CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Alasan Kerja


__ADS_3

Sudah seminggu ini Yasmin selalu pulang jam diatas jam 10 malam. Erdana awalnya tak memperhatikan itu namun karena sudah dua hari ini ia selalu pulang cepat jadi Erdana yang menonton TV akhirnya melihat bagaimana Yasmin yang tiba di rumah saat jam sudah menunjukan pukul 10 lewat 10 malam.


"Assalamualaikum!" sapa Yasmin saat melihat kalau Erdana masih ada di ruang tamu.


"Waalaikumsalam. Ada kuliah malam?" Erdana akhirnya tak dapat menahan dirinya untuk bertanya.


Yasmin hanya mengangguk dan segera menuju ke kamarnya.


Erdana tahu kalau mahasiswa kedokteran memiliki jam kuliah dan tugas yang tak sama dengan mahasiswa di jurusan yang lain. Namun, apakah harus sampai larut malam seperti ini?


Hari itu Erdana tak ingin bertanya lebih banyak karena mengingat apa yang Yasmin katakan bahwa mereka berdua tak boleh saling mencampuri urusan pribadi masing-masing. Namun hari ini adalah hari Sabtu. Ketika Erdana bangun, Yasmin sudah tak ada. Pada hal ibu Naura meminta Erdana dan Yasmin untuk ikut ke desa sekaligus akan merayakan satu tahun pernikahan mereka.


"Bu, aku dan Yasmin nggak ikut ya? Nanti aja kapan-kapan kami ke desa." Itulah pesan yang dikirimkan oleh Erdana kepada sang ibu.


Merasa bosan sendiri, Erdana menelepon Bojes. Untung saja pacar Bojes tak datang hari ini sehingga mereka pun akhirnya bisa pergi bersama.


"Tuan, ada restoran yang baru saja dibuka. Katanya makanan di sana enak. Apakah kita akan ke sana?" tanya Bojes sambil mengendarai mobil miliknya. Erdana memang lagi malas membawa mobil sendiri makanya ia meminta Bojes untuk menjemputnya.


"Boleh. Apakah jauh?"


"Nggak. Bentar lagi juga sampai."


Mereka pun tiba di sebuah restoran yang tak begitu besar namun pengunjungnya terlihat sangat banyak. Erdana dan Bojes hampir saja tak mendapatkan tempat duduk.


"Ramai sekali." ujar Erdana.


"Biasalah kalau tempat yang baru buka terus viral, pasti banyak pengunjungnya. Apalagi ini kan hari Sabtu."


Keduanya pun duduk di sudut ruangan.


"Bojes, Gendis nggak datang ya?"'


"Iya tuan. Ada acara keluarga mereka."


"Mengapa kau tak ikut?"


"Orang tuanya nggak suka dengan aku. Itulah sebabnya kami tak kunjung menikah pada hal usiaku sudah mau 30 tahun. Belum lagi kami yang sama-sama sibuk. Gendis nggak mau meninggalkan pekerjaannya juga. Ia sudah susah payah bekerja keras sampai bisa ada di posisinya yang sekarang."


"Kenapa nggak mau yang mengalah saja?"


"Nggak ah, tuan. Aku juga suka dengan pekerjaanku yang sekarang. Apa tuan mau aku berhenti?"


Erdana terkekeh. "Nggak mau juga, sih. Oh ya, setiap Gendis datang, dia menginap di mana?"


"Di apartemenku." jawab Bojes malu-malu.


"Memangnya kalian sudah....."


"Ya mau bagaimana lagi? Kami sama-sama suka, sama-sama sudah dewasa dan ingin merasakan kenikmatan itu. Namun selama ini aku selalu memakai pengaman." Jawab Bojes sambil menggaruk kepalanya.


"Menikah saja. Dulu aku dan Mentari juga kayak gitu. Dari pada melakukan Zinah, ya menikah siri aja dulu. Untungnya papa Ganding mengijinkan."

__ADS_1


Seorang pelayan datang membawakan menu makanan. Erdana dan Bojes pun memilih makanan apa yang hendak mereka makan. Setelah itu keduanya melanjutkan ngobrol.


"Bojes, kau harus segera menikah dengan Gendis."


"Aku sudah pernah melamarnya namun dia namun ditolak oleh bapaknya. Apa mungkin karena aku anak yatim piatu, bukan orang Jawa dan bukan dari keluarga berada?"


"Gaji kamu lebih dari cukup untuk menafkahi Gendis."


"Tetap saja ditolak. Aku pinginnya segera menghamili Gendis saja supaya kami segera dinikahkan."


"Pakai jalan pintas dong kamu ini." Erdana tertawa begitu juga Bojes. Namun tawanya terhenti melihat siapa pelayan yang mengantarkan makanan di meja yang ada di samping mereka.


"Yasmin?"


Bojes ikut menoleh. "Ya Allah. Itu memang nyonya Yasmin? Dia bekerja di sini?"'


"Yasmin.....!" panggil Erdana sedikit keras. Yasmin menoleh dengan kaget.


"Kak Erdana?"


"Apa-apaan kamu bekerja di sini?" Erdana berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Yasmin.


"Kak, jangan ganggu. Aku sedang bekerja. Nanti bos ku marah!" Mohon Yasmin dengan wajah memelas. Ia baru saja memecahkan piring di belakang. Ia tak mau dipecat jika Erdana sampai melakukan kekacauan di sini. Yasmin dapat melihat sorot mata Erdana sangat tajam.


"Selesaikan pekerjaanmu dan aku tunggu di apartemen untuk bicara."


Erdana terlihat tak menikmati makan siangnya Sangat berbeda dengan Bojes yang kelihatan lahap saat makan. Hati Erdana merasa marah melihat Yasmin menggunakan seragam pelayan restoran ini.


"Ayo pulang!" ajak Erdana.


"Nggak mau! Jam kerjaku selesai pukul 10 malam." kata Yasmin tegas.


"Yasmin!" Erdana mulai emosi.


"Pergilah, kak! Bukankah kita sepakat untuk tak mencampuri urusan pribadi masing-masing?"


"Memangnya apa alasanmu harus bekerja?"


Yasmin menatap teman-temannya yang mulai memperhatikan mereka. Ia tak mau ada keributan. Makanya ia memilih membuka celemaknya dan menemui manager restoran untuk meminta ijin. Awalnya Yasmin tak diijinkan. Namun saat Yasmin beralasan bahwa neneknya sakit keras, Yasmin pun akhirnya diijinkan pulang dengan syarat gajinya akan di potong.


Sepanjang perjalanan pulang, Yasmin hanya diam. Erdana yang duduk di sampingnya pun diam dan hanya konsentrasi membawa kendaraan. Bojes pulang sendiri sementara Erdana dan Yasmin naik mobil Yasmin yang memang di bawahnya ke tempat kerja.


Begitu sampai di apartemen.......


"Duduk dan kita harus bicara!" kata Erdana sedikit memerintah membuat Yasmin kesal. Ia duduk dengan wajah cemberut. Ada perasaan jengkel dalam hatinya karena harus berbohong tentang neneknya yang sakit keras pada hal neneknya sudah meninggal.


"Mengapa sampai kau bekerja di sana? Bagaimana jika orang tuamu melihatmu? Yasmin, kamu kan nggak biasa bekerja?" tanya Erdana sambil menatap Yasmin yang duduk di depannya.


"Aku butuh uang. Uang di tabunganku tinggal 2 juta lebih. Semenjak kita menikah, aku tak pernah meminta uang lagi kepada orang tuaku. Jadi aku harus bekerja untuk bisa menghidupi diriku dan juga membayar uang kuliahku." Kata Yasmin tanpa bisa menahan air matanya.


Perkataan Yasmin begitu menohok sampai ke kedalaman hati Erdana. Laki-laki itu baru sadar kalau selama ini ia tak pernah memberikan uang sepersen pun pada Yasmin.

__ADS_1


Waktu bersama Mentari, Erdana selalu memberikan uang bulanan pada Mentari walaupun istrinya itu selalu mengatakan tak perlu karena punya penghasilan sendiri dari pekerjaannya. Semenjak Mentari pergi, rekeningnya juga ikut ditutup sehingga Erdana tak bisa lagi mentransfer uang untuknya.


Mungkin karena pernikahannya dengan Yasmin diawali dengan aksi penolakan dari mereka berdua, Erdana sampai melupakan kewajibannya untuk memberikan Yasmin uang bulanan.


"Maafkan aku....!" emosi Erdana langsung hilang digantikan dengan wajah penuh penyesalan. "Seharusnya aku yang memberikan uang padamu, membiayai kuliahmu dan semua kebutuhanmu. Mengapa kau juga tak meminta uang padaku?"


Yasmin menghapus air matanya. "Hubungan kita nggak baik, kak. Bagaimana mungkin aku akan meminta uang padamu?"


Erdana berdiri dan berpindah tempat duduk di samping Yasmin. "Bagaimana pun hubungan pernikahan kita, aku tetaplah suamimu. Berikan nomor rekening mu!"'


Kepala Yasmin terangkat dan memandang ponsel Erdana yang sudah dipegang oleh pria itu dan siap mengetik sesuatu.


"Kakak mau memberikan aku uang?"


Erdana jadi kesal karena Yasmin tak mengerti juga sehingga tangganya menyentil dahi gadis itu.


"Aow..., sakit, kak!" Yasmin meringis sambil menggosok dahinya.


"Mana nomor rekeningnya?"


Yasmin menyebutkan nama nomor rekeningnya. Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Ia mengambilnya dan melihat pesan dari SMS banking yang masuk. Matanya langsung terbelalak. 100 juta?


"Kak, ini banyak." ujar Yasmin.


"Pakailah untuk keperluan mu setiap hari. Jangan bekerja! Aku tak mau keluargamu menganggap aku bukan suami yang baik walaupun hubungan kita memang tak baik. Tugasmu hanya belajar dan menjadi dokter yang hebat seperti ayahmu. Setiap bulan aku akan mentransfer uang di rekening mu ini."


Yasmin sangat senang. Dan entah dorongan dari mana, ia langsung memeluk Erdana. "Terima kasih, kak."


Erdana terkejut karena Yasmin memeluknya dengan erat.


Saat Yasmin merasakan bahwa Erdana tak membalas pelukannya, ia langsung menyadari keadaan diantara mereka.


"Maaf, kak." Yasmin melepaskan pelukannya dengan wajah memerah.


Erdana tersenyum. " Yas, ibu mengajak kita ke desa. Kamu mau ikut?"


Yasmin mengangguk.


"Bersiaplah. Aku mau mengambil bajuku dulu. Kita akan pulang Senin pagi."


"Ok." Yasmin segera menuju ke kamarnya. Sesampai di kamar, ia memegang dadanya. Entah mengapa ada rasa bahagia saat Erdana memperhatikan kebutuhannya.


***********


Hallo semuanya....


semangat Senin ya guys


Bagaimana liburan Yasmin dan Erdana di desa nanti?


Apa kabar juga Mentari?

__ADS_1


Nantikan di next episode ya?


__ADS_2