
Andre dan Yasmin duduk saling berhadapan. Tak jauh dari mereka ada Prayuda yang sedang duduk sambil menatap ke arah pantai namun sesekali melirik ke arah Yasmin dan Andre. Sebenarnya Yasmin tak ingin pergi. Ia sebenarnya sudah malas berbicara dengan Andre. Tapi karena Prayuda berjanji akan menjaganya, ia pun akhirnya setuju untuk bicara dengan Andre.
"Yas, kenapa hubungan kita jadi seperti ini? Mengapa kita saling menjauh?" tanya Andre dengan wajah yang sedih.
Yasmin memberanikan diri menatap Andre. Lelaki yang menjadi cinta pertamanya, pelukan dan ciuman pertamanya. Ia pernah memiliki hari yang indah bersama Andre karena lelaki itu memang sangat romantis dan tahu bagaimana cara membuat seorang perempuan menjadi sangat istimewa.
"Yas, aku mencintaimu."
"Andre, terima kasih karena kau pernah hadir dalam hidupku, menjadi cinta pertama bagiku. Namun jalan hidup kita sudah seperti ini. Kita tak mungkin bersama. Aku sudah menikah."
"Kamu dipoligami, Yas. Kamu bukan wanita satu-satunya dalam hidup Erdana. Lelaki itu sudah memperkosa mu, telah merebut mu secara paksa dari sisiku. Dan sekarang, bukanya menyayangimu sebagai satu-satunya, dia malah kembali ke pelukan cinta pertamanya. Aku nggak rela kamu diduakan olehnya."
"Aku yang meminta kak Erdana untuk kembali bersama kak Mentari."
"Kamu sudah gila ya? Mana ada wanita yang mau dimadu? Aku pikir kamu sudah diguna-guna oleh Erdana. Sadar, Yas! Atau karena kamu sudah tidur dengan Erdana sampai kamu susah untuk melepaskannya? Aku bisa memberi apa yang Erdana berikan padamu." Andre memegang tangan Yasmin.
"Lepaskan, Andre!"
"Tidak. Akan ku lakukan pada saja agar kau lepas dari Erdana. Tinggalkan lelaki itu, sayang. Ayo kita menikah dan menua bersama."
"Jangan memaksa, Andre. Aku memang pernah menyayangimu. Tapi sekarang aku sudah menikah."
"Apakah kamu mencintai lelaki yang sudah memperkosaku itu?"
"Ya."
Andre tertawa. Ia masih terus menahan tangan Yasmin. "Apa sih kelebihan Erdana di bandingkan dengan diriku?"
"Kak Erdana tak suka memaksa. Berbeda dengan kamu yang sangat suka memaksa."
"Yasmin! Aku jadi seperti ini karena aku sangat mencintaimu. Aku tak rela kau bersama Erdana apalagi sampai dipoligami olehnya. Nggak, Yas. Kamu adalah wanita istimewa dalam hatiku."
"Andre, ada saatnya kita harus menyadari bahwa tak selamanya yang kita inginkan dalam hidup ini akan terjadi. Karena Allah adalah penentu segala-galanya." Yasmin menarik tangannya dari genggaman Andre. "Aku pikir pembicaraan kita cukup sampai di sini. Aku hanya ingin menjadi temanmu, Andre. Walaupun mungkin tak bisa menjadi teman baik, setidaknya jika kita bertemu, kita tak akan saling membuang muka. Permisi!" Yasmin berdiri dan segera melangkah. Namun Andre secara tak terduga mengejarnya dan memeluknya dari belakang.
"Lepaskan....!" Yasmin memberontak melepaskan diri dari Andre namun pria itu begitu kuat memeluknya.
Prayuda yang melihat kejadian itu segera mendekati mereka. Ia menarik kemeja Andre dari belakang dan mendorong pria itu agar menjauhi Yasmin.
"Urusan kalian sudah selesai. Ingat Andre, jika kamu sampai menganggu Yasmin lagi, aku akan melaporkan kelakuanmu pada dokter pembimbing mu di rumah sakit agar masa koas mu di perpanjang!" kata Prayuda dengan nada mengancam.
"Apa hak mu mencampuri urusanku? Kamu pikir orang tuaku tak akan bisa menolongku?" tanya Andre sedikit mengejek.
"Aku merekam semua yang kau lakukan pada Yasmin." Prayuda mengangkat ponselnya.
"Brengsek!" Andre mengeram kesal. Ia segera pergi meninggalkan Yasmin dan Prayuda.
"Kamu tak apa-apa?" tanya Prayuda.
Yasmin mengangguk.
"Hati-hati. Sepertinya ia sangat terobsesi denganmu."
"Aku tahu kalau dia sangat mencintaiku. Namun dia juga harus menerima kenyataan kalau diantara kami sudah selesai."
"Kau masih mencintainya?"
Yasmin menatap Prayuda. "Maksudnya?"
"Kau malah menyimpan cinta untuknya? Mungkin dia masih melihat itu di matamu sampai akhirnya dia ingin mendapatkan mu lagi."
Yasmin mengangkat bahunya. "Mungkin aku masih menyimpan sedikit kenangan manis ku bersamanya. Dia cinta dan pacar pertamaku. Namun hatiku sekarang hanya untuk kak Er. Aku tak mungkin mengkhianatinya."
Prayuda tersenyum. "Aku bangga denganmu. Sekarang kita pulang?"
"Aku mau kemana taxi online saja. Aku tadi nggak bawa mobil."
"Aku antar pulang saja."
"Jangan kak, nanti merepotkan."
"Siapa juga yang merasa repot? Ayo!" Prayuda segera melangkah menuju ke tempat parkir. Yasmin pun mengikutinya.
Saat Yasmin tiba di apartemen, ia bergegas ke kamar untuk mandi dan memesan makan malam lewat layanan online. Ada banyak tugas yang harus Yasmin buat sehingga ia memerlukan banyak tenaga untuk lembur malam ini. Yasmin bersyukur karena hari ini masih hari Jumat sehingga Erdana tak akan mengganggunya.
__ADS_1
Ketika Yasmin mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, ia baru sadar kalau ponselnya kehabisan daya. Ia pun langsung menghubungkan dengan kabel pengisi daya, lalu segera ke kamar mandi.
Selesai mandi, Erdana meneleponnya.
"Assalamualaikum, kak."
"Waalaikumsalam, sayang. Sudah nyampe di apartemen?"
"Sudah. Aku sudah selesai mandi dan makan."
"Hari ini kamu baik-baik saja kan?"
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Tadi sore, aku tiba-tiba saja ingat kamu. Nggak tahu kenapa, aku merasa khawatir. Saat aku telepon, ponselmu tak aktif."
"Ponselku kehabisan baterai." Ujar Yasmin sambil ia berpikir, apakah Erdana merasakan kejadian buruk yang dialaminya karena Andre?
"Oh gitu ya? Ya sudah selamat belajar ya? Jangan lupa minum vitamin dan susu. Hari minggu aku jemput kamu. Kita akan ke rumah bukit di desa."
"Baik, paksu."
"Paksu?"
"Pak suami maksudnya." Yasmin terkekeh. Ia kemudian mengahiri percakapan mereka. Setelah itu Yasmin ke kamarnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak dari laci nakas. Di situ ada foto-fotonya bersama Andre dan semua hadiah yang Andre pernah berikan padanya. Yasmin membawa barang itu ke bagian balkon dan membakarnya.
"Terima kasih Andre. Kau pernah memberikan hari-hari indah untukku. Namun kau bukan jodohku. Selamat tinggal."
***********
Naura terkejut mendengar pengakuan Jeslin. "Jadi Yuda mendekati kamu lagi?"
"Iya. Aku bingung dengan perasaanku, Ra. Rasanya aku seperti ABG saja. Bahkan Saat Yuda mencium ku, aku tak bisa menolaknya."
Naura terpana. "Dia mencium mu? Di mana?"
"Di bibir."
"Nggaklah. Aku masih tahu batas-batasnya."
"Terus gimana?" Naura nampak penasaran.
"Hampir setiap jam dia wa aku. Mengingatkan jam sholat, jam makan, bahkan sesekali Videocall karena dia katanya kangen melihat wajahku. Setiap malam kami saling telepon sampai tengah malam."
"Ya Allah, Jes. Sampai segitunya? Memang kayak ABG saja."
Jeslin tersenyum malu. "Aku sampai ke kuburnya mas Gading. Aku menangis dan meminta maaf padanya. Aku merasa seperti mengkhianati mas Gading. Namun perasaan ini begitu kuat. Tak bisa ku tolak. Datangnya tiba-tiba."
"Itu hal yang wajar. Dulu kan kalian pernah saling mencintai. Aku pikir, mas Gading nggak akan marah jika kalian bersama lagi. Mas Gading sudah 5 tahun meninggal. Kau kesepian. Mentari sudah menikah. Mandrika sibuk dengan pekerjaannya. Kau butuh seseorang untuk bisa menemanimu."
"Yuda sudah melamarku. Namun aku belum menerimanya. Aku takut membicarakan itu dengan anak-anakku. Mereka sangat menyayangi mas Gading."
Naura mengusap punggung sahabatnya. "Carilah waktu yang tepat untuk membicarakannya dengan mereka. Jangan buat Yuda menunggu dalam ketidakpastian. Karena 30 tahun ini, ia sudah cukup lama memendam semua rasa cintanya kepadamu."
Jeslin mengangguk. Ia menatap Mentari yang nampak sedang bermain dengan anaknya, Yasmin juga turut bermain bersama mereka. Baby As bagaikan memiliki dua ibu. Mandrika pun sedang menikmati minumannya dan asyik bercanda dengan Daffa. Hari memang mereka memang ada di rumah bukit. Menikmati kebersamaan sebagai satu keluarga.
**********
Yasmin terkejut melihat Erdana yang kembali lagi ke apartemen. "Kak? Melupakan sesuatu?" tanya Yasmin. Tadi dia pulang satu mobil dengan Erdana dan Mentari. Ia turun dan Erdana bersama Mentari menuju ke rumah mereka. Ini hari minggu dan malam ini Erdana seharusnya masih bersama Mentari.
"Aku harus ke sini. Mentari tak mengijinkan aku tidur di sana."
"Kenapa? Kalian bertengkar?" tanya Yasmin khawatir.
"Tidak."
"Lalu?"
"Mentari menghitung tanggal subur mu. Ia mengatakan kalau malam ini masih tanggal subur mu. Besok sudah selesai. Jadi dia meminta aku untuk menghabiskan malam ini bersamamu." Erdana terlihat tak enak mengatakannya. Ia tak mau Yasmin tersinggung saat tahu kalau tujuan Erdana ke sini adalah untuk bercinta dengannya.
"Kak Mentari ingin agar aku bisa hamil?"
"Sebenarnya, aku juga ingin agar kau hamil. Selama ini aku tak pernah menanyakan itu padamu karena aku tak ingin kau merasa sedih karena anak kita yang meninggal."
__ADS_1
Yasmin merasa sangat tersentuh. Matanya bahkan sampai berkaca-kaca. "Kak Mentari sampai memikirkan tentang diriku sedalam ini?"
Erdana mendekat. Ia membelai wajah Yasmin. "Jangan merasa tak enak dengan Mentari. Ia sungguh ingin melihat aku memiliki anak darimu."
"Kak, kau tahu aku masih trauma untuk hamil lagi."
"Aku tahu. Makanya aku tak ingin memaksa mu."
Yasmin memeluk Erdana. Ada sesuatu yang mengusik hatinya. Bayangan wajah Mentari bermain di pelupuk matanya. Ia mendongak, menatap Erdana yang juga sedang menunduk dan menatapnya.
"Ayo kita bercinta, kak. Aku juga kangen padamu. Aku rindu merasakan kehangatan sentuhan mu. Tapi jangan dulu meminta aku hamil ya? Rasa sakit karena kehilangan anak kita rasanya belum hilang."
"Aku tahu, sayang. Aku tak akan pernah memaksamu. Kau akan hamil jika kau siap."
Yasmin melingkarkan tangannya di leher Erdana dan langsung mencium suaminya dengan penuh gairah. Erdana membalas ciuman Yasmin dengan sama panasnya. Ia kemudian menggendong Yasmin menuju ke kamar untuk menapaki puncak kenikmatan raga bersama.
************
Mentari memegang benda pipi di tangannya dengan gemetar. Jantungnya bagaikan berhenti berdetak.
"Ini tak mungkin. Bagaimana bisa?" Mentari duduk di atas kloset yang tertutup sambil mengusap wajahnya kasar.
"Sayang ..., kamu sudah selesai? Aku akan berangkat ke kantor sekarang!" Terdengar suara Erdana yang mengetuk pintu.
Mentari memasukan benda pipi itu ke dalam saku piyamanya. Ia menghapus air matanya dan segera membuka pintu.
"Mas akan pergi sekarang?"
Erdana mengangguk. "Dari kantor, aku langsung ke bandara, ya? Besok malam pasti sudah di Jakarta lagi." Erdana hari ini akan ke Bali untuk urusan pekerjaan.
"Baik. Hati-hati di jalan ya, mas? Jangan lupa berdoa."
"Pasti." Erdana memeluk Mentari lalu mengecup dahi istrinya. "As masih tidur. Jangan perbiasakan dia bangun sudah siang. Nanti kalau dia sudah sekolah bagaimana?"
"As masih berusia 1 tahun 8 bulan, sayang."
Erdana hanya bisa terkekeh. Ia kembali mencium pipi Mentari laku segera keluar kamar sambil membawa tas kerjanya. Setelah Erdana pergi, Mentari segera menghubungi Prayuda.
************
Tawa Yasmin terdengar renyah saat mendengar cerita lucu Prayuda. "Aduh, kak. Kau membuat rasa lelahku hilang."
"Jadi dokter nggak boleh tegang sekalipun tugasnya banyak. Kita perlu tertawa untuk membuang segala kejenuhan."
Yasmin merentangkan tangannya. "Aku mau istirahat sebentar di mobil."
"Nggak pulang ke rumah?"
"Malas, ah. Di rumah aku sering kesepian. Lebih baik di rumah sakit saja sambil persiapan untuk lanjut ke spesialis ku. Oh ya, kita sarapan yuk!"
"Eh, aku menunggu pasienku."
"Ya, sudah. Aku ke kantin dulu ya?" Yasmin segera meninggalkan ruangan Prayuda dan menuju ke kantin rumah sakit. Namun ia melupakan ponselnya di ruangan Prayuda. Ia pun membalikan langkahnya menuju ke ruangan Prayuda, namun langkahnya terhenti melihat Mentari yang baru masuk ke sana.
Yasmin mendekat, langkahnya terhenti saat mendengar tangisan Mentari.
"Aku sebenarnya berharap kalau Yasmin yang akan hamil."
"Memangnya kamu nggak menggunakan alat kontrasepsi?"
"Ada. Aku menggunakan pil anti hamil. Tapi mungkin aku lupa meminumnya."
Yasmin terkejut mendengarnya. Apakah Mentari hamil?
**********
Selamat sore semuanya....
Semoga suka dengan part ini ya??
Nggak lama lagi cerita ini akan end
sabar menanti ya guys
__ADS_1