
Yasmin membereskan laptop dan bukunya. Ia akan ke rumah apartemen karena Erdana dan Mentari akan tiba sore ini dari desa.
Saat ia keluar dari perpustakaan, ia berpapasan dengan Prayuda.
"Eh, selamat sore pak dosen."
Prayuda tersenyum mendengar sapaan Mentari padanya. "Mau pulang?"
"Iya. Sudah tahu kan kalau kak Mentari akhirnya pulang dari Singapura?"
Prayuda terkejut. Mengapa Mentari tak memberitahukan kepadanya?
"Wah, kakak belum tahu, ya? Kak Mentari akhirnya setuju untuk bersama kak Erdana lagi."
Walaupun ada goresan luka di hati Prayuda, dokter tampan itu hanya tersenyum. "Baguslah. Aku yakin kalau Mentari sebagai madunya, tak akan pernah menyakitimu."
"Aku juga yakin seperti itu, kak."
"Bawa mobil?"
"Iya. Aku bawa mobil."
Keduanya melangkah bersama menuju ke tempat parkir. Tanpa mereka sadari tak jauh dari situ, ada sepasang mata yang menatap mereka dengan tatapan tajam. Tangan orang itu bahkan terkepal dengan sangat kuat sampai urat-urat di tangannya timbul.
"Salam untuk Mentari dan baby As ya?" ujar Prayuda sebelum masuk ke dalam mobilnya.
"Ok, kak." Mentari pun melabaikan tangannya dan segera masuk ke dalam mobilnya.
Mengapa wajah kak Prayuda kelihatan sedih ya? Apakah benar yang kak Erdana bilang kalau dulu kak Prayuda pernah menyatakan cinta pada kak Mentari? Apakah cinta itu masih ada? Kasihan juga ya kak Prayuda. Cinta pertama gagal, eh, cinta kedua bersama dokter Gisel harus kandas juga. Kira-kira ada nggak ya teman di angkatan ku yang bisa aku jodohkan dengan kak Prayuda? Kasihan juga dia. Dokter muda yang tampan tapi nasib percintaannya gagal. Ih...kok aku memikirkan nasib kak Prayuda sih?
Yasmin jadi senyum-senyum sendiri. Bagaimana pun, ia sudah mengenal.Prayuda semenjak mereka kecil. Ia tahu kalau Prayuda sama baiknya dengan Erdana.
Mobil Yasmin pun akhirnya tiba di kompleks apartemen. Saat ia memarkir mobilnya di tempat parkiran, ia tersenyum melihat mobil Erdana sudah ada di sana.
Dengan penuh semangat ia segera turun dari mobilnya dan bergegas menuju ke pintu masuk. Ia menempelkan kartunya, pintu terbuka sendiri dan ia tersenyum pada petugas penjaga lobby yang sedang duduk di sana.
Saat Yasmin membuka pintu, apartemen, ia melihat kalau ruang tamu nampak kosong. Namun saat ia melangkah ke dapur, ia melihat Mentari yang sedang membuat sesuatu sambil membelakangi nya. Belum sempat Yasmin menyapa, Erdana muncul dari tangga dan langsung mendekati Mentari, memeluknya dari belakang dan mencium leher Mentari dengan lembut.
Yasmin membalikan badannya. Ada sesuatu yang sedikit mengusik hatinya. Ia kemudian menggelengkan kepalanya. Tidak! Aku tak boleh memiliki perasaan ini. Aku sejak awal sudah tahu kalau kak Mentari memiliki arti yang sangat istimewa dalam hati kak Erdana. Aku yang menyetujui agar kami berpoligami. Aku harus memiliki keikhlasan.
"Selamat sore....!" sapa Yasmin dengan senyum khasnya. Ia melangkah masuk.
Mendengar suara Yasmin, Mentari dengan cepat melepaskan tangan Erdana yang masih melingkar di pinggangnya.
Erdana pun membalikan badannya. Hatinya merasa lega melihat tatapan mata Yasmin yang nampak biasa saja.
"Kok aku tak mendengar suara pintu di buka?" tanya Erdana.
"Bunyi alat masak yang menyebabkan suara pintu tak terdengar. Oh,ya kak Mentari lagi buat apa?"
"Buat makan malam."
"Boleh aku bantu?" tanya Yasmin.
__ADS_1
"Boleh."
"Aku taru tas ku dulu ya?" Yasmin bergegas ke kamarnya. Ia menyimpan tasnya, membuka sepatunya, mengikat rambutnya lalu mengenakan sandal rumah dan kembali ke dapur.
"Baby As mana?" tanya Yasmin sementara ia membersihkan sayur.
"Masih tidur." jawab Erdana yang sementara menikmati kopinya. Sesekali ia menatap kedua perempuan cantik yang ada di depannya. Ia tak pernah bermimpi sekalipun akan memiliki dua istri dalam hidupnya. Dua perempuan yang sama-sama cantik, menarik, dan juga ia sayangi. Saat bercinta bersama Yasmin, Erdana memang tak memikirkan Mentari. Saat bersama Mentari pun, Erdana juga tak memikirkan Yasmin. Dua perempuan itu seolah memiliki sihir yang membuat Erdana terpesona saat bercinta dengan mereka.
Baby As bangun dan melalui kamera pemantau yang diletakan Erdana di dekat box bayinya, mereka bisa tahu. Kamera itu terhubung dengan aplikasi yang ada di ponsel Erdana dan juga Mentari.
Erdana segera naik lantai dua dan membawa baby As turun. Mentari segera menyiapkan makan malamnya As dan Erdana yang menyuapinya.
Malam itu, mereka duduk makan bersama dalam suasana yang penuh rasa kekeluargaan. Baby As pun ada diantara mereka dan sesekali ia tertawa saat Erdana mengajaknya berkomunikasi.
Selesai makan, Erdana mandi dan membantu Mentari menidurkan As. Mereka bertiga akan berbicara malam ini, dan karena baby As tidur di kamar atas, maka ketiganya berbicara di ruang tamu lantai atas.
"Mentari, Yasmin, kita bertiga sudah sepakat untuk hidup bersama sebagai satu keluarga. Sungguh, aku tak pernah merencanakan ini dalam hidupku namun keadaan yang membuat kita bertiga ada dalam ikatan ini. Besok, rencananya pengacara akan mengurus permohonan itsbat nikah ke pengadilan agama untuk mengesahkan pernikahan aku dan Mentari sehingga baby As dapat dibuat akta kelahirannya. Aku akan berusaha adil dengan kalian berdua. Jika tindakan ku menurut kalian tak adil, maka kalian dapat mengatakan padaku. Aku tak akan menyembunyikan pernikahan kita. Aku akan jujur pada semua orang bahwa aku memiliki 2 istri. Malam ini, aku mengajak kita bicara bersama karena ibuku meminta aku untuk mengatur waktuku untuk bersama Mentari dan juga Yasmin." Erdana menatap kedua istrinya secara bergantian. "Menurut kalian, apakah kita akan tinggal bersama atau pisah rumah?"
"Bersama." kata Yasmin sedangkan Mentari nampak belum bisa bicara.
Erdana menatap Mentari. "Bagaimana, Ri?"
Mentari menarik napas panjang. "Aku pikir, sebaiknya kita pisah rumah. Karena baik aku maupun Yasmin tentu menginginkan waktu khusus bersama Erdana. Yasmin juga sementara kuliah, tentu dia akan punya waktu sendiri untuk mengurus Erdana dengan caranya. Aku juga punya kesibukan sendiri, walaupun untuk sementara aku akan bekerja dari rumah saja sambil mengurus baby As. Tentu aku juga punya caraku sendiri untuk mengurus keperluan Er. Kita bisa punya waktu khusus untuk tinggal bersama seperti saat hari raya atau liburan. Namun selebihnya, lebih baik kita pisah rumah."
"Kakak akan tinggal di mana?" tanya Yasmin.
"Sebenarnya, dulu, aku dan Er sudah membangun rumah untuk kami tinggali bersama. Rumah itu sudah selesai, tinggal diisi perabotannya saja. Selama aku dan Er terpisah, rumah itu ternyata tak pernah Er kunjungi. Tadi aku sudah meminta tukang untuk melihat kembali apa-apa yang harus dibenahi sebelum rumah itu siap ditempati. Aku akan tinggal di sana. Rumah itu cukup luas untuk juga menjadi tempat kerjaku." kata Mentari membuat Erdana terkejut. Ia lupa tentang rumah itu karena terlalu sedih karena Mentari menghilang.
"Er, kau juga harus membeli rumah untuk Yasmin agar adil." Ujar Mentari.
"Kak, aku di apartemen saja. Soalnya kalau sudah ada rumah, jujur saja aku nggak pintar membersihkan rumah, aku nggak pintar masak. Memang sih ada pelayan, tapi sebaiknya aku mengatur rumahku sendiri kan? Sebentar lagi aku akan sibuk dengan ujian, lalu aku akan menjalani masa coass. Selesai itu aku masih ingin mengambil spesialis ku. Aku ingin menjadi dokter ahli bedah. Seperti kakekku."
Melihat bagaimana antusiasnya Yasmin mengejar cita-citanya, ada sesal di hati Erdana. Andai saja malam itu dia tak mabuk, pasti sekarang Yasmin sedang bahagia dengan teman-temannya, menikmati masa mudanya tanpa harus terikat dengan pernikahan poligami yang menuntut dia harus membagi waktu antara mengurus rumah tangga dan mengejar cita-cita.
"Yas, aku nggak akan melarang mu mengejar semua yang kau inginkan untuk menjadi dokter handal seperti kakek mu. Aku akan mendukung kamu." Ujar Erdana membuat Yasmin senang.
"Aku juga akan mendukung kamu, Yas." kata Mentari.
"Terima kasih." Yasmin menarik napas lega. Ia tahu dengan kesibukannya, maka Erdana tetap akan mendapatkan perhatian dari Mentari.
"Yasmin akan mendapatkan rumahnya saat ia sudah siap untuk mengurus rumah. Bagaimana, Yas?" tanya Erdana.
"Setuju." kata Yasmin dengan antusias.
"Dan pembagian waktu?" tanya Erdana.
Yasmin menatap Mentari. "Menurut kak Mentari?"
"Aku juga bingung. Mungkin seminggu bersama ku, lalu seminggu bersama Yasmin. Atau bagaimana?" Mentari juga terlihat bingung.
"Kasihan dong baby As, harus menunggu seminggu untuk bersama ayahnya. Gini aja, dalam seminggu kan ada tujuh hari. Jadi Senin-Rabu kak Erdana sama aku, Kamis-minggu dengan kak Mentari. Bagaimana?" tanya Yasmin.
"Rasanya nggak adil. Sabtu Minggu kan Erdana nggak masuk kerja. Sebaiknya Senin-Kamis Er sama kamu, Jumat-Minggu sama aku saja. Atau kita putar saja waktunya?" tanya Mentari.
__ADS_1
"Jangan kak. Weekend kak Er harus menghabiskan waktunya bersama baby As."
"Ya kalau begitu, Senin-kamis saja waktumu."
Yasmin menggeleng. "Senin sampai Rabu saja. Kamis dan Jumat sebenarnya jadwalku padat."
Erdana menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia bingung melihat kedua istrinya yang saling menolak waktu yang kelebihan satu itu.
"Er, bagaimana?" tanya Mentari.
"Terserah kalian berdua saja. Tapi kalau hari minggu, Yasmin nggak kuliah kan? Boleh kan hari itu kita ngumpul bersama?" tanya Erdana.
"Boleh, sih. Tapi mungkin nggak setiap minggu. Karena kalau aku mulai coass, kadang hari minggu dapat giliran jaga di rumah sakit."
Erdana mengangguk setuju. "Kalau begitu, sebaiknya sekarang kita istirahat."
"Kak, rumah yang akan di tempati kan masih harus diatur lagi. Jadi untuk sementara tinggal dulu di sini. Ini kan juga hari Senin, jadi pembagian waktunya nanti setelah kakak pindah saja. Bagaimana?" tanya Yasmin.
Mentari tersenyum ke arah Yasmin. Ia tahu kalau Yasmin sebenarnya ingin mereka tinggal bersama. "Pada hal rencananya mulai besok aku akan tinggal di rumah ibuku dulu."
"Jangan dong, kak. Aku kan ingin dekat juga dengan baby As."
"Ok."
"Yes!"
"Nah, sekarang kita istirahat saja."Mentari berdiri. Ia menatap Erdana. "Karena semalam Erdana sudah bersamaku, maka malam ini Erdana tidur saja bersama Yasmin."
"Jangan! Selama kita tinggal bersama, maka kak Er nggak boleh tidur dengan salah satu diantara kita. Jadi kak Er bobo di kamar tamu saja. Aku mau bobo dengan baby As."
Mentari tertawa melihat Erdana melotot. Namun ia tak mau mengecewakan Yasmin.
"As pasti suka dijaga oleh kedua ibunya." Ujar Mentari membuat Yasmin terharu.
"Makasi kak. Sudah menjadikan aku sebagai ibunya As juga." Yasmin langsung masuk ke kamar. Meninggalkan Erdana dan Mentari sendiri.
"Er, aku mau tidur juga. Dokter melarang aku untuk tidur larut malam."
Erdana mengangguk. Ia mencium dahi Mentari.
"Kau tak mencium Yasmin?" tanya Mentari.
"Biar saja. Dia menyebabkan aku tidur sendiri malam ini." kata Erdana sedikit merajuk.
Mentari tertawa. Lalu memeluk Erdana.
Tanpa mereka sadari, Yasmin mengintip dari balik pintu kamar. Ya Allah, kisah cinta mereka sebenarnya sangat manis. Seharusnya aku tak ada diantara mereka.
************
Hai semua
jangan lupa dukung emak ya guys
__ADS_1