CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Menjadi Milik Mas Pra


__ADS_3

Gaun pengantin itu sudah membungkus tubuh langsing Yasmin. Ia terlihat sangat cantik. Seperti seorang putri dari negeri dongeng.


Gayatri melihat putrinya dengan perasan haru. Ia ingat, beberapa tahun yang lalu. Yasmin juga pernah mengenakan gaun pengantin. Namun di hari itu ia terlihat sangat sedih. Tukang make up bahkan harus beberapa kali memoles make up di wajahnya karena mata Yasmin yang bengkak karena menangis semalaman.


Sangat berbeda di hari ini. Yasmin terlihat sangat bergembira. Ia bahkan tak sabar menunggu jam akad nikah.


"Ibu, bagaimana dandanan ku?"


"Cantik. Kau bagaikan putri dari negeri dongeng."


Yasmin tersipu. "Tapi kisah di hari ini bukan cerita dongeng kan, Bu?"


"Iya. Kau terlihat sudah tak sabar ingin menjadi istri Prayuda."


Yasmin semakin tersipu. "Ibu kayak nggak mengerti saja. Aku dan mas Pra adalah sebuah kisah yang tak mungkin namun kini menjadi mungkin. Kalau Kak Er tak memberikan restunya, mana mungkin mas Pra mau datang ke sini. Ia lebih memilih menyakiti dirinya sendiri dari pada menyakiti perasaan kak Er."


Gayatri memegang tangan anaknya. "Ibu berdoa semoga pernikahan kalian berdua menjadi ibadah yang memuliakan Allah. Semoga kau menjadi istri yang taat, setia serta menghormati suamimu sebagai imam dalam rumah tangga kalian. Yas, ini yang terakhir ya? Jangan ada perceraian lagi."


"Duh, ibu. Kok buat aku pingin nangis, sih?" Yasmin mencoba menahan air matanya agar tak jatuh. Ia mengibaskan tangan kanannya di depan wajahnya. "Waktu aku menikah dengan kak Er dulu, ibu nggak pernah ngomong kayak gini."


Gayatri mengambil tissue dan memberikannya pada anaknya. "Ibu hanya tak ingin kamu gagal lagi, nak."


"Aku janji, bu. Aku akan menjadi istri yang baik bagi mas Pra. Aku tak akan membuat ayah dan ibu malu."


Pintu kamar Yasmin diketuk. Gayatri melangkah dan membukakan pintu.


"Erdana?"


"Ibu, bolehkah aku bicara dengan Yasmin sebentar?"


Gayatri mengangguk. "Bicaralah. Ibu akan tinggalkan kalian berdua."


Gayatri keluar dari kamar dan membiarkan Erdana masuk. Yasmin yang sementara memperbaiki dandanannya terkejut saat melihat Erdana.


"Kak?"


"Maaf jika aku mengganggumu."


Yasmin tersenyum. "Tidak, kak. Ayo silahkan duduk." Kata Yasmin sambil menunjukan sofa yang ada di dalam kamar hotel itu.


Keduanya pun duduk. Saling berhadapan. Erdana juga terlihat tampan dengan kemeja batik berwarna coklat.


"Yasmin, aku ucapkan selamat untukmu, ya? Aku yakin kalau Prayuda adalah pria baik yang akan membuatmu bahagia lahir dan batin."


"Terima kasih, kak."


"Kita pernah punya kisah. Yang membahagiakan tapi juga yang membuat kita sama-sama terluka. Secara pribadi, aku sudah berdamai dengan masa lalu. Aku percaya kalau Allah pernah mengijinkan kamu hadir dalam kisah hidupku, agar kita menjadi semakin dewasa dalam menjalani kehidupan ini."

__ADS_1


"Iya, kak. Maaf ya jika aku pernah menyakiti kakak."


"Masa lalu biarkanlah berlalu. Ke depan, kita akan tetap menjadi saudara. Aku juga sudah lama bersahabat dengan Prayuda. Kita akan sering bertemu."


Yasmin mengangguk. Ia merasa lega karena Erdana bisa berbicara dengannya saat ini. Dulu ia pergi tanpa bicara apapun dengan Erdana.


"Bersiaplah. Ini sudah pukul setengah sepuluh. Jam 10 akadnya akan dilaksanakan." Erdana berdiri. Hatinya kini merasa lega karena ia sudah berbicara dengan Yasmin. Saat ia keluar kamar, dilihatnya Mentari berdiri di ujung koridor. Istrinya itu terlihat cantik dengan gaun bermotif batik yang sama dengan kemeja yang dikenakannya.


"Mas.....!" Mentari mengulurkan tangannya. Erdana menyambut tangan istrinya, lalu mencium punggung tangan Mentari dengan sangat lembut.


"Bagaimana Yasmin?" tanya Mentari saat keduanya sudah melangkah bersama.


"Dia terlihat bagaikan putri. Cantik, secantik gaun pengantin yang dipakainya. Kami sudah berbicara dan aku yakin, tak ada luka lagi di hati kami masing-masing."


Mentari tersenyum. Ia menatap suaminya yang melangkah di sampingnya. "I love you." kata Mentari.


Erdana tersenyum. "I love you too."


************


Masjid yang ada di Islamick center Kota New York, menjadi saksi dilaksanakannya akad nikah antara Yasmin dan Prayuda. Keduanya terlihat bahagia walaupun di awalnya sempat gugup.


Prayuda terlihat tampan dengan tuxedo berwarna hitam yang membungkus tubuh atletisnya. Ia mengucapkan ijab Kabul nya dengan satu tarikan nafas.


"Sah....!"


William yang ikut hadir dalam acara akad itu pun nampak bahagia. Ia memberikan ucapan selamat pada pasangan pengantin yang terlihat begitu serasi dan saling mencintai.


Setelah acara akad, sebuah kereta berwarna putih dengan kuda putih sudah menunggu mereka. Yasmin dan Prayuda akan naik kereta kuda yang sudah dihiasi dengan bunga-bunga yang indah, untuk keliling kota New York sebentar, sebelum menuju ke salah satu hotel untuk acara resepsinya. Konsep yang mereka pilih adalah pesta taman yang sudah disiapkan di belakang hotel tersebut.


Mereka menghias taman hotel bagaikan sebuah taman tempat para bidadari tinggal karena ada air mancur, jembatan dan pelangi buatan yang membuat semua tamu akan menikmati perasaan bahagia saat ada di salam pesta itu.


Kue pengantinnya pun sangat indah berbentuk seperti bunga teratai. Yasmin sungguh tak menyangka kalau Prayuda dapat mewujudkan semua yang diinginkannya.


"Akhirnya mereka menikah." kata Satria.


"Tugas kita tinggal bagaimana membuat Noah akan menyusul adiknya."


"Noah memang belum ingin menikah." ujar Satria.


"Katanya ia nggak mau membuat aku kesepian karena Yasmin sudah menikah. Aku bahkan sempat khawatir karena Noah sama sekali tak pernah menunjukan pacarnya pada kita."


Satria melingkarkan tangannya di bahu Gayatri. "Mungkin Noah mencari kriteria wanita yang sama dengan kamu sayang. Dan sangat jarang bisa mendapatkan wanita sepertimu yang baik hati, tulus dan apa adanya." Satria membelai wajah Gayatri membuat istrinya itu mundur beberapa langkah.


"Mas, malu ah, dilihat orang."


Satria tertawa. "Ini kan di Amerika. Lebay dikit nggak masalah kan? Aku justru ingin setelah pernikahan Yasmin kita akan jalan-jalan dan bulan madu di sini."

__ADS_1


Gayatri menjadi tersipu. Suaminya ini sungguh tak berubah. Walaupun sangat sibuk tapi selalu menyediakan waktu khusus untuk mereka bersama.


Di sudut lain, ada pasangan Yuda dan Jeslin yang sedang berdansa. Mereka nampak bahagia dan saling menatap penuh cinta.


"Ada apa, mas?" tanya Jeslin karena sedikit jengah dengan tatapan suaminya.


"Kamu cantik."


"Mas, cantik apanya? Usia aku sudah 50an. Jangan lupakan itu. Aku juga sudah punya dua cucu."


"Kalau begitu kamu nenek yang cantik. Awet muda dan tetap penuh pesona. Bagaimana jika selesai pesta ini, kita jangan dulu pulang. Bulan madu lagi. Kalau langsung pulang ke Jakarta pasti akan langsung berhadapan dengan para pasien."


Jeslin terkekeh. Ia membelai punggung suaminya dengan lembut. "Seingat ku waktu kita pacaran dulu, kamu nggak romantis kayak gini."


"Berpisah darimu telah membuat aku mengerti bahwa kamu adalah wanita yang harus aku manja, aku sayangi dan aku perlakukan dengan istimewa. Setelah melewati 30 tahun tanpa bisa memelukmu, kini kau ada di sampingku lagi. Sudah seharusnya kan aku menjadikan kamu ratu dalam hidupku?"


Keduanya sama-sama tertawa. Tawa bahagia. Yuda menunduk dan mengecup bibir Yasmin. Tak peduli dengan tatapan melotot Prayuda.


"Ada apa, sayang?" tanya Yasmin.


"Papa ku kayak ABG saja. Nggak ingat umur, di mana saja selalu mencium ibu Jeslin."


Yasmin terkekeh. Ia membelai wajah Prayuda. "Makanya, jangan mau kalah dengan yang tua."


Prayuda menatap mata istrinya yang berbinar. "Kamu tahu, sayang. Aku saat ini sedang berusaha menahan diriku agar tak langsung menarik mu ke kamar."


"Aduh, kamu mesum juga ya?" Yasmin melingkarkan tangannya di leher Prayuda. "Sabar suami ku. Masih ada acara pemotongan kue pengantin. Masih ada acara foto keluarga."


Prayuda nampak cemberut. "Suruh MC nya untuk cepat."


Keduanya sama-sama tertawa. Sungguh hari yang sangat membahagiakan.


Pasangan juragan Wisnu dan Naura ke mana ya? Ternyata si Juragan posesif itu sedang asyik berciuman dengan Naura di balik sebuah tiang bunga. Wisnu jadi sedikit agresif saat melihat kalau ada pria tampan yang mendekati Naura dan mengatakan kalau Naura mirip dengan mendiang istrinya. Pada hal pria itu baru berusia 30an. Ia terkejut saat mendengar kalau Naura sudah berusia 50 tahun.


"Kau sangat cantik, nyonya. Rasanya tak percaya saat mengetahui kalau usiamu sudah 50 tahun. Dari mana kecantikan mu ini berasal?"


Untung saja Naura berhasil mengusir pria itu pergi. Dan lihatlah, sekarang Wisnu sedang menghukumnya dengan ciuman panjang yang hampir membuat Naura kehilangan kendali.


Para juragan asal Indonesia ini memang sedang menikmati masa tua mereka dengan sangat manis.


"Ayo foto bersama. Paman Wisnu dan bibi Naura ke mana ya?" tanya Noah.


*************


Kira-kira Naura dan Wisnu masih di sana atau sudah ke kamar ya???


Bagaimana malam romantis Prayuda dan Yasmin?

__ADS_1


Dukung emak terus ya guys


__ADS_2