CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Keinginan Hati Yasmin.


__ADS_3

"Sayang, kamu dari mana saja?" Tanya Erdana yang ternyata sudah bangun dan tak menemukan Yasmin ada di sampingnya.


Yasmin yang baru saja masuk kamar, buru-buru menghapus air matanya. Ia tersenyum. "Aku tadi ada di luar sebentar. Menikmati malam bulan purnama. Indah sekali." kata Yasmin. "Aku ke kamar mandi dulu, ya?" pamit perempuan itu. Ia ingin mencuci mukanya untuk menghilangkan jejak air mata yang ada di wajahnya.


Erdana perlahan bangun dan duduk sambil bersandar di kepala ranjang. Ia menarik selimut dan menutupi tubuh bagian atasnya yang masih polos. Kenapa Yasmin terlihat baru selesai menangis ya? Adakah sesuatu yang menyakiti hatinya? Tapi apa? Bukankah tadi kami bercinta dengan penuh rasa kepuasan?


Pintu kamar mandi terbuka dan Yasmin keluar dengan wajah yang terlihat segar. Ia naik ke atas tempat tidur dan ikut duduk bersama Erdana. Tangannya melingkar di perut Erdana dan kepalanya di sandarkan di dada bidang sang suami.


"Memangnya kamu tak lelah dan masih sempat jalan-jalan?" tanya Erdana sambil melingkarkan tangannya di bahu Yasmin.


"Aku mengantuk. Hanya tadi saat melihat ke luar jendela, aku melihat pemandangan yang sangat indah. Kalau di kota, walaupun bukan purnama namun keindahan nya gak seperti saat kita ada di sini."


Erdana mencium puncak kepala Yasmin. "Kau tidak menyembunyikan sesuatu dari aku kan? Aku melihat tadi kalau kamu sepertinya baru selesai menangis."


Deg! Yasmin merasakan kalau jantungnya berdetak sangat kencang. Namun ia berusaha menutupi gejolak hatinya. Ia semakin mengeratkan pelukannya. "Aku ngantuk, kak." katanya sambil menguap beberapa kali. Ia melepaskan pelukannya dari tubuh Erdana lalu berbaring membelakangi suaminya. Tak lama kemudian ia merasakan kalau Erdana juga ikut berbaring lalu memeluknya dari belakang.


****************


Keesokan paginya, keduanya bangun cukup terlambat. Waktu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh pagi.


Yasmin langsung memesan saja makanan dari restoran hotel sedangkan Erdana nampak sedang Videocall dengan baby As.


"Maaf, mas. Aku menganggu liburan kalian. As merengek terus untuk menelepon mas." ujar Mentari.


"Nggak masalah, sayang. Aku memang baru saja akan menelepon kalian." Erdana bahagia melihat wajah As dan Mentari. Jujur saja, hatinya gelisah karena semalam Yasmin tak menjawab pertanyaan Erdana saat bertanya apakah istrinya itu menangis atau tidak.


"Daddy...., belikan As hadiah ya?"


"As mau apa?"


"Harimau dan Gajah." As memang sangat menyukai bintang-binatang.


"Ok. Daddy akan cari kalau ada."


As nampak senang. Mentari pun membiarkan anaknya berbicara dengan papanya. Banyak hal yang As ceritakan mengenai apa yang terjadi selama Erdana tak ada. Kebiasaan ini memang selalu As lakukan. Jika tiba giliran Erdana untuk bersama Yasmin, ia tak pernah lupa Videocall dengan anaknya setiap pagi sebelum berangkat kerja dan sore hari sebelum ia pulang kerja.


Setelah puas berbicara dengan As, sebelum mengahiri percakapan dengan anaknya itu, As tiba-tiba saja berteriak.


"Mommy......!"


"Ada apa, As?" Erdana jadi panik.


"Mommy.....!" As mengarahkan kamera ponselnya pada Mentari yang sedang pingsan di lantai sementara seorang asisten rumah tangga sementara membangunkannya.


Dengan cepat Erdana mengahiri percakapan telepon itu. Ia.menelepon orang tuanya dan meminta mereka untuk melihat Mentari.


"Ada apa, kak?" tanya Yasmin yang baru saja selesai mengatur makanan pagi di atas meja.


"Kita pulang sekarang, ya? Mentari pingsan."


"Tentu saja. Aku bereskan pakaian kita." Yasmin langsung berlari ke.kamar dan memasukan semua pakaian ke dalam koper.

__ADS_1


"Maaf, Yas. Liburan kita terganggu." kata Erdana sementara ia mengenakan pakaiannya.


"Nggak masalah, kak. Kan rencananya siang ini kita memang akan pulang." imbuh Yasmin sambil menutup koper yang ada. Yasmin sendiri segera mengganti pakaiannya.


"Aku harus menelepon Prayuda. Dia yang paling tahu bagaimana menangani Mentari saat Mentari hamil dulu." Erdana menelepon Prayuda tanpa berhasil dicegah oleh Yasmin.


"Baik, Er. Aku akan pulang sekarang juga. Mentari di bawa ke rumah sakit keluargaku saja. Di sanalah dulu ia dirawat saat hamil As." kata Prayuda saat Erdana selesai menjelaskan keberadaan Mentari.


Jakarta...


Erdana, Yasmin, Prayuda dan Elif sampai secara bersamaan di rumah sakit. Prayuda sebenarnya tak mau mengajak Elif namun Elif mengatakan kalau ia juga adalah dokter kandungan sehingga bisa membantu Prayuda. Ini hari minggu dan biasanya banyak dokter yang liburan.


Mentari sudah ada di ruang ICCU. Ia belum juga sadar dan itu yang membuat Erdana sangat khawatir.


Naura dan Wisnu juga ada di sana.


"Ibu, As bagaimana?" tanya Erdana.


"Tenang, nak. Elmira dan Nick ada di rumah menjaga As. Anak itu menangis histeris melihat Mentari pingsan. Apalagi hidung Mentari mengeluarkan darah." Jawab Naura dengan wajah yang sedih.


"Kasihan anakku itu. Pasti dia takut melihat mommy nya. Semoga aku tak menganggu persiapan pernikahan Elmira dan Nick."


Wisnu mengusap punggung putranya. "Jangan khawatir, nak. Elmira dan Nick sangat senang bisa menjaga As. Lagi pula di sana ada pengasuh As juga kan?"


Erdana mengangguk. Matanya kembali menatap pintu ruang ICCU yang belum juga terbuka. Yasmin, Prayuda dan Elif masih ada di dalam.


Setelah menunggu hampir 30 menit, Prayuda dan Elif akhirnya keluar.


"Apakah aku boleh masuk?" tanya Erdana.


"Iya. Yasmin juga masih ada di dalam. Tapi jangan membuat Mentari banyak bicara ya? Dia harus tidur agar kondisinya bisa fit kembali." Kata Prayuda mengingatkan.


Erdana mengangguk. Ia segera mencuci tangannya dan mengenakan baju hijau yang steril sebelum akhirnya masuk ke dalam. Yasmin yang sedang duduk di samping tempat tidur Mentari segera berdiri dan membiarkan Erdana bicara berdua dengan Mentari.


"Sayang......!" Erdana langsung mengecup dahi Mentari. Matanya bahkan berkaca-kaca karena rasa takut akan kehilangan istrinya itu.


"Aku baik-baik saja, mas." Kata Mentari dengan suara yang pelan. Nampak sekali wajahnya pucat dan ia masih sangat lemah.


"Aku kan sudah bilang, berhenti dulu dari pekerjaanmu sebagai desainer. Kau kebanyakan berdiri dan pekerjaanmu itu menguras otakmu." kata Erdana sambil mengambil tangan kanan Mentari dan menggenggamnya diantara kedua tangannya.


"Iya. Aku hanya akan menyelesaikan rancangan gaun musim panas itu. Setelah itu aku akan menghentikan dulu kerja samanya untuk konsentrasi pada kehamilanku ini."


Erdana membelai wajah Mentari. "Jangan sakit, Ri. Aku tak bisa tenang dengan keadaanmu seperti ini. Aku takut jika sesuatu yang beruk terjadi padamu. Aku takut, Ri."


Mentari tersenyum. Tangannya yang lain menyentuh wajah Erdana. "Kau tahu kalau dirimu dan As adalah kekuatanku. Aku pasti akan selalu kuat demi kalian."


Erdana mencium tangan Mentari yang ada di genggamannya. Sungguh ia bagaikan kehilangan nyawa jika harus kehilangan Mentari.


Yasmin yang melihat interaksi pasangan itu menjadi terharu. Cinta mereka begitu kuat. Mereka saling terikat satu dengan yang lain. Bukankah jika kak Mentari menjadi satu-satunya akan lebih indah?


Perlahan Yasmin keluar dari ruangan itu. Di tempat dokter jaga, ia melihat Prayuda yang masih menuliskan laporan keadaan pasien sedangkan Elif entah kemana.

__ADS_1


"Kak, bagaimana keadaan kak Mentari?" tanya Yasmin.


"Kita akan menunggu hasil lab dan sc-scan nya besok. Aku harap semuanya baik-baik saja." Kata Prayuda.


"Aku juga berharap begitu." Kata Yasmin dengan wajah penuh harapan.


"Yas.....!" panggil Prayuda saat Yasmin akan membuka pintu. Perempuan itu menoleh.


"Ada apa, kak?"


"Apa yang kau lihat semalam, bukan seperti itu kenyataannya. Elif mencium ku secara tiba-tiba." Kata Prayuda. Entah mengapa ia ingin Yasmin tahu yang sebenarnya.


Yasmin terkejut. apakah Prayuda melihatnya semalam? Lalu mengapa ia harus menjelaskannya padaku? Apakah karena ia tak ingin aku salah mengerti?


Tangan Yasmin yang sudah memegang gagang pintu dilepaskannya lagi. Keduanya masih saling berpandangan tanpa bicara.


Pintu dibuka dari luar membuat Yasmin harus mundur beberapa langkah.


"Eh....!" Elif kaget melihat Yasmin ada di sana. Di tangannya ada dua cangkir kopi kemasan.


"Dokter Pra, ini kopinya." Katanya sambil tersenyum manis pada Prayuda. Yasmin segera keluar dari ruangan itu. Ia kesal melihat Elif yang dengan sengaja menunjukan kemesraannya dengan Prayuda. Walaupun Prayuda sendiri terlihat biasa saja dengan Elif, namun Yasmin tetap saja merasa hatinya terganggu.


***********


Gayatri terkejut melihat Yasmin yang datang ke rumah saat hari sudah malam.


"Ibu pikir kalau kamu sedang liburan dengan Erdana." ujar Gayatri saat Yasmin melangkah masuk.


"Kak Mentari sakit, bu. Tadi lagi kami kembali dari Bandung. Kak Er mengendarai mobil sangat kencang."


"Kasihan Mentari. Kehamilannya ini membuat ia sering sakit."


Yasmin duduk di hadapan ibunya. Gayatri dapat melihat kalau anaknya itu ingin bicara sesuatu.


"Ada apa, nak?"


"Ibu , kak Mentari dan kak Erdana saling mencintai. Aku seharusnya tak ada diantara mereka."


"Kenapa kau bilang seperti itu? Memangnya Erdana tidak adil denganmu?"


"Sangat adil, bu. Kak Erdana juga memberikan perhatian dan kasih sayang yang sama padaku. Walaupun kak Mentari sakit, ia tak pernah membeda-bedakan kami. Hanya saja, aku merasa kalau kau Erdana justru tertekan. Ia ingin selalu bersamaku, namun ingin selalu juga bersama kak Mentari." Yasmin menarik napas panjang. "Menurut ibu, jika aku yang mengalah dan minta cerai, apakah boleh?"


Gayatri terkejut. Ia tak menyangka kalau anaknya akan mengutarakan keinginan seperti itu.


*************


Gayatri setuju atau menolak?


Bagaimana juga tanggapan Erdana, Mentari dan Prayuda saat mendengar keinginan Yasmin?


Dukung emak terus ya guys

__ADS_1


__ADS_2