
Sudah tiga hari Erdana pergi. Yasmin benar-benar merasa kesepian.
Selama satu bulan ini, ia sudah terbiasa tidur dalam pelukan Erdana. Bisa dikatakan bahwa setiap malam mereka pasti bercinta. Erdana seakan tak akan melepaskannya. Dan Yasmin merasakan bahwa ia begitu gampangnya jatuh dalam pelukan Erdana. Sentuhan suaminya itu selalu membuat Yasmin ingin merasakan sesuatu nikmatnya penyatuan mereka.
Apakah aku ini terlalu mesum? Apakah ini yang namanya sorga dunia? Ih....
Yasmin merasa aneh dengan dirinya.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi. "Hallo.....!" sapa Yasmin penuh semangat saat ia tahu kalau Erdana yang meneleponnya.
"Lagi ngapain?"
"Baru selesai makan malam."
"Bagaimana ujiannya?"
"Lancar, kak."
"Jangan terlalu larut belajarnya ya? Aku baru mau mampir di restoran untuk makan malam dengan temanku. Bye....!"
Yasmin sebenarnya masih ingin bicara. Ia mau menceritakan bahwa tadi ia bersama dengan Andre dan teman-temannya. Mereka hanya sekedar makan siang bersama karena Bima ulang tahun. Yasmin tak ingin menyembunyikan sesuatu dari Erdana. Jujur saja, pesona Andre dengan perhatiannya yang luar biasa untuk Yasmin masih sering membuat hati Yasmin bergetar walaupun ia tak pernah menunjukannya. Yasmin sedang belajar untuk mencintai Erdana.
*********
Erdana membelokan mobil yang disewanya selama ada di Singapura di sebuah restoran bintang lima. Sang pemilik perusahaan mengundang Erdana untuk makan malam bersama dengan istrinya.
Saat Erdana memasuki restoran dan menyebutkan nama Willy, gadis penjaga resepsionis itu langsung mengantarnya ke sebuah meja. Di sana ada Willy Chung dan istrinya.
"Senang akhirnya kita bisa bertemu. Oh ya perkenalkan ini istriku Bella Chung." kata Willy.
Erdana menjabat tangan perempuan berwajah oriental itu.
"Hanya berdua saja?" tanya Erdana sambil duduk.
"Ya. Kami hanya berdua saja. 10 tahun menikah dan belum memiliki anak, terkadang membuat kami berdua masih kayak orang pacaran saja." kata Willy sambil menggenggam tangan istrinya. Keduanya bertatapan dengan penuh cinta.
"Oh, maaf jika pertanyaan ku mungkin kurang sopan." Erdana merasa menyesal.
"Tidak apa-apa." ujar Bella sambil tersenyum.
"Ayo silahkan dilihat menunya." ujar Willy.
Erdana pun melihat daftar menu yang ada. Setelah memilih menu apa yang akan dicobanya, Willy mempersilahkan Erdana untuk menikmati anggurnya.
"Gaunnya sangat cantik." ujar Erdana.
"Oh, ini adalah hasil rancangan dari desainer andalanku. Asfarisal Colection. Desainernya orang Indonesia." kata Bella sambil memegang gaunnya. "Ia bahkan mendapatkan banyak penghargaan. Pada hal usianya masih muda. 26 tahun kalau nggak salah."
"Dia seorang laki-laki?" tanya Erdana.
"Bukan. Dia seorang perempuan. Sangat cantik. Namanya Mentari. Dulu butiknya bernama Mentari Colection. Namun sekarang butiknya itu bernama Asfarisal. Kata orang-orang itu nama anaknya."
"Mentari?" Erdana mengambil ponsel nya dan membuka galeri fotonya sambil menunjukan salah satu foto Mentari. "Apakah ini orangnya?"
"Wah, anda mengenalnya? Yang aku dengar juga kalau mba Mentari memang membuat baju untuk kaum pria juga. Tapi sekarang dia sudah berhijab."
"Apakah dia memiliki anak?"
"Saya juga tak tahu. Itu hanya kata orang saja
__ADS_1
Namun saya tak pernah melihat kalau dia bersama dengan seorang anak."
Erdana mulai merasa gelisah. Rasanya ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Mentari. Erdana membuka geogle map dan mencari alamat butik itu. Selesai makan mam, Erdana buru-buru pergi dengan alasan kalau ia sangat lelah.
Dengan cepat Erdana memacu mobilnya menuju ke alamat yang di maksud. Butik itu sudah tutup rupanya. Pantas saja Erdana tak bisa melacak keberadaan Mentari. Rupanya koleksi bajunya di luar negeri sudah berganti nama. Kalau di Jakarta, butik milik Mentari masih bernama Mentari.
"Asfarisal?" Erdana mencoba mengingat di mana ia pernah mendengar nama itu. Sampai akhirnya, kenangan beberapa tahun yang lalu mengingatkan Erdana saat ia menemani Mentari ke Turki untuk mengikuti pagelaran busana di sana.
memutar memori........
"Asfarisal.....!" Mentari membaca nama sebuah cafe kecil yang mereka kunjungi saat itu.
"Kenapa sayang?" tanya Erdana sambil menggenggam tangan Mentari.
"Nama yang indah. Jika nanti kita sudah menikah secara negara juga dan aku hamil terus melahirkan anak laki-laki, aku akan menamakan dia Asfarisal. Tolong ingatkan aku ya?"
Erdana mengangguk. "Siap, sayang."
Kenangan kembali.....
Erdana mengusap wajahnya kasar. Mentari punya anak? Apakah dia sudah menikah dengan orang lain? Ataukah ia mengambil seorang anak? Tapi bagaimana mungkin? Mentari kan sangat mementingkan karirnya.
Erdana bingung dengan apa yang dipikirkannya. Membayangkan Mentari sudah bersama pria lain membuat hati Erdana menjadi sakit.
Akhirnya ia memutuskan untuk datang saja besok pagi dan mengawasi tempat itu.
***********
Elmira menatap amplop yang diberikan Jenika padanya.
"Apa ini?" tanya Elmira.
"Surat pengunduran diri dari Nick."
"Katanya ada masalah pribadi."
"Apa?" Elmira langsung menelepon Nick
Namun ponsel cowok itu tak aktif.
"Ada apa?" tanya Jenika melihat Elmira hampir saja membanting ponselnya.
"Kamu punya alamat Nick?"
"Alamatnya Nick? memang ada apa?"
"Berikan saja."
"El, nggak usah mengejar pria itu. Aku tahu dia dan kamu ada hubungan khusus. Tapi masa iya pemain film dan bintang iklan terkenal kayak kamu mau pacaran dengan bodyguart nya sendiri."
Elmira menatap Jenika dengan kesal. "Jen, kamu kan tahu kalau aku nggak seperti itu orangnya."
"Fansmu akan kecewa saat tahu kalau kamu menolak pengusaha tajir demi seorang bodyguard. Mending sama ustad muda itu."
Elmira menatap managernya itu. "Berikan saja alamatnya."
"Lupain dia aja. Dia sudah mengundurkan diri. Katanya ia sudah mendapat pekerjaan di Singapura."
"Ke Singapura?"
__ADS_1
"Ya."
"Tolong tanyakan pada agensinya di mana dia bekerja."
"El....!"
"Tolong Jen."
Jenika nampak tak suka namun ia tak bisa menolak keinginan artisnya ini. Bagaimana pun Elmira adalah artis nya yang paling terkenal.
"Nih alamatnya!" Ujar Jenika.
Elmira segera mengambil kertas yang berisi alamat itu lalu segera meninggalkan kantor Jenika. Ia langsung menelepon Erdana karena ia tahu kalau saudara kembarnya itu ada di sana.
**********
"Baby As.....!" Mentari mencolek pipi anaknya yang semakin tembem. Tak lama lagi As akan berulang tahun yang pertama. Dan lucunya, As justru sudah bisa menyebutkan kata papa.
"Papapa...pa...pa.."
Mentari tersenyum sambil memeluk putranya.
"Nyonya apakah kita akan pergi sekarang?" tanya Diana yang merupakan baby sitter As.
"Iya. Aku mau mampir ke butik sebentar baru kita ke toko untuk membeli keperluan perayaan ulang tahun As."
"Nyonya Jeslin kapan datangnya?"
"Minggu depan."
Diana langsung memasukan keperluan baby As ke dalam mobil. Ia kemudian mengambil As dari pelukan ibunya dan mendudukkan anak itu di tempat duduk khusus bayi di bagian bangku penumpang.
Mentari sendiri merapihkan hijab nya kemudian mengambil tasnya dan segera masuk ke dalam mobilnya.
Sementara itu Erdana sudah sejak jam 7 sudah memarkir mobilnya tak jauh dari butik milik Mentari. Sekarang sudah jam 10 lewat, butik itu sudah buka namun Erdana tak melihat ada Mentari yang datang.
Apakah sebaiknya aku turun dan bertanya langsung?
Erdana mulai gelisah. Sampai akhirnya ia melihat sebuah mobil sedan putih memasuki parkiran butik itu.
Sang pengendara mobil turun dan Erdana semakin terbelalak menatap wanita berhijab itu.
"Mentari, itu adalah kamu?" guman Erdana. Ia pun turun dari mobilnya. Kakinya melangkah mendekati Mentari yang nampak sedang membuka pintu belakang. Ia mencondongkan badannya ke dalam. Dari arah pintu yang berbeda, turun seorang perempuan berpakaian serba putih.
Saat Mentari mengeluarkan tubuhnya dari mobil, jantung Erdana seakan berhenti berdetak saat melihat Mentari memeluk seorang anak. Mentari nampak bahagia dan mencium pipi anak itu berulang kali.
"Mentari.....!"
Langkah Mentari terhenti mendengar suara itu. Tanpa membalikan badannya, ia sudah tahu suara siapa itu.
**********
Bandara Soekarno Hatta.....
Yasmin tersenyum sambil mendorong kopernya. Ia akan memberikan kejutan pada Erdana dengan datang ke Singapura. Ayah Wisnu sudah memberikan alamat hotel tempat Erdana menginap. Bahkan Yasmin sudah membawa buku nikah mereka untuk membuktikan bahwa ia adalah istri Erdana.
Aku yakin, kak Erdana akan senang menerima kedatanganku. Apakah aku sungguh merindukannya???
***********
__ADS_1
Bagaimana pertemuan itu terjadi?
Terkejutkah Erdana dengan kedatangan Yasmin?