
Erdana membuka pintu apartemennya saat mendengar bunyi bel. Ia yakin kalau ini adalah salah satu dari keluarganya.
"Ibu?" Erdana langsung mengambil tangan Naura dan menciumnya.
"Di mana Yasmin?" tanya Naura sambil melangkah masuk.
"Kok Yasmin yang ditanya sih? Apa ibu nggak mau tahu keadaan aku?" Erdana nampak cemberut. Ia merindukan bermanja-manja dengan ibunya. Sikap dingin ibunya selama ini cukup menyakitkan hatinya.
"Kamu kan sudah terlihat baik-baik saja, bang. Jadi ibu mau tanya di mana menantu ibu?"
"Yasmin masih ada di kamarnya."
"Di kamarnya?" Naura membalikan badannya dan menatap putranya. "Memangnya kalian tidak tidur satu kamar?"
"Nggak."
"Abang!" Naura nampak kesal.
"Pisah kamar akan lebih baik dari pada satu kamar dan Yasmin menyuruh aku tidur di sofa." Erdana yang sudah siap dengan baju kerjanya menatap ibunya. "Jadi tujuan ibu ke sini hanya untuk menanyakan keadaan Yasmin? Masuk saja ke kamarnya. Karena aku sangat terlarang untuk masuk ke kamar itu." kata Erdana sambil menunjuk pintu kamar tamu.
Naura melangkah ke arah kamar Yasmin. Di ketuknya pintu perlahan sambil memanggil nama Yasmin.
"Yasmin....., ini ibu, nak. Boleh ibu masuk?"
Pintu terbuka. "Bibi?"'
"Ibu, nak. Sekarang kan Yasmin sudah menjadi anak ibu." Naura melangkah masuk. Di tatapnya wajah Yasmin. "Wajahmu pucat. Kau pasti susah tidur ya?"
"Iya, Bu. Agak mual dan nggak bisa makan dengan benar." Ujar Yasmin lalu duduk di tepi ranjang.
"Minum susu hamil?"
Yasmin menggeleng.
"Haruslah kau minum susu hamil. Oh ya, ibu datang ke sini untuk mengajakmu periksa kandungan ke dokter. Ibu sudah buat janji. Jam 10 pagi ini kita akan pergi."
"Memangnya kenapa harus diperiksa ke dokter Bu? Usia kandungannya kan masih beberapa minggu."
Naura tersenyum. "Haruslah diperiksa ke dokter. Supaya kita tahu perkembangan janinnya. Kalian sudah dua minggu menikah namun tak juga ada niat untuk memeriksakan kandungan. Bersiaplah. Ibu akan minta Erdana untuk mengantarkan kita."
"Tak bolehkah aku dan ibu yang pergi saja berdua?" tanya Yasmin dengan terus terang menunjukan rasa tak sukanya pada Erdana.
Naura memegang pundak Yasmin. "Ibu tahu kalau kau masih membenci Erdana. Tapi bagaimanapun kalian berdua sudah menjadi suami dan istri. Erdana juga adalah ayah dari anak ini. Sudah sewajarnya dia yang mengantar dan menemanimu ke dokter. Kau bersiap ya, ibu akan memberitahu Erdana." Naura keluar dari kamar Yasmin dan menuju ke ruang tamu. Di lihatnya kalau Erdana sedang memainkan ponselnya.
"Er, ke kantornya nanti saja ya? Pagi ini kau harus mengantar ibu dan Yasmin ke dokter kandungan."
"Aku ada rapat jam 9 ini, bu."
"Ayah yang akan menggantikan mu. Ini adalah pemeriksaan pertama bagi Yasmin. Biasanya dokter akan menanyakan di mana suaminya."
Erdana menarik napas panjang. "Apakah Yasmin mau aku ikut?"
"Walaupun ia tak mau, kau harus tetap ikut. Karena kalian adalah suami istri."
Erdana tak berani membantah perkataan ibunya. Ia hanya diam saja.
30 menit kemudian, mereka sudah dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Yasmin dengan keras kepalanya memilih duduk di belakang bersama Naura dan Erdana pun tak banyak berkomentar.
Mereka pun tiba di rumah sakit. Naura sengaja memilih dokter kandungan yang bukan sahabat dokter Satria untuk menjaga nama baik keluarga itu.
"Nyonya Yasmin Furkan? Silahkan masuk!" ujar perawat saat melihat Yasmin, Naura dan Erdana. Yasmin sebenarnya merasa agak kaku mendengar ada nama Furkan di belakang namanya.
Dokter Reiree menyambut mereka dengan senyum khas seorang dokter.
__ADS_1
"Mari silahkan duduk."
Dokter Reiree menanyakan pertanyaan awal seperti, kapan terakhir haid dan apa saja keluhan yang Yasmin rasakan.
"Sekarang ayo berbaring!"
Yasmin pun naik ke atas tempat tidur. Saat dokter meminta padanya untuk menaikan kaos yang dikenakannya, Yasmin agak bingung karena di sana ada Erdana.
"Ada apa bu Yasmin?" tanya dokter yang bingung melihat Yasmin tak juga menaikan kaosnya.
Dengan sangat terpaksa, Yasmin pun mengangkat kaosnya. Perutnya yang putih mulus terlihat, nampak ramping. Erdana sedikit memalingkan wajahnya karena ia justru teringat dengan Mentari. Sesaat kemesraan diantara mereka seakan bermain di kepalanya saat Mentari yang selalu tertawa geli ketika Erdana menciumi perutnya saat mereka akan memulai aktivitas keintiman diantara mereka.
"Er.....!" Bisikan Naura membuat Erdana sadar dari lamunannya dan mengalihkan pandangannya ke layar monitor yang ada.
"Berdasarkan hasil perhitungan haid terakhir dari nyonya Furkan, maka janinnya berusia 8 minggu. Sepertinya semua berjalan dengan normal." Kata Dokter Reiree.
Mata Yasmin menatap sesuatu di layar monitor yang ada. Sesuatu yang ia tahu sudah mulai berbentuk dan akan semakin jelas dengan bertambahnya waktu. Ada sesuatu yang menusuk hatinya. Sesuatu yang awalnya dibenci dan sempat ingin dihilangkannya.
Mata Erdana pun terpana menatap layar monitor itu. Erdana tahu bahwa itu adalah bagian dari dirinya.
"Ini detak jantungnya."
Hati Yasmin semakin tak menentu. Ingin rasanya ia menangis. Detak jantung anaknya seakan mengupas habis seluruh keraguan Yasmin untuk menghilangkan janinnya ini.
Setelah selesai diperiksa, Yasmin diberikan resep obat anti muntah dan vitamin khusus ibu hamil.
Erdana mengantarkan Yasmin dan ibunya kembali ke apartemen lalu ia sendiri segera menuju ke perusahaannya.
***********
"Ada apa tuan?" tanya Bojes.
Erdana menatap Bojes yang baru saja meletakan secangkir kopi di hadapannya. "Duduklah!"'
"Punya. Aku dan dia sudah 8 bulan ini dekat."
"Menikah saja dengannya jika kau memang mencintainya."
"Kami masih sama-sama sibuk.'
"Jangan jadikan kata sibuk sebagai alasan. Lihatlah diriku. Harus terjebak dalam keadaan yang seperti ini. Menikahi wanita yang tak kucintai dan membiarkan wanita yang kucintai pergi."
Bojes kasihan melihat keadaan Erdana yang nampak lebih kurus dari biasanya.
"Tuan merindukan nona Mentari?"
"Sangat merindukannya. Bahkan rasa rindu ini menyakiti hatiku. Andai saja aku tak mabuk malam itu, andai saja aku tak pulang ke rumah bukit, pasti kejadiannya tak akan seperti ini. Namun mau bagaimana lagi? Aku harus bertanggungjawab dengan semua ini. Apalagi saat tadi aku melihat saat Yasmin di USG, hatiku bergetar hebat melihat mahluk kecil yang tumbuh di perutnya itu."
"Tuan, berusahalah untuk menerima kenyataan."
"Agak berat rasanya karena Yasmin juga membenciku. Aku bahkan tak bisa berkomunikasi dengannya. Yasmin juga mencintai pria lain. Mereka sebenarnya belum lama jadian namun harus dipisahkan karena perbuatan bejad ku ini."
"Menyesali semua yang sudah terjadi tak akan pernah menyelesaikan masalah. Yang ada justru tuan harus menerima dan menjalaninya dengan ikhlas."
Erdana menatap Bojes sambil tersenyum. Ia senang memiliki asisten seperti Bojes yang selalu memberikan nasehat yang bijaksana kepadanya.
***********
Elmira menatap Jenika yang adalah pengacara sekaligus manajer nya.
"Aku nggak mau bodyguart yang seperti kemarin. Kerjanya nggak becus sampai aku harus kena serangan dari fans gila yang mencakar kulit tanganku."
"Tenang saja, El. Aku sudah siapkan 2 pengawal pribadi dan satu pengawal khusus untukmu. Pengawal khususnya merupakan mantan atlit taekwondo dan pernah menjadi tentara bayaran di Amerika."
__ADS_1
"Bule?"
"Setengah bule. Ibunya Amerika dan ayahnya Indonesia."
"Aku nggak suka yang ada bule-bulenya."
"Lihat saja dulu." Jenika memanggil dua orang untuk masuk. "Yang ini Arif dan yang satunya lagi Bondan. Keduanya sudah menikah. Dan yang satu ini namanya Nick. Usianya 29 tahun dan belum menikah. Nick sekaligus juga akan menjadi sopir pribadimu."
Elmira menatap satu persatu pengawal pribadinya itu. Arif dan Bondan kelihatan sangar dengan badan kekar yang tinggi. Usia mereka sekitar 30an. Sedangkan Nick terlihat jelas kalau berwajah campuran. Ia memiliki rambut hitam agak bergelombang namun mata berwarna biru, hidung mancung, kulit putih. Wajahnya terlalu tampan untuk menjadi seorang bodyguard.
"Baiklah. Kalian saya terima untuk menjadi pengawal pribadiku."Elmira langsung berdiri. Ia hendak pulang ke rumah orang tuanya.
"Nick, segera ikuti Elmira." perintah Jenika.
Nick segera mengikuti Elmira. Ia dengan cepat membuka pintu mobil agar sang artis langsung masuk. Setelah itu ia bergegas ke belakang kemudi.
"Nona mau kemana?" tanya Nick.
"Ke rumah orang tuaku. Tahu alamat nya?"
"Nona Jenika sudah memberitahukan padaku alamat rumah orang tua nona, baik yang ada di kota maupun yang ada di desa. Juga alamat apartemen nona."
Elmira hanya mengangguk. Ia dapat melihat kalau Nick melihat anggukannya itu melalui kaca spion.
Saat tiba di rumah orang tuanya, Nick pun membukakan pintu bagi Elmira. Gadis itu turun dan langsung berpapasan dengan Daffa yang sepertinya akan pergi kuliah.
"Bodyguard baru?" tanya Daffa sedikit berbisik.
"Iya."
"Nggak terlalu ganteng untuk jadi bodyguard? Takutnya nanti kakak jatuh cinta."
"Jatuh cinta pada bodyguard? Nggak ada dalam kamus ku. Bukanya aku merendahkan orang ya. Kamu kan tahu sendiri kalau lelaki idamanku adalah."
"Yang soleh, rajin sholat kalau perlu kayak ustadz-ustadz muda yang sering tampil di TV kan?"
"Pintar. Rajin kuliah ya?" Elmira mengacak rambut adiknya lalu segera masuk ke dalam membuat Daffa sedikit kesal atas perlakuan kakaknya itu yang selalu menganggapnya sebagai anak SD tanpa menyadari bahwa ia sudah seorang mahasiswa.
Sebelum masuk ke dalam mobilnya, Daffa kembali melirik bodyguard kakaknya yang sedang membersihkan mobil dengan lap. Cowok itu tersenyum. Apakah kak Elmira tak akan tertarik pada pria itu? Kok aku merasa akan ada kisah manis diantara mereka ya?
**********
Dari depan pintu kamar Yasmin yang tak terbuka, Erdana mendengar kalau gadis itu sedang muntah-muntah di dalam kamar mandi. Langkahnya terhenti di depan pintu mengingat kalau Yasmin pernah melarangnya untuk masuk ke dalam kamar.
"Yasmin, apakah kamu butuh sesuatu?" tanya Erdana walaupun ia tahu kalau jawaban ketus yang akan diterimanya.
Tak lama kemudian Yasmin keluar. Wajahnya terlihat pucat dan jalannya agak sempoyongan.
"Yasmin....!" Erdana akan masuk namun sekalipun lemah, tatapan Yasmin tajam ke arahnya.
"Jangan masuk!"
Erdana berusaha menahan emosinya. "Kamu terlihat sangat lemah. Katakan apa yang bisa ku bantu?"
"Sudah ku katakan kalau aku tak butuh apapun darimu." Dengan jalan yang agak pelan, Yasmin tiba di depan pintu kamar. Di dorongnya pintu kamar itu dengan sangat kuat sehingga menimbulkan suara yang keras saat tertutup.
Erdana hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dengan cepat ia pun menaiki tangga menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua. Saat ia memasuki kamar, pandangannya langsung tertuju pada foto dirinya dan Mentari yang nampak sangat bahagia sambil bergandengan tangan. Foto itu diambil saat mereka sudah menikah dan pergi bukan madu ke Swiss. Hati Erdana kembali menjadi sakit. Apa kabarmu hari ini, sayang? Aku sangat rindu mendengar suaramu.
*************
Bagaimana kabar Mentari ya?
Saksikan terus episode selanjutnya ya guys
__ADS_1