
Baby As tertawa sangat kuat. Mentari yang sementara menyiapkan sarapan bersama Diana menjadi penasaran.
"Nyonya, baby As nampaknya sangat bahagia dengan ayahnya." ujar Diana.
"Iya. Erdana sedang mengajari As berjalan. Dan setiap kali As hampir terjatuh, anak itu akan tertawa."
"Nyonya, baby As butuh ayahnya. Aku memang tak tahu apa masalahnya sampai kalian berpisah namun aku sangat percaya kalau baby As akan lebih bahagia jika kalian tinggal bersama."
Mentari tersenyum tipis. "Aku hanya tak ingin menyakiti wanita yang kini bersamanya."
Diana pun hanya menepuk pundak Mentari lalu ia kembali melihat air yang dimasaknya untuk membuat sup bagi As.
Mentari melangkah kembali ke ruang tamu. Dia melihat bagaimana gembiranya sang anak saat bersama ayahnya. Pada hal mereka baru dua hari bersama.
"Selamat pagi......!" Bojes datang bersama dengan Gendis. Mentari menyambut mereka dengan senyum dan mengajak mereka masuk. Gendis yang sudah pernah bertemu dengan Mentari sebelumnya agak terkejut melihat penampilan Mentari yang sangat jauh berbeda dengan penampilannya dulu.
"Anakku." Kata Erdana dengan bangganya sambil memeluk baby As.
"Tak diragukan lagi. Wajah kalian sangat mirip. Tapi bagaimana bisa?" tanya Bojes sedikit penasaran.
"Saat Mentari pergi meninggalkan aku, ia baru sadar bahwa dia hamil."
Bojes memandang wajah baby As. "Dia tampan dan sangat menggemaskan."
"Siapa dulu bapaknya."
Mereka semua tertawa. Baby As pun tertawa. Bojes jadi gemas. Ia kini tak tahu, bagaimana nanti kehidupan sang bos dengan kedua istri yang sama cantiknya.
*************
Elmira menatap kedua pria yang kini berdiri di hadapannya secara bergantian. Tak ada yang berbeda, baik wajah, belahan rambut, warna kulit dan senyum mereka.
"Kalian.....?" Elmira jadi bingung.
"Aku Nick, dan ini saudara kembar ku Mick. Wanita berhijab ini adalah istrinya Mick. Namanya Adela." ujar Nick yang menggunakan kemeja berwarna biru muda sedangkan Mick menggunakan kemeja biru tua.
"Jadi yang kulihat kemarin adalah Mick?" tanya Elmira dengan rasa sedikit bersalah karena ia sudah marah dan mengutuk Nick sebanyak yang ia bisa.
Nick tersenyum. "Ya. Aku melihatmu di sana kemarin."
"Lalu mengapa kau tak memanggilku?"
"Aku ingin melihat, sejauh mana kau memercayai apa yang kau lihat dibandingkan dengan keyakinan mu tentang diriku. Ternyata kau lebih percaya apa yang kau lihat dari pada belajar percaya dengan apa yang kau rasakan tentang diriku. Kau meragukan perasaanku padamu." Ujar Nick sedikit kecewa.
"Bukan seperti itu, Nick. Tapi wajah kalian begitu indentik." Elmira senang sekaligus juga menyesal karena sudah menuduh Nick menduakannya.
Mick tersenyum. Ia mendekati istrinya dan memperkenalkannya pada istrinya.
"Aku tahu siapa kamu. Elmira Furkan kan? Oh, aku sangat suka semua film yang kau mainkan." Adela yang ternyata berasal dari Indonesia, langsung memeluk Elmira dengan sangat senang. "Kau idolaku sejak aku masih remaja, kakak ipar."
"Kakak ipar?" Elmira terkejut.
"Ya. Karena Mick adalah adik kembarnya Nick. Jadi kau kakak ipar ku."
Elmira tersipu malu. Adela dan Mick pamit untuk pulang karena putra mereka sudah menunggu.
"Kak El, aku tunggu di rumah kak Mentari ya? Aku rasa kalian perlu waktu untuk bersama." Yasmin langsung naik ke taxi yang sudah menunggu mereka.
Elmira dan Nick saling berpandangan. Nick nampak masih diam sambil bersandar di depan mobilnya.
__ADS_1
"Nick....., maafkan aku jika aku salah menilaimu. Namun itu bukan salah aku kan? Mana aku tahu kalau kau punya saudara kembar yang sangat identik denganmu?" tanya Elmira sambil melangkah mendekati Nick.
Nick menatap Elmira. "Ada apa kau ke sini?"
"Aku mencarimu, Nick. Aku sangat sedih karena kau berhenti menjadi bodyguard ku. Aku kangen denganmu."
"Aku mencari pekerjaan yang lain."
Elmira cemberut. "Memangnya kau tak sayang padaku sampai kau meninggalkan aku tanpa bicara. Aku kangen kamu, Nick. Aku sangat kesepian tanpa ada kamu."
Nick langsung menarik Elmira ke dalam pelukannya. "Maafkan aku. Aku pikir kau akan senang jika aku pergi."
Elmira memukul dada Nick dengan kesal. "Bagaimana aku bisa senang jika aku sangat mencintaimu?"
Satu kecupan dari Nick di pipi Elmira menghentikan gerakan tangan Elmira yang memukul Nick.
"Aku sebenarnya ingin menghubungi kamu. Namun saat ku dengar kalau kau ada di Singapura, aku mengurungkan niatku untuk pergi. Aku hanya ingin menjauh sebentar untuk menguji perasaanku padamu. Ternyata, aku memang merindukanmu." Nick menunduk dan langsung menempelkan bibirnya di bibir Elmira, menyesapnya dengan lembut dan merasakan manisnya bibir gadis yang sangat dirindukannya itu.
Elmira tersenyum dan melingkarkan tangannya di leher Nick. Ia membalas ciuman Nick sampai akhirnya ia ingat sesuatu. "Nick, bagaimana jika ada wartawan yang melihat kita?"
Nick menarik Elmira untuk masuk ke dalam mobilnya. Dan begitu keduanya sudah ada di dalam mobil, Nick kembali mencium Elmira dengan penuh kerinduan. Keduanya larut dalam kemesraan.
**************
Erdana tertawa saat mendengar kalau Elmira salah melihat saudara kembar Nick.
"Jadi kakak kembar ku itu menangis untuk sesuatu yang sia-sia?"
"Ya. Begitulah." ujar Yasmin sambil mengikat rambutnya karena ia merasa agak panas.
Erdana sesaat tertegun melihat leher jenjang Yasmin yang menjadi tempat favorit nya setiap kali mereka bermesraan.
"Nggak." Erdana berusaha membuang desiran aneh yang muncul di permukaan kulitnya. Ia baru sadar bahwa sudah 2 minggu ini ia tak menyentuh Yasmin.
Yasmin akan bicara lagi namun suara tangis baby As mengalihkan perhatian mereka. Keduanya sedang duduk di ruang tamu sambil menikmati secangkir kopi sedangkan Mentari sedang berada di butiknya. Ia pergi setelah mereka sarapan bersama. Bojes dan Gendis sudah pamit pulang ke Jakarta.
Erdana langsung berdiri dan menuju ke kamar Mentari.
"Ada apa?" tanya Erdana pada Diana yang sedang memeluk As.
"Dia memang seperti ini, tuan. Jika bangun tidur dan tak menemukan nyonya Mentari, baby As sering menangis."
"Biar aku gendong." Erdana mengambil baby As dari gendongan Diana. Ia langsung menghapus air mata putranya dan memberikan kecupan kecil di pipi tembem anaknya. Dan ternyata baby As berhenti menangis. Ia nampak bahagia dalam gendongan ayahnya.
Yasmin yang memperhatikan interaksi Erdana dan anaknya merasa ikut bahagia. Ia pun memutuskan untuk ke kamar beristirahat.
Setelah baby As diam dan menghabiskan susunya, Erdana menyerahkan kembali kepada Diana.
Tuan, aku mau membawa baby As jalan-jalan sebentar ke taman.
"Memangnya aman untuk ke taman?" tanya Erdana sedikit khawatir.
"Aman tuan. Tamannya hanya dekat. Jam segini biasanya banyak anak-anak di sana. Apalagi sekarang hari Sabtu." ujar Diana lalu memasukan As ke selama stroller dan menurunkan pelindung kepalanya.
"Hati-hati, Diana."
"Baik, tuan."
Setelah Diana pergi, Erdana mencari Yasmin. Karena tak menemukan Yasmin lagi di ruang tamu, ia pun mencari Yasmin ke kamarnya.
__ADS_1
Ketika Erdana membuka pintu kamar, Yasmin baru saja menurunkan handuk yang dipakainya. Yasmin memang tadinya mau tidur. Namun baru 30 menit ia tidur, ia merasa agak gerah karena belum mandi sejak bangun tidur. Makanya ia memilih untuk mandi.
Yasmin menoleh dengan kaget karena mendengar suara pintu di buka. Wajahnya langsung memerah melihat Erdana yang masuk . Erdana pun terlihat salah tingkah namun ia tak dapat menyembunyikan kabut gairah dari matanya yang berbinar melihat tubuh polos istrinya.
Keduanya saling berpandangan. Darah Yasmin langsung berdesir menerima tatapan Erdana itu. Yasmin juga tak mau bohong kalau ia merindukan sentuhan Erdana.
Saat Yasmin masih terpaku di tempatnya berdiri dan membiarkan handuk yang sudah terlanjur jatuh itu tergelatak di kakinya, Erdana langsung maju sambil membuka kancing kemeja yang dipakainya. Ketika kemeja itu lepas dari tubuhnya, Erdana juga membuka sabuk celananya kemudian membukanya secara terburu-buru.
Yasmin seakan sudah menanti Erdana dengan siap, ia langsung menyambut pelukan Erdana, bergelut manja di leher sang suami dan menyambut ciuman Erdana dengan penuh gairah yang panas dan ingin segera dituntaskan.
Keduanya langsung larut dalam hubungan intim yang saling memuaskan. Mereka begitu tenggelam dalam balutan gairah sampai tak menyadari kalau kebersamaan mereka sudah memakan waktu sampai 3 jam dan akhirnya, Yasmin tertidur dengan tubuh yang lelah namun batin yang sangat luas. Erdana sebenarnya juga ingin berbaring di samping Yasmin dan memeluk istrinya itu. Namun saat ia mendengar bunyi suara mobil Mentari, Erdana perlahan turun dari tempat tidur dan menutup tubuh polos Yasmin dengan selimut. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum menemui Mentari.
Saat Erdana keluar dari kamar, pada saat yang sama Mentari hampir mendekati kamar Yasmin.
"Er...., Yasmin di mana? Kata Diana kalian belum makan siang. Ini sudah jam 2."
"Yasmin sedang tidur." ujar Erdana sedikit salah tingkah.
Mentari menatap rambut Erdana yang basah. Hati Mentari merasa sedikit terusik. Biasanya, jika dulu dia dan Erdana bercinta di siang hari, maka Erdana pasti akan mandi setelah itu.
"Oh..., gitu ya? Kamu mau makan sekarang atau nanti?" Mentari berusaha bersikap biasa. Namun tatapan matanya yang terluka bisa dibaca oleh Erdana.
"Aku mau makan sekarang. Namun aku ingin kau yang menemani."
Mentari hanya mengangguk lalu melangkah lebih dulu ke ruang makan. Diana sudah selesai mengatur makanan di atas meja.
"Baby As mana?" tanya Erdana.
"Sedang bobo siang." jawab Mentari sambil mengambil makanan untuk Erdana.
"Cukup!" ujar Erdana melihat makanan yang ada di piring sudah agak banyak. "Kau tak makan?"
"Aku sudah makan tadi di butik. Ada obat yang harus diminum sebelum jam 1 siang. Makanya aku harus makan dulu."
Erdana menikmati makan siangnya. Ia memang sudah lapar akibat waktu bercintanya dengan Yasmin tadi.
"Ri, bagaimana keputusanmu? Kamu mau ikut kami pulang ke Jakarta kan?" tanya Erdana saat ia sudah selesai makan.
"Aku belum tahu, Er." ujar Mentari sambil menutup makanan yang ada dengan penutup tempat makanan. Ia kemudian mengambil piring bekas Erdana lalu membawanya ke tempat cuci piring. Erdana menyusulnya dan berdiri di belakang Mentari. "Ada beberapa proyek yang juga harus ku kerjakan selama seminggu ini."
"Jangan tolak untuk kembali ke Jakarta, Ri." Erdana memeluk Mentari dari belakang.
"Er....aku...." Mentari berbalik dan keduanya saling menatap. Erdana sama sekali tak melepaskan tangannya dari pinggang Mentari.
"Aku nggak mau dipisahkan dari As lagi."
"Aku tahu tapi.....!" Kalimat Mentari terhenti saat ia melihat Yasmin yang berdiri di depan ruang makan. Mata Yasmin sedikit terbelalak melihat betapa intimnya pelukan itu.
"Hallo....!" Yasmin menyapa sambil melangkah masuk. Tangan Erdana yang memeluk pinggang Mentari dilepaskannya perlahan.
Ketiganya saling menatap. Tak ada suara yang kemudian terdengar. Hanya mata mereka yang saling bicara.
************
Hallo semuanya
happy weekend bersama Family
semoga suka dengan part ini ya
__ADS_1