
Saat Yasmin baru aja memarkir mobilnya, ponselnya berbunyi. Ternyata dari Erdana.
"Yas, kamu sudah ke kampus?"
"Iya, kak. Baru saja sampai. Aku terlambat bangun dan dosen pembimbingku sampai menelepon aku untuk mengingatkan jadwal konsultasi ku."
"Aku pasti sudah membuatmu lelah kan?"
Yasmin menutup pintu mobil. "Kita sama-sama menginginkannya, kak."
"Yas, maaf tadi subuh aku keluar dari kamarmu. Mentari sakit dan tubuhnya agak mengigil. Aku sempat ketiduran dan saat aku ke kamarmu, kamu sudah nggak ada."
"Ya ampun, kak. Terus kak Mentari bagaimana?"
"Aku mau membawanya ke dokter pagi ini."
"Sampaikan ciuman ku untuk kak Mentari ya? Aku doakan semoga kak Mentari cepat sembuh."
"Aku nggak diberi ciuman?"
Wajah Yasmin langsung memerah. "Ih...kakak, semalam bibirku sampai bengkak karena kebanyakan dicium."
Erdana terkekeh. "Semangat untuk konsultasinya? Jangan lupa sarapan. Kamu pasti pergi tanpa sarapan kan?"
"Konsultasinya pasti nggak lama, kok. Setelah itu aku akan sarapan. Kakak juga jangan lupa sarapan. Aku tutup dulu ya, sudah di depan ruangan dosen killer ku."
"Kalau dosennya marah karena kau terlambat, sebut saja namaku. Dia pasti akan takut mendengar nama Erdana Furkan."
Yasmin tertawa. Ia merasa semangat mendengarkan suara Erdana.
"Sampai jumpa lagi ya, kak? Bye..." Yasmin memasukan kembali ponselnya ke dalam tas. Lalu mengetuk pintu ruangan dosennya dengan tangan bergetar. Jujur, Yasmin agak gugup karena sang dosen ini terkenal sangat tak ramah dengan mahasiswa siapapun.
"Masuk!" terdengar suara sahutan dari dalam. Yasmin membuka pintu dengan tangan yang bergetar. Ia melihat seorang pria membelakanginya sambil berdiri menghadap ke arah jendela kaca.
"Bukankah aku memintamu datang 30 menit? Kau sudah terlambat 15 menit."
"Maaf, pak. Aku semalam bergadang jadi bangunnya terlambat. Saya janji nggak akan mengulanginya lagi." Kata Yasmin sambil memperhatikan pria yang membelakangi nya. Bukan seperti bentuk tubuh dosen bimbingnya. Badan dokter Virga jauh lebih pendek dan sedikit gemuk.
Pria itu membalikan badannya.
"Kak Prayuda?" Yasmin terkejut. Prayuda langsung tertawa terpingkal-pingkal.
"Apakah suara ku mirip dokter Virga?" tanya Prayuda diantara sisa tawanya.
" Iya. Kakak membuat jantungku hampir copot. Kok bisa ada di ruangan dokter Virga? Tadi menelepon dari nomor siapa?"
"Perkenalkan aku adalah dosen pembimbing mu yang baru. Dokter Virga sedang cuti selama 3 bulan. Aku menempati ruangannya, diberikan ponselnya yang khusus berhubungan dengan mahasiswa."
Yasmin bernapas lega. Ingin rasanya ia menjitak kepala dokter tampan yang ada di depannya ini.
"Mana proposal nya? Minggu depan kamu kan ujian."
Yasmin menyerahkan proposal miliknya. Prayuda membacanya dengan seksama. "Bagus, aku rasa nggak ada masalah. Kau bisa ujian."
"Benar?" Mata Yasmin berbinar.
"Iya. Sekarang maukah kau kau menemani aku sarapan? Tadi karena cepat-cepat datang, aku nggak sempat sarapan."
Yasmin tersenyum. "Tenang saja, pak. Pagi ini biarkan aku yang mentraktir pak dosenku ini. Mau sarapan di mana saja, akan ku bayar."
"Wah, senang juga dapat mahasiswa baik hati seperti ini." Prayuda langsung berdiri dan mengambil ponselnya. "Pergi sekarang? Kita bisa sarapan sambil membicarakan tugas akhirmu."
"Dengan senang hati, pak." Yasmin sungguh senang pagi ini.
**********
Mentari meletakan baby As di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Sudah jam 5 sore. Kamu nggak pulang?" tanya Jeslin.
"Nggak, Bun. Malam ini aku bobo di sini saja."
Jeslin menatap putrinya. "Kalian bertengkar?"
"Tidak. Aku kangen dengan rumah ini. Memangnya nggak boleh ada di sini?"
Jeslin bernapas lega. "Bunda pikir kalau kalian bertengkar. Sudah ijin sama suamimu?"
Mentari mengangguk.
"Ya sudah. Bunda siapkan makan malam suku ya? Sebaiknya kau beristirahat juga. Ingat pesan dokter. Jangan terlalu capek."
Mentari hanya mengangguk. Tadi pagi setelah dokter selesai memeriksa Mentari dan mengijinkan mereka pulang, Erdana mendapatkan panggilan dari perusahaan miliknya. Ada sedikit masalah dan Bojes tak bisa menanganinya.
Erdana mengantarkan Mentari ke rumah orang tuanya karena memang Mentari rindu dengan putranya. Baby As nampak bersemangat berjumpa lagi dengan ibunya. Pada saat yang sama Jeslin pun sedang ada di rumah Naura. Makanya saat Jeslin akan pulang, Mentari memilih ikut dengan ibunya. Dengan alasan kangen rumah, di sinilah Mentari sekarang. Ia berada di kamarnya saat ia masih gadis dulu. Mentari sengaja datang ke sini. Ia ingin memberikan banyak waktu bagi Erdana dan Yasmin untuk bersama. Ia tahu kalau Yasmin baru saja selesai dengan tamu bukannya dan Mentari ingin agar Yasmin juga bisa hamil.
Mentari kemudian menghubungi Erdana.
"Er, kamu di mana?" tanya Mentari.
"Baru mau pulang. Kamu sama baby As sudah di apartemen?"
"Aku di rumah bunda. Kangen dengan rumah ini. Malam ini aku dan baby As bobo di sini ya?"
"Kalau begitu, aku juga ke sana."
"Nggak perlu. Nanti Yasmin sendirian di apartemen. Aku hanya rindu saja dengan kamarku ini."
"Baiklah. Mana baby As?"
"Lagi bobo. Nanti kalau dia sudah bangun, kita Videocall."
"Ok, deh. jaga kesehatan ya, sayang? Jangan terlalu capek."
"Ok, bye...."
**********
Yasmin merasa sangat lelah hari ini. Tadi selesai sarapan bersama Prayuda, ia menghabiskan waktunya selama 4 jam di perpustakaan. Setelah itu ia segera ke rumah sakit karena ujian khusus dengan salah satu dokter. Di rumah sakit, Yasmin mampir sebentar di ruangan ayahnya. Dokter Satria. Ia berdiskusi tentang penyakitnya Mentari. Ayahnya memberikan beberapa saran termasuk makanan yang sebaiknya Mentari konsumsi.
Dan kini, saat jam sudah menunjukan hampir pukul tujuh malam, Yasmin baru pulang.
Saat ia membuka pintu apartemen, bau masakan tercium. Kak Mentari kan sedang nggak sehat. Pasti dia sekarang sedang membuat makan malam. Duh, aku kelamaan diskusi sama ayah.
Dengan cepat Yasmin melangkah menuju ke dapur. Ia terkejut melihat ternyata Erdana yang ada di sana.
"Assalamualaikum, kak. Aku pikir kak Tari yang masak."
"Waalaikumsalam."
Yasmin mendekat, mengambil tangan Erdana dan menciumnya. "Kak Mentari mana? Sedang istirahat kah?"
"Di rumah bunda Jeslin. Katanya mau istirahat di sana. Dia sudah merasa agak baikan."
"Kenapa kakak nggak ke sana? Ngapain di sini?"
"Mentari ingin berdua dengan bundanya dan baby As. Aku di sini menemani kamu Saja. Memangnya nggak boleh?"'
Wajah Yasmin jadi bersemu merah. "Aku, mau mandi dulu ya?"
"Iya. Mandinya cepat ya? kita sholat isya dulu sebelum makan malam."
Yasmin mengangguk dan segera ke kamarnya.
***********
__ADS_1
"Kak Mentari nggak mengangkat teleponnya. Mungkin saja dia sudah tidur. Pada hal kepingin Videocall sama baby As." ujar Yasmin. Ia meletakan ponselnya di atas meja di depan sofa. Tadi setelah sholat keduanya makan malam bersama dan membersihkan dapur dan ruang makan bersama.
Erdana melihat jam tangannya yang sudah menunjukan hampir pukul 9 malam.
"Mungkin Mentari tidurnya cepat karena minum obat. Baby As juga kan biasanya jam 8 malam sudah tidur." Erdana duduk di samping Yasmin. Ia melingkarkan tangannya di istri nya itu.
"Bagaimana proposal nya?"
"Beres. Minggu depan, aku sudah boleh ujian. Aku targetnya sebelum semester ini berakhir harus sudah selesai." ujar Yasmin. Ia menyandarkan kepalanya di dada Erdana.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Santai saja." Kata Erdana sambil membelai rambut Yasmin.
"Kak, aku ingin cepat selesai. sudah kepingin rasanya menjalankan tugasku sebagai dokter."
"Kalau jadi dokter pasti pasiennya kebanyakan laki-laki."
"Kok gitu?"
"Habis, dokternya cantik."
"Ih... kakak ini." Yasmin mencubit pinggang Erdana dengan gaya manjanya. Setelah itu, ia memejamkan matanya. "Aku lelah, kak."
"Tidur saja."
Yasmin memejamkan matanya. Menikmati belaian Erdana di kepalanya. Tak lama kemudian, perempuan itu pun jatuh ke alam mimpi.
Erdana tersenyum melihat Yasmin yang sudah tertidur dalam pelukannya. Ia pun perlahan mengangkat tubuh Yasmin dan memindahkannya ke ranjang yang ada di kamarnya. Setelah itu ia kembali ke ruang tamu. Memadamkan lampu dan TV lalu kembali ke kamar.
Kamu sudah tidur ya?
kalau bangun dan membaca pesan ini
tolong teruskan ciuman selamat malam ku
untuk baby As ya? Have a nice dream.
Erdana melepaskan ponselnya di atas nakas. Kemudian ia ikut bergabung dengan Yasmin di atas ranjang. Memeluk Yasmin dengan erat sambil memejamkan matanya.
**********
Jeslin bertemu kembali dengan Yuda saat ia menjenguk asistennya.
"Apa kabar, Jes?" tanya Yuda.
"Alhamdulillah, baik. Bagaimana Alika?"
"Luka bekas operasinya sudah membaik. Mungkin dua atau tiga hari lagi, ia bisa diijinkan pulang dan menjalani rawat jalan saja."
"Itu memang yang dia inginkan. Dia sudah merindukan anaknya."
Yuda tersenyum. "Kau mau ke mana setelah ini?"
"Ke perusahaan. Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan."
"Tapi ini sudah jam makan siang. Bolehkah aku mentraktir mu makan siang?" tanya Yuda sambil memandang Jeslin dengan tatapan penuh cinta. Seperti dulu ketika mereka pacaran. Yuda selalu menatapnya seperti itu.
Jeslin merasakan jantungnya berdebar menerima tatapan Yuda seperti itu. "Eh aku....."
"please....!" Mohon Yuda.
"Baiklah."
Wajah Yuda langsung memancarkan sinar kebahagiaan. "Ayo!" ajaknya dengan penuh semangat. Jeslin pun mengikuti langkah Yuda dengan jantung yang berdebar.
**********
Duh yang lagi CLBK🥰🥰🥰
__ADS_1
see you next episode ya
'