
Yasmin sudah siap dengan celana Jeans dan kemeja berwarna putih. Hari ini ia akan ke kampus lebih awal karena ada ujian. Walaupun kondisi kesehatannya belum fit namun Yasmin yang dikenal sebagai salah satu mahasiswa yang pintar dan berprestasi tak ingin larut dalam situasi pernikahan yang tidak diinginkannya.
Begitu ia keluar kamar, nampak Erdana pun sudah siap dengan baju kerjanya. Yasmin terkejut melihat di atas meja sudah ada susu dan roti bakar. Tanpa sadar Yasmin menekan salivanya. Sejak semalam ia ingin makan roti bakar dengan isian keju. Dan dari aromanya, Yasmin tahu kalau roti bakar yang ada di atas meja itu berisi keju.
"Minumlah susu hamil mu dan makanlah roti itu. Setelah itu aku akan mengantar mu ke kampus." kata Erdana tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.
"Sudah ku katakan kalau aku tak butuh perhatian apapun darimu. Aku bisa mengurus diriku sendiri." kata Yasmin masih dengan nada yang ketus.
"Lalu kau mau ke kampus menggunakan apa?" tanya Erdana dengan menatap wajah wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu.
"Aku bisa pesan taxi online. Mulai besok aku akan meminta ayahku untuk mengirim mobilku ke sini."
Erdana menghabiskan kopinya. Ia berdiri. "Ok. Yang penting aku sudah menunjukan keinginan baikku. Aku tahu kalau kau masih membenciku. Namun setidaknya, tak dapatkah kita menjadi teman demi anak yang sedang kau kandung itu?" tanya Erdana lalu segera meraih tas kerjanya dan pergi meninggalkan Yasmin.
"Jangan pernah bermimpi kalau kita bisa menjadi teman."
Langkah Erdana terhenti sampai di depan pintu. Ia membalikan badannya dan menatap Yasmin yang memang sedang menatapnya dengan tajam.
"Terserah apa mau mu, Yasmin! Kalau memang kau tak menginginkan pernikahan ini, kenapa saat itu kau menyatakan siap menikah denganku? Lebih baik kau laporkan aku ke pihak berwajib dan biarkan aku dipenjara karena sudah memperkosa mu."
"Dan membiarkan semua orang tahu kalau aku sudah diperkosa? Kau pikir aku sanggup menanggung rasa malu karena menjadi korban perkosaan? Kau pikir itu tak akan membawa dampak buruk terhadap keluargaku dan keluargamu?" Mata Yasmin sudah berkaca-kaca. Wajahnya merah menahan emosi yang sudah mulai meledak.
"Kalau begitu, belajarlah menerima kenyataan ini kalau kita sudah menikah. Aku sangat tertekan karena orang tuaku selalu meminta aku bersikap baik padamu sementara kamu sendiri selalu mengadakan permusuhan denganku. Sebagai calon dokter, seharusnya kamu tahu kalau itu nggak baik untuk janin yang sedang tumbuh di dalam rahimmu."
Yasmin terdiam mendengar perkataan Erdana. Ia tahu kalau apa yang Erdana katakan itu benar adanya. Emosinya yang selalu meledak-ledak saat berhadapan dengan Erdana sangat tak baik bagi pertumbuhan janinnya.
Erdana langsung membuka pintu masuk dan segera pergi dari sana.
Yasmin menatap susu dan roti yang ada di atas meja. Ia pun mengambil susu itu. Awalnya ia ingin membuangnya dan menggantikannya dengan yang baru. Namun akhirnya ia memilih untuk meminum susu itu dan menikmati roti yang sudah Erdana siapkan. Entah mengapa perutnya terasa enak saat susu dan roti itu masuk ke dalam tubuhnya. Mungkin karena ia memang sangat lapar lagi ini.
***********
Setelah keluar dari kelas, Yasmin merasa lapar sekali. Ia tiba-tiba merasa ingin makan bakso ayam yang memang ada di kantin kampus. Ia pun bergegas ke kantin sebelum semakin banyak mahasiswa yang makan di sana.
Yasmin beruntung karena belum banyak penghuni kampus yang datang ke kantin sehingga ia bisa bebas memilih tempat duduk.
Setelah mengambil pesanannya, Yasmin pun menuju ke bagian tempat duduk yang di dekat jendela.
Sementara menikmati baksonya, sekelompok mahasiswa masuk. Hati Yasmin langsung bergetar saat melihat ada Andre di sana. Sepertinya itu adalah teman-teman sekelas Andre dan diantara mereka ada Naila. Gadis yang sejak lama sudah menyukai Andre. Ada sesuatu yang menusuk hati Yasmin melihat Naila berjalan bersisian dengan Andre.
Mereka pun memesan makanan dan menuju ke meja yang letaknya tak begitu jauh dari meja tempat Yasmin duduk.
Andre duduk tepat berhadapan dengan Yasmin. Sedangkan Naila duduk di sampingnya. Andre langsung melihat Yasmin dan membuatnya berdiri dan langsung menemui Yasmin.
"Yas.....!" sapa Andre dengan wajah berseri. Ia terlihat bahagia bisa ketemu dengan Yasmin.
"Andre.....!" Yasmin pun nampak senang melihat Andre.
"Sendiri saja?"
Yasmin mengangguk.
Andre menarik kursi yang ada di depan Yasmin dan duduk berhadapan dengannya.
"Bagaimana keadaanmu?"tanya Andre.
"Baik."
__ADS_1
"Kau terlihat agak kurus, Yas."
Yasmin tersenyum. "Pola makan ku belum teratur karena bawaan ngidam."
Andre menatapnya dengan seksama. "Banyak orang bertanya padaku, mengapa kamu menikah dengan Erdana Furkan. Aku katakan kalau kalian dijodohkan."
"Terima kasih."
"Aku merindukanmu, Yas. Aku tahu ini salah. Namun aku tak bisa melupakanmu begitu saja."
Yasmin tak bicara. Dia juga ingin mengatakan bahwa ia kangen dengan Andre. Namun ia tak mungkin mengatakannya. Yasmin sadar kalau dirinya sudah menikah dan Andre berhak bahagia dengan orang lain.
"Andre, makanannya nanti dingin." panggil Naila . Andre menoleh ke arah tempat duduk mereka lalu mengangguk.
"Aku ke sana dulu, ya. Jangan lupa jaga kesehatanmu. Aku akan siap membantu apapun yang kamu butuhkan."
Yasmin kembali hanya mengangguk. Setelah Andre pergi, Yasmin dengan cepat menghabiskan makanannya lalu kemudian ia pergi menuju ke kelasnya. Yasmin berusaha tetap semangat kuliah walaupun kehamilannya ini sering membuat dirinya kelelahan.
Jam kuliah Yasmin selesai jam 5 sore. Ia pun bergegas ingin pulang karena rasa kantuk sudah menyerangnya.
Ketika Yasmin sudah berdiri di gerbang dan hendak mencari taxi, sebuah mobil yang sudah dikenalnya, membunyikan klakson dan berhenti tepat di depannya.
"Ayo naik!"
"Aku mau pulang naik taxi!"
Erdana terlihat menarik napas menahan emosi. "Ayolah, Yasmin! Ibumu meminta aku untuk menjemputmu karena kamu dilarang untuk naik taxi atau menyetir sendiri dalam keadaan hamil."
"Aku kan sudah katakan kalau kita tak usah saking peduli satu dengan yang lain? Kenapa juga kamu mau susah-susah membuang waktumu untuk menjemput ku?"
Masih dengan wajah yang kesal, Erdana turun dari mobil. Ia membuka pintu mobil sebelah kiri.
"Aku nggak mau!"
"Yasmin!"
Beberapa pasang mata yang berdiri tak jauh dari mereka mulai memandang pasangan itu sambil berbisik-bisik. Yasmin pun terpaksa masuk. Erdana menutup pintu mobil lalu berjalan ke sisi kanan untuk masuk dan mulai menjalankan mobilnya.
"Pakai sabuk pengamannya." kata Erdana saat dilihatnya Yasmin tak memakai sabuk pengamannya.
Dengan wajah datar, Yasmin memakai sabuk pengamannya.
Keduanya saling diam sampai akhirnya mereka tiba di basemen apartemen. Yasmin turun dari mobil tanpa menunggu Erdana. Ia langsung menaiki lift dan menuju ke lantai tempat unit mereka berada.
Yasmin langsung masuk ke kamar, ia mandi dan tidur karena tubuhnya terasa lelah.
***********
Tok......tok.......tok......
Sebenarnya Yasmin masih mengantuk namun karena ketukan di pintu itu tak juga berhenti, ia pun akhirnya bangun.
"Ada apa sih? Aku kan sudah bilang jangan ganggu aku!" Ujar Yasmin dengan nada kesal.
"Makan makan."
"Aku nggak lapar!"
__ADS_1
"Kamu nggak lapar tapi bayi dalam perutmu butuh nutrisi. Ayo makan!" kata Erdana dan tanpa diduga, ia langsung menarik tangan Yasmin.
"Hei ...., lepaskan....! Lepaskan....!" teriak Yasmin kesal karena Erdana menarik tangannya.
"Yasmin....!" Erdana melepaskan tangan Yasmin saat keduanya sudah ada di depan meja makan. "Kau boleh membenciku, boleh kesal melihat wajahku, namun jangan membuat dirimu sendiri susah. Kau tahu kalau anak ini butuh nutrisi. Mau tidak mau, aku harus masuk campur dalam kehidupanmu karena ada anak ini."
Yasmin ingin membantah namun ia akhirnya duduk juga di depan meja makan. Di hadapannya sudah ada makan malam yang entah dimasak atau dipesan oleh Erdana, terlihat enak untuk di makan.
Akhirnya, keduanya makan dalam diam. Yasmin makan sedikit banyak karena ia memang agak lapar.
Selesai makan, Yasmin langsung mencuci alat makan yang digunakannya.
"Jangan lupa susu hamil mu." Erdana mengingatkan saat dilihatnya Yasmin akan kembali ke kamarnya.
Yasmin mengambil gelas berisi susu hamilnya. Ia meneguknya sampai habis lalu mencuci gelas bekas susu itu dan kembali ke kamarnya.
Erdana menarik napas lega. Tepat di saat itu ponselnya berdering.
"Assalamualaikum, ibu." sapa Erdana sopan.
"Waalaikumsalam. Bagaimana Er, kau sudah lakukan apa yang ibu perintahkan?"
"Sudah, bu. Menantu ibu sudah makan, minum susu hamilnya dan sekarang sudah kembali ke kamarnya untuk tidur."
"Selalu lakukan itu, nak. Bagaimana pun Yasmin masih muda. Kau yang harus lebih banyak mengalah. Jadi suami yang baik untuknya."
"Aku mencintai, Mentari, bu. Aku sangat merindukannya."
"Cobalah untuk membuka hatimu juga untuk Yasmin. Dia sedang mengandung anakmu."
Erdana mengahiri percakapannya dengan ibunya. Perlahan ia menatap seisi ruangan. Tawa, canda bahkan tangis Mentari masih tertinggal di tempat ini.
Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Aku sangat merindukan Mentari. Tetapi aku juga harus punya tanggungjawab penuh pada Yasmin? Rasanya aku tak sanggup menjalani semua ini.
Erdana menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Matanya tertuju pada sudut ruangan. Masih ada fotonya bersama Mentari di sana.
************
Mentari meletakan pensil yang ada di tangannya. Ia sama sekali tak bisa berkonsentrasi karena kepalanya agak pening. Di ambilnya botol berisi air mineral yang ada di sampingnya dan diminumnya sampai habis.
"Nona Mentari, dokter Nirmala menelepon, mengingat kan jadwal kunjungan anda."
"Jam berapa sekarang?"
"Jam 4 sore."
"Terima kasih Anita." kata Mentari pada asistennya. Ia segera mengambil tas tangannya dan memasukan ponselnya ke dalam tasnya itu. Ia kemudian meninggalkan ruangan kerjanya.
Sudah satu minggu ini Mentari memilih untuk tinggal di Surabaya. Tak ada yang tahu tentang keberadaannya kecuali ibunya dan Prayuda. Mentari berusaha untuk tak menelepon Erdana walaupun sebenarnya ia sangat merindukan pria itu. Karena bagi Mentari, semua kejadian ini terjadi karena ia tak terlalu sibuk mengejar karirnya. Andai saja ia setuju untuk menikah secara resmi dengan Erdana sebelum kematian papanya, pasti ia dan Erdana sekarang sudah bahagia.
Memang, penyesalan tak ada gunanya lagi jika kesempatan untuk memperbaiki keadaan sudah tak ada.
************
Bagaikan makan buah simalakama kan?
Gimana kisah ini akan berakhir?
__ADS_1
Dukung emak terus ya guys