
"Aku nggak bisa ikut denganmu, El." ujar Nick membuat Elmira yang sedang bersandar di dada Nick menjadi terkejut. Keduanya sedang berada di dalam apartemen Nick.
"Tapi kenapa?" Elmira mengangkat kepalanya dan menatap Nick."
"Aku harus mencari pekerjaan di sini. Sebenarnya aku sudah mendapatkan pekerjaan. Tapi harus menjadi bodyguard seorang anak gadis pemilik salah satu bar yang sangat terkenal di Singapura ini. Aku nggak mau."
"Kenapa nggak mau?" tanya Elmira penasaran
"Memangnya kamu mau ada gadis lain yang jatuh cinta padaku?"
Wajah Elmira langsung cemberut. "Coba saja kalau berani."
Nick tertawa. Ia kembali memeluk Elmira dan mengecup bibir kekasihnya itu. Hari ini, entah sudah berapa kali mereka berciuman.
" Aku mencintai kamu, El." Lalu Nick kembali mengecup bibir Elmira. Akhirnya mereka berdua kembali saling berciuman dengan sedikit panas. Nick langsung mendorong tubuh Elmira sehingga akhirnya gadis itu sudah terbaring di atas sofa. Tangan Nick membelai betis Elmira dan mulai naik ke atas membuat Elmira sedikit kehilangan kendali atas dirinya.
"Tidak, El!" Agak berat rasanya namun Nick tetap menjauhkan dirinya dari Elmira. Ia merasa juga kalau pertahannya hampir hilang dan mereka bisa saja saling menyatu saat ini.
"Nick, kita menikah yuk? Usiaku saja hampir 27 tahun dan kamu sudah mau 30 tahun."
"Sabar sayang. Aku masih mau mencari pekerjaan yang layak."
Elmira jadi cemberut. "Aku harus pulang besok pagi, Nick. Ada syuting besok sore. Jenika bahkan sudah berulang kali meneleponku."
Nick akan menyentuh wajah Elmira namun gadis itu menepiskan tangan Nick. Ia turun dari atas sofa dan melangkah menuju ke dekat jendela. Pandangannya lurus menembus jendela dan melihat pemandangan laut yang ada di depannya.
Perlahan Nick mendekat dan memeluk Elmira dari belakang. "Sayang, aku minta waktunya sedikit lagi."
Elmira melepaskan tangan Nick yang melingkar di pinggangnya namun Nick sama sama sekali tak mau melepaskannya.
"Aku sayang kamu, El."
Elmira memejamkan matanya. Lalu ia membalikan badannya dan menatap Nick. "Kalau sayang kenapa nggak ikut pulang ke Jakarta?"
"Sudah ku katakan kalau aku hendak mencari pekerjaan. Aku sebenarnya sangat menyukai pekerjaan ku sebagai bodyguard. Namun demi kamu, aku rela meninggalkannya."
Elmira melepaskan diri dari pelukan Nick. "Aku mau pulang, Nick." Ia lalu mengambil tas tangan yang tadi dibawahnya.
"Mengapa harus pergi dalam keadaan begini?" Tanya Nick sambil menahan lengan Elmira.
"Aku harus bagaimana lagi? Aku ingin kamu pulang denganku. Namun kamu nggak bisa. Apa salahnya sih bekerja sebagai bodyguard?"
"Nggak salah, El. Hanya aku ingin dianggap layak untuk mendampingi dirimu. Kamu ini publik figur. Bagaimana nanti tanggapan orang melihat artis terkenal menikah dengan bodyguard nya? Aku kan sudah bilang kalau aku nggak mau dianggap menempel padamu. Aku juga punya harga diri. Aku masih kuat dan mampu untuk membuktikan bahwa aku layak untuk mendampingi mu."
Elmira menarik tangannya. "Lepaskan! Kalau begini terus kayaknya kita memang nggak mungkin bisa bersama. Aku pulang, Nick!" Elmira keluar dari apartemen Nick.
__ADS_1
Hati Elmira merasa sakit karena Nick masih saja merasa kalau dia nggak pantas untuk El.
"Honey.....!" Nick berhasil menyusul Elmira saat gadis itu masuk ke dalam lift.
Di dalam lift, Elmira diam. Menatap wajah Nick pun ia tak mau. Setelah mereka bertemu dan saling bermesraan, Elmira berpikir kalau Nick akan ikut dengannya. Namun ternyata ia salah. Nick masih dengan prinsipnya untuk mencari pekerjaan yang layak sebelum akhirnya mereka bersama.
Saat pintu lift terbuka, Elmira langsung melangkah sangat cepat meninggalkan Nick. Ia menyeberangi lobby sambil memakai kaca mata hitamnya karena ia terkejut, di lobby cukup banyak orang.
"El..., honey!" Nick berusaha agar tak memancing perhatian. Ia memanggil Elmira dengan pelan. Tepat saat Elmira menuruni tangga, sebuah taxi berhenti untuk menurunkan penumpang.
Elmira menyebutkan alamat rumah Mentari kemudian menutup pintu taxi dengan cepat lalu ia segera meminta sopir taxi pergi. Nick terlihat hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan kedua tangannya yang memegang pinggangnya.
************
"Yasmin, kau mau makan? Tadi aku ingin mengajak kau dan Er untuk makan namun kata Er kalau kau sedang tidur." Mentari tersenyum ke arah Elmira setelah menguasai hatinya.
"Aku memang lapar, kak. Namun aku ingin ke taman dekat sini dulu. Kak El meneleponku untuk ke sana." Ujar Yasmin.
"Ada apa dengan, El?" tanya Erdana.
"Kayaknya mereka bertengkar lagi, kak." Yasmin melangkah untuk mengambil gelas dan meneguk segelas air putih sampai habis. "Nanti saja aku kembali baru makan."
"Eh, memangnya kamu bisa pergi sendiri?" Mentari menatap Erdana. "Kamu nggak mengantarnya, Er?"
"Nggak perlu. Kayaknya, kak El ingin aku sendiri saja yang pergi. Tamannya dekat kan? Jalan kaki saja bisa." Yasmin segera melangkah meninggalkan dapur. Sebenarnya Elmira meminta Yasmin untuk memanggil Erdana dan menemuinya di taman. Namun ponsel Erdana ada di kamar. Makanya Yasmin mencari Erdana . Namun ketika Yasmin melihat kalau Erdana sedang bersama Mentari. Ia tak memilih untuk pergi saja sendiri. Yasmin ingin agar Erdana juga bisa dekat dengan Mentari.
"Nggak. Bukankah Yasmin sudah mengatakan untuk siap dipoligami? El mungkin hanya ingin curhat dengan Yasmin." kata Erdana berusaha menenangkan Mentari.
"Aku ke kamar dulu!" Mentari mengeringkan tangannya yang masih basah, kemudian meninggalkan Erdana di dapur.
"Ri....!" Erdana menyusul Mentari ke kamar. Mentari memberikan isyarat agar Erdana jangan ribut karena baby As sedang terlelap.
"Bagaimana dengan rencana kita untuk pulang bersama?" tanya Erdana dengan suara yang pelan sambil duduk di samping Mentari.
"Bukankah ku katakan untuk memberikan aku waktu?" jawab Mentari dengan nada memohon. Keduanya sama-sama memelankan suaranya.
Erdana meraih tangan kanan Yasmin dan menggenggamnya diantara kedua telapak tangannya. "Kau meragukan perasaanku padamu?"
Mentari menatap Erdana. "Kalau kau memang sudah menyayangi Yasmin, aku rela, Er. Jangan bersamaku hanya karena baby As atau rasa bersalah karena kau tak mendampingi ku saat aku sakit. Aku sudah sembuh, Er. Hanya butuh pemulihan."
"Tatap aku! Apakah kau tak menemukan lagi perasaan cinta ku yang masih jelas untukmu?"
Mentari menatap mata Erdana. Tentu saja ia masih dapat menemukan tatapan mata Er yang berbinar penuh cinta untuknya. Mentari memegang wajah Erdana. Membelainya dengan penuh sayang membuat Erdana tak tahan dan langsung mencium bibir Mentari dengan sangat lembut. Bibir yang sudah sangat lama tak disentuhnya.
Mentari memejamkan matanya. Ia juga sangat merindukan ciuman Erdana. Secara perlahan ia membalas ciuman itu. Mentari bahkan mengalungkan tangannya di leher Erdana.
__ADS_1
Untuk sesaat, keduanya larut dalam kemesraan. Erdana bahkan mulai terbakar gairah pada hal baru beberapa jam yang lalu ia menikmati keintiman dengan Yasmin.
Namun begitulah perasaan. Hati dan hasrat kadang gak bisa dikontrol. Mentari sendiri yang sudah lama tak disentuh oleh Erdana merasakan kalau tubuhnya terbakar. Ia membalas semua sentuhan Erdana dengan sama liarnya. Ia ingin merasakan lagi kenikmatan dalam hubungan intim.
"Jangan ribut, Er. Nanti baby As bangun." bisik Mentari sesaat sebelum Erdana menyatukan milik mereka berdua.
************
Setelah hubungan manis itu selesai mereka nikmati, Erdana merasa bingung dengan dirinya sendiri. Ia bisa memiliki hasrat yang sama dengan dua wanita.
Erdana masih memeluk Mentari yang sudah terlelap dalam dekapannya. Untungnya baby As memiliki waktu tidur siang yang panjang sehingga tak menganggu aktivitas bercinta mereka. Ketika mereka sudah selesai pun, baby As nampak masih terlelap.
Erdana pun akhirnya ikut terlelap.
Menjelang malam, Yasmin dan Elmira pulang setelah Yasmin berhasil membujuk Elmira untuk makan mie pangsit di sebuah cafe yang ada di empat taman itu.
"Mana Mentari dan Erdana ?" tanya Ekmira pada Diana yang sedang menyuapi baby As di ruang makan.
"Tuan dan nyonya sedang sholat Maghrib." ujar Diana.
Yasmin tersenyum walaupun ada sesuatu yang mencubit hatinya. Ia sendiri selama ini tak pernah sholat bersama Erdana. Namun Yasmin menguatkan hatinya. Tadi dia sudah menikmati keintiman dengan Erdana. Jadi biarkan saja Erdana menikmati kebersamaannya dengan Mentari.
"Kita siap-siap dulu kak El. Pesawatnya besok jam 6 pagi kan?" ujar Yasmin lalu segera. Melangkah ke kamar untuk membereskan pakaian dan oleh-oleh yang sempat dibelinya kemarin saat menunggu Erdana. Hanya sebuah toko sovenir di dekat hotel.
***************
Dua wanita cantik yang duduk di kelas bisnis itu nampak tenggelam dengan pikirannya sendiri. Yasmin pura-pura mendengarkan musik dengan memasang headset di telinganya sedangkan Elmira hanya menatap ke luar jendela dengan wajah datar.
Semalam, saat mereka makan malam bersama, Yasmin menyampaikan keinginannya untuk pulang bersama Elmira karena ia harus masuk kuliah.
Erdana nampak kurang setuju kalau Yasmin akan pulang karena ia sudah memutuskan untuk tinggal sampai ulang tahun baby As yang pertama.
Mentari terlihat juga kurang setuju jika Yasmin harus pulang sendiri. Ia sempat meminta Erdana untuk pulang bersama Yasmin namun Yasmin berhasil meyakinkan Mentari bahwa Erdana memang harus bersama Mentari.
Sedangkan Elmira berusaha menekan rasa kecewa di hatinya. Mungkin sebaiknya aku belajar melupakan Nick.
**************
Duh, yang salah sebenarnya siapa sih? Nick yang tetap kekeh dengan keinginannya untuk mencari pekerjaan atau Elmira yang terlalu memaksa agar Nick terus bersamanya?
Good morning
subuh-subuh emak up setelah dari jam dua subuh bangun untuk menebus kemarin yang nggak bisa up.
Have a bless Monday guys.....
__ADS_1
jangan lupa tunggakkan jejak di episode ini ya?