CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Permintaan Kakek


__ADS_3

Yasmin masih ingin tidur. Apalagi sekarang hari Sabtu dan ia ingin menghabiskan waktunya lebih banyak dengan bermalas-malasan. Namun ketukan di pintu kamarnya, diikuti dengan suara Erdana yang memanggilnya membuat ia akhirnya harus turun dan membuka pintu.


"Ada apa? Aku masih mengantuk dan belum ingin sarapan." ujar Yasmin dengan nada yang ketus. Memang begitulah cara ia berbicara dengan Erdana.


"Bersiaplah. Kita akan pergi ke rumah sakit."


"Ini kan belum waktu untukku memeriksa kandungan. Masih 3 minggu lagi."


"Kakek mu mendapatkan serangan jantung. Ia agak kritis dan selalu memanggilmu."


"Kakek?" Yasmin kaget sekali. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca. "Tunggulah 5 menit aku akan bersiap." Yasmin segera menutup pintu kamar dan bergegas ke kamar mandi.


15 menit kemudian, keduanya sudah berada di dalam mobil menuju ke rumah sakit. Sepanjang jalan keduanya saling diam. Hanya Yasmin yang sesekali menghapus air matanya. Hubungannya dengan sang kakek sangatlah dekat. Nanti disaat ia sudah menikah, barulah Yasmin tak menginap lagi di rumah kakeknya setiap kali weekend.


Mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Yasmin turun dengan cepat dan sedikit berlari ia memasuki lobby rumah sakit. Erdana bahkan harus menahan napas karena Yasmin berlari seolah-olah dia tidak hamil.


Mereka akhirnya tiba di depan ruangan perawatan kakek Muliadi. Di sana ada orang tua Yasmin dan juga kakaknya Noah.


"Bagaimana keadaan kakek, bu?" tanya Yasmin tanpa bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.


"Kakek ada masih diperiksa dokter ahli jantung. Sejak tadi dia memanggilmu, nak." ujar Gayatri dengan hati yang sedih.


Yasmin adalah cucu satu-satunya perempuan di tengah keluarga dokter Satria. Adik dokter Satria memiliki 3 anak yang kesemuanya berjenis kelamin laki-laki. Makanya Yasmin sangat dekat dengan kakek dan neneknya.


Nenek Alisia nampak duduk dengan wajah sedih. Ia sesekali menghapus air matanya.


"Nenek, jangan bersedih ya? Kakek pasti sembuh. Kakek orangnya sangat kuat." ujar Yasmin sambil memegang tangan neneknya.


Alisia berusaha tersenyum. Ia tak ingin membuat Yasmin sedih apalagi Yasmin sedang hamil.


Dokter Andra keluar. "Tuan Muliadi ingin bertemu dengan cucunya Yasmin dan Erdana."


Erdana terkejut karena namanya juga disebut. Yasmin langsung masuk tanpa menunggu Erdana. Ia diberikan baju hijau untuk dipakai, demikian juga dengan Erdana.


"Kakek.....!"'Yasmin berusaha menahan air matanya melihat betapa pucatnya sang kakek.


Muliadi tersenyum. Ia mengangkat tangannya, meminta Yasmin dan Erdana mendekat.


"Yasmin, cucu kakek, sebentar lagi kamu akan menjadi ibu. Kakek berharap dapat melihat anakmu, namun rasanya itu tak mungkin."


"Jangan bicara seperti itu, kakek. Kakek pasti akan melihatnya."


Muliadi menatap Erdana. "Aku tahu kalau kalian menikah karena sebuah kecelakaan. Namun aku memohon padamu, Erdana, jangan sia-siakan cucuku. Berjanjilah kalau kau akan terus bersama sampai maut memisahkan kalian."


Erdana menatap Yasmin. Permintaan Kakek Muliadi rasanya sangat sulit.


"Erdana......!" panggil Muliadi lagi. Erdana pun mengangguk.


"Aku berjanji akan menjaga Yasmin, kek."


Muliadi menatap Yasmin. "Yasmin, jadilah istri yang taat pada suamimu. Jangan pernah meminta cerai darinya. Karena dalam keluarga kita tak pernah ada kasus perceraian. Berjanjilah bahwa kau akan mengabdikan hidupmu hanya untuk suamimu."


Yasmin terdiam. Bagaimana mungkin ia akan mengabdikan hidupnya pada lelaki yang sangat dibencinya? Yasmin bahkan sempat berpikir jika anaknya lahir, ia akan meminta cerai dari Erdana.

__ADS_1


"Yasmin.....!" Muliadi menyentuh tangan cucunya.


"Aku.....!" Yasmin menatap kakeknya.


"Berjanjilah pada kakek, Yasmin. Agar kakek tahu kalau kau memang benar adalah cucu kakek."


Yasmin menarik napas panjang. Sangat berat hatinya untuk menyetujui keinginan sang kakek. Namun akhirnya kepalanya mengangguk. "Aku berjanji, kek."


Muliadi tersenyum. "Kakek.... bahagia...." ujarnya dengan pancaran mata penuh kepuasan.


Dokter masuk untuk mengajak Yasmin dan Erdana keluar agar Muliadi dapat beristirahat.


"Nak, sebaiknya kau kembali ke apartemen dan berisitirahat." ujar Gayatri setelah beberapa jam mereka duduk di depan ruang perawatan Muliadi.


"Aku masih ingin di sini, bu." kata Yasmin dengan wajah penuh permohonan.


"Apa yang dikatakan oleh ibumu benar, nak. Sekarang saatnya kau untuk pulang dan beristirahatlah. Kasihan kandungan mu." nasehat Alisia kepada cucunya.


Yasmin akhirnya mau pulang walaupun ia kelihatan tak rela harus meninggalkan rumah sakit.


Sesampai di apartemen, ia langsung masuk ke kamarnya dan mengurung diri di sana.


Erdana sebenarnya juga merasa lelah dan ingin tidur. Namun ia ingat kalau Yasmin hanya makan sepotong roti saat mereka ada di rumah sakit. Dengan cepat ia kembali turun ke bawa. Erdana menelepon ibunya untuk bertanya makanan apa yang harus dibuat secara cepat. Naura mengatakan bahwa di lemari makanan ia menyimpan beberapa bahan sup yang dapat dibuat secara instan. Dengan cepat Erdana menyiapkan sup itu dan ia bersyukur karena tadi pagi saat bibi Yana datang membersihkan apartemen, ia juga sudah menanak nasi di magicom.


Setelah ia selesai menyiapkan segalanya, Erdana pun mengetuk pintu kamar Yasmin.


"Yasmin, ayo makan!"


Erdana mengetuk lebih keras lagi. Akhirnya Yasmin membukanya. "Aku nggak lapar!"


"Kau harus makan!" Erdana langsung menarik tangannya.


"Aku nggak mau!" Yasmin menarik tangannya namun Erdana memegangnya sangat erat.


"Kau memang tak lapar namun bayi yang ada dalam perutmu membutuhkan makanan. Apakah kau tidak kasihan kepadanya?"


Yasmin akhirnya mengalah. Keadaan kakeknya membuat ia tak berselera untuk makan apapun. Namun mengingat kata bayi, ia pun tak tega anak Salma perutnya kekurangan gizi.


Yasmin duduk sambil makan. Ketika ia akhirnya selesai dengan suapan terakhirnya, Erdana mengingatkan untuk segera menghabiskan susu hamilnya. Walaupun mata Yasmin menatap Erdana dengan tajam, namun ia menghabiskan juga susu itu. Lalu tanpa suara ia kembali ke kamarnya.


Erdana pun segera menuju ke kamarnya. Ia naik ke atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamarnya. Ia memikirkan kembali apa yang diminta oleh kakek Muliadi tadi. Hatinya gelisah. Di ambilnya foto Mentari yang masih ada di atas nakas. Di pandangannya wajah cantik yang sedang tersenyum itu.


Mengapa jalan hidup kita harus menjadi seperti ini, sayang. Kenapa kau memilih pergi dan memutuskan semua hubunganmu denganku? Apakah kau sama sekali telah melupakan 7 tahun kebersamaan kita?


Erdana meletakan foto itu di atas dadanya. Ia mencoba memejamkan matanya. Namun kata-kata kakek Muliadi kembali terngiang-ngiang di telinganya. Erdana kembali merasa galau.


**********


Erdana rasanya belum lama tertidur. Namun bunyi ponselnya membuat ia terbangun. Matanya langsung tertuju pada jam di atas nakas yang menunjukan pukul dua lewat sepuluh menit. Masih tengah malam. Ia lebih terkejut lagi saat melihat kalau panggilan itu dari ibunya.


"Assalamualaikum, bu. Ada apa?"


"Waalaikumsalam. Nak, segera bangunkan Yasmin. Kakeknya sudah meninggal."

__ADS_1


"Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Jam berapa meninggalnya, bu?"


"Setengah jam yang lalu. Ibu Gayatri menelpon ibu karena tak tahu nomor ponselmu."


"Baiklah. Saya akan bangunkan Yasmin dan kami akan segera ke rumah kakeknya."


"Nak, hati-hati dalam menyampaikannya, ya? Ingat, Yasmin sedang hamil."


"Baik, bu."


Erdana mengahiri percakapan dengan ibunya. Ia bergegas ke lantai bawah. Di berdiri di depan pintu kamar Yasmin dan mengetuknya perlahan.


"Yasmin.......! Yasmin ......!"


Agak lama Erdana mengetuk dan memanggil istrinya itu. Yasmin akhirnya terbangun. Dengan wajah yang cemberut seperti biasa, ia membuka pintu kamarnya.


"Ada apa?"' tanya Yasmin ketus.


"Gantilah pakaian mu. Kita akan ke rumah kakek mu."


"Memangnya ada apa?"'


"Kakek Muliadi baru saja meninggal."


Mata Yasmin terbelalak. Dan sebelum ia mengatakan apapun, gadis itu akhirnya pingsan. Untung saja Erdana dengan cepat langsung memeluknya sehingga tak jatuh ke lantai.


***********


Sudah 5 hari Yasmin tak keluar dari kamar kakeknya. Ia memilih tidur bersama sang nenek sambil memeluk baju sang kakek.


Kematian kakeknya sangat mengundang Yasmin. Suaranya bahkan sudah parau karena tiada hentinya menangis.


"Nak, kau sudah lima hari ini. Memangnya kau tak ingin pulang ke tempat suami mu?" tanya Gayatri.


"Nggak. Aku mau di sini sampai 40 hari meninggalnya kakek."


"Cucuku, itu nggak baik. Kau kan sudah menikah. Tempatmu adalah bersama suamimu." Alisia memegang pundak cucunya.


"Aku tak merasa baik di rumah suami ku. Aku ingin di sini, nek. Ijinkan aku tetap di sini. Nenek sekarang tinggal sendirian. Kalau aku pergi, siapa yang akan menemani nenek?"


Alisia tersenyum. "Nenek tak mungkin merasa kesepian. Ayah dan ibumu untuk sementara waktu akan tinggal di sini sampai peringatan 40 hari. Setelah itu nenek akan meninggalkan rumah ini. Nenek akan tinggal di rumah ayah dan ibumu."


"Tapi nek....."


"Ingat janjimu kepada almarhum kakek. Kau akan menjadi istri yang baik."


Yasmin tak dapat membatah kata-kata neneknya. Ia pun menyiapkan pakaiannya dan segera kembali ke apartemen Erdana. Yasmin tahu ini akan sangat menyiksa baginya. Ingin rasanya ia mengingkari semua yang dijanjikannya kepada sang kakek. Karena Yasmin masih sangat membenci Erdana.


***********†*


Bagaimana kisah selanjutnya?


dukung emak terus ya guys

__ADS_1


__ADS_2