
Setelah dokter Satria dan Gayatri pergi, Jeslin pun pamit untuk pulang. Naura mengantarnya sampai ke teras rumah.
"Maafkan aku, Ra. Aku menyembunyikan semua ini darimu. Mentari memintaku agar tak mengatakan tentang sakitnya dan juga keberadaan baby As. Mentari sungguh tak ingin menjadi orang ketiga diantara Er dan Yasmin. Kau tahu sifat anakku, kan? Dia persis seperti almarhum papanya. Selalu mengalah agar orang lain merasa senang."
Naura mengangguk. Ia memeluk sahabatnya. "Aku tahu. Namun Allah sudah mempertemukan mereka semua. Jujur aku nggak suka Er berpoligami. Tapi jika memang jalanya sudah seperti ini, mau bagaimana lagi?"
"Doakan saja semoga Erdana bisa adil ya?"
Naura mengangguk. Ia memang merasa kalau ia perlu bicara banyak dengan putranya itu.
Sementara di dalam rumah, Wisnu sedang menggendong baby As yang baru saja bangun. Ia nampak menatap sekeliling rumah yang masih asing baginya, namun wajah orang-orang yang ada nampak tak asing baginya.
"Kenapa, nak? Kaget ya lihat wajah kakek?" tanya Wisnu sambil mendudukkan As berhadapan dengannya.
As mengeluarkan suara khas anak bayi. Tangannya bergerak menarik kemeja Wisnu membuat Wisnu jadi tertawa bahagia.
Naura masuk. "Mana Mentari dan Yasmin?"
"Sedang menyiapkan makan malam di dapur." jawab Erdana membuat Naura terkejut. Para pelayan memang Naura liburkan hari ini karena Erdana yang memintanya supaya tak ada yang mendengarkan percakapan mereka.
Naura bergegas ke dapur. Ia tersenyum melihat betapa kompaknya dua menantunya itu dalam menyiapkan segala sesuatu.
"Ada yang bisa ibu bantu?" tanya Naura.
"Nggak usah, Bu. Ibu di depan aja. Main sama baby As. Aku dan kak Mentari bisa menyiapkan ini semua." ujar Yasmin. Mentari pun ikut mengangguk.
Naura kembali ke ruang tengah. Ia memeluk kembali cucunya. Erdana kemudian menyiapkan makanan As dan ia sendiri yang menyuapinya. Naura terharu melihatnya. Ia jadi ingat bagaimana Wisnu dulu begitu telaten juga membantunya saat Er dan El masih kecil.
"Er, bagaimana rasanya jadi ayah?" tanya Naura.
"Sangat menyenangkan. Walaupun ada sedikit sesal karena tak melihatnya lahir." kata Erdana dengan wajah yang tiba-tiba saja sedih.
"Belum terlambat untuk mengurusnya, bang." ujar Naura. "Biar ibu yang menggantikan baju dan popoknya ya?"
"Boleh. As sama nenek ya?"
Naura terkekeh. "Berasa menjadi tua dipanggil. nenek."
"Kamu tetap muda kok, sayang. Tetap cantik di mataku." kata Wisnu sambil mengedipkan satu matanya.
"Ih ...ayah..., ibu, kalau mau romantis di kamar sana...!" Erdana menjadi jengah mendengar rayuan manis ayahnya yang memang sudah selalu ia dengar sejak kecil. Ayahnya sangat memuja ibunya. Dan Erdana memang harus mengakuinya bahwa sang ibu tetap terlihat awet muda.
__ADS_1
1 jam berlalu, ketika baby As sudah tertidur di dalam kereta bayinya, mereka pun makan bersama.
"Kalian menginap aja di sini. Sudah jam 9 malam." ujar Naura setelah selesai makan malam.
"Iya. Kak Mentari kan baru saja tiba dari Singapura tadi siang. Nggak ada istirahatnya langsung ke sini. Pasti kakak capek kan?" tanya Yasmin.
"Lumayan." jawab Mentari. Ia memang merasa agak lelah.
"Aku harus kembali ke kota. Besok jam setengah tujuh, aku harus ada di rumah sakit untuk praktek. Kalau tidur di sini nanti terlambat aku ke rumah sakit. Jas putih dan materi kuliahku ada di apartemen." Yasmin memilih tak menginap. Di samping alasan yang ia kemukakan tadi, ia juga ingin memberikan waktu bagi Erdana dan Mentari untuk bersama setelah satu minggu lebih berpisah dengan Erdana.
"Yasmin, ini sudah malam." Mentari nampak khawatir.
"Kan aku nggak menyetir sendiri. Ada Bojes yang siap menemaniku." kata Yasmin dengan sangat meyakinkan.
Erdana memang tak dapat menahan Yasmin. Ia mengantar istrinya itu sampai ke mobil.
"Telepon aku jika sudah sampai ya?" kata Erdana dan tak perduli dengan Bojes, ia memeluk Yasmin dan kemudian mengecup dahi istrinya itu.
"Bojes, hati-hati menyetir. Jangan ngebut. Nanti besok pagi, kamu jemput aku dan Mentari ya?"
"Siap bos!"
Erdana membawa Mentari dan baby As ke kamarnya sendiri. Setelah baby As tidur, Mentari pun ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Erdana ikut masuk ke kamar mandi. Melihat tubuh polos istrinya, Erdana tak bisa menahan hasratnya. Ia segera membuka pakaiannya dan bergabung dengan Mentari di bawah shower.
"Er.....!" Mentari terkejut saat Erdana memeluknya dari belakang.
"Jangan terlalu lama mandinya. Udara di sini dingin." Erdana mengambil sabun dan menyabuni tubuh Mentari.
Mentari memejamkan matanya. Ia merasakan tubuhnya terbakar. Erdana yang sudah mengenal kelemahan Mentari segera memancarkan aksinya untuk membawa istrinya itu ke puncak kenikmatan.
*************
"Apakah kamu siap menjalani pernikahan poligami, bang?" tanya Naura saat Erdana datang menemuinya setelah Mentari tertidur setelah aksi panas mereka di kamar mandi.
"Siap, Bu.Jika aku hanya memilih salah satu, mereka berdua saling mengalah. Aku nggak mau kehilangan Mentari lagi. Namun aku juga tak bisa melepaskan Yasmin. Aku menyayangi Yasmin juga. Katakanlah aku egois. Namun inilah yang kurasakan ."
Naura memandang Wisnu. Dengan sorot matanya, ia meminta Wisnu bicara.
"Bang, berpoligami membutuhkan hati seluas samudra untuk bisa ikhlas menjalaninya. Ayah sendiri pernah mengalaminya. Dan ayah gagal karena ayah lebih sayang pada ibu mu."
"Aku tak akan menyakiti Yasmin dan Mentari."
__ADS_1
"Lalu kalian akan tinggal bersama atau pisah rumah?" tanya Naura.
Erdana diam mendengar pertanyaan ibunya. Benar juga. Aku lupa menanyakan itu pada Yas dan Tari.
"Saran ibu sebaiknya jangan di rumah yang sama. Kau juga harus mengatur berapa hari untuk Yasmin dan berapa hari kau akan bersama Mentari."
"Besok aku akan mengajak mereka berdua bicara, Bu. Aku tak mau membuat Mentari terjaga. Dia sudah cukup lelah."
Naura mengangguk. Ia berharap agar anaknya bisa menjadi suami yang adil.
"Kau juga harus segera menikahi Mentari secara resmi." Wisnu mengingatkan. Erdana hanya mengangguk
Setelah Erdana kembali ke kamarnya, Naura langsung mengajak Wisnu juga ke kamar mereka.
"Mas, aku kok takut ya jika Erdana harus poligami." kata Naura sambil bersandar di bahu Wisnu. Keduanya sedang duduk di atas ranjang sambil menyandarkan punggung mereka di kepala ranjang.
"Dia terjebak dengan dua pilihan yang sulit. Kita doakan saja agar Erdana bisa dan mampu."
Naura melingkarkan tangannya di pinggang Wisnu yang tetap ramping meski usianya tak muda lagi
"Mas, aku juga memikirkan Elmira. Dia terlihat sedih Nick tak ikut pulang bersamanya. sekarang, ia justru dekat dengan ustadz muda yang sedang naik daun itu. Semua penggemarnya nampaknya sangat setuju. Banyak komentar positif untuk sang ustadz."
"Kalau memang ia mau bersama pak ustadz, aku tetap mendukungnya."
Naura menarik napas panjang. "Terkadang aku rindu masa kecil mereka."
"Kalau begitu, kita tambah adik.saja"
.
"Maksudnya?"
"Kamu melahirkan lagi, sayang."
"Mas Wisnu....!" Naura mencubit perut suaminya dengan perasaan jengkel namun ia tak bisa menolak saat Wisnu menggodamya dan mereka pun akhirnya bercinta.
************
Apakah keputusan mereka akan satu atap atau berbeda.
dukung emak terus ya gi
__ADS_1