CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Melepaskan Keinginan Hati


__ADS_3

Akhirnya, setelah menunggu hampir 3 minggu, Erdana diijinkan masuk ke ruangan perawatan Mentari. Ia begitu rindu dengan istrinya itu yang selama ini hanya bisa dilihatnya dari balik kaca.


"Hai sayang.....!" Erdana memegang tangan Mentari dan mengecupnya perlahan.


Mentari masih terbaring tak sadarkan diri. Wajahnya pucat dan matanya terpejam. Bibirnya bahkan terlihat sangat kering dan nampak mengelupas. Hati Erdana rasanya sakit. Namun ia bersyukur karena bisa diijinkan masuk.


"Sayang, kapan kamu akan membuka matamu? Memangnya kamu nggak ingin melihat anak kita? Dia sangat cantik. Walaupun awalnya tubuhnya kecil, namun sekarang berat badannya sudah naik. Ia sangat suka minum susu. Kata dokter, kalau infeksi yang terjadi di paru-parunya sudah sembuh. Jadi mungkin dia akan pulang lebih dulu darimu. Namun tenang saja. Ada nenek Jeslin dan nenek Naura yang akan menjaganya. Sayang, As menanyakan kamu terus. Dia sangat merindukanmu. Katanya mommy kapan sembuh?" Erdana kembali mencium tangan Mentari. "Cepat bangun, Ri. Aku butuh kamu saat ini. Aku nggak tahu harus bagaimana menjalani hubunganku dengan Yasmin. Aku sudah tahu siapa lelaki yang dia cintai. Sakit rasanya. Namun apa yang harus aku lakukan? Hati Yasmin sepertinya sudah terikat padanya. Apakah salah jika aku akan terus menahannya?" Tangis Erdana pecah. "Maaf, Ri. Perasaan ku hari ini sangat sedih."


Dari sudut mata Mentari, nampak ada air bening yang jatuh. Sayangnya, karena Erdana sedang bersedih, ia tak memperhatikan itu.


Bunyi ketukan di kaca membuat Erdana menoleh. Perawat ada di sana, mengingatkan Erdana untuk waktu 5 menit yang diberikan untuk masuk ke dalam sudah selesai. Erdana pun mengangguk. Di kecup nya dahi Mentari, lalu ia keluar dari ruangan itu.


************


Yasmin membaca SMS banking yang masuk ke ponselnya. Pemberitahuan dari bank kalau ada dana yang masuk ke rekeningnya. Di lihat dari jumlahnya, Yasmin tahu itu dari Erdana. Suaminya itu tak pernah terlambat mengirimkan uang bulanan untuknya. Hati Yasmin menjadi semakin gelisah. Ia menatap 2 koper yang sudah diisi dengan pakaian, sepatu dan beberapa dokumen penting miliknya. 3 hari lagi, Yasmin akan berangkat ke Amerika untuk melanjutkan S2 nya di sana.


Erdana memang beberapa kali sempat pulang ke apartemen. Namun mereka hanya bercakap seadanya. Erdana memang sempat tidur di sini Namun tak ada hubungan intim yang tercipta. Erdana memang memeluknya namun semakin membuat Yasmin merasa tak tenang.


Hari ini Yasmin berkeinginan untuk bicara dengan Erdana.


Ia pun bersiap untuk ke rumah sakit. Namun saat ia membuka pintu, ia terkejut melihat Erdana yang baru saja masuk.


"Kak....!"


Erdana tersenyum. "Kau mau pergi?" tanya Erdana.


"Aku mau ke rumah sakit."


Erdana duduk lalu membuka sepatunya. Yasmin melihat pakaian Erdana. "Kakak sudah masuk kantor?"


"Iya. Sejak kemarin aku masuk kantor. Banyak pekerjaan yang tertunda karena aku tak hadir. Namun aku hanya pergi ke kantor kalau ada pekerjaan yang sangat penting saja."


Yasmin duduk di depan Erdana. "Bagaimana baby Azhra?"

__ADS_1


"Tadi pagi sudah diijinkan pulang. Dia sudah di rumah. As sangat senang melihat adiknya." Erdana melihat 2 koper besar yang ada di dekat pintu kamar.


"Kapan akan pergi?" .


"3 hari lagi."


Erdana mengangguk. Hatinya menjadi sakit.


"Sudah mengurus semua yang ada di sana? Aku punya teman di sana. Jika kau mau, aku bisa menghubunginya."


"Teman ayah Satria adalah dosen di sana. Dia sudah mengurus semuanya. Ada apartemen juga yang sudah disiapkan. Aku tinggal masuk aja."


"Baguslah. Aku mau mandi dulu." Erdana berdiri hendak menaiki tangga.


"Kak....!" panggil Yasmin.


Erdana menoleh. "Ada apa?"


"Maafkan aku karena sudah mengkhianati mu."


Air mata Yasmin mengalir. "Kak...." Kalimatnya terhenti. Ia takut dengan apa yang harus dikatakannya.


Erdana mendekat, lalu menghapus air mata Yasmin. "Jangan menangis lagi untukku, Yas. Aku tahu kalau aku sudah terlalu sering membuatmu menangis. Semoga kau bahagia dengan mimpimu. Aku percaya kau akan menjadi dokter yang hebat seperti kakek dan ayahmu." Erdana memeluk Yasmin dengan erat. Berusaha menahan air matanya agar tak jatuh. Sungguh, ia mencintai Yasmin.


"Bagaimana caranya agar aku bisa menahan langkahmu agar tak menjauh dariku, Yas? Katakan aku harus apa?"


"Maafkan aku, kak." Yasmin mengeratkan pelukannya.


"Jangan minta maaf. Ini bukan salahmu."


"Aku yang salah, kak."


Erdana melepaskan pelukannya. Ia menatap Yasmin. Berusaha tersenyum. "Maaf karena aku sudah memperkosa mu malam itu. Maaf karena aku telah membuatmu mimpimu bersama Andre terhenti. Maaf karena aku tak menjadikan mu sebagai wanita satu-satunya karena kau harus berbagi waktu dengan Mentari. Maaf karena ternyata aku tak bisa membuatmu nyaman, untuk selalu hadir setiap kali kamu membutuhkankan ku. Maaf karena akhirnya Prayuda bisa masuk ke dalam hatimu. Aku siap menerima apapun keputusanmu, Yas. Asalkan kau bahagia. Kebahagiaanmu adalah yang terutama untukku." Erdana mengecup dahi Yasmin lalu segera naik ke atas untuk mandi.

__ADS_1


***********


Malam telah beranjak pergi, tak lama lagi pagi akan datang menyapa. Namun, Yasmin sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Ia hanya terus memandang langit-langit kamarnya.


Erdana ada di sampingnya. Tertidur satu jam yang lalu. Sepanjang malam mereka hanya saling berpelukan tanpa bicara apapun. Hati Yasmin nelangsa. Antara ingin pergi dan tetap bertahan. Namun, ia ingat saat secara tak sengaja, ia bertemu dengan Prayuda kemarin di kampus saat Yasmin mengambil surat pengantar. Mereka saling bertatapan tanpa bicara. Namun kali ini, Yasmin dapat melihat tatapan mata Prayuda yang penuh cinta untuknya. Prayuda tak lagi menyembunyikan semuanya seperti waktu-waktu yang lalu.


Yasmin dapat merasakan kalau hatinya masih bergetar. Yasmin sadar kalau apa yang Erdana katakan itu benar. Hati Yasmin bukan lagi milik Erdana.


Makanya, Yasmin semakin ingin cepat pergi. Agar tak semakin banyak orang yang terluka. Maafkan aku kak Mentari. Aku tak bisa lagi bersamamu dan bersama kak Erdana. Aku hanya bisa berdoa agar kau cepat sadar.


**************


Erdana baru saja selesai rapat. Ia tahu kalau hari ini Yasmin sudah berangkat ke Amerika. Yasmin menelepon dan meminta agar Erdana tak mengantarnya ke bandara. Pesawat Yasmin memang berangkatnya jam 5 subuh tadi.


Saat Erdana masuk ke ruangannya, ia terkejut melihat Alan Santoso. Alan adalah paman Yasmin yang berprofesi sebagai pengacara.


"Om Alan? Sudah lama menunggu?" tanya Erdana sambil menjabat tangan Alan.


"Baru sekitar 10 menit."


"Silahkan duduk, om."


"Terima kasih, Er."


Alan mengeluarkan sebuah map dari tas kerja yang dibawahnya. "Erdana, kamu tahu kan kalau Yasmin sudah berangkat ke Amerika?"


"Iya."


"Om ke sini membawa berkas perceraian yang sudah ditandatangani oleh Yasmin. Dia ingin bercerai darimu. Dia tak meminta pembagian harta gono-gini atau persyaratan lainnya. Dia hanya ingin agar kau bisa setuju dengan permohonannya ini. Karena Yasmin ingin masuk ke Amerika tanpa menggunakan nama Furkan lagi."


Erdana menguatkan hatinya. Ia bahkan merasakan kalau kepalanya bagaikan di hantam oleh besi yang sangat berat. Jantung nya bagaikan ditarik keluar dari tempatnya.


************

__ADS_1


Selamat sore....


Menjelang episode akhir guys....


__ADS_2