
Suasana ruang kerja Mentari yang tadinya panas oleh gairah yang tak tertahankan, tiba-tiba saja berubah menjadi dingin. Mentari segera meraih gaunnya yang ada di lantai dan menuju ke kamar mandi yang ada di ruangan itu untuk membersihkan dirinya.
Sedangkan Erdana yang tadinya masih duduk di atas sofa, ia pun berdiri sambil memakai celananya kembali. Ia menuju ke wastafel, mencuci wajahnya sebentar untuk mendinginkan kepalanya yang mulai panas.
Hamil? Bukankah selama ini Mentari selaku meminum pil pencegah kehamilannya? Erdana bahkan selalu mengingatkannya Karena Mentari sebenarnya sedang terapi obat untuk pemulihan setelah operasi tumor.
Erdana menatap wajahnya ke cermin yang ada di atas wastafel. Ia lelah karena urusan yang ada di Bali. Namun beruntungnya semua boleh selesai dengan baik. Erdana ingin cepat pulang ke rumah. Ia rindu baby As dan juga merindukan kedua istrinya. Karena sekarang masih hari Sabtu, makanya Erdana harus pulang ke tempat Mentari.
Pelayan yang membukakan pintu mengatakan kalau baby As ada di rumah kakek Wisnu. Sedangkan Mentari ada di ruang kerjanya. Saat memeluk Mentari, rasa lelahnya seketika lenyap. Bercinta dengan Mentari menjadi satu hal yang tak bisa dihindari lagi karena memang begitulah Erdana. Selalu terpesona dan hilang kendali saat sudah memeluk istrinya.
Namun semua rasa nikmat yang membuat keduanya hanyut dalam kepuasan raga dan juga jiwa, kini tergantikan dengan rasa cemas.
Pintu kamar mandi terbuka. Mentari keluar setalah mengenakan lagi gaunnya dan hijab yang menutupi kepalanya. Erdana dapat melihat kalau mata Mentari agak merah. Begitu juga hidungnya. Pasti Mentari menangis di dalam sana dengan suara yang tertahan.
Sejenak perasaan Erdana melunak. Ia langsung mendekat dan membawa Mentari ke dalam pelukannya. "Maafkan aku jika apa yang kukatakan tadi membuatmu terluka." bisiknya lembut sambil mengusap punggung Mentari.
Mentari mengangguk lalu melepaskan diri dari pelukan Erdana. "Aku yang meminta ibumu untuk menjemput As tadi siang. Supaya kita bisa bicara."
"Ayo kita bicara sambil duduk." Ajak Erdana sambil melingkarkan tangannya di pinggang Mentari dan menuntun istrinya itu ke sofa. Tempat di mana mereka tadi baru saja menikmati indahnya penyatuan sebagai suami dan istri.
Setelah keduanya duduk, Erdana meraih kedua tangan Mentari dan menyatukan dalam genggamannya. "Aku ingin punya anak lagi darimu, Ri. Karena aku ingin mendampingi mu, untuk menggantikan waktu yang hilang saat kau hamil baby As. Tapi belum sekarang. Kau masih menjalani terapi pengobatan. Kehamilan mu ini juga beresiko karena As belum juga dua tahun. Aku nggak mau sesuatu terjadi padamu, Ri. Aku bisa gila jika sesuatu terjadi padamu!"
Mentari menatap mata Erdana yang sudah berkaca-kaca. "Aku sudah konsultasi dengan dokter kandungan. Prayuda juga sudah menghubungi dokter ku di Singapura. Hasil pemeriksaan lab ku bulan lalu juga bagus. Tak ada tanda-tanda kalau tumor itu kembali bertumbuh. Hanya saja terapi pengobatan ku memang belum selesai. Mudah-mudahan jika dihentikan semuanya akan baik-baik saja."
"Itu menurutmu kan? Bagaimana menurut dokter mu di Singapura."
Wajah Mentari berubah menjadi sedih. "Dokter menyarankan agar bayiku di keluarkan."
"Dan menurut dokter kandungan?"
"Agak beresiko hamil di saat seperti ini."
Erdana mendengus kesal. "Lalu kenapa kau ingin meneruskan kehamilan ini?"
Tangis Mentari langsung pecah. "Haruskah aku membuangnya, mas? Dia adalah sebagian dari diriku dan dirimu." Mentari memegang perutnya.
"Bagaimana kalau itu membahayakan dirimu? Aku bukan menolak kehadirannya, Ri. Tapi memang ini bukan saat yang tepat. Maaf." Erdana berdiri. Ia segera melangkah meninggalkan ruang kerja Mentari. Pikirannya kacau. Ia ingin sendiri.
**********
Yuda menatap Jeslin dengan mata yang berbinar. "Jadi mereka setuju?"
Jeslin mengangguk.
__ADS_1
"Aku senang sekali. Tanganku sampai gemetar." Ujar Yuda sambil mengangkat tangannya.
"Bagaimana dengan anak-anakmu?" tanya Jeslin.
"Fiko dan Fera (anak Yuda dari istri keduanya), mereka setuju juga. Prayuda yang belum tahu. Namun aku yakin, putra sulung ku itu akan setuju juga." Yuda memegang kedua tangan Jeslin. "Kita harus menikah dalam waktu yang dekat. Aku tak mau menundanya lagi."
"Baik. Tapi jangan terburu-buru juga."
"Bagaimana kalau satu minggu dari sekarang?"
Jeslin terkejut. "Bukankah itu terlalu cepat?"
"Kau ingin pesta yang besar?"
"Nggak. Aku justru tak mau pesta. Yang hadir cukup keluarga terdekat saja."
"Orang tuaku sudah meninggal. Orang tuamu juga sudah tak ada. Aku hanya punya satu kakak yang sekarang menetap di Australia. Kalau kakak kamu kan ada di Jakarta."
Jeslin tersenyum. "Dua Minggu saja dari sekarang. Kita berdua kan sama-sama sibuk. Aku setidaknya harus menyiapkan gaun juga."
"Kau punya anak seorang desainer terkenal. Mengapa harus takut?" Yuda menangkup pipi Jeslin dengan kedua tangannya. "Aku sudah menunggu hari ini selama 30 tahun. Aku tak pernah berhenti mencintaimu walaupun ada dua wanita di sisiku. Aku tahu waktu kita bersama mungkin tak lama karena usia kita. Namun aku ingin memiliki hari-hari terbaik bersamamu. Cinta sejati ku." Yuda kemudian menunduk dan mengecup bibir Jeslin dengan sangat lembut. "Aku mencintaimu." bisik nya lembut.
Jeslin membiarkan Yuda memeluknya. Ia tahu Gading pasti tak akan marah. Jeslin ingat saat Jeslin menemani Gading di ujung kematiannya, Gading berbisik dengan sangat pelan. "Teruslah bahagia."
***********
Tangan Yasmin bergetar saat pasien yang ditanganinya meninggal tepat di depannya. Seorang bapak, yang selama beberapa hari ini dirawat di ruang iccu karena serangan jantung. Yasmin yang menangani bapak itu semenjak ia masuk di IGD. Beberapa hari ini sang bapak nampak mulai membaik bahkan ia berulang kali mengucapkan terima kasih pada Yasmin. Namun sore ini, saat Yasmin akan pulang, sang bapak kembali mendapat serangan. Prayuda sebagai dokter ahli jantung di rumah sakit ini sementara menjalankan operasi. Ada dokter ahli jantung lainnya namun ia tak berada di tempat.
Yasmin berusaha dengan segala daya agar bapak ini bisa sembuh namun nyawanya tak tertolong.
"Dokter Yasmin.....!" panggil salah satu perawatan
Yasmin menarik napas panjang Berusaha menahan air matanya agar tak jatuh. Ia tersenyum ke arah perawat itu. "Catat saja waktu kematiannya, dan segera bawa jenasahnya ke kamar mayat. Bagaimana keluarganya?"
"Anak-anaknya ada di luar."
"Biarkan mereka melihatnya sejenak." Yasmin keluar dari ruang ICCU. Ia butuh udara segar untuk menenangkan pikirannya. Ini kali pertama ia melihat ada yang mati di tangannya.
Setelah membuka kaos tangannya, Yasmin mencuci wajahnya di wastafel, ia membuka jas dokternya dan keluar lewat pintu samping menuju ke taman belakang.
Agak lama Yasmin duduk di sana. Tak dipedulikannya malam yang sudah datang.
"Yas ....!" panggil Prayuda.
__ADS_1
Yasmin tak bergeming. Ia tetap duduk sambil menatap jauh ke depan.
"Pengalaman pertama aku saat ada pasien yang meninggal ketika ku tangani pun sama seperti kamu. Aku bahkan tak bisa tidur selama dua hari. Aku merasa gagal di tugas pertamamu. Namun sebagai dokter, kamu harus tahu bahwa tugas kita hanyalah membantu orang untuk bisa sembuh namun penentu segalanya adalah sang Pemilik Kehidupan ini. Sehebat apapun seseorang di bidang medis, ia tak bisa melawan takdir yang sudah digariskan Tuhan."
"Hatiku sakit, kak."
"Dengan berjalannya waktu, kau pasti akan mampu melewatinya. Dan lama kelamaan kau juga akan terbiasa melihat pasien mu meninggal di hadapanmu."
Bahu Yasmin terguncang. Tangis yang sedari tadi ditahannya, pecah juga. Ia tak menolak saat tangan Prayuda yang melingkar di bahunya, menarik tubuhnya agar semakin dekat dengan Prayuda. Yasmin menangis dalam pelukan dokter tampan itu. Ada perasaan damai yang Yasmin rasakan saat menghirup bau vanila yang menyenangkan dari tubuh Prayuda. Harum parfum Prayuda ini memang sudah selalu Yasmin cium saat berdekatan dengan Prayuda. Namun baru kali ini, Yasmin merasakan kalau harumnya mampu mempengaruhi hati dan pikiran Yasmin. Apalagi ditambah dengan usapan lembut Prayuda di bahunya.
Yasmin hampir tenggelam dalam rasa yang membuatnya ingin berlama-lama dalam dekapan ini sampai akhirnya ia menyadari sesuatu dan dengan cepat ia menjauh dari Prayuda. "Maafkan aku, kak. Seharusnya aku nggak boleh cengeng seperti ini." Yasmin berdiri dan menghapus air matanya yang masih tersisa di pipinya. "Aku pulang dulu ya kak? Selamat malam." Yasmin masuk kembali ke dalam rumah sakit, mengambil tas dan jas putihnya, ia kemudian keluar dari pintu yang lain menuju ke tempat parkir mobilnya. Sesampai di dalam mobil, Yasmin diam sesaat. "Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan? Mengapa aku sampai menangis di pelukan kak Prayuda? Mengapa aku merasa tenang saat dia mengusap punggung ku? Aku tidak boleh seperti ini." Yasmin bergumam sendiri. Ia segera menjalankan mobilnya untuk pulang ke apartemen. Ini adalah hari minggu. Ia tahu Erdana masih ada di rumah Mentari. Apalagi mereka memiliki banyak hal yang harus dibicarakan bersama menyangkut kehamilan Mentari. Makanya hari ini, Yasmin sengaja mengambil jam jaga karena ia tak mau menganggu Erdana dan Mentari.
Sesampai di apartemennya, Yasmin meletakan tas dan jasnya di sandaran sofa. Ia membuka sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumahan. Yasmin ingin mandi dan melupakan semua hal yang dirasakannya saat ini. Mungkin saja tadi aku terlalu sedih karena gagal menolong bapak itu. Kak Prayuda datang disaat aku butuh seseorang untuk mencurahkan isi hatiku. Pelukan itu tak berarti apa-apa bagiku.
"Yasmin, kau sudah pulang?"
Yasmin terkejut saat membuka pintu kamarnya dan melihat Erdana baru saja keluar dari kamar mandi hanya menggunakan boxer. Ada handuk kecil yang dipakainya untuk mengeringkan rambutnya.
"Kak?" Entah mengapa Yasmin merasa gugup saat melihat Erdana. Ia merasa seperti mengkhianati Erdana.
"Ada apa denganmu?"
"Ke..., kenapa kakak ada di sini?" tanya Yasmin masih sedikit gugup.
"Aku dan Mentari bertengkar lagi. Ia bahkan tak mau bicara denganku dan mengunci diri di kamarnya. Baby As ada bersama orang tuaku. Jadi aku ke sini karena nggak tahu harus kemana untuk menenangkan pikiranku. Aku pikir kami akan menginap di rumah sakit."
Yasmin mendekati Erdana. Tanpa diduga ia melingkarkan tangannya di pinggang Erdana dan menarik pria itu agar menempel di tubuhnya.
"Ada apa?" tanya Erdana bingung.
"Aku kangen, kak. Ayo kita bercinta!"
"Tapi....." Kalimat Erdana terhenti karena Yasmin sudah menciumnya dengan sangat dalam dan menuntut. Sebenarnya Erdana tidak siap untuk bercinta dengan Yasmin saat ini. Namun saat ciuman Yasmin semakin dalam dan liar, Erdana pun tak ingin mengecewakan istrinya itu. Mungkin dengan bercinta, batin Erdana akan menjadi tenang. Biar kan ia sejenak melupakan tentang Mentari.
Yasmin sangat aktif saat percintaan mereka malam ini. Ia berusaha memuaskan Erdana juga dirinya sendiri. Yasmin ingin melupakan sejenak kejadian yang di taman rumah sakit itu. Dan ia tahu, hanya Erdana yang bisa membuatnya melupakan semua itu. Erdana adalah suaminya, Erdana adalah pria miliknya, dan hanya dengan Erdana, Yasmin boleh merasakan ke kedamaian. Hanya Erdana yang bisa membuatnya merasa hangat dalam pelukan yang tak terpisahkan.
**********
Selamat sore...
emak up lagi guys....
bagaimana menurut kalian part ini?
__ADS_1
komen yang panjang pun emak siap membacanya 😂😂😂💪💪💪