CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Pengakuan


__ADS_3

Nick akhirnya pulang setelah mendapatkan penolakan dari Wisnu.


"Ayah, kenapa menolak Nick? Ayah kan tahu kalau aku sangat mencintainya?" tanya Elmira sambil terus menangis.


"Mengapa kamu mencintai dia? Apakah hanya karena dia tampan?" tanya Wisnu tajam.


"Aku mencintai dia karena Nick lelaki yang soleh. Dia rajin sholat, sangat baik dalam membaca Alquran. Aku juga tak pernah melihatnya bersama perempuan lain."


"Justru itu yang ayah pertanyakan. Mengapa pria tampan, gagah dan Soleh dalam


pandangan matamu tak pernah ada kisah masa lalunya dengan gadis lain? Mungkin para gadis itu sudah tahu kalau memang dia cowok nggak benar. Atau jangan-jangan dia bukan lelaki tulen. Dia hanya mendekatimu karena kamu seorang artis."


"Maksud ayah, Nick seorang gay?" Elmira terkejut. Bagaimana mungkin Nick seorang gay? Haruskah ia mengatakan bahwa hampir beberapa kali ia dan Nick ingin bercinta namun Nick dengan kuatnya menahan diri karena menghormati batas-batas yang ada?


"Kenapa waktu dulu aku membangun hubungan dengan Nick, ayah setuju. Mengapa sekarang justru ayah menolak?"


"Karena dia sudah membuatmu bersedih saat ia meninggalkanmu. Ayah nggak rela anak ayah tersakiti."


"Dia hanya pergi agar menjadi pria yang layak untukku, ayah." Elmira berdiri. "Aku mau pulang!"


"Pulang ke mana? Di sini kan rumahmu?" tanya Wisnu.


"Ke apartemen. Ayah nggak asyik. Nggak gaul! Masa menolak calon menantu seganteng dan sebaik Nick? Pasti ayah cemburu kan karena Nick lebih tampan dari ayah sewaktu ayah muda." Kata Elmira dan langsung pergi meninggalkan ruang tamu.


Wisnu menatap Naura. "Sayang, memangnya aku terlihat cemburu sama Nick? Lagi pula aku kan memang lebih tampan dari Nick saat aku muda. Mana yang lebih tampan? Turunan Amerika atau Turki?"


"Tahu, ah." Naura terlihat kesal. Ia sedih karena putrinya menangis. "Maksud kamu apa sih mas menolak Nick?"


"Dia harus diberi pelajaran karena membuat Putri seorang turunan Furkan menangis."


"Kamu nggak sayang anak, mas. Aku sedih melihat Elmira menangis. Apakah kamu nggak lihat bagaimana senangnya ia memakai cincin lamaran Nick di tangannya?" Naura berdiri.


"Kamu mau kemana sayang?"


"Mau ke mall. Sebel aku di rumah." Naura segera melangkah.


"Sayang, terus urusan kita yang tadi gimana?"


Di depan pintu Naura berhenti. Ia menatap Wisnu dengan tajam. "Urusan apa? Aku sudah lupa tuh!" ujar Naura lalu segera membuka pintu rumah dan pergi dengan mobilnya. Wisnu terpana. Baru kali ini Naura menolaknya setelah sekian lama mereka menikah. Dasar Nick!


*************


Secara tak sengaja, Yasmin dan Prayuda ketemu di depan pintu masuk. Yasmin akan pulang dan Prayuda baru kembali dari kampusnya.


"Kak.....!" Sapa Yasmin salah tingkah. Ia ingat dengan pengakuan Prayuda kemarin.


"Mau pulang?" tanya Prayuda. Jantungnya berdebar. Ia tak percaya kalau dokter muda ini memiliki perasaan untuknya. Hati Prayuda begitu ingin mengungkapkan perasaanya namun ia masih memiliki akal sehat. Yasmin adalah istri orang.


"Iya, kak. Eh, kakak dari mana?"


"Kampus."


Yasmin mengangguk. "Ya, sudah. Aku pergi, ya?"


"Eh, Yas!" Prayuda secara tak sengaja memegang lengan Yasmin namun beberapa detik kemudian ia melepaskannya. "Maaf."


Yasmin merasakan kalau seluruh tubuhnya bergetar karena sentuhan itu. "Ada apa, kak?"


"Eh, nggak jadi. Aku lupa tadi mau bilang apa."


"Aku pergi ya, kak." Yasmin pamit. Ia segera melangkah. Tak berani lagi menengok ke belakang karena ia tak mau Prayuda mengetahui perasaannya. Sedangkan Prayuda masih menatap Yasmin yang menjauh menuju ke gerbang rumah sakit. Sepertinya Yasmin tak membawa mobil. Ingin rasanya Prayuda mengantar Yasmin seperti hari-hari kemarin namun bagaimana jika Yasmin juga tahu kalau Prayuda menyimpan rasa untuk Yasmin?


Yasmin baru saja akan menghubungi taxi online, saat sebuah mobil hitam yang sudah sangat dikenalnya berhenti di depannya.

__ADS_1


"Kak Er?"


Erdana turun dari mobil dan membukakan pintu mobil bagi Yasmin. "Ayo masuk!" ajak Erdana.


"Tumben menjemput aku? Biasanya juga menelepon. Tapi kan ini hari Jumat?"


Erdana tak menanggapi pertanyaan Yasmin yang sangat banyak itu. Ia langsung menutup pintu mobil lalu segera ke sisi lain untuk masuk dan duduk di depan kemudi. Ia kemudian menjalankan mobilnya.


"Kak, kita mau kemana? Ini bukan jalan ke apartemen, bukan jalan ke rumah kak Mentari."


"Kita akan ke pantai."


"Untuk apa ke pantai?"


"Aku ingin bicara denganmu."


Yasmin diam. Mereka akhirnya tiba di pantai. Erdana memarkir mobilnya, menurunkan kaca jendela mobil sehingga angin pantai bisa menyapa mereka.


Agak lama keduanya saling diam sampai akhirnya Erdana bicara.


"Yas, kamu punya masalah?"


Yasmin menoleh ke arah Erdana. "Nggak."


"Kamu nggak bohong kan?"


"Kenapa sampai kakak berpikir kalau aku ada masalah?"


Erdana meraih tangan Yasmin dan menggenggamnya erat. "Aku merasa ada yang berbeda denganmu, Yas. Saat kita bercinta, kau lain. Aku juga sering bangun tengah malam dan melihatmu duduk melamun. Alasannya kamu belajar tapi aku tahu kalau kamu nggak belajar. Tadi, menemani mengambil resep anti muntah Mentari pada dokter kandungannya. Dan dokter Kartika mengatakan kalau ayah Satria sementara mengurus kepindahan mu ke rumah sakit yang lain. Mengapa harus pindah? Bukankah kamu bilang kalau kamu suka di rumah sakit itu? Apalagi di sana ada Prayuda yang banyak membimbing mu. Apakah ada rekan kerjamu yang membuatmu kesal?"


"Tidak." Yasmin menggeleng.


"Lalu kenapa harus pindah?"


"Kamu bohong!"


"Kak....!" Yasmin memegang wajah Erdana. "Aku baik-baik, saja."


Erdana menatap wajah Yasmin. Berusaha menemukan kebenaran dibalik tatapan mata istrinya itu. Tapi ia tahu, ada sesuatu yang Yasmin sembunyikan.


"Jangan bohong padaku, Yas. Kamu tahu kalau aku nggak suka dibohongi. Mari kita selesaikan masalah mu. Aku akan membantu dengan semua kekuatan yang aku miliki."


Yasmin menarik tangannya dari genggaman Erdana. Ia memang tak bisa bohong. Ia tahu kalau Erdana bisa menebak ada sesuatu yang salah dengan hatinya.


Perlahan Yasmin membuka pintu mobil dan ia turun. Erdana menyusulnya.


"Yas....!"


Yasmin menatap.Ersana yang berdiri di hadapannya. "Kak, kamu tahu kan kalau aku yang menginginkan pernikahan poligami ini?"


"Iya."


"Kakak tahu kan kalau aku menjalani semua ini dengan ikhlas tanpa mengeluh? Aku yakin kakak sangat adil untukku dan juga kak Mentari."


"Aku tahu. Ketulusan hatimu itu yang membuat aku semakin sayang padamu."


Yasmin menunduk. Kata-kata Erdana sangat menusuk hatinya. Ia sadar, apa yang akan dikatakannya ini seperti sebuah penghianatan. Namun Yasmin tak sanggup lagi menahannya.


"Di rumah sakit. Aku kenal seseorang. Dia baik dan kami saling curhat masalah pekerjaan, masalah studi lanjut. Pokoknya aku merasa senang karena dia teman bicara yang baik. Saat aku menghadapi masalah menyangkut masa koas ku, dia selalu memberikan aku nasehat. Memberikan aku penguatan ketika aku down. Sampai akhirnya, aku merasa nyaman dengan kedekatan kami. Aku.....!" Kalimat Yasmin terhenti saat dilihatnya wajah Erdana menjadi merah karena menahan amarah. Tangan Erdana terkepal dengan sangat keras sehingga urat-uratnya nampak jelas.


Yasmin merasa takut. Ia tak pernah melihat Erdana bersikap seperti ini.


"Kak....!" Yasmin berusaha menyentuh tangan Erdana namun pria itu menepiskan nya dengan pelan.

__ADS_1


"Siapa dia? Siapa lelaki yang telah membuatmu merasa nyaman? Apakah dia tidak tahu kalau kamu sudah menikah?"


"Dia tahu kak."


"Jadi mengapa dia sampai berani menggoda mu?"


Yasmin tidak tahu kalau Erdana bisa menjadi sangat emosi ketika ia cemburu. Itulah yang terjadi saat Erdana cemburu melihat Mentari dengan Prayuda. Emosi Erdana bisa membuat dia buta dan tak bisa berpikir tenang.


"Dia tak menggodaku, kak. Dia bahkan tak tahu kalau aku merasa nyaman dengan semua perhatiannya itu. Dia hanya menganggap aku teman. Perasaan ini adalah milikku sendiri."


"Ah.....!" Erdana meluapkan kemarahannya dengan meninju pintu mobilnya. Pintu mobil itu sedikit peyot dan tangan Erdana terluka.


"Astaghfirullah! Kak tanganmu terluka." Yasmin memegang tangan Erdana namun sekali lagi Erdana menepisnya. Kali ia dengan agak kasar.


"Siapa dia, Yas? Siapa?"


Yasmin menjadi takut untuk mengatakannya. Ia tak mau kalau sampai persahabatan Erdana dan Prayuda menjadi rusak. Lagi pula Prayuda tak pernah tahu kalau Yasmin menyukainya.


"Seorang dokter muda seperti aku."


"Andre?"


"Andre di rumah sakit yang lain."


"Lalu siapa?"


"Dia nggak tahu kalau aku punya perasaan ini padanya. Sudahlah kak. Memangnya apa yang akan kau lakukan jika aku mengatakan siapa namanya? Kakak mau mengajaknya berantem? Yang malu aku kan. Karena dia murni hanya mau bersahabat dengannya. Yang salah di sini aku kak. Aku yang salah mengartikan kedekatan kami."


Erdana memandang Yasmin. "Apakah karena aku kembali bersama Mentari lalu kau merasa kesepian dan merasa nyaman dengan perhatian orang lain?"


"Nggak, kak. Aku sama sekali tak mempermasalahkan keadaan diantara aku, kakak dan kak Mentari. Ini murni kesalahanku sendiri."


Erdana tersenyum masam. Ia menyandarkan punggungnya di pintu mobil yang tadi dipukulnya.


"Yas, apakah kau tak yakin kalau aku mencintaimu sampai kau berpaling pada pria lain? Aku minta maaf telah menduakan mu. Namun kau kan tahu kalau aku tak bisa mengabaikan Mentari. Aku juga mencintai Mentari. Aku tak pernah bisa mengabaikan Mentari begitu saja. Namun sama seperti yang aku katakan bahwa aku juga tak bisa melepaskan mu. Ini bukan tentang janjiku saja pada kakek mu. Namun dengan berjalannya waktu, aku juga merasakan bahwa aku pun mencintai kamu, Yas."


Yasmin menangis. Ia dapat melihat kalau Erdana terluka. "Maafkan aku, kak. Aku janji akan berusaha membuang semua rasa ini. Tolong bantu aku, kak."


Erdana membuka pintu mobil. "Masuklah. Aku akan mengantar kamu pulang. Ini sudah hampir Maghrib."


"Kak."


"Masuklah. Aku sudah terlambat untuk ke acara makan malam di rumah ibu Jeslin. Kamu kan tahu kalau besok ibu Jeslin akan menikah dengan ayah dari Prayuda."


Yasmin masuk tanpa bicara. Ia menatap tangan Erdana yang terlihat bengkak dan merah.


Keduanya meninggalkan pantai tanpa bicara. Keduanya masuk ke dalam apartemen bersama. Erdana mandi secepat mungkin dan ganti pakaian. Saat ia turun ke bawa, Yasmin sudah menyiapkan obat kompres untuk mengobati tangan Erdana.


"Aku harus pergi karena Mentari sudah menelepon." Erdana menolak tangannya diobati.


"Tapi kak, tanganmu."


"Aku bisa mengobatinya sendiri." Erdana langsung keluar dari apartemen. Ia merasa marah, cemburu, kesal bahkan menyalahkan dirinya sendiri karena ia yakin, Yasmin seperti itu karena dirinya yang berpoligami.


Setelah Erdana pergi, Yasmin hanya bisa menangis. Ia berusaha membuang semua rasa yang ia miliki untuk Prayuda namun bayangan wajah Prayuda justru memenuhi kepalanya.


***********


Duh...Erdana cemburu juga ya


Siapa bilang Er nggak cinta ke Yas?


Apa yang akan Erdana katakan saat Mentari menanyakan tangannya?

__ADS_1


Dukung emak ya guys ....


__ADS_2