CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Pergolakan Hati


__ADS_3

Yasmin memasang senyum termanisnya sebelum ia membalikan badannya.


"Selamat sore dokter Elif. Selamat sore dokter Prayuda!" sapa nya lembut.


"Sudah selesai?" tanya dokter Elif.


"Sudah, dok."


"Aku memohon ijin pada dokter Prayuda untuk memindahkan kamu ke bagian unit gawat darurat. Kami di sana kekurangan dokter." ujar Elif.


"Oh...., boleh dok." ujar Yasmin sambil tersenyum walaupun sebenarnya ia tak rela harus keluar dari timnya Prayuda.


"Kalau begitu, aku juga mau pulang. Makasi ya, Yud untuk kopinya." Elif pun melangkah meninggalkan Yasmin dan Prayuda.


Setelah Elif meninggalkan mereka, Yasmin berusaha menetralkan rasa canggung yang tiba-tiba saja melingkupi hatinya. "Kak, aku pulang dulu ya?" pamit Yasmin.


"Ok. Sampai jumpa besok."


Yasmin melangkah namun Prayuda memanggilnya lagi.


"Yas, tunggu sebentar!"


Yasmin membalikan lagi badannya. "Buku yang kau cari ada padaku. Ayo ke ruangan ku dulu!" ajak Prayuda.


Yasmin mengikuti langkah Prayuda menuju ke ruangan dokter itu.


"Kamu mencari buku tentang obat herbal ini kan? Tadi aku mampir ke toko buku dan melihatnya. Nih!" Prayuda menyerahkan buku itu.


"Makasi ya, kak."


"Mau belajar tentang obat herbal?"


"Aku ingin cari pengobatan untuk menolong kak Mentari. Aku nggak rela jika dia harus menjalani aborsi."


Prayuda menatap Yasmin dengan rasa kagum. "Erdana memang sangat beruntung. Kedua istrinya saling menyayangi. Mentari sedih karena kamu nggak juga hamil. Kamu berjuang agar Mentari tak harus aborsi."


"Aku kasihan saja dengan kak Mentari."


"Besok jadwal Mentari akan diaborsi."


"Besok? Memangnya kak Mentari sudah setuju? Semalam kak Er bilang kalau kak Mentari menolak."


"Dokter kandungannya sudah meneleponku tadi. Rencananya akan dikerjakan di rumah sakit ini."


Yasmin duduk dengan wajah sedih. "Kasihan. Pasti kak Mentari sangat sedih."


"Ini juga demi kebaikannya."


"Ya sudah. Aku mau pulang dulu ya kak? Eh, harga bukunya berapa?"


Prayuda terkekeh. "Bisa aja kamu ini. Harga bukunya gratis."


Yasmin berdiri. Namun tiba-tiba ia merasa pusing. Hampir saja ia jatuh kalau Prayuda tak cepat memeluk tubuhnya.


"Ada apa, Yas?" tanya Prayuda tanpa menyembunyikan rasa cemasnya.


Yasmin memejamkan matanya. "Aku nggak tahu, kak. Pusing."


Prayuda dengan cepat mengangkat tubuh Yasmin kemudian membaringkannya di tempat tidur yang ada di ruangannya itu. Ia segera mengambil cairan alkohol, menuangkannya di atas kapas, lalu meletakan nya didekat penciuman Yasmin.


"Yas.....!" panggil Prayuda pelan.


Perlahan Yasmin membuka matanya tapi ia menutupnya kembali. "Aku masih pusing, kak."


Prayuda mengambil seteskop dan alat tensi darah digital.


"Tekanan darahmu agak kurang. Nadi mu juga sedikit lemah. Perutmu nggak enak ya?" Tanya Prayuda. Ia kemudian menekan ulu hati Yasmin. Perempuan itu sedikit meringis.


"Asam lambung kamu naik. Kamu belum makan?" tanya Prayuda setelah ia menganalisa apa yang membuat Yasmin menjadi pusing.


Yasmin coba mengingatnya. "Kayaknya dari pagi, aku hanya minum segelas susu."

__ADS_1


"Ya ampun, Yasmin. Kok kamu sampai lupa makan sih?" tanya Prayuda sedikit kesal.


"Maaf kak. Biasanya juga kita kan makan bareng. Jadi....." Kalimat Yasmin terhenti. Ia sadar telah salah bicara dalam mengungkapkan tentang kebiasaan nya bersama Prayuda. Seolah-olah Yasmin begitu tergantung pada Prayuda.


Ada rasa bersalah di hati Prayuda. Hari ini ia sengaja berada di rumah sakit milik keluarganya lebih lama dari biasanya. Ia menghindari Yasmin.


"Maaf!" Kata Prayuda sambil memegang pipi Yasmin. Ia kemudian menelepon seseorang dan memesan makanan dan teh manis.


"Yas, minum dulu obatnya. Setelah itu kamu harus makan sebelum pulang ke rumah." kata Prayuda sambil membantu Yasmin untuk setengah duduk.


Tanpa membuka matanya, Yasmin menelan obat cair yang disuapi Prayuda ke mulutnya. Setelah selesai, ia membaringkan Yasmin kembali.


Aroma vanila yang manis dan penuh sensasi kembali tercium di hidung Yasmin. Memberikan rasa nyaman dan tentram dalam hatinya. Ada keinginan dalam hatinya yang muncul. Dia ingin Prayuda memeluknya. Namun sedetik kemudian ia tersadar dari keinginan yang dapat menimbulkan dosa itu.


Prayuda menatap Yasmin yang terbaring sedikit pucat. Ingin rasanya ia membelai wajah cantik itu. Namun sensor pengingat dalam hatinya berbunyi. Menyadarkan dia dari keinginan sesaat yang bisa membawa perasaannya hanyut. Tidak! Yasmin adalah istri orang.


2 jam kemudian, setelah Yasmin makan dan beristirahat sebentar, Prayuda memutuskan untuk mengantar Yasmin pulang sedangkan mobilnya di bawa oleh satpam rumah sakit.


"Sebelum tidur, minum lagi obatnya. Semoga lekas sembuh ya?" ujar Prayuda sebelum Yasmin keluar dari mobil.


"Baik. Makasi ya, kak." Yasmin turun dan menerima kunci mobilnya yang diserahkan oleh pak satpam. Setelah sang satpam masuk ke dalam mobil Prayuda, Yasmin pun melangkah masuk ke dalam apartemen. Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam.


"Kak Er?" Yasmin memekik, sedikit terkejut melihat Erdana yang baru saja menuruni tangga. Sepertinya ia baru saja selesai mandi. Itu terlihat dari rambutnya yang basah.


"Kenapa terkejut?"'


"Kakak kok ke sini? Seharusnya kan kakak berada di samping kak Mentari. Kakak harus menemani kakak Mentari pasti dia sekarang sedang sedih."


"Aku juga inginnya begitu. Namun kamu tahu Mentari, kan? Dia tak mau aku ada di sana saat jadwalku bersamamu. Dia bahkan sempat marah karena tadi aku ada di sana."


Yasmin menggelengkan kepalanya. "Seharusnya, biar kak Mentari menyuruh kakak ke sini, kakak pakai cara lain untuk tetap di sana. Kakak boleh pakai alasan aku tak ada. Sedang jaga malam."


"Ponsel mu nggak aktif, Yas. Aku sebenarnya ingin menelpon mu dan memintamu untuk berbicara dengan Mentari."


Yasmin terkejut. Ia mengeluarkan hp nya dari dalam tasnya. "Maaf, kak. Aku nggak perhatikan kalau baterai nya habis."


"Ya sudah. Aku juga sudah di sini. Kamu sudah makan?"


Yasmin mengangguk.


"Nggak, kak. Aku hanya sedikit capek dan agak mengantuk."


"Kerja sebagai dokter pasti menguras banyak tenaga kan?"


"Aku menyukai profesi ku." Yasmin tersenyum. Ia mencium pipi Erdana dengan lembut. "Aku mandi dulu ya?"


Erdana mengangguk. Ia membiarkan Yasmin ke kamarnya sementara ia menyiapkan susu untuk Yasmin.


***********


Tak ada aktifitas bercinta malam ini. Selesai mandi, Yasmin langsung meminum susu yang disiapkan Erdana untuknya, setelah itu Yasmin pamit untuk tidur lebih dulu karena Erdana nampak sedang sibuk membaca beberapa file yang dikirimkan Bojes di email nya.


Erdana pun selesai dengan pekerjaannya, ia segera ke kamar untuk beristirahat. Ia sempat menelepon Mentari namun ponsel nya sudah tak aktif lagi. Mentari pasti sudah tidur karena jam sudah menunjukkan pukul 11 lewat 15 menit.


Erdana pun membaringkan tubuhnya di samping Yasmin. Di peluknya Yasmin dari belakang. Tak lama kemudian Erdana tertidur.


************


Mentari sudah menggunakan pakaian pasien rumah sakit. Sebuah baju terusan berwarna biru muda.


Dokter Kartika sementara menyiapkan segala sesuatu. Yasmin pun permisi untuk masuk.


"Kak.....!"'Panggil.Yasmin.


Mentari menoleh. Ia buru-buru menghapus air matanya.


"Jangan sedih, kak. Ini semua dilakukan demi kebaikan kakak. Kalau kakak sampai sakit lagi, bagaimana dengan baby As?"


Mentari mengangguk walaupun jelas terlihat di matanya ada kesedihan yang sangat dalam.


"Kamu koas di rumah sakit ini, ya?" tanya Mentari mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Iya, kak."


"Kamu pasti menjadi dokter yang diidolakan di sini."


Yasmin tersenyum. "Kenapa sampai kakak berpikiran seperti itu?"


"Kamu cantik, lembut dan juga pintar. Persis seperti bibi Gayatri. Sejak dulu, aku suka sekali saat melihat bibi Gayatri. Aku pikir waktu itu, dia sangat cocok menjadi guru TK karena kelembutannya."


Yasmin tahu kalau Mentari berusaha mengalihkan pikirannya dengan bercerita mengenai ibunya. Yasmin pun berusaha masuk dalam cerita Mentari agar bisa membuat perempuan itu sedikit tersenyum.


"Ibuku memang lembut, pintar dan cantik."


"Prayuda juga di rumah sakit ini kan?"'


Yasmin mengangguk. "Sekarang Kak Prayuda sedang ada di ruang operasi."


"Dia juga sudah menjadi dokter yang hebat. Kami akan menjadi saudara."


"Maksudnya?"


"Ibuku akan menikah dengan ayahnya."


"Oh, ya? Aku pernah mendengar, kalau bibi Jeslin dan dokter Yuda dulunya sepasang kekasih. Aku pikir itu berita hoax. Namun ternyata itu benar."


"Cinta lama yang bersemi kembali."


Keduanya tertawa bersama. Tak lama kemudian perawat datang dan meminta Yasmin untuk pergi karena pekerjaan mereka akan dimulai.


Yasmin pun ke luar ruangan. Di luar, ada Jeslin dan Erdana. Yasmin menyapa Jeslin dan memeluknya dengan penuh kasih karena ia melihat kalau Jeslin pun terlihat gelisah.


Mereka bertiga duduk di kursi besi yang ada di depan ruangan itu. Yasmin terus memegang tangan Jeslin. Sedangkan Erdana memilih untuk berdiri sambil menyandarkan punggungnya di dinding. Kedua tangannya ada di dalam saku celananya.


Tak lama kemudian, Prayuda pun datang. Ia tersenyum ke arah Jeslin dan Yasmin lalu mendekati Erdana.


"Sudah berapa lama Mentari ada di dalam?" tanya Prayuda.


"20 menit kayaknya."


"Berarti tak lama lagi selesai."


Erdana hanya mengangguk. Sesungguhnya hati dan pikiran Erdana sedang galau.


Pintu ruangan terbuka. Dokter Kartika keluar masih menggunakan kaos tangan dan topinya. Mata Prayuda yang awas melihat kalau kaos tangan itu nampak masih bersih.


"Tuan Furkan, nyonya Furkan ingin berbicara dengan kalian semua."


Erdana masuk lebih dulu, diikuti Jeslin dan Yasmin. Sedangkan Prayuda menghentikan langkahnya dan berbicara dengan dokter Kartika.


Mentari sudah duduk di atas tempat tidur. Saat ia melihat Erdana yang masuk, Mentari tak bisa menahan air matanya. Erdana berdiri di hadapan Mentari lalu menangkup kedua sisi pipi istrinya itu. Tatapan mereka bertemu.


"Aku nggak bisa, mas. Aku tak sanggup mengeluarkan anak ini dari dalam tubuhku. Aku mohon jangan paksa aku lagi. Aku seperti merasakan kalau anak ini bergerak seolah ia gelisah dan ketakutan di dalam." ujar Mentari diantara Isak tangisnya.


"Sayang, bagaimana dengan kesehatanmu?"


"Aku akan berjuang untuk sehat, mas. Aku akan berdoa dan memohon kepada Allah semoga ada keajaiban untukku. Kalaupun memang karena kehamilanku ini, aku harus pergi selamanya dari kehidupan kalian..." Mentari menoleh ke arah Yasmin dan Jeslin. "Aku akan pergi dengan damai. Karena aku tahu Yasmin akan menjadi ibu yang hebat bagi As dan bundaku akan mendampingi As juga."


'Aku nggak mau kehilangan kamu lagi, Ri. Aku akan hancur tanpamu." bisik Erdana sambil membawa Mentari ke dalam pelukannya. Keduanya menangis bersama.


Yasmin yang melihat itu merasakan betapa kuatnya perasaan Mentari sebagai seorang ibu untuk melindungi anaknya. Ia juga melihat bagaimana sayangnya Erdana pada Mentari.


"Kak....!" Yasmin mendekat. "Aku mendukung kak Mentari untuk meneruskan kehamilannya. Aku akan mencari cara pengobatan yang terbaik agar kak Mentari tetap kuat sampai waktunya untuk melahirkan." Yasmin tersenyum. Ia menyentuh tangan Mentari. "Kak Mentari harus kuat juga ya? Mari kita berjuang bersama. Aku yakin kakak pasti bisa. Karena aku tak akan mampu mengurus baby As sendiri."


Mentari mengangguk. Ia tersenyum dalam tangisnya. Di kandangnya Erdana yang nampak masih ragu.


"Mas mau kan berjuang bersama dengan kami?"


Erdana akhirnya mengangguk. Ia menatap Yasmin yang juga mengangguk untuk memberikannya dukungan. Mereka bertiga pun berpelukan bersama.


Prayuda yang melihat hal itu lega sekalipun rasa kekhawatiran ada dalam hatinya. Melihat bagaimana Yasmin ada dalam pelukan Erdana dan Mentari, hati Prayuda bergetar. Ya Allah, hilangkan perasaan aneh yang ada di hatiku ini. Yasmin adalah milik Erdana.


***********

__ADS_1


Selamat pagi!


Semangat dan sukacita di hari Jumat ya?


__ADS_2