
Selama satu minggu, Yasmin menghabiskan waktunya berdua bersama Prayuda. Mereka memang tak bisa pergi ke banyak tempat karena salju yang semakin tebal. Namun Yamin sangat menikmati kebersamaan mereka.
"Kenapa cemberut?" tanya Prayuda saat ia datang ke apartemen Yasmin pagi ini.
Yasmin langsung bergelut manja di lengan Prayuda. "Kamu akan pulang ke Jakarta kan? Aku pasti akan sangat kesepian."
Prayuda mengajak kekasihnya itu duduk. Yasmin tak mau melepaskan tangannya dari lengan Prayuda. Ia kelihatan sedih.
"Sayang, ijin tinggal ku hanya 10 hari."
"Kenapa mereka tak memberi waktu selama 1 bulan?"
"Nantilah kalau aku mengurus visa untuk belajar di sini. Tapi itu nanti, jika lamaran ku sudah kamu terima."
Yasmin menyandarkan kepalanya di bahu Prayuda. Hatinya masih gelisah saat membayangkan kalau dua hari lagi Prayuda akan kembali ke Indonesia.
"Kenapa?" tanya Prayuda sambil melingkarkan tangannya di bahu Yasmin dan mengusap bahunya itu dengan lembut.
"Nggak." Jawab Yasmin tanpa mengubah posisinya.
"Kita main di luar, yuk! Cuacanya cerah. Aku lihat tadi di berita kalau beberapa hari ke depan nggak akan turun salju. Bandara sudah kembali di buka."
"Aku berharap kalau badai salju akan turun supaya bandara di tutup."
Prayuda tersenyum. Ia memegang dagu Yasmin dan mendorongnya ke atas agar kekasihnya itu menatapnya. "Sayang, kok doanya jelek banget sih?"
Yasmin menatap mata Prayuda. Aku sudah terbiasa dengan ada kamu di sini selama satu minggu. Rasanya nggak mau kesepian lagi."
Prayuda menunduk sehingga hidung mancung mereka saling bersentuhan. Perlahan ia menggesek hidungnya di atas hidung Yasmin. "Aku akan kembali, sayang." katanya lembut.
"Berapa lama?"
"Kalau kamu sudah mau menerima lamaran ku." Lalu Prayuda mengecup bibir Yasmin secara berulang-ulang. "Aku juga sebenarnya tak ingin saling berjauhan. Namun harus bagaimana lagi?" Prayuda kembali mencium Yasmin.
Untuk sesaat, sepasang kekasih yang sama-sama sedang dipenuhi rasa cinta yang membara itu, tenggelam dalam indahnya ciuman. Entah bagaimana caranya, Yasmin kini telah duduk di pangkuan Prayuda. Tangganya melingkar di leher pria itu. Ia membalas ciuman Prayuda yang rasanya sangat manis. Begitu manis sampai tak ada yang ingin melepaskan ciuman itu.
"Kak......!" Yasmin mulai tak bisa mengontrol dirinya. Begitu juga dengan Prayuda. Tangannya kini telah masuk di balik sweater yang Yasmin kenakan, membelai lembut perut perempuan itu dan membuat Yasmin makin melayang.
Pasangan itu sama-sama sudah lama tak pernah lagi melakukan kontak fisik dengan siapapun, tentu saja apa yang mereka lakukan pagi ini sangat berbahaya.
Ponsel Yasmin berdering. Awalnya keduanya cuek. Namun saat ponsel itu tak juga berhenti, Yasmin pun membuka matanya dan mengahiri ciuman itu. Karena ia tahu itu nada dering khusus keluarganya.
"Assalamualaikum, bu." Yasmin berusaha menetralkan napasnya yang masih tak beraturan akibat ciuman panjang yang membangkitkan gairah itu. Ia melirik Prayuda yang sudah berdiri dan berjalan menuju ke dapur.
"Waalaikumsalam, nak. Lagi buat apa?"
"Sedang duduk saja, bu. Menikmati hari libur. Besok sudah mau praktek lagi di rumah sakit."
"Jaga kesehatan ya? Di sana sedang musim dingin kan? Pakai mantel yang tebal."
"Iya, bu."
"Kemarin ibu ketemu dengan dokter Yuda dan ibu Jeslin. Kata mereka Prayuda ke Amerika ya?"
'I..iya, Bu."
"Sudah ketemu?"
"Sudah."
"Yas, kamu masih cinta sama Prayuda?"
"Masih, bu. Aku dan kak Prayuda sekarang pacaran."
"Pacaran?"
"Ibu nggak suka ya?"
"Bukan nggak suka. Prayuda anaknya baik. Namun, tetap jaga diri ya? Kamu itu seorang janda. Ibu.....ibu..... agak khawatir jika kalian sama-sama tak bisa menahan diri."
"Tenang saja, Bu. Semuanya aman terkendali. Lusa juga ia akan kembali ke Jakarta."
"Alhamdulillah. Salam untuk Prayuda ya?"
__ADS_1
"Akan aku sampaikan, bu."
"Kamu nggak ingin pulang?"
"Nggak, bu. Kau ingin di sini dulu."
"Belum bisa melupakan Erdana?"
"Aku sudah move on dari kak Erdana. Aku hanya ingin meniti karir di sini dulu. Cari pengalaman yang yang banyak."
"Baiklah. Jangan lupa sholat ya nak? Ibu tutup dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, bu." Yasmin meletakan ponselnya di atas meja. Ia melihat Prayuda yang sudah selesai membuat dua gelas kopi.
"Kak, ibu titip salam."
Prayuda hanya mengangguk.
"Minumlah kopi untuk menetralkan gairah dalam diri kita yang hampir saja tak terkendali tadi." Kata Prayuda membuat Yasmin tersipu malu.
"Iya, kak."
"Kita sudah sama-sama dewasa. Sebagai dokter kita juga tahu bahwa tubuh kita saling menginginkan. Aku juga lelaki normal yang sudah lama kesepian."
Yasmin mengangguk. "Kita harus lebih mengontrol diri kita, kak. Nggak usah berciuman kayak tadi."
"Lebih baik jangan berciuman. Bahaya."
Keduanya sama-sama tertawa. Prayuda membelai wajah Yasmin lalu mengecup dahinya dengan penuh rasa cinta.
************
Air mata Yasmin tak berhenti mengalir. Ia mengantar Prayuda hari ini ke bandara. Cuaca hari ini nampak cerah dan penerbangan tetap berjalan sebagaimana jadwal. Doa Yasmin tak terkabul. Selama beberapa hari ini tak ada badai salju yang menyebabkan bandara harus di tutup.
"Jangan terlalu capek bekerja di rumah sakit ya?" pesan Prayuda.
"Iya. Aku bertugas dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore."
Prayuda membawa Yasmin ke dalam pelukannya. Ia juga sebenarnya sangat berat untuk meninggalkan Yasmin. Kisah mereka baru saja dimulai dan sangat manis.
Yasmin semakin erat memeluk Prayuda.
"Aku nggak akan jalan dengan William."
"Aku percaya." Prayuda mencium puncak kepala Yasmin. "Sekarang aku pergi dulu ya? Sudah ada panggilan tuh!"
Yasmin enggan melepaskan pelukannya..Tangisnya semakin dalam.
"Sayang, aku harus pergi." Prayuda mendorong tubuh Yasmin perlahan. Ia menghapus air mata Yasmin dengan ibu jarinya. "Percaya, deh. Kita pasti akan ketemu lagi secepatnya. Aku akan sangat merindukanmu." lalu Prayuda menunduk dan mencium bibir Yasmin. Keduanya seakan tak perduli dengan situasi yang ada di sekitar mereka. Ciuman itu seakan enggan di lepaskan namun harus dilepaskan karena panggilan ketiga telah terdengar.
"Tiba dengan selamat di Jakarta, kak. Semoga nggak ada cewek yang duduk di sebelahmu."
Prayuda tersenyum. "Walaupun ada, aku tak akan meliriknya. Aku pergi ya?" Ia pun melangkah pergi setelah melambaikan tangannya. Yasmin merasakan hatinya ikut dibawa oleh Prayuda. Ia merasa kesepian tanpa sadar air matanya kembali mengalir.
***********
Elmira menemui Mentari di butiknya. Ia baru saja selesai syuting film selama 1 bulan.
"Ri, tolong buatin gaun untuk aku, dong
Salah satu produser anaknya mau kawin."
Mentari menatap Elmira. "Kamu agak gemuk ya?"
"Iya. Banyak gaun ku yang sudah sempit."
"Tapi kan anakmu minum susu."
Mentari tersenyum. "Aku hamil lagi."
Mentari terkejut. "Hamil? Tapi si baby baru berusia 8 bulan kan? Memangnya nggak ikut program?"
"Ada sih. Heran juga bisa hamil. Tapi Nick senang. Aku juga sudah konsultasi dengan dokter kata dokter sih harus lebih jaga stamina dan rajin kontrol saja. Untung saja syutingnya sudah selesai.
__ADS_1
Mentari tersenyum. "Hamil kali ini pasti beda ya?"
"Iya. Kali ini aku yang ngidam. Untungnya nggak aneh-aneh. Hanya pingin makan nasi uduk, rujak, dan makan buah sirsak."
Mentari meminta asistennya untuk mengambil ukuran badan Elmira.
"Ri, kemarin saat ke rumah sakit, aku ketemu dengan Prayuda. Ia dan Yasmin katanya sudah berpacaran."
"Alhamdulillah. Akhirnya. Kita tinggal menunggu hari bahagia mereka."
"Erdana bagaimana?" tanya Elmira
"Mas Er sudah ikhlas kok. Aku tak lagi melihat dia melamun di tengah malam. Dia sekarang sudah kembali seperti dulu. Anak-anak bahkan lebih dekat dengan mas Er."
"Ibu Jeslin gimana?"
"Alhamdulillah sehat. Bunda sekarang lebih gemuk. Dia bahagia dengan ayah Yuda. Mereka semakin tua semakin terlihat saling menyayangi. Seperti juga dengan ayah Wisnu dan ibu Naura. Aku juga berharap agar rumah tangga kami akan seperti mereka."
Elmira mengangguk. "Aku juga berharap demikian. Ayah dan ibu semakin mesra walaupun umur tak muda lagi. Aku masih melihat wajah ayah yang cemberut jika ada pria lain yang dekat dengan ibu. Cinta ayah pada ibu sungguh luar biasa. Pada hal dulu ayah juga berpoligami kan? Namun hanya ibu yang membuat ayah bisa jatuh cinta. Aku harap Nick juga tak akan pernah melirik wanita lain. Aku harap juga Nick nggak akan pernah minta poligami. Sungguh, aku tak mau punya madu."
"Aku pernah merasa punya madu. Namun maduku baik. Kami sebenarnya bisa menjadi keluarga bahagia. Tapi takdir menuliskan kisah Yasmin tak berakhir bersama mas Er. Ada Prayuda, pria baik yang Allah siapkan untuk Yasmin. Aku berharap mereka juga bahagia."
Elmira mengangguk. Ia pun berharap Prayuda akan bahagia bersama Yasmin.
***********
Yasmin menatap hujan yang turun dari kaca apartemennya. Sebentar lagi ia akan menyelesaikan studi S2 nya. Yasmin merasa sepi. Ia merindukan Prayuda. Rasanya tak enak tinggal sendiri.
Yasmin mengambil ponselnya. Ia menghubungi Prayuda. Ia tahu sekarang di Jakarta sudah tengah malam namun Yasmin tak bisa lagi menahan gejolak dalam hatinya.
"Hallo..." Terdengar suara Prayuda yang baru bangun.
"Sayang, maaf aku membangunkan mu."
"Ada apa, Yas? Di sini sudah jam 2 subuh. Kamu sakit? Atau terjadi sesuatu?"
"Kak, halalin aku dong..."
"Ha? Maksudnya?"
"Kak, kamu sudah beneran bangun nggak sih?"
"Iya, sebentar aku duduk dulu."
Yasmin sedikit kesal namun ia memakluminya karena memang Prayuda baru bangun.
"Kamu bilang apa tadi?" tanya Prayuda.
"halalkan aku menjadi pendamping mu."
"Halalkan?"
"Aduh kak Pra nggak ngerti juga ya? Segera kamar aku ke ayah Satria dan ibu Gayatri. Akhir bulan ini segera datang ke Amerika untuk menikahi aku, kalau nggak, aku akan menerima lamaran William." kata Yasmin sedikit berteriak.
"Kamu menerima lamaran ku?"
"Kakak...., belum juga bangun dari mimpinya?"
Prayuda tertawa.
"Kakak mengerjai aku ya?"
"I love you, Yasmin! Tunggulah fajar menyingsing di Jakarta ini. Sebelum pukul 7, aku akan berdiri di depan rumah dokter Satria untuk melamar anaknya."
***********
.Ayo.......
bagaimana manisnya pernikahan mereka?
Di tunggu ya komentar dan usulnya....
Part manisnya seperti biasa hanya di grup wa
__ADS_1
he....he.....
Selamat Kamis manis