjatuh dengan kaki yang berdarah.
"Papah! Hentikan!!" teriak Viona dengan nafas terengah-engah melihat kekejaman papah nya sendiri.
Pak Cristian menoleh kearah nya dengan tatapan yang tidak bersahabat.
Di lain tempat, Kak Aldi terus saja menatap jam dinding di rumah besar nya yang telah menunjukkan pukul 21:00 WIB.
"Kenapa belum pulang??" Gumam nya seraya berjalan bolak-balik.
"Nak, Azizah kenapa belum pulang?" tanya sang Umi setelah keluar dari lift.
"Umi, kenapa belum tidur?" tanya kak Aldi mengalihkan pembicaraan.
"Nak, dimana Azizah?" tanya sang umi khawatir karena sudah malam.
"Dia ada di rumah temannya umi, dia bilang ia akan pulang besok," jawab kak Aldi terpaksa berbohong.
"Kenapa tidak bilang ke umi?" tanya sang Umi.
"Dia gak sempat karena tadi terlambat," ucap kak Aldi yang memang tadi pagi Azizah sangat lah buru-buru berangkat nya.
"Umi tidur saja, biar aku yang membawa nya pulang," ujar kak Aldi.
"Baiklah, nak. Umi keatas dulu, 'ya?" Pamit umi Adiba seraya kembali masuk kedalam lift.
"Aku harus mencari nya!" batin kak Aldi seraya mengambil kunci mobil nya.
Bremm.... Ia menancap gas dengan kecepatan tinggi.
Kembali ke tempat rumah tua itu, terjadi saling menatap tajam satu sama lain seorang ayah dan anak nya.
"Dia berani!" batin pak Cristian seraya menghampiri Viona.
"Aku mohon! Hentikan!" lirih Viona dengan menangis tersedu-sedu.
"Apa kau ingat? Saat kau dan ibu mu di bianglala itu?" tanya pak Cristian setelah berada di depan Viona.
"I-iya, hikss..." jawab Viona gugup.
"Kau... Sangat mirip dengan ibu mu," gumam pak Cristian saat menatap wajah cantik Viona yang sangat mirip dengan istri nya.
"A-apa?" kejut Viona saat mendengar nada suara lembut dari sang papah.
Brukk... "Aakhh.. Sakit!" rintih Viona saat terjatuh lutut nya terluka.
"Cepat! Bawa dia kembali kedalam!" tegas pak Cristian kepada anak buah lainnya.
Viona melihat dahi Azizah yang mengeluarkan banyak darah.
"Pah! Aku mohon obati luka dia!" ucap Viona seraya berlutut di kaki papah nya.
"Diam!" tegas pak Cristian seraya mendorong tubuh Viona agar menjauh dari nya.
Di lain tempat, ada dua mobil yang mengalami senggolan kecil.
"Apa yang kau lakukan!" kejut Rendi saat keluar dari mobil dan melihat ada lecet di bagian depan mobil nya.
"Hanya sedikit!" jawab Kak Aldi yang juga keluar dan melihat nya.
"Bukankah... Paman, kakak nya Azizah?" tanya Rendi.
"Ck. Anak ini gak ada sopan santun nya sama sekali! Memanggil ku paman?!" batin Kak Aldi.
"Iya! Kau mengenal nya?" jawab Kak Aldi dengan sedikit keakrapan.
"Iya, dia... Orang yang Kusuka...," jawab Rendi dengan mengecilkan nada suaranya di akhir ucapannya.
"Baguslah! Apa kau tau dia ada dimana?" tanya kak Aldi.
"Tidak, memang dia belum pulang?" tanya Rendi.
"Iya," jawab kak Aldi singkat.
"Kemana dia pergi?" batin Rendi.
"Apakah saya boleh ikut membantu mencari nya?" tanya Rendi.
Kak Aldi tidak menjawab nya, ia hanya menatap nya dari atas sampai bawah.
"Seperti nya dia baik," batin kak Aldi.
__ADS_1
"Iya, cepatlah!" ujar kak Aldi seraya masuk kedalam mobil nya.
"Baiklah!" jawab Rendi seraya menaiki mobil milik nya.
"Hey! Akan lebih susah bila menggunakan dua mobil, cepat naik!" tegas kak Aldi dengan membuka kaca mobil nya.
"Baik!" jawab Rendi tegas seraya masuk dan duduk di sebelah pengemudi.
"Coba kau cari dia menggunakan GPS," ucap kak Aldi seraya memberikan hp milik nya tanpa menoleh.
Rendi langsung mengambil hp itu dan membuat nya terdiam.
"Hp nya..." batin Rendi saat ia melihat hp itu adalah pengeluaran terbaru dan hanya ada tiga di seluruh dunia.
"Cepat!" tegas kak Aldi saat melihat Rendi hanya diam memperhatikan hp nya.
"Astaga! Kenapa malah bengong?" batin Rendi seraya melakukan apa yang di suruh.
"Dia ada di..." ucap Rendi terhenti karena tidak pernah melihat jalan itu.
"Dimana ini?" batin Rendi saat melihat rumah tua itu.
"Dimana?" tanya kak Aldi sembari menyetir.
Rendi masih terdiam.
"Ck. Jangan bengong!" kesal kak Aldi.
"Coba paman lihat," ucap Rendi seraya mengarah kan hp itu ke kak Aldi.
"Ituu... Yang mana? tanya kak Aldi yang melihat hp nya mati.
" ini!" ucap Rendi seraya melihat ke layar hp itu.
"Kok malah mati?" gumam Rendi.
"Itu bukan mati, melainkan sedang..." ucap kak Aldi terpotong karena ada yang menelpon.
Drtt... drrtt...
"Dari siapa?" tanya kak Aldi yang masih fokus menyetir.
"No tidak di kenali," jawab Rendi saat melihat layar ponsel itu kembali hidup.
"Angkatlah!" jawab Kak Aldi.
Rendi menekan keatas warna hijau dan memakai speaker agar kak Aldi mendengar nya juga.
"Dengan tuan Aldi alfarizi?"
"Iya! Kau siapa?!" jawab kak Aldi tegas.
"Adik anda bersama dengan kami,"
Degg...
"Siapa kalian?!!" tegas kak Aldi.
"Jika kau ingin adik mu kembali, kirimkan uang sebesar 10 triliyun kepada tuan Cristian pemilik perusahaan ALDINO GROUP ,"
" Astaga! Banyak sekali!" kejut Rendi dalam hati dan melihat kak Aldi yang sedang berfikir.
"Itu sama saja seperti menjual sebuah perusahaan," batin Kak Aldi berfikir.
"Perusahaan apa yang kau inginkan?!" tegas kak Aldi.
"PERUSAHAAN DERLABA GROUP!"
"Itu perusahaan peninggalan abi," kejut kak Aldi dalam hati.
"Yang lain?!" tegas kak Aldi.
"Tidak! Saya hanya ingin itu!"
"Baiklah! Jangan sampai kau menyakiti adikku!" ancam kak Aldi.
Tuutt....
Bughh... "Ck. mereka benar-benar!!" gumam Kak Aldi seraya memukul setir mobil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
**TERIMAKSIH TELAH MAMPIR😍
JANGAN LUPA TEKAN LIKE DI BAWAH INI😘👇**