CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Akhirnya Tahu


__ADS_3

Hari ini Elmira tampil tanpa make up. Memang kalau hari-hari biasa, Elmira selalu menggunakan make up yang tipis saja. Namun hari ini ia tampil beda. Rambut panjangnya hanya diikat satu menggunakan karet, wajah polos tanpa polesan apapun, ia menggunakan celana jeans dan kaos berwarna putih, sepatu tanpa hak dan tas punggung. Elmira tak mau mengambil resiko jika harus dikenali oleh para fansnya di Singapura yang ia tahu sangat banyak saat kunjungannya ke negara ini dua tahun yang lalu.


Demi keamanan nya, Elmira memilih menyewa sebuah apartemen dari pada harus tinggal di hotel. Dan hari ini dia akan mencari Nick karena Nick telah berhasil membuat Elmira menjadi patah hati atas kepergiannya. Nomor ponsel Nick bahkan sudah tak aktif lagi.


Taxi yang membawa Elmira berhenti di depan sebuah rumah yang lumayan besar dengan halaman yang luas.


Elmira mengenakan kacamata hitamnya. Dengan hati-hati ia melangkah mendekati pagar rumah itu yang terbuka sebagian.


Sebenarnya Elmira paling tak suka mendatangi rumah yang sama sekali asing baginya. Namun ia sudah bertekad hendak mencari Nick. Apapun yang terjadi, Elmira akan meminta maaf. Ia baru sadar betapa besar rasa cintanya pada cowok itu setelah Nick meninggalkannya.


Seorang anak kecil keluar dari rumah itu. Ia berusia kira-kira 5 tahun.


"Chloe....!" Panggil seseorang yang suaranya Elmira kenal. Nick?


Nick ikut menyusul anak itu.


"Chloe...! Where are you?"


Elmira menyembunyikan dirinya di salah satu tiang pagar.


Gadis kecil yang bernama Chloe itu keluar dari persembunyiannya. Ia mengejutkan Nick yang memang sedang membelakanginya.


"Chloe.....!" Nick langsung memeluk Chloe dan menghujaninya dengan ciuman secara bertubi-tubi.


"Oh....daddy stoped...!"


Elmira merasakan kalau kakinya tiba-tiba menjadi lemah mendengar gadis kecil itu memanggil Nick dengan sebutan daddy. Ia mengintip dan melihat bagaimana bahagianya Nick tertawa bersama Chloe.


"Chloe.....!" Seorang perempuan cantik keluar dari rumah itu juga. Perempuan berhijab dengan pakaian yang sangat modis.


"Mommy......!" Chloe memanggil perempuan itu sambil melambaikan tangannya.


"Look what daddy did to me." Kata Chloe sambil menunjuk pipinya yang merah karena dicium Nick.


"You don't shave your beard? (Kau tak mencukur jenggot mu?)" tanya perempuan itu sambil memegang rahang Nick.


Nick hanya tertawa lalu mencium puncak kepala wanita itu. Ia melingkarkan tangannya di bahu wanita itu dan mengajaknya masuk ke dalam.


Nick sempat membalikan badannya karena merasa ada orang yang mengintip dari balik pagar. Namun ia langsung melanjutkan langkahnya.


Air mata Elmira jatuh tanpa bisa ditahannya. Ia segera menghubungi Jenika.


"Jenika, alamat siapa yang kau berikan padaku di Singapura?"


"Alamat rumah Nick."


"Kau bilang itu tempat kerjanya."


"Bukan. Aku sengaja memberikan alamat itu agar kau bisa langsung ketemu Nick. Lupakan dia, El. Kembali ke Jakarta. Kau ada jadwal syuting film pendek 3 hari lagi."


"Iya." Elmira mengahiri percakapannya dengan Jenika. Matanya kembali memandang rumah itu. Nick brengsek! Aku membencinya! Aku sungguh membencinya! Dia ternyata sudah menikah dan memiliki anak. Oh Tuhan, betapa bodohnya aku. Pantas saja selama ini ia tak mau hubungan kami diketahui orang lain. Dia sudah memiliki keluarga. Oh Elmira....! Betapa bodohnya kami! Bodoh!


Elmira merasakan hatinya hancur. Ia butuh bicara dengan Erdana. Namun saat ia menghubungi ponsel Erdana, ternyata nomornya tak aktif. Elmira pun menghubungi Bojes.


***********


Mentari membuka matanya. Ia melihat Erdana yang sedang tertidur di sofa yang ada. Dia sama sekali tak pulang! Dasar keras kepala!


Gerakan Mentari yang menimbulkan suara membuat Erdana terbangun.


"Kau sudah sadar?" tanya Erdana dan bergegas berdiri kemudian mendekati Mentari.


"Mengapa kau masih di sini? Bagaimana Yasmin? Nanti dia khawatir kau tak pulang semalaman." tanya Mentari dengan wajah khawatir.


"Yasmin ada di Jakarta. Kamu jangan khawatir." Erdana memegang tangan Mentari. "Mengapa kau menyimpan semuanya sendiri. Apakah kebersamaan kita selama 7 tahun tak ada artinya bagimu?"

__ADS_1


"Aku sudah sembuh, Er."


"Belum. Aku sudah bicara dengan dokter."


"Aku akan sembuh, Er. Demi anakku."


"Anak kita." ralat Erdana.


Dokter masuk. Ia memeriksa kondisi Mentari. "Anda sudah boleh pulang nyonya Furkan!"


Mentari mengangguk senang. Ia sudah merindukan baby As.


"Mengapa kau masih menggunakan nama belakangku jika kau akhirnya pergi dariku?" tanya Erdana saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.


"Aku malas saja mengganti identitas ku." Jawab Mentari sedikit jengah karena Erdana akhirnya tahu, ia tak pernah membuang nama Furkan di balik namanya.


Mereka tiba di rumah milik Mentari. Rumah yang ditempatinya hampir satu tahun ini.


"Baby As.....!" Mentari langsung memeluk putranya dengan rasa bahagia. Erdana menatap putranya itu. Hatinya kembali sakit membayangkan Mentari yang menyimpan Anak ini darinya.


"Boleh aku memeluknya?" tanya Erdana.


Mentari mengangguk. Ia memberikan anak itu pada Erdana. Perasaan bahagia bercampur dengan rasa haru membuat Erdana tak bisa menahan air matanya saat Baby As ada dalam pelukannya. Di ciumnya wajah anak itu berulang kali dan As hanya menatap wajah Erdana dengan bingung namun ia tak menolak saat Erdana mengajaknya bermain. As melompat-lompat dalam dekapan ayahnya. Sesekali ia menatap Mentari sambil tersenyum.


Perlahan Mentari membalikan badannya. Ia tak mau Erdana melihatnya menangis.


"Is that baby As's father?" tanya Diana.


"How do you know?"


"Their faces are very similar"


Mentari mengangguk. As memang sangat mirip Erdana. Mau dilihat dari segi manapun, As adalah fotocopi dari ayahnya.


Erdana puas bermain dengan anaknya sampai akhirnya As tertidur dalam gendongannya.


"Bagaimana dengan Yasmin?"


"Kita akan bicara dengan Yasmin saat kita kembali ke Jakarta."


"Tapi, Er. Aku nggak mau ke Jakarta. Aku nggak mau mengganggu hubungan kalian."


"Yasmin sudah tahu kalau kita sudah menikah, Ri. Ia bahkan meminta aku untuk mencari dirimu."


"Tapi Er, aku.....!"


"Kali ini, dengarkan aku." ujar Erdana sedikit tegas. "Telepon aku jika ada sesuatu. Nomormu masih sama atau sudah diganti?"


"Masih sama."


"Kalau begitu jangan blokir nomorku."


"Baiklah!"


Erdana mencium dahi Mentari sebelum pergi dengan mobilnya.


************


Yasmin menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul setengah dua belas siang.


"Kemana kak Er? Ponselnya bahkan tak aktif. Apakah terjadi sesuatu dengannya?" guman Yasmin sambil berjalan mondar mandir di dalam kamar. Ia takut menghubungi mertuanya karena tak ingin membuat mereka panik.


Pintu kamar terbuka dari luar. Saat Yasmin menoleh, ia langsung berlari dengan perasaan lega dan memeluk Erdana.


"Alhamdulillah, kak. Aku pikir terjadi sesuatu dengan kakak sampai kakak semalam nggak pulang."

__ADS_1


Erdana terkejut. Tak menyangka kalau Yasmin ada di kamarnya. Ia melepaskan pelukannya dan menangkup pipi Yasmin. "Sejak kapan kau ada di sini? Mengapa tak menelepon aku untuk datang?"


"Aku ingin membuat kejutan. Eh, nggak tahunya aku yang terkejut karena tak menemukan kakak di sini."


Erdana merasa berdosa. Ia kembali memeluk Yasmin dengan erat. "Maafkan aku."


Yasmin tersenyum. "Nggak masalah, kak. Pada hal semalam aku sudah menunggu kakak dengan lingre hitam yang sangat kakak sukai itu. Eh, nggak tahunya kakak nggak pulang. Kemana aja?" tanya Yasmin sambil melepaskan pelukannya.


"Aku mandi dulu, ya? Setelah itu kita akan bicara."


Yasmin mengangguk. "Aku pesan makan siang?"


"Boleh." Jawab Erdana lalu membuka lemari untuk mengambil pakaiannya. "Yas, tolong hp ku di cars. Baterai nya habis." kata Erdana sambil menyerahkan ponselnya.


"Pantas saja kakak nggak bisa dihubungi." Yasmin langsung mengambil hp Erdana dan menghubungkannya dengan kabel pengisi daya.


Sambil menunggu Erdana mandi, Yasmin pun memesan makanan.


Tak sampai 20 menit, Erdana sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Ia mengambil ponselnya dan menghidupkan kembali karena ia tahu malam nanti ada janji dengan pengusaha yang lain. Kemarin pagi memang ia sudah meminta Bojes untuk menggantikannya. Karena terlalu fokus dengan Mentari, Erdana sampai lupa apakah Bojes sudah ada di Singapura atau belum.


"Saya sudah di Singapura sejak tadi malam, tuan. Namun ponsel tuan nggak bisa dihubungi. Saya mau tanya fail kerja samanya. Saya ada di hotel yang sama dengan tuan." ujar Bojes.


"Kamu datang saja ke kamarku yang ada di lantai 6, nomor 6018. Aku tunggu."


"Eh, tuan. Nona Elmira tadi pagi menelepon aku. Dia juga ada di sini. Namun kayaknya dia lagi ada masalah. Soalnya ia menelepon sambil menangis."


"Ok."


Erdana memutuskan sambungan telepon dengan Bojes lalu menghubungi kakak kembarnya itu.


Yasmin tersenyum melihat bagaimana kedua saudara kembar itu saling menyayangi.


"Kamu mau datang ke hotel tempat aku menginap? Baiklah aku tunggu." ujar Erdana.


"Ada apa dengan kak, El?" tanya Yasmin.


"Entahlah. Kayaknya dia ada masalah." Erdana mengusap wajahnya kasar. Ia lelah, karena semalam hanya tidur sekitar 2 jam saja karena terus khawatir dengan keadaan Mentari. Sementara mandi tadi, ia sementara merangkai kata untuk membuka percakapannya dengan Yasmin menyangkut Mentari. Dan kini sudah ditambah dengan masalah Elmira yang entah karena apa ia menangis sangat keras.


Bojes yang lebih dulu datang ke kamar itu. Setelah ia menerima filenya, ia langsung pergi karena Gendis sedang bersamanya. Tak lama kemudian, makanan pesanan mereka datang. Erdana berusaha menikmati makan siangnya walaupun pada kenyataannya, selera makannya sudah hilang.


Tepat disaat mereka sudah selesai makan, Elmira datang. Erdana sangat terkejut karena melihat mata Elmira yang bengkak dan dandannya yang nampak kacau.


"Ada apa, El? Mana Nick?" tanya Erdana saat Elmira langsung memeluknya sambil menangis. Erdana dengan penuh kasih membimbing saudara kembarnya itu untuk duduk di sofa.


"Aku benci, Nick. Aku bahkan berharap dia mati saja. Ah, bodohnya aku bisa jatuh cinta padanya." ujar Elmira diantara Isak tangisnya.


"Kalian masih bertengkar atau?"


"Dia sudah menikah dan memiliki seorang anak atau mungkin juga beberapa orang anak. Entahlah. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri bagaimana anak itu memanggil Nick dengan sebutan daddy dan perempuan yang ada bersama mereka dengan sebutan mommy. Nick bahkan merangkulnya dengan mesra. Ah...., aku sungguh bodoh!" teriak Elmira sambil mengepalkan tangannya.


Erdana mengisap punggung Elmira dengan penuh kasih. "Tenang dulu, El. Setidaknya kamu harus bersyukur karena kamu sudah mengetahuinya sekarang sebelum hubungan kalian semakin serius."


Elmira masih terus menangis. Yasmin hanya bisa memandangnya sambil duduk di tepi ranjang. Ia tak mau menganggu percakapan dua saudara kembar itu.


Tak lama kemudian, ponsel Erdana yang diletakan di atas nakas berbunyi. Erdana sepertinya tak mendengar karena suara deringnya kecil dan ia masih sibuk membujuk Elmira yang menangis.


Yasmin mencoba melirik ke arah layar ponsel Erdana. Jika yang menelepon Bojes atau mertuanya, Yasmin berinisiatif untuk mengangkatnya. Namun tangan Yasmin terhenti di udara saat ia melihat nama Mentari muncul sebagai orang yang memanggil.


************


Selamat sore.....


emak up lumayan panjang lho ini


menebus kemarin yang hanya pendek karena capek. Semoga suka dengan bab ini ya...

__ADS_1


Dukung emak terus dong....


__ADS_2