
Tangan Mentari memeluk putranya dengan bergetar. Ia menarik napas panjang beberapa kali. Menahan air matanya agar tidak jatuh dan pelemahan membalikan badannya.
"Apa kabar, Er?"
Erdana tak menjawab. Matanya tertuju pada anak kecil yang ada dalam gendongan Mentari. Matanya yang bulat berwarna coklat, hidungnya yang mancung dan rambutnya yang tak terlalu hitam dan sedikit bergelombang, mengingatkan Erdana pada foto masa kecilnya.
"Berapa usia anak ini?" tanya Erdana. Entah kenapa jantungnya seakan berhenti berdetak. Dadanya terasa sesak. Apalagi saat anak itu tersenyum dan tangannya bergerak-gerak.
"Pa...pa....pa....!" ujarnya dengan wajah riang gembira.
Mentari diam. Tidak mungkin anak sekecil ini sudah mengenal papanya kan? Apakah karena aku selalu menunjukan foto Erdana padanya setiap malam?
"Tari...., aku bertanya padamu!"
Mentari menatap Diana yang sedang menatap mereka dengan bingung. Diana hanya bisa bahasa Inggris dan bahasa Mandarin, makanya ia tak mengerti dengan apa yang Erdana dan Mentari perbincangkan.
"Diana, tolong bawa baby As ke dalam. Aku akan akan berbincang dengan tuan Erdana."
Diana mengambil baby As dari gendongan Mentari. Ia langsung membawa baby As ke dalam butik.
Erdana menatap Mentari dengan intens. Memperhatikan perempuan itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Dia bisa pastikan kalau Mentari kehilangan berat badan yang tak sedikit.
"Er, apa kabar?" tanya Mentari tanpa bisa menyembunyikan kerinduannya yang sangat dalam pada lelaki yang hampir 2 tahun ini ia hindari.
"Kau sakit?" tanya Erdana sambil mendekat. Ia tak bisa menahan tangannya untuk menyentuh wajah Mentari.
Mentari mundur dua langkah. "Kita bicara di lain tempat saja. Kau bawa mobil?"
Erdana mengangguk.
Keduanya pun langsung pergi dengan mobil Erdana. Mobil itu berhenti di dekat pantai yang sepi. Mentari turun dari mobil sambil berusaha menahan air matanya.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku. Apakah kau sakit?" tanya Erdana saat keduanya sudah duduk di bangku beton yang ada di pinggir pantai itu.
"Tidak!" jawab Mentari sambil tersenyum dan memandang laut yang ada di depan mereka.
"Kau bohong! Kenapa tak berani menatap mataku."
Mentari menatap Erdana. "Mana Yasmin? Apakah dia tidak ikut bersamamu?"
"Jangan mengalihkan topik pembicaraan. 7 tahun kita bersama, Ri. Aku tahu benar bagaimana kepribadianmu. Mengapa sampai kau menghilang?"
__ADS_1
"Kita tak berjodoh, Er."
"Tak berjodoh bagaimana sedangkan kita sudah menikah? Mengapa kau hanya memikirkan dirimu sendiri? Mengapa kau tak memikirkan perasaanku padamu?" Erdana meraih kedua tangan Mentari dan menggenggamnya erat.
Tangis Mentari akhirnya pecah. Inikah yang ia takutkan jika harus bertemu Erdana. Ia sangat lemah di hadapan lelaki ini.
"Aku tahu kau pasti sakit, Ri. Dan kau menyembunyikan ini dariku. Tak mungkin kau menjadi kurus seperti ini. Apakah kau lupa kalau kita dulu pernah berjanji untuk saling membagi suka dan duka bersama?"
Mentari tak bisa menahan dirinya lagi. Ia langsung memeluk Erdana sambil menangis. "Er, jangan seperti ini. Kau sudah menikah dengan Yasmin. Mengapa kau harus datang dan menganggu kehidupan ku lagi?" Mentari memukul dada Erdana dengan kuat namun Erdana tak perduli. Ia semakin mengencangkan pelukannya.
"Aku tahu kalau kau masih mencintaiku, Ri. Aku yakin itu."
Agak lama Mentari menangis di pelukan Erdana namun akhirnya ia melepaskan pelukan itu. "Er, biarkan semuanya seperti ini. Aku tak mau menganggu rumah tanggamu dengan Yasmin."
Erdana menatap Mentari sambil menggeleng. "Aku tak akan pernah melepaskan kamu lagi, Ri."
"Er, aku tak mau menyakiti Yasmin."
"Cukup sudah kau bersikap egois, Ri. Kau sakit dan menanggung semuanya sendiri."
"Aku sudah sembuh, Er."
"Dan anak itu? Baby As? Anakmu kan? Jangan kau bohong padaku dengan mengatakan kalau itu anak orang lain."' Seru Erdana ketika Mentari seperti ingin membantah kata-katanya.
"Apakah kau sedang hamil disaat kita berpisah? Jawab aku, Ri! Jangan membuatku gila dengan membohongiku lagi. Saat kulihat wajah baby As, justru mengingatkan aku akan foto masa kecilku." Erdana semakin erat menggenggam tangan Mentari.
Air mata Mentari jatuh lagi. Mau disembunyikan bagaimana pun, wajah baby As memang sangat mirip dengan Erdana.
"Baby As memang anakmu."
Erdana melepaskan pegangan tangan mereka. Ia berdiri dan berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya karena ia merasa kalau dadanya sesak.
"Kau tega Mentari! Kau sungguh tega! Kau akan menyembunyikan anak itu selamanya dari sisiku?" teriak Erdana tanpa bisa menahan emosinya. Ia meluapkan amarahnya dengan menendang kuat-kuat sebuah kaleng minuman dingin yang ada di dekatnya.
Tangis Mentari semakin dalam. Sampai akhirnya ia merasakan kepalanya sakit. Mentari sebenarnya belum bisa stres berlebihan apalagi mengalami tekanan.
"Er....tolong jangan marah padaku. Aku...!" Mentari memegang kepalanya. Ia tak tahan lagi dan akhirnya ia pingsan.
"Mentari....!" teriak Erdana dan langsung memeluk Mentari sebelum ia jatuh ke tanah.
***********
__ADS_1
Akhirnya Yasmin bisa bernapas lega saat petugas hotel mengijinkan dia untuk masuk ke kamar Erdana setelah ia menunjukan identitas dan buku nikah mereka.
Wajah Yasmin selalu tersenyum membayangkan bagaimana terkejutnya Erdana akan melihatnya.
Setelah menaruh barang-barang nya ke dalam lemari, Yasmin segera mandi dan mengenakan lingre hitam yang sangat Erdana sukai, kemudian menyusunnya dengan kimono berbahan sutra berwarna hitam juga.
Ia kemudian menghubungi ponsel Erdana namun nomor Erdana sepertinya tidak aktif.
Mungkin kak Erdana masih ada rapat. Aku akan menunggunya dengan sabar.
Yasmin memilih memesan makanan lewat layanan kamar. Ia merasa sangat lapar.
***********
"Nyonya Mentari Furkan mendapatkan serangan dan pingsan karena ia dalam tekanan. Dia sudah dua kali melakukan operasi pengangkatan tumor di kepalanya. Operasi pertama saat ia melahirkan bayinya dalam usia belum genap 7 bulan . Waktu itu ia dioperasi di Surabaya. Ia sempat koma selama hampir 2 minggu namun akhirnya ia sadarkan diri. Dan operasi kedua dilaksanakan di Singapura kurang lebih 3 bulan yang lalu. Aku juga tak tahu mengapa nyonya Mentari sampai menyembunyikan ini pada tuan, pada hal tuan adalah suaminya." dokter Amelia akhirnya buka suara saat Erdana berhasil menunjukan identitasnya sebagai Erdana Furkan.
"Bagaimana keadaannya sekarang? Maksudku dengan tumor yang ada kepalanya?"
"Tumor itu memang sudah berhasil diangkat. Namun kita masih memeriksanya apakah jaringannya akan tumbuh kembali atau tidak. Makanya pasien tak boleh marah, lelah, apa lagi ada tekanan."
Erdana merasakan dadanya semakin sesak saat mendengar penjelasan dokter. Ia merasa tak bisa membayangkan bagaimana Mentari bisa menanggung semua. Setelah keluar dari ruangan dokter, Erdana langsung menuju ke kamar perawatan Mentari.
Saat ia masuk ke dalam, Mentari sedang tertidur. Erdana sudah menelepon pengasuhnya baby As melalu ponsel Mentari untuk mengabarkan bahwa Mentari sedang sakit dan meminta baby As agar dijaga dengan baik.
Saat Erdana mengambil ponselnya dari saku jasnya, ia baru tahu kalau ponselnya kehabisan baterai.
***********
Yasmin terbangun. Tadi setelah makan, ia merasa mengantuk dan akhirnya ia tertidur.
Perlahan Yasmin menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul setengah 2 pagi.
Di mana kak Er? Mengapa ia tak pulang?
Yasmin mencoba menghubungi nomor Erdana namun masih belum aktif juga.
**********
Bagaimana pertemuan mereka bertiga?
Maaf kalau part ini agak ke pendek
__ADS_1
aku capek sekali hari ini