CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Komplikasi Hati


__ADS_3

Jeslin tak henti-hentinya berdoa. Setiap kali ia diijinkan masuk ke ruangan perawatan Mentari, ia selalu berdoa. Tasbih tak pernah lepas dari tangannya.


Seperti juga hari ini. Jeslin kembali masuk ke ruangan perawatan anaknya. Sudah lebih dari dua minggu Mentari terbaring tanpa siuman semenjak ia keluar dari ruangan operasi.


Saat Jeslin khusuk berdoa, ia mendengar suara Mentari.


"Bunda, kaulah itu?"


Jeslin yang sedang duduk langsung berdiri dan menatap anaknya. "Mentari?"


Mentari tersenyum. "Aku kembali, bun."


"Alhamdulillah. Bunda panggil dokter dulu ya?"


Tak lama kemudian dokter Nirmala datang. Ia memeriksa Mentari. "Sungguh ajaib kau bisa siuman lagi nyonya Furkan. Bagaimana perasaanmu?"


"Aku merasa senang dokter."


"Tekanan darah normal, detak jantung juga normal. Anda sudah melewati masa kritis ini. Saya percaya anda akan survive."


Mentari tersenyum bahagia. "Bagaimana anakku?"


**********


Vita langsung memeluk sahabatnya itu ketika melihat Yasmin turun dari mobilnya.


"Kamu sudah masuk kuliah lagi?"


Yasmin mengangguk. "Aku harus mengejar ujian untuk 3 mata pelajaran."


"Aku yakin kamu pasti bisa. Kamu kan pintar."


Yasmin hanya tersenyum. Dulu ia menjadi semangat belajar karena ada Andre. Kini, ia rasanya sedikit mengalami penurunan.


"Yas, kemarin aku bicara banyak dengan Andre mengenai statusnya di grup chat. Dia bilang kalau memang itu ditujukannya kepadamu karena dia akan mengejar kamu lagi."


Yasmin melangkah meninggalkan pelataran parkir. Vita mengikutinya.


"Aku berharap kalau Andre akan melupakan ku."


"Dia masih mencintaimu."


"Aku ini istri orang."


"Tapi apakah kau mencintai Erdana? Aku akui kalau dia tampan dan kaya. Siapa saja bisa jatuh cinta jika sering bersamanya."


"Aku tak mungkin mencintainya."


Vita tersenyum. "Jadi, apakah kau akan bercerai darinya?" tanya Vita.


Yasmin diam sejenak. Hati kecilnya ingin sekali berpisah dengan Erdana tapi ia mengingat janjinya pada kakeknya. Bahwa dalam keluarga mereka sangat menjunjung tinggi sebuah pernikahan dan tak pernah ada yang bercerai.


"Tidak." Jawab Yasmin pelan. Mereka tiba di depan kelas. Belum terlalu banyak mahasiswa yang hadir. Yasmin harus menemui salah dosennya dulu hari ini untuk meminta jadwal ujian baginya.


Selama 3 jam, Yasmin telah menyelesaikan dua ujian dari dosen yang berbeda. Ia merasa lelah dan lapar. Ia pun melangkahkan kakinya ke kantin.


Kantin cukup ramai dan Yasmin akhirnya bisa menemukan tempat duduk favoritnya di dekat jendela. Tempat di mana ia dan Andre sering menghabiskan waktu berdua di kantin ini.


"Yasmin.....!"


Yasmin yang sementara menikmati makan siangnya, mengangkat kepalanya. "Andre?"


Andre menarik kursi dan duduk di depan Yasmin. "Aku senang melihat kami sudah masuk lagi. Bagaimana keadaanmu? Lukanya?"


"Alhamdulillah. Semuanya baik. Lukanya juga sudah sembuh."


"Aku bahagia bisa melihatmu kembali. Bagaimana dengan ujiannya?"


"Sukses. Masih ada satu ujian lagi. Tapi dosennya nggak masuk. Nanti beliau akan memberikan kabar kapan waktunya."


"Aku yakin kamu pasti akan bisa menjawab soal ujiannya. Oh ya, teman-teman seangkatan akan pergi liburan akhir tahun. Kamu ikut ya?

__ADS_1


Tanggal 2 Januari kamu akan ulang tahun kan?"


"Liburan ke mana?"


"Ke Lombok. Aku ingat kalau kamu pernah bilang ingin liburan ke sana. Makanya aku mengusulkan pada teman-teman mereka setuju."


"Aku.....!"


Yasmin tak jadi meneruskan kalimatnya. Hatinya ingin sekali ikut. Namun ia sadar bahwa ia adalah wanita yang bersuami. Seperti ajaran mamanya, segala sesuatu harus dengan ijin suami.


"Kamu nggak akan diijinkan oleh suamimu ya?" Andre meraih tangan Yasmin yang ada di meja dan menggenggamnya erat. "In, ayo kita bangun hubungan kita sekali lagi. Lupakan Erdana."


"Andre ...!" Yasmin menarik tangannya dari genggaman Andre. Walaupun ia sangat membenci Erdana dan tak pernah menerima pernikahan ini dalam hatinya, namun ia sadar bahwa ia adalah wanita yang sudah menikah. Semua orang di kampus ini juga tahu. Yasmin harus juga menjaga nama baik keluarga Furkan dan keluarganya sendiri.


"In, aku mencintai kamu. Aku juga tahu kalau kamu masih mencintai aku. Aku tak bisa bersama dengan gadis lain walaupun aku sudah mencobanya."


"Naila?"


Andre menggeleng. "Naila hanya teman bagiku. Kami selama ini jalan namun aku tak pernah memberikan harapan apapun padanya. Aku selalu mengatakan pada Naila kalau aku mencintaimu."


Yasmin menarik napas panjang. "Aku tak bisa bercerai dari kak Erdana. Karena aku harus berhadapan dengan keluarga besar ku dan juga keluarga Furkan."


"Memangnya Erdana sudah jatuh cinta padamu? Atau kalian memang tidur bersama setelah menikah?" tanya Andre tanpa menyembunyikan rasa cemburunya.


"Kamu bicara apa, Andre? Kami memang tinggal di apartemennya namun aku tidur di kamar yang berbeda dengannya."


"Maaf, In. Aku memang tak punya hak menanyakan ini padamu. Namun aku tak bisa menahan rasa cemburuku. Maaf." Andre tertunduk dengan rasa bersalah.


Yasmin menatap Andre. "Andre, jalan diantara kita adalah sesuatu yang tak mungkin."


"Akan ku buat menjadi mungkin dengan cintaku padamu, Yas. Aku akan menunggu sampai kau menyadari bahwa terus mempertahankan rumah tanganmu dengan Erdana adalah sesuatu yang akan menyiksamu karena kalian memang tak saling mencintai."


Yasmin berdiri dan memakai kembali tas punggungnya. "Aku pergi dulu, kak. Masih ada tugas yang akan ku kerjakan di perpustakaan."


"Perlu ku bantu?"


"Tidak. Tugasnya hanya sedikit." Yasmin sebenarnya rindu ingin membuat tugas bersama Andre namun sekali lagi, ia tak ingin kedekatan mereka akan menimbulkan skandal di kampus karena semua di fakultas kedokteran ini tahu bahwa Andre pernah berpacaran dengannya karena Andre menyatakan cinta padanya di saat kampus mereka sedang melaksanakan kegiatan amal di sebuah kampung yang ada di luar kota. Di saat para mahasiswa dan dosen sedang istirahat untuk makan siang, Andre tiba-tiba mengambil pengeras suara dan menyatakan cinta untuknya.


Sebuah pernyataan cinta yang di viral kan oleh teman-temannya di media sosial. Bahkan dalam sejarah fakultas ini, belum pernah ada kisah cinta yang dimulai dengan sangat manis.


Yasmin menghapus air matanya saat mengingat peristiwa itu. Hanya beberapa bulan saja ia menikmati manisnya sebuah hubungan pacaran dengan Andre yang sangat romantis itu. Andre yang selalu setia menunggunya di depan kelas jika Yasmin ada mata kuliah yang berbeda dengannya. Kisah manis itu haruskah ia lupakan?


**********


"Tuan, ibu Jeslin tak ada di rumahnya. Kata para pembantunya sudah dua minggu lebih ibu Jeslin pergi." Kata Bojes sambil meletakan kembali ke atas meja kue yang Erdana minta untuk diantarkan ke rumah Jeslin. Hari ini ibu mertuanya itu ulang tahun.


"Kemana?"


"Mereka nggak bilang."


Erdana menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Apa mungkin ibu Jeslin bersama Mentari?"'


"Bisa saja, tuan."


"Mengapa Mentari tak ingin aku tahu keberadaannya?"


"Mungkin nona Mentari tak ingin diganggu, tuan. Tuan kan sudah menikah."


"Tapi dia istriku juga."


"Tuan, misalkan nona Mentari akhirnya kembali, apakah tuan akan menjalin hubungan dengannya lagi?"


"Aku mencintainya."


"Dan nona Yasmin? Bukankah tuan terikat janji dengan kakeknya?"


Erdana menarik napas panjang. "Yasmin dan aku tak akan pernah saling dekat. Dia mencintai Andre dan aku mencintai Mentari. Aku tak tahu bagaimana hubungan kami akan berlanjut."


"Tuan, seandainya nona Mentari tak akan pernah kembali, bukankah sebaiknya tuan membuka jalan agar hubungan tuan dengan nona Yasmin akan menjadi baik? Seperti bahasa Jawa mengatakan Move on kuwi dudu berusaha nglalekke ya, tapi ngikhlaske lan berusaha ngentukke sing luwih apik luwih seko sing mbiyen-mbiyen."


"Artinya apa?"

__ADS_1


"Move on itu bukan berusaha melupakan ya, tetapi mengikhlaskan dan berusaha mendapatkan yang lebih baik dari sebelum-sebelumnya."


"Kok kamu bisa tahu bahasa Jawa? Kamu kan orang Medan."


Bojes tersenyum. "Kan pacar aku orang Jawa, tuan. Aku banyak belajar darinya."


"Bisa juga kamu."


"Ikhlaskan saja kepergian nona Mentari. Aku yakin kalau nona Yasmin baik, tuan."


"Kamu nggak tahu aja bagaimana judesnya dia padaku."


Bojes tertawa. "Katanya, perempuan itu lain di mulut, lain pula di hati. Jadi bisa saja nona Yasmin berkata judes namun sebenarnya ia sudah suka Sama, tuan. Tuan kan tampan, penuh pesona, mapan. Wanita mana yang nggak suka?"


Erdana tertawa. Bojes memang lebih tua darinya. Erdana sendiri merasa kalau Bojes sudah seperti kakaknya. Ia tak menyangka akan menerima nasehat dari Bojes saat ini.


"Siapkan saja mobilnya. Antar aku pulang. Badanku agak meriang. Mungkin terlalu capek."


"Minta nona Yasmin untuk pijat saja tuan."


Erdana kembali tertawa. "Yang ada justru ia memukul aku dengan batang sapu." Lalu keduanya pun meninggalkan kantor yang mulai sepi.


Sesampai di apartemen, Bojes meninggalkan mobil Erdana dan naik ojek menuju ke tempat kosnya yang memang tak jauh juga dari kantor.


Erdana masuk ke dalam apartemen dan melihat Yasmin sedang menonton TV sambil menikmati cemilan.


"Assalamualaikum!" sapa Erdana.


"Waalaikumsalam."


Erdana senang. Yasmin kembali membalas sapaannya.


Ia duduk tak jauh dari Yasmin dan membuka sepatu dan kaos kakinya. Saat Erdana akan meletakan sepatunya di tak sepatu, tiba-tjba ia merasa pusing dan hampir saja jatuh.


"Kak Erdana?" mendengar suara barang yang jatuh, Yasmin menoleh dan melihat kalau Erdana sedang berpegangan pada lemari pembatas ruangan yang ada dengan wajah pucat.


Rasa kemanusiaan Yasmin mengalahkan rasa marah dan bencinya pada Erdana.


"Kamu kenapa?"


"Aku agak pusing."


Yasmin langsung memegang tangan Erdana dan melingkarinya di bahunya. "Bisa jalan? Kakak rebahan saja di sofa."


Erdana mengangguk. Yasmin memapahnya sampai di dekat sofa dan membantu Erdana untuk berbaring. Setelah itu ia segera ke kamarnya, mengambil tas berisi barang-barang yang biasa digunakan oleh dokter. Ia mengeluarkan stetoskop, termometer dan tensimeter.


Hal pertama yang ia lakukan adalah mengambil termometer, membuka kemeja Erdana dan meletakkannya alat itu di antara ketiak Erdana. Sambil menunggu, ia segera memeriksa tekanan darah Erdana.


"Tekanan darahnya sangat rendah." ujar Yasmin. Ia kemudian mengambil termometer dan melihat hasilnya. "Panasnya 39. Kakak sepertinya demam."


Erdana tak menanggapi semua yang Yasmin katakan karena ia memang merasa pusing.


"Kak, aku belikan obat dulu di bawa ya?" Yasmin akan berdiri namun Erdana tiba-tiba saja memegang tangan Yasmin.


"Jangan tinggalkan aku....!"


Yasmin terkejut saat tangan Erdana memegang lengannya dengan sangat kuat. Seolah ada rasa ketakutan dari nada suara dan mimik wajahnya.


************


Selamat pagi semuanya.


terima kasih sudah baca part ini


maaf kalau bahasa Jawanya salah ,🤭🤭🙏🙏


langsung diperbaiki aja ya?


jangan lupa like, komen dan vote.


Bagikan juga cerita ini kada teman2 kalian ya

__ADS_1


Bantu emak karena cerita ini sedang dipromosikan


__ADS_2