
Erdana dan Yasmin terbuai dalam dinginnya malam. Mereka bercumbu dengan begitu mesranya didalam kamar yang hanya disinari sebatang lilin.
Yasmin berusaha membuang kenangan buruk yang pernah dialaminya bersama Erdana di malam saat ia diperkosa. Ia membalas ciuman Erdana dan tak menolak saat tangan Erdana sudah masuk di balik kemeja piyamanya.
Awal manis yang sebenarnya dapat diteruskan karena Yasmin yang sepertinya sudah pasrah, kini menjadi rusak saat bayangan Mentari justru bermain di pelupuk mata Erdana. Ada rasa berdosa saat harus menyentuh perempuan lain.
Dan kembali Yasmin harus menelan kekecewaan, ketika Erdana menghentikan semua kegiatannya pada tubuh Yasmin.
Laki-laki itu duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajahnya kasar.
Tepat di saat itu, aliran listrik kembali menyala. Yasmin perlahan duduk dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
Erdana kini duduk menghadap ke arah Yasmin. Perempuan itu menatap ke arah lain. Ada air bening yang sebenarnya hampir keluar dari sudut matanya namun berusaha ditahannya. Perasaan malu bercampur dengan pertanyaan besar, Mengapa Erdana harus berhenti pada hal ia sudah berusaha membuang semua kenangan buruk tentang pemerkosaan itu?
"Yasmin, ada sesuatu yang ingin ku ceritakan padamu sebelum kau setuju untuk berhubungan layaknya suaminya istri denganku. Aku tak mau munafik, aku sangat ingin menikmati hubungan ini denganmu. Namun ada satu hal yang membuatku harus jujur padamu karena aku tak mau dianggap sebagai pria pembohong." kata Erdana. Ia menatap lurus ke arah Yasmin. Ia tahu gadis itu sebenarnya sudah sangat siap untuk dia masuki.
Melihat Yasmin masih diam, Erdana pun melanjutkan bicaranya. "Kau tahu kalau aku dan Mentari memiliki hubungan selama 7 tahun kan? Mentari pergi agar kita bisa menikah."
Yasmin perlahan menatap Erdana.
"Aku dan Mentari sudah menikah siri 4 tahun yang lalu saat kami ada di Amerika."
Yasmin terkejut. Ia menatap Erdana tak percaya. "Me....nikah si...ri?" tanyanya kembali dengan agak terbata.
"Iya."
"Ayah dan ibu kakak, apakah mereka tahu?"
Erdana menggeleng. "Hanya paman Gading yang tahu. Itu kami lakukan karena hubungan kami sudah sangat dekat dan kami takut jatuh dalam perzinahan. Bibi Jeslin baru ku beritahu saat aku mencari Mentari ke rumah mereka."
"Jadi kak Mentari adalah istri pertama kak Er?"
"Ya."
"Kasihan kak Mentari. Ia harus berkorban agar kita dapat menikah. Kenapa kakak tak mengatakannya sebelum kita menikah?" Yasmin turun dari ranjang.
"Mentari meminta aku menalaknya dan memohon padaku agar tak mengatakan pada siapapun tentang pernikahan ini."
"Dan kakak menalaknya?"
"Bagaimana aku bisa menalak wanita yang aku cintai?"
Yasmin menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Ia berjalan mondar mandir sambil. Sesekali menatap Erdana yang masih duduk dengan wajah yang bingung.
"Mentari menghilang dan tak bisa kutemukan. Bibi Jeslin meminta aku untuk melupakan Mentari. Aku akhir-akhir ini sempat berpikir, apakah memang sebaiknya aku belajar melupakan Mentari dan memperbaiki hubungan kita agar menjadi pasangan suami istri yang sebenarnya? Ayahku juga menasehati ku agar memperbaiki hubungan kita berdua." Erdana turun dari ranjang dan mendekati Yasmin yang masih berdiri tanpa bisa melakukan apa-apa. Ia hanya menatap lurus ke arah Erdana sambil kedua tangannya dilipatnya di depan dadanya.
"Yas, kita sudah saling mengenal sejak kecil. Tak ada niat dalam hatiku untuk melukaimu. Namun kita sudah ada dalam suasana pernikahan ini. Secara nyata aku sudah berpoligami denganmu walaupun jujur ku akui kalau aku tak pernah menginginkan ini terjadi. Aku tak tahu sampai kapan bisa menghapus bayangan Mentari dari hidupku. Aku juga percaya, tak mudah bagimu untuk melupakan Andre yang sampai saat ini masih mengejarmu. Kita punya janji pada kakek mu untuk tak bercerai apapun yang terjadi. Aku sendiri bingung bagaimana harus menjelaskan hubungan diantara kita berdua."
Yasmin menarik napas panjang. Menatap Erdana yang berdiri di hadapannya. "Jika suatu hari kak Mentari kembali. Dan ternyata dia masih sendiri, apakah kakak akan kembali padanya?"
"Mungkin. Entahlah. Aku juga bingung. Bagaimana pun dia masih istriku." Erdana menggelengkan kepalanya.
Yasmin tersenyum. "Aku memang masih sering bergetar setiap kali melihat Andre. Kisah kami manis walaupun hanya beberapa bulan terjalin. Aku bisa bayangkan kakak yang memiliki kenangan indah selama 7 tahun dengan kak Mentari. Pasti juga bukan hal yang mudah untuk dilupakan." Yasmin melangkah lebih mendekat. "Kak, aku memang tak suka dipoligami. Namun jika madunya adalah kak Mentari, aku rela!"
__ADS_1
Erdana terkejut mendengar pengakuan Yasmin. "Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?"
"Entahlah. Aku juga tak tahu apakah aku mengerti dengan pernikahan poligami atau tidak. Namun, aku juga tak pernah berpikir untuk bercerai dari kakak. Eh, mungkin diawal kita menikah, hal itu selalu terpikir olehku. Namun semenjak anak kita meninggal, aku tak pernah memikirkannya lagi." Yasmin tersenyum. "Dulu aku pernah suka padamu, kak. Itu saat aku SMP. Namun melihat bagaimana manisnya hubungan kakak dengan kak Mentari, aku membuang rasa sukaku padamu. Dan aku membuka hati untuk pria lain. Yang paling berkesan adalah Andre." Yasmin terkekeh. "Seperti kata orang-orang, mungkin dia mantan terindah."
Erdana merasa lega melihat Yasmin tertawa. Ia senang karena akhirnya bisa jujur tentang status hubungannya dengan Mentari. Tangan Erdana terulur dan membelai pipi Yasmin dengan lembut. "Ternyata pikiranmu sangat dewasa. Aku bangga padamu."
Yasmin tersipu mendengar pujian Erdana. "Kakak bisa aja."
"Yas, mulai malam ini, aku ingin memperbaiki hubungan diantara kita. Kau mau mencobanya juga?"
"Aku mau, kak."
Erdana memeluk Yasmin dengan sangat lembut. Yasmin membalas pelukan itu. Dia juga lega karena sudah jujur tentang perasaanya. Ah, kak Mentari, kamu di mana? Batin Yasmin.
"Kita tidur saja, yuk! Besok kita berdua berkeliling desa ya? Aku juga sudah setahun tak datang di tempat ini."
"Ok, kak." Yasmin melepaskan pelukannya. Ia naik ke atas tempat tidur dan langsung tidur membelakangi Erdana.
Erdana masih ke kamar mandi untuk buang air kecil dan mencuci wajahnya. Setelah itu, ia ikut berbaring di samping Yasmin. Sebenarnya Erdana ingin memeluk gadis itu. Namun ia mengurungkan niatnya. Ia pun ikut membalikan badannya, membelakangi Yasmin sambil mencoba memejamkan matanya.
**********
Dua hari di desa, Yasmin dan Erdana menikmati kebersamaan mereka dengan berkeliling desa dan ketemu dengan teman-teman masa kecil mereka. Saat malam tiba, keduanya tidur dikamar yang sama namun tetap menjaga jarak walaupun jauh di lubuk hati Erdana ada rasa ingin menyentuh istrinya itu namun ia menahan diri. Ia tak ingin buru-buru. Ia ingin Yasmin juga benar-benar siap sebelum mereka melakukannya.
Senin subuh, keduanya sudah kembali ke Jakarta. Sesampai di apartemen, Yasmin segera mandi dan bersiap karena ia ada kuliah jam 9 pagi. Demikian juga Erdana segera menuju ke kamarnya untuk mandi dan menggunakan pakaian kerjanya.
Saat ia turun ke bawa, Yasmin sedang membuat roti bakar.
"Boleh, kak. Mau pakai keju atau coklat?"
"Keju dan coklat." jawab Erdana lalu menyalahkan mesin pembuat kopinya.
"Kuliahnya sampai jam berapa?" tanya Erdana.
"Sampai jam 4 sore."
Yasmin meletakan roti bakar Erdana di depan pria itu. Ia kemudian mengambil susu dan rotinya dan duduk di depan Erdana. Keduanya makan dalam diam karena Erdana sibuk dengan ponselnya.
"Yas, kita bareng ya? Kan searah dengan kantorku. Nanti pulang juga aku jemput. Sudah rindu ziarah ke kubur anak kita."
"Boleh, kak."
Selesai sarapan, keduanya segera ke basemen dan naik mobil Erdana menuju ke kampus Yasmin.
"Makasih ya kak karena sudah mengantarku." kata Yasmin sambil membuka sabuk pengamannya. Saat ia akan membuka pintu mobil, Erdana menahan lengannya.
"Ada apa, kak?"
"Cium tangan suaminya dulu."
Yasmin tertawa namun dia melakukannya juga. Ia mengambil tangan Erdana dan mencium tangan suaminya itu lalu segera turun dari mobilnya. Erdana jadi ingat dengan Mentari. Ia tahu kalau itu kebiasaan saat mereka bertemu dan akan berpisah.
Ponsel Erdana berbunyi. "Hallo."
__ADS_1
"Pak, hari ini wakil dari perusahaan Cahaya Indah akan bertemu dengan kita." ujar Tina, sekretarisnya.
"Bukankah jadwal pertemuannya nanti tanggal 20? Memangnya ini tanggal berapa?"
"Tanggal 14, pak."
"Baiklah. Jam berapa pertemuannya?"
"Jam 11, pak."
"Sekalian saja pesan makan siang ya? Pak Bojes apakah sudah ada di tempat?"
"Sudah pak."
"Minta dia untuk menyiapkan berkasnya. Saya akan ke kantor sekarang." Erdana mengahiri percakapannya. Saat ia akan menjalankan mobilnya, ia ingat sesuatu. Tanggal 14? Bukankah ini hari ulang tahunnya Mentari?
Erdana mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menarik napas panjang. Mencoba membunuh bayangan Mentari yang tiba-tiba saja memenuhi kepalanya. Percakapannya dengan Yasmin saat di villa terbayang kembali. Erdana akan mencoba menjadi suami yang sebenarnya dari Yasmin.
***********
"Prayuda? Bunda?" Mentari terkejut melihat Prayuda yang datang bersama Jeslin.
"Surprise. Happy Birthday!" Ujar Jeslin lalu langsung memeluk anaknya dengan perasaan hati yang bahagia.
Setelah itu, Prayuda gantian memberikan selamat pada Mentari.
"Kok bisa bareng?"tanya Mentari sambil mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Kemarin aku ketemu bibi di mall. Bibi cerita ingin datang ke Singapura untuk merayakan ulang tahunmu. Sekalian aja aku ikut. Kebetulan lusa aku ada di Malaysia. Sekalian aja mampir ke sini dulu. Mana baby As?' tanya Prayuda.
"Lagi bobo di kamar. Baru saja selesai ku mandikan." Mentari membuka kue yang di bawa bundanya.
"Kamu sudah 26 tahun, nak. Jika ayahmu masih hidup, pasti dia akan senang melihat baby As." Kata Jeslin sambil mengusap punggung anaknya.
"Biarkan ayah tenang di sana, bun."
"Kamu sendiri hidup di sini. Bunda jadi kepikiran terus. Adikmu masih satu tahun lagi baru pulang dari London. Ia akan menakutkan studi S2 nya di sana. Katanya ia mendapatkan beasiswa."
"Bunda saja yang ikut tinggal denganku di sini."
"Bunda harus mengawasi perusahaan yang ada. Oh ya, Erdana datang lagi mencari mu, nak. Bunda terpaksa berbohong padanya dengan mengatakan kalau kamu sudah punya kekasih."
"Aku melihat unggahan Elmira di instagaram nya saat mereka merayakan satu tahun pernikahan mereka di desa. Jujur aku cemburu, bun. Namun aku ikhlas melihat kebahagiaan mereka." Kata Mentari sambil berusaha tersenyum. Prayuda yang mendengarnya pun ikut tersenyum. Aku bangga denganmu, Ri. Kau mengikhlaskan kebahagiaanmu menjadi milik orang lain. Andai saja aku bisa menyentuh hatimu.
***********
Hai....hai.....
selamat pagi....
Maaf ya, jika ada yg kurang suka dengan alur ceritanya. Emak memang suka buat cerita yang agak berbeda dengan yang lain
semoga yang lain masih tetap suka ya?
__ADS_1