CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Menangis Bersama


__ADS_3

Erdana tiba dari Batam hari ini. Sebenarnya ia sangat lelah karena padatnya pekerjaan di sana. Namun kerinduannya untuk datang ke makam anaknya membuat ia meminta Bojes untuk membawanya ke tempat itu.


Penjaga makam yang sudah mengenalnya menyapa Erdana.


"Lama nggak keliatan tuan?"


"Saya ada pekerjaan ke Batam. Baru saja kembali."


"Oh begitu ya. Silahkan tuan."


Erdana mengangguk dan segera melangkah menuju ke makam anaknya. Setiap kali Erdana sampai di sini, hatinya kembali sakit. Ia menaburi bunga yang sudah dibelinya di depan gerbang tadi. Tangis Erdana pun terdengar. Ia rapuh setiap kali datang ke sini. Bukannya ia tak mengikhlaskan kepergian anaknya. Namun Erdana menyesali diawal kehamilan Yasmin, ia sepertinya ingin menolak kehadiran anak ini karena telah membuatnya berpisah dengan Mentari yang sangat dicintainya.


"Kak......!"


Erdana menoleh dengan kaget mendengar suara itu. Yasmin tiba-tiba saja sudah ikut berjongkok di sampingnya. Melihat Erdana yang menangis, Yasmin pun tak bisa menahan tangisnya.


Akhirnya pasangan suami istri itu menangis bersama di depan makam anak mereka. Tak ada kata yang keluar, hanya tangis kesedihan yang menyatakan bahwa mereka sebenarnya sangat mencintai anak ini.


"Sudahlah, Yas. Kita harus mengikhlaskan kepergiannya." kata Erdana akhirnya. Ia menghapus air matanya sendiri dengan punggung tangannya. Lalu memberikan kantong plastik yang masih berisi bunga kepada Yasmin. Yasmin pun mengambil bunga itu dan menaburi nya di atas makam anaknya. Matanya memandang Nisan anaknya yang bertuliskan nama :


Esfan Eyab Furkan


Seakan tahu isi kepala Yasmin, Erdana pun bicara,"Aku memberikan dia nama Esfan Eyab, artinya maha suci yang telah kembali. Dia bayi yang tampan. Aku memeluknya walaupun dia sangat kecil di tanganku."


"Kakak punya fotonya?"


"Punya. Elmira yang mengambil fotonya." Erdana berdiri, Yasmin pun ikut berdiri. Erdana mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya. Saat ia membuka galerinya dan menunjukan 2 foto yang dikirim Elmira padanya.


Hati Yasmin bagaikan diremas saat melihat wajah putranya. "Ya Allah, dia sungguh tampan."


"Ayo kita pulang, Yas. Sebentar lagi Maghrib." ajak Erdana.


Yasmin menyerahkan ponsel milik Erdana kembali. Keduanya melangkah bersama meninggalkan makam itu.


"Kamu datang dengan siapa?" tanya Erdana.


"Diantar pak Dino."


"Aku akan mampir sebentar di rumah orang tuamu, setelah itu aku langsung kembali ke apartemen."


Yasmin hanya mengangguk. Mereka pun naik mobil yang terpisah.


*********


"Apakah tidak sebaiknya istirahat di sini, nak? Kamu kan capek. Baru saja sampai." ujar Gayatri saat mereka selesai makan malam bertiga. Satria tidak berada di rumah karena sedang menangani pasien yang akan dioperasi malam ini. Bojes pun diajak makan bersama.


Erdana tak mau tidur di lantai lagi. Ia butuh istirahat yang nyaman di atas ranjangnya.


"Aku nggak bawa baju ganti, bu. Lagi pula masih ada sesuatu yang harus aku kerjakan bersama Bojes." Erdana terpaksa bohong.


"Yas, kalau begitu kamu saja yang ikut pulang ke apartemen. Kamu kan juga katanya ingin ke kampus." ujar Gayatri. Ia tak ingin anak dan menantunya berjauhan. Ia tahu alasan apa sampai mereka menikah. Kini anak yang seharusnya menjadi penguat rumah tangga mereka sudah tak ada. Gayatri tak ingin rumah tangga anaknya menjadi berantakan.


Yasmin sebenarnya belum ingin meninggalkan rumah orang tuanya namun ia sudah merasa kuat dan harus ke kampus untuk mengikuti ujian susulan.


"Baik, bu." Yasmin akhirnya mengalah. Dengan berat hati ia mengikuti Erdana.


Sesampai di apartemen, ketika memasuki kamarnya, tangis Yasmin langsung pecah melihat gantungan kunci berbentuk sepatu bayi yang dibelinya bulan yang lalu.


Waktu itu, Yasmin sedang jalan-jalan ke mall bersama Vita untuk membeli baju dalam. Di sebuah toko khusus baju bayi, Yasmin melihat gantungan kunci itu yang digantung di depan kaca. Entah kenapa Yasmin ingin sekali membelinya. Bentuknya yang lucu dan nampak seperti sepatu bayi laki-laki membuat Yasmin begitu tertarik membelinya karena ia tahu kalau anaknya berjenis kelamin laki-laki.


"Yas.....!" Erdana yang baru saja akan menaiki tangga, terkejut melihat Yasmin yang menangis sambil duduk di atas lantai.


Yasmin seakan tak mendengar suara Erdana. Ia terus menangis sambil sesekali mencium gantungan kunci itu.


"Yas, aku masuk ya?" Erdana masuk. Ia mendekati Yasmin dan ikut duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Erdana.


"Aku dulu membeli gantungan kunci ini saat tahu kalau anak ku berjenis kelamin laki-laki. Ternyata aku sendiri tak bisa memeluknya."


"Yas......, bukankah sudah kukatakan kalau Kita harus mengikhlaskannya?"


Entah apa yang Yasmin rasakan. Saat merasakan saat Erdana mengusap pundaknya, Yasmin langsung memeluk Erdana sambil terus menangis.


Erdana sedikit terkejut saat Yasmin memeluknya sangat erat dan menangis di pundaknya. "Maafkan aku, kak. Maafkan aku yang awalnya sangat membenci anak ini sehingga Allah akhirnya mengambil dia. Aku sungguh menyesal."


Hati Erdana ikut merasa haru saat Yasmin justru semakin mengeratkan pelukannya.


"Sudah, Yas. Kalau kayak gini kesannya kita menentang keputusan Allah." Erdana mengusap kepala Yasmin.


Perlahan tangis Yasmin mereda. Ia terkejut saat menyadari bahwa dirinya memeluk Erdana. Dengan cepat ia melepaskan pelukannya dan menjauh dari Erdana.


"Aku mau istirahat, kak." kata Yasmin dengan perasaan canggung.


Erdana mengangguk. Ia segera meninggalkan kamar Yasmin dan menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua.


**********


Hujan turun dengan deras saat mereka meninggalkan lokasi syuting yang ada di luar kota.


"Nick, kayaknya ada badai ya?" tanya Elmira yang duduk di samping Nick yang membawa mobil.


"Sepertinya, nona."


"Jalannya pelan-pelan saj, Nick. Kan setelah ini kita nggak ada kegiatan lagi."


"Baik, nona."


Mobil tiba-tiba berhenti.


"Ada apa, Nick?"


"Panggil tukang derek saja, Nick. Hujannya deras sekali."


Nick mengambil ponselnya. "Nggak ada jaringan. Kayaknya karena pengaruh hujan dan angin. Aku ganti saja dengan bannya."


"Tapi ini hujan, Nick." Elmira menahan tangan Nick. Spontan Nick menatap tangan Elmira yang menahan tangannya.


"Kalau menunggu sampai hujannya reda nggak tahu jam berapa. Ini juga di tempat yang jauh dari Rumah penduduk."


"Tapi...."


"Aku ganti saja, nona. Sebentar." Nick menarik tangannya perlahan yang masih dipegang oleh Elmira.


"Maaf ya nona, aku harus membuka kemejaku supaya bisa di pakai lagi." Nick membuka kemejanya.


Elmira sungguh mengangumi bentuk tubuh Nick yang sempurna dengan otot yang pas di dada dan perutnya. Jantung Elmira berdetak dengan cepat.


Ya Allah, ampuni aku kalau sudah berpikiran mesum. Tapi bodyguard ku ini sungguh membuat buku kudukku berdiri. Batin Elmira.


Nick turun dan segera membuka bagasi bagian belakang untuk menurunkan ban pengganti yang ada di bagian bawa mobil.


Elmira tak sampai hati melihat Nick yang basah. Ia mengambil payung dan ikut turun.


"Apa yang anda lakukan, nona?" tanya Nick.


"Aku mau memayungi kamu, Nick. Selain itu juga untuk memberikan penerangan. Jalanan gelap."


"Tapi nona akan basah."


"Nggak kok. Payungnya juga besar."

__ADS_1


Nick tak membantah. Ia memang membutuhkan penerangan.


Akhirnya ban yang kempes berhasil di ganti. Keduanya masuk kembali ke dalam mobil dengan tubuh yang basah.


Elmira yang memakai kemeja putih membuat ********** nampak karena ia memakai dalaman berwarna hitam. Rok jeans mini yang dipakainya juga basah.


"Tuh, kan. Nona jadi basah." Nick mengambil handuk yang ada di jok belakang dan memberikannya pada Elmira. Di mobil ini memang selalu ada baju ganti dan handuk.


"Jalan saja, Nick. Aku geli hujannya tambah lebat."


Nick mengangguk. Ia hanya memakai kemejanya secara asal lalu segera memutar kunci kontak untuk menjalankan kembali mobil.


Namun, baru beberapa meter berjalan, mobil tiba-tiba saja mogok.


"Aduh, apa lagi ini?" Nick menjadi panik. Ia segera membuka kap mobil dan memeriksa kerusakannya.


"Apa ya?" Nick jadi bingung.


Mata Elmira menatap sebuah rumah yang tak jauh dari sana.


"Nick, ayo kita ke rumah itu, sekalian mau ganti baju."


Nick mengangguk. Ia mengambil tas yang berisi baju ganti, sedangkan Elmira yang memegang payungnya.


Rumah sederhana itu terlihat sepi. Elmira langsung mengetuknya.


"Assalamualaikum, permisi.....!" panggil Elmira.


Tak ada sahutan.


Elmira memeluk dirinya sendiri karena angin bertiup kencang dan membuat pakaian basah yang masih mereka pakai membuat tubuh mereka semakin dingin.


Guntur tiba-tiba berbunyi dengan keras dan kilat menyambar.


"Ah ....!"Elmira berteriak ketakutan dan langsung memeluk Nick yang berdiri membelakanginya.


Nick membelalakkan matanya. Elmira memeluknya dengan erat dari belakang. Baju mereka sama-sama basah. Nick berusaha mengusik perasaan aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia adalah lelaki normal. Ia dapat merasakan benda kenyal di dada Elmira yang menempel di tubuhnya.


"Nona.....!" Nick berusaha melepaskan tangan Elmira yang memeluk pinggangnya erat. Namun Elmira tak mau melepaskannya. Ia menyembunyikan kepalanya di punggung cowok itu sambil sesekali bergerak membuat dadanya ikut bergerak juga.


Astaghfirullah. Cobaan apa ini? Nick berusaha tenang. Membuang godaan Setan yang sepetinya mulai menggoda imannya.


Siapa yang tak mau dipeluk oleh artis terkenal yang bertubuh seksi ini? Namun Nick berusaha profesional saat bekerja. Bukannya ia tak tahu bagaimana cara Elmira sering menatapnya. Nick hanya tak ingin terbuai dengan pesona Elmira Furkan. Nick merasa tak pantas memiliki rasa apapun untuk gadis ini.


"Nona.....!" Nick berhasil melepaskan tangan Elmira yang memeluknya. Namun Elmira dengan cepat berputar dan kembali memeluk Nick dari depan.


"Aku takut, Nick!" Elmira kini menyembunyikan wajahnya di leher Nick. Pelukan gadis itu semakin erat membuat Nick setengah mati menahan napasnya karena tubuh Elmira yang sesekali bergerak justru membuat sesuatu yang ada di bawah sana mulai bangun.


"Nona.....!"


"Peluk aku, Nick. Dingin sekali.....!"


Ya Allah, ini berkat atau bencana? Teriak Nick dalam hati.


Pintu rumah tiba-tiba saja di buka. Nick menarik napas lega saat seorang wanita menyapa mereka dan menginjinkan mereka untuk masuk.


Keduanya langsung ganti pakaian dan disuguhkan teh hangat. Saat hujan berhenti, Nick mencoba memperbaiki mobil. Akhirnya mobil kembali jadi. Keduanya pun pamit pulang.


Sepanjang jalan Elmira tersenyum sendiri. Dia ingat tadi saat memeluk Nick. Sebenarnya Elmira sudah mulai tenang saat Nick melepaskan tangannya ketika ia memeluk cowok itu dari belakang.


Namun, kesempatan itu digunakan Elmira untuk memeluk bodyguard nya itu dari depan. Apalagi saat ia merasa kedinginan. Pelukan Nick sangat menghangatkan untuknya. Elmira tak bisa bohong. Ia jatuh cinta dengan bodyguart bulenya ini. Namun bagaimana caranya meluluhkan sikap dan hati Nick yang sedingin es? Itu yang Elmira masih pikirkan.


************


Ada yang punya ide untuk Elmira???

__ADS_1


Makasi sudah baca part ini. Jangan lupa like, komen dan vote ya?


__ADS_2