CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Lingkaran Cinta Segi Tiga


__ADS_3

Sejak bangun pagi, Mentari terus muntah. Erdana sampai tak tega melihatnya.


"Sayang, kita ke rumah sakit aja. Aku nggak tega melihat kamu muntah terus." kata Erdana sambil memapah tubuh Mentari keluar dari kamar mandi.


"Ini biasa, mas. Semua ibu hamil akan melalui proses ini."


"Waktu kamu hamil As juga seperti ini?"


"Nggak terlalu seperti ini. Dulu aku hanya sering merasa mual saja dan pusing namun jarang muntah. Makanan pun hampir semua yang bisa masuk ke tubuhku. Kalau kali ini kayaknya agak berbeda. Mungkin karena papanya ada di samping jadi dia menjadi manja."


Erdana tersenyum mendengarnya. Di kecup nya pipi Mentari dengan penuh rasa sayang. Ia tahu, Mentari berusaha terlihat kuat demi dirinya dan As.


"Sayang, tadi saat kamu di kamar mandi, asisten mu menelepon dari Singapura. Katanya, gaun rancangan mu di pakai oleh putri Anastasia dari kerajaan Inggris dan mendapatkan banyak pujian."


Mentari yang kembali naik ke ranjang memilih untuk duduk sebentar. Ia meminta Erdana mengambil ponselnya dari atas meja rias dan segera membuka berita. "Alhamdulillah. Aku senang sekali, mas."


'Semua karena kerja kerasmu." Erdana mengusap kepala Mentari dengan lembut. "Aku berangkat kerja dulu, ya? Sebenarnya aku tak ingin meninggalkanmu. Namun ada rapat penting jam 10 ini."


"Aku baik-baik saja, mas. Lagi pula sebentar lagi ibu mau datang."


"Oh ya? Pasti kangen dengan As."


"Iya. As kan sekarang lebih banyak dengan nenek Naura. Ibu sekalian mau melihat gaun pengantinnya. Sabtu ini kan pernikahannya."


"Memangnya gaun ibu sudah selesai?"


"Sudah, mas."


Erdana menunduk dan mengecup bibir Mentari. "Jangan terlalu capek. Aku berangkat kerja dulu. Salam untuk ibu. Nanti sore kita berjumpa lagi."


"Baik, mas."


Erdana pun meninggalkan kamar mereka. Ia menemui As yang sedang bermain dengan pengasuhnya. Setelah mencium dan pamit dengan anaknya, Erdana segera masuk ke mobilnya. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan menelpon Yasmin.


Inikah yang selalu Erdana lakukan. Jika ia bersama Mentari, setiap pagi ia akan menelpon Yasmin. Dan jika.ia bersama Yasmin, maka setiap pagi ia akan menelpon Mentari. Erdana mencoba adil dalam memberikan perhatian bagi kedua istrinya.


Panggilan itu terhubung. "Hallo...!"


Erdana terkejut saat mendengar itu bukan suara Yasmin melainkan suara ibu mertuanya. "Assalamualaikum, bu."


"Waalaikumsalam, nak. Yasmin sudah ke rumah sakit. Ponselnya ketinggalan. Ibu kini dalam perjalanan ke rumah sakit untuk mengantarkan ponselnya."


"Yasmin bersama ibu?"


"Iya. Semalam ia datang dan tidur di rumah. Bagaimana keadaan Mentari? Kata Yasmin, Mentari hamil lagi ya?"


"Alhamdulillah, baik. Walaupun ia sering muntah di pagi hari."


"Itu memang biasa dialami oleh ibu hamil. Lebih banyak saja memberikan perhatian dan kasih sayang."


"Baik, Bu. aku tutup dulu ya? Salam untuk ayah. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Erdana meletakan ponselnya kembali ke dalam saku jasnya. Pikirannya jadi tak tenang. Ada apa sampai Yasmin tidur di rumah orang tuanya? Kenapa dia tak memberitahu aku ya? Apakah dia memiliki masalah yang tak diceritakannya kepadaku? Nanti aku menelepon dia lagi.


Erdana pun segera menjalankan mobilnya. Meninggalkan pekarangan rumah Mentari.


************


Langkah Yasmin terhenti saat melihat kalau Prayuda ada di ujung lorong. Sedang berbicara dengan seorang suster sambil membuka sebuah file.


Jantung Yasmin berdetak sangat kencang saat ia melihat Prayuda. Ia selalu terlihat tampan dengan jas putih dan celana kain yang dikenakannya. Tidak! Aku tak boleh kagum padanya. Rasa kagum akan berubah menjadi rasa cinta. Dan itu berbahaya.


Yasmin akan memutar langkahnya dan mengikuti jalan lain namun dari arah lain, dokter Elif tiba-tiba memanggilnya.


"Yasmin....!"


Prayuda yang baru selesai berbicara dengan suster itu segera mengangkat wajahnya dan menemukan bahwa Yasmin sedang berada di dekatnya.


Elif tersenyum ke arah Prayuda lalu mendekati Yasmin. "Kemarin sore, kamu kan yang menerima pasien hamil yang mengalami kecelakaan itu? Kenapa datanya nggak ada?"

__ADS_1


"Ada, dok. Aku sudah meninggalkan di meja data pasien yang baru."


"Coba kamu cari lagi! Aku akan melakukan visit ke kamar pasien namun tak menemukan data pasiennya." kata Elif terlihat kesal.


Prayuda melangkah mendekati mereka. Namun Yasmin memutuskan untuk segera pergi. Ia hanya tersenyum sekilas ke arah Prayuda, lalu setengah berlari, ia menuju ke ruang UGD.


"Ada apa?" tanya Prayuda.


"Biasalah si Yasmin. Kerjanya akhir-akhir ini kurang bagus. Mentang-mentang ayahnya dokter terkenal jadi dia sering lalai melaksanakan tugasnya."


Prayuda diam. Yasmin lalai? Bukankah Yasmin yang ia kenal adalah calon dokter yang sangat hebat dan disiplin?


"Pra, bagaimana rencana kita untuk keluar nonton bareng lagi? Ada film baru." tanya Elif dengan gaya manjanya.


"Nanti cari waktu yang pas ya? Aku sedikit sibuk akhir-akhir ini karena ayahku meminta aku juga untuk ada di rumah sakitnya. Belum lagi dengan jadwal mengajar ku di kampus."


"Baiklah." Elif pun pamit dengan wajah sedikit kecewa.


Yasmin yang sudah tiba di UGD segera memeriksa daftar pasien baru. Seharusnya data pasien yang sudah dipindahkan, akan dibawa ke ruangan tempat ia berada. Dan itu bukan tugas Yasmin karena ia masih dokter magang.


"Ada apa, dok?" tanya perawat jaga.


"Data pasien ibu hamil yang kecelakaan kemarin di mana?"


"Sudah ada di ruangannya. Aku sendiri yang mengantar nya tadi malam saat ia sudah pindah ruangan."


Yasmin menahan dongkol di hati. Apakah Elif sengaja ingin membuatnya nampak buruk si mata Prayuda?


"Terima kasih suster." Yasmin keluar dari UGD, kebetulan ia berpapasan dengan ibunya.


"Ibu?"


Gayatri mendekat dan langsung mengulurkan ponsel milik Yasmin.


"Tadi pagi kamu cepat-cepat perginya sehingga melupakan benda penting ini. Tadi Erdana menelepon."


"Dia memang selalu menelepon tiap pagi. Terima kasih ya ibu sudah repot-repot mengantarkan ponselku."


Yasmin mengantar ibunya sampai di pintu keluar. "Nak, tadi pagi sebenarnya ayah ingin bicara denganmu. Tapi karena ada pasien ayah yang koma, makanya ayah buru-buru pergi ke rumah sakit."


"Ayah ingin bicara apa, bu?"


"Tentang perasaanmu pada Prayuda!"


"Ibu sudah mengatakan pada ayah?"


"Kamu kan tahu kalau ibu tak pernah menyembunyikan apapun pada ayahmu. Mungkin mulai Senin nanti, kamu akan dipindahkan ke rumah sakit lain."


"Kok pindah, bu?" tanya Yasmin.


"Itu lebih baik, nak. Dari pada perasaanmu kepada Prayuda semakin dalam. Itu nggak baik. Ingat, kamu ini perempuan yang sudah bersuami."


"Bu....."


Gayatri menatap putrinya. "Nak, bagaimana kalau perasan mu pada Prayuda bukan sekedar rasa kagum melainkan cinta? Apa kamu mau selingkuh dengannya?"


"Ih ibu, aku tak serendah itu."


"Cinta dapat membutakan segalanya. Siapa yang bisa menahan hati jika cinta begitu kuat mengikat? Sebelum perasaanmu semakin tak terkendali, sebaiknya memang kau menjauh." Gayatri melihat kalau sang sopir sudah memarkir kendaraannya di lobby. Ia langsung memeluk anaknya dan segera masuk ke dalam mobil.


Yasmin melambaikan tangannya ke arah ibunya lalu masuk lagi ke dalam setelah mobil ibunya menghilang.


Sedangkan Prayuda, hanya bisa diam terpaku di tempatnya berdiri saat mendengar percakapan Yasmin dengan ibunya.


Yasmin memiliki perasaan untukku? Ya Allah, mengapa hatiku sangat senang pada hal ini adalah sesuatu yang salah? Aku tak mau merusak persahabatan ku dengan Erdana. Keluarga kami saling mengenal sejak dulu.


Prayuda melangkah menuju ke tempat parkir. ia ada jadwal mengajar pagi ini. Dan rasanya ia kehilangan konsentrasi untuk bisa mengajar.


**********


Naura mencium pipi suaminya. "Mas, jam segini kok belum bangun?"

__ADS_1


Wisnu membuka matanya perlahan. "Jam berapa memangnya?"


"Setengah sembilan pagi, mas. Memangnya mas nggak ke perusahaan?"


"Lagi malas aku." Wisnu melingkarkan tangannya di pinggang istrinya yang sedang duduk di tepi ranjang. "Kamu harum."


"Aku kan sudah mandi."


"Dan terlihat cantik."


Naura menatap suaminya dengan menyipitkan matanya. "Ada maksudnya nih!"


"Memangnya kalau memuji istri harus ada maksudnya?"


"Nggak juga."


Wisnu tertawa. " Tapi, aku memang punya maksud pagi ini." Ia langsung menarik istrinya sehingga Naura kini tidur terlentang dan tanpa menunggu lama Wisnu sudah berada di atasnya. Memerangkap Naura dengan kedua lengannya yang kokoh diantara kepala istrinya.


"Ih...mas mau ngapain?"


"Tak dapat melihat kabut gairah di mataku?"


Naura menatap mata Wisnu. Ia terbelalak. "Mas, bagaimana kalau ada yang datang?"


"Mana ada tamu sepagi ini? Sepertinya, sudah lama sekali kita tak melakukannya di pagi hari. Apalagi kalau As tidur di sini. Siang malam neneknya mengacuhkan sang kakek."


Naura terkekeh. Ia melingkarkan tangannya di leher Wisnu. "Satu ronde saja ya?"


"Dua...." Ujar Wisnu lalu segera mencium bibir istrinya dengan penuh hasrat yang tak terbantahkan.


Tok.....tok.....tok......


"Nyonya Naura, di luar ada nona Elmira dan pacarnya."


Naura langsung mendorong tubuh Wisnu. Ia bangun, merapihkan gaunnya, memperbaiki juga hijabnya.


"Baik. Kami akan turun."


Wisnu mengeram kesal. "Tumben anak itu datang sepagi ini." Wisnu ikut turun dari ranjang. "Aku mandi dulu."


Naura tertawa melihat wajah bete suaminya. Ia mendekat dan berbisik."Kalau El sudah pergi, kita akan lanjutkan yang tadi." Lalu ia segera keluar kamar membuat wajah Wisnu kembali berseri.


***********


Nick duduk dengan sedikit gugup saat Wisnu sudah selesai mandi dan bergabung dengan mereka.


Naura menatap putrinya dengan penuh selidik. Wajah Elmira terlihat berseri-seri.


"Om, tante, saya datang ke sini untuk melamar Elmira." ujar Nick dalam satu tarikan napas. Namun setelah ia selesai mengucap kalimat itu, ia nampak lega.


Wisnu tersenyum. Ia menatap Nick. "El adalah putriku satu-satunya. Aku tak akan memberikannya pada sembarangan orang."


"Ayah?" Elmira nampak protes dengan kata-kata ayahnya.


"Waktu pacaran kau meninggalkan El dengan alasan ingin mencari pekerjaan yang layak. Kini, apakah kau merasa layak mendampingi anakku?" tanya Wisnu tajam.


"Iya om. Saya sudah mengolah perusahaan milik saya sendiri."


"Kamu nggak lulus ujian. Harta tak bisa membuat putriku bahagia. Kamu kan tahu, kekayaan El sangat banyak karena sejak kecil ia sudah bekerja."


"Ayah!" Elmira mulai kesal.


"Bukan Masalah harta, om. Saya memang sangat mencintai, Elmira. Maaf kalau saya pernah membuatnya bersedih. Namun itu semua saya lakukan agar orang tak menganggap bahwa saya hanya numpang tenar pada El yang adalah seorang artis terkenal. Saya mencintai El bukan karena keartisannya. Melainkan saya jatuh cinta dengan kepribadiannya yang baik dan sederhana. Saya juga dengan El yang taat dengan agama."


Wisnu menggeleng. "Kamu tetap saya tolak."


Naura terkejut mendengar perkataan suaminya. Apalagi Elmira yang terlihat menahan tangisnya.


************


Wah....nggak semudah itu Nick menjadikan Elmira sebagai istrinya. Ayah Wisnu kok tega?

__ADS_1


Selamat hari Rabu Guys....


dukung emak terus ya?


__ADS_2