CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Di ujung Tanduk


__ADS_3

Mentari merasa gelisah. Ia memegang perutnya yang merasa tegang. Ia sudah sering mengalami hal ini. Saat hamil As pun demikian. Daya tahan tubuhnya yang tak lagi baik membuat Mentari harus mengalami ini. Ia pun perlahan turun dari tempat tidur. untuk minum obatnya. Sayangnya, tak ada lagi air putih di kamar sehingga ia memutuskan untuk keluar kamar. Pada saat itulah, ia mendengar percakapan antara Yasmin dan Erdana. Sebenarnya Mentari tak ingin ikut campur percakapan itu. Namun jantungnya bagaikan berhenti berdetak saat mendengar kalau Erdana sepertinya akan mengalah dan mengucapakan talak. Mentari tak mau Erdana terburu-buru mengucapkan kata itu. Pada saat yang bersamaan ia merasakan ada sesuatu yang mengalir dari inti tubuhnya. Mentari terkejut saat melihat kalau itu adalah darah. Ia menggunakan kesempatan itu untuk menghentikan perkataan Erdana.


"Kau tak bahagia denganku, kan? Bagaimana aku bisa menahan mu jika kau tak bahagia lagi? Bagaimana aku bisa memenuhi janjiku pada kakek mu jika hubungan ini justru semakin menyiksamu? Walaupun sakit, walaupun ini akan membunuhku, mungkin sebaiknya kita...."


"Maaf, aku menganggu kalian." Mentari pun segera menampakan dirinya. Ia tak mau Erdana kelepasan bicara.


" Ri, ada apa?" tanya Erdana sambil menoleh dengan kaget ke arah Mentari.


"Aku mengeluarkan darah, mas." ujar Mentari sambil menunjukan darah yang sudah mengalir di betisnya. Ia pun merasakan pandangannya kabur dan segera pingsan.


*************


Rumah Sakit, 1 jam kemudian......


Prayuda berlari di koridor rumah sakit saat mendapat telepon dari Erdana. Ia juga segera menghubungi dokter kandungan dan papanya untuk segera datang.


Jeslin yang datang bersama Yuda nampak menangis saat mengetahui kalau Mentari tak sadarkan diri.


"Sayang, aku mohon agar kamu tunggu di sini ya? Tenangkan dirimu." Yuda yang adalah seorang dokter ahli beda berusaha menenangkan istrinya.


Wisnu dan Naura pun tak lama kemudian sampai.


"Bu, jangan memberitahukan kepada Elmira. Aku tak ingin menganggu bulan madu mereka." ujar Erdana.


Naura hanya mengangguk. Ia memeluk putranya itu. "Sabar, nak. Mari kita berdoa bersama."


Erdana hanya mengangguk walaupun sebenarnya ia sangat takut. Ia takut kehilangan Mentari. Wajah As terbayang lagi. Bagaimana mungkin As akan dibesarkan tanpa ibunya? As yang masih berusia 4 tahun.


Yasmin yang berdiri di pojok nampak juga sangat tegang. Ya Allah, aku mohon kepadaMu, tolong sembuhkan kak Mentari. Selamatkan dia dan anaknya.


Yuda keluar dari ruangan ICCU. "Kami harus melaksanakan operasi untuk mengeluarkan bayinya."


"Lalu, bagaimana keadaan Mentari, paman?" tanya Erdana dengan sangat khawatir. Suaranya bahkan sedikit bergetar karena menahan tangis.


"Mentari mengalami pendarahan. Dia masih tak sadarkan diri. Aku juga mau mengatakan kepadamu kalau bayi kalian kemungkinan besar tak bisa diselamatkan lagi karena menurut dokter kandungan detak jantungnya tak terdengar lagi. Bayi itu meminum air ketuban yang sudah menjadi racun. Air ketuban Mentari sudah pecah pada hal kandungannya baru berusia 7 bukan 1 minggu."


Erdana merasakan kalau nyawanya seperti melayang. Mentari sangat mencintai anak itu sampai ia rela tak meneruskan pengobatannya.


Jeslin memeluk menantunya. "Er.....!"


"Ibu....!"


"Mari kita berdoa, Er!"


Erdana mengangguk. Hanya doa yang menjadi kekuatannya saat ini.


Ketika Mentari akhirnya di dorong ke ruang operasi, Erdana menatap wajah pucat seakan tak lagi bernyawa itu terbaring di atas brangkar.


Jangan tinggalkan aku, Mentari! Jangan pergi dariku. Teriak batin Erdana.


Yasmin yang melihat itu pun merasa hatinya hancur. Ia dapat melihat bagaimana takutnya Erdana akan kehilangan Mentari.


*************


Gading menatap putrinya. "Kau siap pergi hari ini?"

__ADS_1


Mentari yang sudah mengenakan pakaian serba putih menoleh ke arah ayahnya.


"Ayah?" Ia melepaskan sisir yang sementara dipegangnya dan segera berlari memeluk ayahnya. "Ayah dari mana saja? Aku sangat merindukan ayah."


"Ayah selalu menjagamu, nak. Kau kan kesayangan ayah. Ayah jadi ingat saat pertama mendengar tangisanmu saat kau lahir, ayah merasakan kebahagiaan yang belum pernah ayah alami sebelumnya. Ayah bahkan sampai menangis saat memelukmu pertama kali."


Mentari melepaskan pelukannya. Ia memandang ayahnya. "Rasanya ayah pergi begitu lama. Aku sangat merindukan ayah. Aku sangat kesepian karena ayah tak ada. Aku rindu tidur sambil mendengarkan cerita ayah."


Gading membelai pipi putrinya. "Kau sudah menjadi ibu sekarang. Kau tak membutuhkan ayah lagi."


"Siapa bilang? Aku selalu membutuhkan ayah. Dan aku ingin bersama ayah lagi."


"Kau sungguh ingin bersama ayah?"


"Bukankah aku sudah siap?" Mentari menunjukan pakaiannya. Ia kemudian memegang kepalanya. "Hijab ku cantik kan ayah?"


"Ya. Kalau begitu ayo kita pergi!" Gading memegang tangan anaknya. Keduanya pun melangkah bersama sambil tertawa bahagia.


Tiba-tiba Gading menghentikan langkahnya. "Bagaimana dengan anakmu?"


"Aku pergi agar dia bisa selamat, ayah."


"Ya sudah. Mari kita pergi!" keduanya pun melangkah bersama.


**********


Dokter Kartika memegang bayi yang sudah agak membiru itu. Tangannya bergetar saat melihat bayi yang berat badannya masih terlalu kecil untuk dilahirkan.


"Bagaimana, dok?" tanya Prayuda.


Dokter Yuda membantu dokter Kartika untuk memotong tali pusar nya.


Dokter Kartika pun meletakan bayi itu di atas brangkar yang ada di dekat brangkar Mentari. "Ia sangat cantik."


Prayuda dapat merasakan kesedihan yang nantinya akan dirasakan oleh Mentari, Erdana dan keluarganya.


Dokter Kartika mengambil alat untuk mengeluarkan cairan dari mulut bayi itu. Tiba-tiba ia melihat jari bayi itu bergerak.


"Allahu Akbar!" teriak dokter Kartika. Ia pun segera melakukan prosedur untuk menolong bayi itu dan tak lama kemudian, tangis kecilnya terdengar. Lama kelamaan menjadi sangat kencang.


"Alhamdulillah....!" Prayuda tak dapat menahan rasa harunya.


Tiba-tiba bunyi alat pendeteksi jantung terdengar kuat.


Dokter Alfaro yang merupakan ahli anastesi terkejut melihat garis panjang lurus di layar itu.


"Mentari.....! Mentari..... Tidak.....!" teriak Prayuda.


************


Wajah bahagia Elmira terpancar saat ia membuka matanya dan melihat Nick ada di depannya. Ia masih belum percaya kalau kini ia dan Nick sudah menjadi satu baik jiwa maupun raga mereka.


Tangan Elmira terukur dan menyentuh wajah Nick. Semalam, mereka mengawali malam pengantin dengan sangat indah. Nick sangat lembut menyentuhnya, membuat Elmira terbuai. Banyak orang mengatakan pengalaman pertama bagi seorang wanita sangatlah tidak menggenakan. Elmira juga mengalami rasa sakit. Namun rasa sakit itu tak menimbulkan ketakutan dan trauma baginya karena Nick dengan sangat berhati-hati. Ia memegang tangan Elmira dan bersama mereka mencapai tangga kenikmatan untuk yang pertama kalinya.


Nick memang masih perjaka. Elmira adalah wanita pertama yang memiliki hubungan serius dengannya. Selama ini, tak ada satu wanita pun yang mampu menyentuh hati Nick selain Elmira.

__ADS_1


"Sudah puas memandang wajahku?" Nick secara tiba-tiba membuka matanya dan menahan tangan Elmira yang masih ada di pipinya. Elmira tersentak kaget lalu menjadi malu.


Nick menarik tangan Elmira lalu memutar tubuh istrinya itu sehingga posisi Elmira kini berada di bawahnya.


"Nick....!" Elmira berteriak kaget karena menyadari bahwa tubuh mereka masih sama-sama polos dan sentuhan kulit diantara mereka menimbulkan sensasi panas.


"Kenapa?" tanya Nick menggoda.


"Apa yang kau lakukan?"tanya Elmira dengan jantung yang berdetak sangat cepat.


"Menikmati apa yang menjadi milikku."


"Tapi kan semalam kita sudah melakukannya sebanyak 3 kali."


"Kau menghitungnya?" Tanya Nick dengan tatapan menggoda.


"Aku....!" Elmira menjadi semakin malu.


Nick terkekeh. Ia menjadi gemas dengan istrinya. Dengan lembut ia mencium dahi Elmira. "Kamu menggemaskan dan selalu menggoda. Aku yakin di luar sana, banyak pria yang iri padaku karena bisa menikahi mu."


"Aku juga yakin di luar sana banyak gadis yang patah hati karena aku mendapatkan mu."


Nick menunduk dan mencium bibir Elmira. "Sayang, aku boleh nggak meminta satu hal?"


"Apa itu?"


"Kamu selama ini dikenal sebagai artis yang jarang melakukan adegan romantis seperti halnya berciuman bibir dengan lawan main mu. Tapi di beberapa film mu, ada juga adegan semacam itu. Jadi bolehkah mulai sekarang ini, kamu tidak lagi menerima peran yang ada ciuman bibir? Rasanya aku sangat cemburu jika melihatmu dicium oleh pria lain."


Elmira tersenyum. "Baiklah. Aku memang sudah berjanji dalam hatiku, jika sudah menikah nanti, maka aku akan lebih selektif memilih peran. Mungkin dalam satu tahun, aku hanya akan menerima satu film saja. Aku juga nggak mau terlalu sering tampil di TV karena aku tak mau rumah tangga kita menjadi tontonan orang banyak. Aku ingin punya banyak waktu untuk mengurus keluarga."


Nick bernapas lega. "Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu."


Keduanya pun kembali berciuman dengan. sangat mesra sampai akhirnya mereka kembali terbakar dalam lautan gairah.


***********


Nafas Elmira dan Nick masih belum stabil saat ponsel Elmira berbunyi. Ingin rasanya Elmira mengabaikan panggilan itu namun saat mendengar dering teleponnya ia tahu itu salah satu dari anggota keluarga terdekat.


Elmira bangun sambil menahan selimut di dada nya. Ia mengambil ponselnya.


"Hallo, ibu, ada apa? Apa? Benarkah ibu?" Elmira kaget sampai wajahnya menjadi pucat."


"Ada apa, sayang?" tanya Nick.


"Inalillahi wa Ina ilaihi Raji'un" Ujar Elmira tanpa bisa menahan air matanya.


************


Selamat siang....


Akhirnya Emak bisa up juga


semoga suka ya....


mendekati beberapa episode terakhir .....

__ADS_1


__ADS_2