
Nick berdiri di hadapan Wisnu dan Naura. Ini adalah yang kedua kalinya ia datang untuk melamar Elmira.
Wisnu masih menatapnya dengan dingin membuat Elmira kembali cemberut sambil memegang tangan ibunya.
"Sudah ku katakan kalau aku tak ingin anakku menikah dengan sembarangan orang. Kamu bahkan sudah membuatnya menangis." ujar Wisnu.
"Aku akui kalau aku salah, om. Namun aku sama sekali tak pernah mengkhianati Elmira. Aku ingin segera menikah dengan El karena aku tak mau kehilangan El. Aku sudah siap membangun rumah tangga bersama El."
Wisnu masih tetap diam.
Nick kelihatan gelisah. Namun wajahnya terlihat cerah saat ponselnya berbunyi.
"Permisi, sebentar."
Nick keluar ruangan. Tak lama kemudian ia masuk dengan seorang pria berwajah pribumi dan seorang wanita berwajah bule.
Wisnu terkejut melihat siapa yang datang.
"Budi Hardianto?" Wisnu langsung berdiri.
"Apa kabar Wisnu? Alhamdulillah kalau kau masih mengingat aku."
Wisnu dan Budi adalah sahabat dekat saat kuliah dulu.
"Dina?" Budi menatap Naura.
Naura tersenyum. "Aku Naura. Adiknya almarhumah kak Dina."
"Inalillahi. Maaf, aku sampai lupa kalau Dina sudah meninggal." Kata Budi dengan wajah penuh penyesalan. "Habis wajahnya hampir sama."
"Nggak masalah." ujar Naura sambil tersenyum. "Mari silahkan duduk."
"Kau jadi menikah dengan bule ya?" tanya Wisnu. Ia ingat kalau sahabat nya itu memang sejak dulu tergila-gila dengan cewek bule.
"Tentu saja. Perkenalkan ini Valerie..Istriku yang tersayang dan satu-satunya."
Wisnu menjabat tangan Velerie.
"Bagaimana kalian bisa dan di sini?" tanya Wisnu setelah mereka duduk.
"Aku mau melihat, pria mana yang sudah menolak lamaran anakku yang tampan dan berwibawa seperti ini." ujar Budi membuat Wisnu terpana.
"Nick anakmu? Tapi kenapa wajahnya lebih mirip bule?" Wisnu sangat terkejut.
"Wajarlah. Emak nya kan bule. Anak perempuan ku yang mirip aku."
Budi menatap Wisnu. "Kenapa kamu menolak a anak aku? Nick lelaki yang Sholeh. Selama ini dia tak memiliki hubungan yang serius dengan para wanita karena ia mencari sosok perempuan yang baik. Dia begitu menyayangi Elmira sampai akhirnya ia rela melepaskan pekerjaan nya sebagai bodyguard. Pada hal sebagai bodyguard dia dibayar dengan gaji yang mahal. Namun aku bersyukur juga karena ia berhenti. Setidaknya sekarang ia bisa mengelola perusahaan ku. Karena kakak kembarnya lebih tertarik mengolah perusahaan milik keluarga istrinya. Maklumlah. Istrinya anak tunggal."
"Anakmu kembar juga?" Wisnu semakin terkejut.
"Ialah. Memangnya hanya kamu saja yang bisa mencetak anak kembar?"
Naura dan Elmira saling berpandangan sambil menahan tawa.
Wisnu menatap Nick yang tertunduk sambil menahan tawa. Awas ya kau bocah. Aku sengaja mengukur waktu agar putriku untuk memberikan kau hukuman karena pernah membuat putriku menangis, namun ternyata kau adalah anaknya si Budi. Bagaimana aku bisa menolak mu?"
"Jadi, bagaimana? Apakah lamaran anakku ditolak atau diterima? Kalau memang ditolak maka aku akan menjodohkan anakku dengan anaknya si David." tanya Budi.
"David Maulana maksudmu?" Wisnu ingat David. Mereka dulu adalah sahabat baik. Dan David menikah dengan seorang perempuan asal Turki. Anak-anak David juga tampan dan cantik. Salah satu anaknya merupakan reporter TV.
"Iya. Anak David yang seorang reporter itu kan masih jomblo. Jadi David ingin menjodohkan mereka berdua."
"Ayah....!" Elmira merengek menatap ayahnya.
Wisnu mengangguk. "Baiklah. Lamarannya aku terima."
Nick dan Elmira saling berpandangan sambil tersenyum senang.
"Terima kasih, Furkan." Ujar Budi. Ada rasa lega di hatinya karena harapan anaknya kini bisa terkabul.
"Kami berencana untuk melaksanakan acara lamaran secara resmi minggu depan. Setelah itu acara pernikahannya sebulan kemudian.. Bagaimana?" tanya Budi.
"Bukankah itu tak terlalu cepat?" tanya Wisnu.
"Nggaklah. Aku punya uang. Jadi, jika uang yang berbicara, bukankah semuanya akan menjadi lancar?"
"Memangnya kau pikir hanya kau saja yang punya uang?" Wisnu jadi tersinggung.
__ADS_1
"Biasanya akan pesta pernikahan ditanggung oleh pihak laki-laki."
"Tidak dalam kamus ku. Anakku harus tampil bak putri raja. Karena dia anak perempuan satu-satunya."
"Kamu pikir aku tak mampu membuat pesta yang akan menjadikan anakmu sebagai putri raja?"
Naura dan Valerie saling berpandangan sambil menggelengkan kepalanya. Kedua pria itu terus saling bertengkar tanpa menyadari kalau Elmira dan Nick sudah pergi dari ruangan itu.
"Ah, Nick. Akhirnya tinggal selangkah lagi kita akan bersama." ujar Elmira saat keduanya sudah pergi dengan mobil Nick."
"Iya, sayang. Tak sabar rasanya menunggu hari bahagia kita."
Kedua pasangan kekasih itu pun tersenyum bersama. Akhirnya restu itu di dapat walaupun di dalam rumah Wisnu perdebatan Wisnu dan Budi belum juga selesai. Kini mereka mempertentangkan jumlah undangan dan konsep pernikahan yang harus di laksanakan. Sedangkan Naura dan Valerie sudah pergi ke dapur untuk mempersiapkan makan malam.
************
Yasmin tersenyum melihat postingan Elmira di instagaram nya. Ia memamerkan sebuah cincin di jari manisnya dengan kalimat TAK SABAR MENANTI HARI BAHAGIA ITU
Para perawat dan dokter muda di rumah sakit ini pun membicarakan tentang berita yang sedang viral itu.
"Yas, suami kamu kan adik kembarnya Elmira Furkan? Siapa dong lelaki yang beruntung mendapatkan cinta sang artis?" Tanya Bella yang adalah juga dokter koas seperti dirinya.
"Pengusaha dari Singapura namun ayahnya orang Indonesia, mamanya bule asal Amerika
Namanya Nick."
"Wah....wah.....ganteng dong?"
"Gantenglah. Tunggu saja Elmira unggah fotonya. Pasti kalian akan melihatnya."
"Aduh, akhirnya Elmira akan menikah. Kami para penggemarnya sudah menginginkan Elmira dengan ustadz Ernest. Ternyata mereka tak berjodoh, ya?"
Elmira hanya tersenyum mendengar para penggemar Elmira yang begitu penasaran dengan kehidupan percintaan Elmira.
"Sudah tanda tangan absen?" tanya Bella.
"Belum.. Absennya ada di ruangan sebelah." ujar Yasmin.
"Aku sudah tanda tangan, kok. Sekarang aku mau pulang dulu ya? Sudah jam 5 lewat." pamit Bella. Yasmin hanya mengangguk. Ia pun segera ke ruangan sebelah untuk mengambil absen. Saat ia masuk, di sana ada Andre. Yasmin melihat kalau di tangan Andre ada absen.
"Andre, boleh pinjam absennya?" tanya Yasmin mencoba bersikap biasa. Sudah 3 hari mereka ada di rumah sakit yang sama dan Andre bersikap sangat dingin padanya.
Yasmin pun menandatangani absen yang ada. Setelah itu ia mengantarnya ke kepala ruangan yang ada.
Saat Yasmin akan pulang, tiba-tiba saja dari lobby rumah sakit terlihat seorang pasien yang sedang di dorong dalam keadaan Kritis.
"Yasmin, tolong bantu kami di UGD." teriak dokter Arman.
Yasmin terpaksa ikut berlari mendekati pasien yang sementara di dorong itu.
"Dia kena serangan jantung. Dokter Prayuda yang membawanya. Mobil dokter ditabrak orang ini dari belakang."
"Dokter Prayuda?"
"Iya. Dokter sementara di toilet."
Mereka sampai di dalam UGD. Yasmin langsung membantu dokter Arman untuk memberikan pertolongan pertama bagi pasien ini. Ia langsung memasang selang oksigen.
"Langsung pasang infus untuk menyuntikan obat antibiotik padanya." ujar dokter Arman.
Prayuda masuk. Ia langsung mendekati pasien itu. "Yasmin?"
"Hallo, kak." sapa Yasmin sambil memasang infus di tangan pasien. Tangannya sedikit bergetar melihat keadaan pasien yang semakin kritis.
"Siapkan alat kejut jantung." teriak Prayuda lalu memerintahkan Yasmin untuk mengambil.2 jenis obat yang harus disuntikan di tubuh pasien.
Kejadian yang sangat menegangkan, bagaimana mereka bekerja sama untuk menyelamatkan pasien itu.
"Alhamdulillah." Seru Dokter Arman saat melihat alat pendeteksi jantung sudah berbunyi normal.
"Dia kembali dari kematiannya." sambung Prayuda.
Yasmin yang terlihat masih tegang hanya diam terpaku.
"Yas, sudah. Pasiennya sudah diselamatkan."
Yasmin seakan kembali dari lamunannya. Ia menatap Prayuda. "Kak, wajahmu?"'Yasmin terkejut saat melihat wajah Prayuda ada memarnya.
__ADS_1
"Yas, tolong periksa dokter Prayuda, ya. Aku akan mencoba menghubungi keluarga pasien." kata dokter Arman lalu keluar dari ruangan UGD.
Yasmin menatap Prayuda dengan jantung yang kembali berdetak Apakah ia rindu 3 hari tak bertemu Prayuda?
"Kak, duduk di atas tempat tidur. Aku akan memeriksa tubuh kakak. Kalau boleh kemeja kakak di buka dulu. Ada noda bekas darahnya."
Prayuda memeriksa kemejanya. Ia terkejut melihat noda darah di pinggangnya. Ia pun duduk di atas brangkas sambil membuka kemejanya. Sebenarnya Prayuda merasa sedikit pusing.
" Bagaimana kakak bisa ditabrak oleh orang itu?"
"Aku sedang berhenti di persimpangan lampu merah di bawa sana. Aku parkirnya paling belakang. Saat lampu baru berganti warna hijau, sebelum aku melepaskan rem tangan, tiba-tiba saja ada mobil yang menabrak aku dari belakang. Sialnya aku baru saja mau mengenakan sabuk pengaman ku. Aku langsung turun untuk melihat keadaan mobilku namun yang kulihat justru pengendara mobil yang menabrakku nampak kejang-kejang. Aku langsung melarikan dia di rumah sakit terdekat ini."
Yasmin menuangkan alkohol ke atas kapas lalu mulai membersihkan luka di pelipis Prayuda.
"Kakak masih saja memikirkan keselamatan orang lain tanpa menghiraukan keselamatan kakak sendiri."
"Suatu saat jiwamu sebagai seorang dokter akan melakukan hal yang sama."
Yasmin yang berdiri diantara kaki Prayuda yang terbuka sedikit meringis melihat pelipis dan pinggang sebelah kiri Prayuda yang sobek. "Kak, ini harus dijahit. Aku panggil dokter jaga ya."
Prayuda menahan lengan Yasmin. "Memangnya kenapa kalau kamu yang jahit? Kan dokter Arman sudah menyuruhmu untuk memeriksa aku."
Yasmin pun mengambil benang dan jarum untuk menjahit pelipis dan pinggang Prayuda yang sobek.
Bukannya Yasmin tak mau menjahit luka Prayuda namun berdekatan dengan pria itu sungguh membuat Yasmin tak mampu menahan debaran di jantungnya. Apalagi ia sudah tahu bagaimana perasaan Prayuda padanya.
Sedangkan Prayuda, ia meminta Yasmin untuk menjahit lukanya karena hatinya begitu kuat ingin berada dekat Yasmin. Selama 3 hari ini ia sudah menahan dirinya untuk tak mencari tahu di mana Yasmin berada. Namun kecelakaan sore ini justru mempertemukan mereka secara tak sengaja.
Yasmin pun mulai menjahit luka di pelipis Prayuda. Kemudian ia menjahit luka di pinggangnya.
"Aow.....!"
"Sakit ya, kak? Kakak sendiri yang nggak ingin dibius."
"Sudah selesai?" tanya Prayuda.
"Sudah, kak." Yasmin mendongak. Tatapan mereka bertemu namun Yamin buru-buru m membuang pandangannya ke lain arah.
" Tolong ambilkan obat pereda sakit dan antibiotik." Kata Prayuda. Ia berusaha memakai pakaiannya kembali namun. tangannya terasa sakit. Yasmin pun berbalik dan membantu Prayuda mengenakan lagi kemejanya. Kedekatan mereka, harum tubuh masing-masing membuat keduanya sama-sama memendam rasa sakit di hati.
Seolah ia tak akan pernah tahu tentang perasaan ku ini. Kata hati mereka masing-masing.
Setelah Prayuda meminum obatnya, Yasmin pun pamit untuk pulang. Ia melihat jarum jam yang sudah menunjukan pukul setengah tujuh malam.
Dokter Arman kembali masuk ke ruangan sambil mengantar keluarga pasien. Mereka pun bercakap dengan Prayuda dan dokter muda itu tak mau menuntut apapun karena ia tahu itu murni kecelakaan. Sang Bapak sudah mendapatkan serangan jantungnya sebelum menabrak mobil Prayuda.
Yasmin pun menuju ke tempat parkir. Sebelum menjalankan mobilnya, ia sudah menelepon Erdana dan menjelaskan kenapa ia terlambat pulang. Erdana ternyata masih ada di rumah Mentari karena sore ini jadwal Mentari memeriksakan diri ke dokter. Makanya Yasmin sedikit lega. Keduanya janjian untuk makan malam bersama di aoartemen.
Saat Yasmin akan keluar dari gerbang rumah sakit, ia terkejut melihat Prayuda yang berdiri di sana.
"Kak, mana mobilnya?"
"Di bengkel."
"Ayo aku antar saja. Kan kita searah."
Prayuda pun masuk ke dalam mobil sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya. Inilah efek jika tak memakai sabuk pengaman dan mengalami kecelakaan.
Saat Yamin menjalankan mobilnya, Prayuda terlihat sedikit meringis saat ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Kak, kenapa nggak dirawat di rumah sakit saja?"
"Aku bisa merawat diriku sendiri, Yas."
Yasmin merasa kasihan dengan Prayuda. Dia memang jenis orang yang tak mau menyusahkan orang lain.
Akhirnya Prayuda dan Yasmin tiba di lobby apartemen Prayuda. Saat melihat Prayuda yang turun agak kepayahan, Yasmin pun menolongnya berjalan masuk. Namun karena tubuh Prayuda lebih tinggi dari Yasmin, akhirnya keduanya jatuh bersama karena Prayuda merasa pusing.
Posisi jatuh mereka pun sangat menggetarkan hati masing-masing. Yasmin di bawa dan Prayuda tepat berada di atasnya. Hidung mereka saja hampir bersentuhan.
************
Hallo......
Duh, bagaimana nih....
katanya ingin berjauhan tapi takdir justru mempertemukan mereka.
__ADS_1
Dukung emak terus ya guys