
Erdana memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Yasmin yang polos. Malam ini mereka baru saja melakukan kegiatan panas mereka dan Erdana tahu kalau Yasmin pasti lelah setelah 3 jam ia membuat istrinya itu melayani hasratnya yang seakan tak terpuaskan.
Perlahan Erdana turun dari ranjang dan mengenakan pakaiannya kembali. Ia memang tadi sempat tertidur selama 2 jam namun kini ia justru terbangun dan susah tidur lagi.
Jam dinding sudah menunjukan pukul setengah satu malam. Erdana keluar dari kamar Yasmin dan menuju ke dapur. Ia mencari ponselnya yang tadi tertinggal di meja makan. Tadi setelah makan dan sama-sama membersihkan meja, Erdana sudah tak tahan ingin menyentuh Yasmin.
Yasmin sangat cepat tergoda setiap kali Erdana menyentuh tubuhnya. Ia bahkan tak pernah menolak setiap kali Erdana meminta lagi dan lagi. Yasmin memiliki gairah yang sama panasnya dengan Erdana.
Saat Erdana melihat ponselnya, ia melihat ada 6 kali panggilan tak terjawab dari Elmira. Erdana langsung menghubungi kakak kembarnya itu.
"Kamu kemana aja, Er? Aku dari tadi menghubungi kamu." Elmira langsung menumpahkan kekesalannya karena Erdana baru membalas panggilannya.
"Sorry. Aku tadi ketiduran. Ada apa?"
"Aku ke apartemen kamu ya?"
"Tapi......" Erdana mendengus kesal karena Elmira sudah memutuskan sambungan telepon. Memang apartemen Elmira tak jauh. Tak sampai 10 menit ia pasti sudah tiba. Erdana sebenarnya bukan tak ingin Yasmin datang. Ia justru yang seharusnya pergi ke apartemen Elmira karena ini sudah tengah malam.
Elmira akhirnya tiba.
"Yasmin mana?"
"Sudah tidur."
"Aku nggak mengganggu kan?"
"Masuklah!" Erdana dapat melihat kalau Elmira terlihat kacau. Mata saudari nya itu terlihat sedikit sembab.
Yasmin duduk di sofa. Erdana ke dapur dan membuatkan segelas susu coklat kesukaan Elmira sementara untuk dirinya sendiri, Erdana membuat kopi.
"Minumlah dulu susunya." Kata Erdana.
Elmira tersenyum. Ia senang karena Erdana masih tahu kalau segelas susu coklat akan membuat Elmira tenang.
"Sekarang ceritakan!"
Elmira meletakan gelas susunya yang sudah kosong. Ia menceritakan tentang pertengkarannya dengan Nick.
"Biasanya ia akan membujuk aku jika aku merajuk. Mengapa kini ia justru pergi? Aku kan kesal." kata Elmira mengahiri ceritanya.
"Kan kamu yang menyuruhnya pulang. Mengapa juga ia harus tinggal?"
"Tapi kan biasanya ia akan membujuk aku. Mana pernah dia pulang tanpa menyelesaikan persoalan diantara kami?"
Erdana tersenyum. "El, lelaki itu kadang egonya muncul jika ia merasa tak dihargai."
"Lho, memangnya aku nggak menghargai dia?"
"Kamu hanya memikirkan hubungan kalian dari sisimu saja. Apa yang Nick bilang benar. Kamu juga harus memikirkan dunianya, Nick. Kamu itu artis yang paling mahal di Asia saat ini. Penghasilan mu saja sekali main film mungkin melebihi 5 tahun gajinya Nick. Aku setuju jika Nick akan berhenti jadi bodyguard mu dan mencari pekerjaan yang lain."
"Tapi dia mau kerja apa? Sejak dulu memang pekerjaannya seperti ini. Gaji Nick nggak kecil."
"Tetap saja terlihat kecil jika dibandingkan dengan penghasilan mu. Tabungan aku aja mungkin nggak sebanyak tabunganmu."
Elmira terlihat kesal. Selama ini, semua lelaki yang dekat dengannya selalu berusaha membuat Elmira nyaman. Selalu berusaha membuat Elmira nyaman dengan perhatian dan kasih sayang mereka. Sangat jauh berbeda dengan Nick. Walaupun Elmira yakin dengan cinta Nick untuk dirinya namun Nick bukan pria penurut seperti yang Elmira inginkan.
"El, aku akui kalau Nick sangat tampan. Dia jenis lelaki yang akan membuat banyak perempuan langsung jatuh cinta walaupun baru pertama kali melihatnya. Aku pikir baru kali ini kamu ketemu lelaki yang sungguh membuatmu jatuh cinta. Namun Nick adalah Nick dengan semua prinsip hidup yang ia miliki. Kau juga harus belajar menghargai itu. Jika tidak, sangat sulit bagi kalian untuk bersatu."
Elmira menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Ia kemudian memeriksa ponselnya. Tak ada satupun panggilan atau pesan yang dikirimkan Nick untuknya.
"Dia bahkan tak mengirimkan pesan selamat tidur untukku." cicit Elmira sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Erdana sebenarnya ingin tertawa saat mendengarkan. Namun ia menahan dirinya karena ia yakin Elmira akan marah padanya.
"Mungkin Nick kelelahan dan langsung tertidur. Jangan dulu berpikiran negatif."
Elmira berdiri. "Aku pulang saja. Besok pagi aku ada wawancara di salah satu stasiun TV."
"Nggak tidur di sini?"
"Aku nggak mau menganggu hubunganmu dengan Yasmin. Oh ya, aku punya kabar untukmu. Nggak tahu juga kalau kamu masih mau mendengarnya atau tidak." Elmira yang sudah melangkah membalikan badannya kembali.
"Baju rancangan Mentari dikontrak oleh rumah mode Comia. Semua baju hasil rancangannya akan di pamerkan dalam peragaan busana rumah mode yang paling terkenal di Eropa itu selama satu tahun."
"Oh, ya? Akhirnya apa yang Mentari inginkan di dalam hidupnya kini terwujud. Rancangan bajunya bisa ditampilkan oleh rumah mode Comia asal Perancis itu."
"Mentari juga sekarang sudah menggunakan hijab. Dia terlihat sangat cantik dengan penampilan barunya itu. Sayangnya ia terlihat semakin kurus."
"Kau tahu dimana ia berada?"
Elmira mengerutkan dahinya. "Kau masih ingin mencarinya? Bukankah hubunganmu dengan Yasmin sudah lebih baik?"
"Yasmin bahkan ingin aku menemukan Mentari."
"Dan kau akan berpoligami?"
"Kau kan sudah tahu kalau Mentari adalah istri pertamaku."
"Jujur saja pada ayah dan ibu."
"Aku takut. Ibu pasti akan sangat marah padaku."
Elmira memeluk saudara kembarnya. "Jangan berpoligami jika kau tak bisa adil."
Erdana tak menanggapi apa yang dikatakan oleh Elmira. Ia juga bingung dengan perasaannya saat ini.
************
"Di mana Nick?" pada bodyguard nya yang lain.
"Nick hari ini nggak masuk, nona. Katanya ia ada urusan keluarga." ujar Jody.
"Kenapa dia tak menghubungi aku?"
"Nick sudah menelepon nona Jenika dan meminta ijin."
Elmira terlihat kesal. Namun ia tak mau menunjukkan pada bodyguard nya yang lain. "Ayo berangkat!"
Jody langsung membukakan pintu mobil bagi Elmira dan mengantarkan sang artis ke stasiun TV.
**********
Hari ini Erdana sibuk dengan pekerjaannya.
"Bang, ayah bisa minta tolong nggak?" tanya Wisnu saat mereka baru selesai rapat.
"Ada apa, yah?"
"Ayah ingin kamu yang berangkat ke Singapura untuk penandatanganan kerja sama dengan perusahaan asal Singapura itu. Mereka juga siap mengambil bahan makanan dari pabrik kita. Sebenarnya ayah yang akan pergi namun ayah nggak mau melewatkan momen ulang tahun ibu."
"Ah, ayah ini. Setiap tahun juga kan merayakan ulang tahun dengan ibu. Bilang saja kalau ayah memang tak ingin membiarkan ayah sendiri." goda Erdana.
Wisnu hanya tersenyum. "Ayah memang nggak mau sampai ibu merayakan ulang tahunnya sendiri."
__ADS_1
"Ayah sangat mencintai ibu ya?"
"Ya. Dan ayah harap abang juga bisa mencintai Yasmin sebagaimana ayah mencintai ibu."
"Ayah, latar belakang ayah dan ibu jadian sangat jauh berbeda dengan aku dan Yasmin."
Wisnu menepuk bahu putranya. "Cinta sejati itu akan datang jika kita membuka hati, bang."
Erdana hanya bisa mengangguk. "Kapan pertemuan di sana?"
"Lusa. Mungkin abang akan ada di sana selama satu minggu."
"Baik, ayah."
**********
Yasmin membantu Erdana memasukan pakaiannya ke koper. Walaupun Yasmin terlihat biasa saja namun tatapan mata gadis itu terlihat sedikit sedih.
"Kak, kalau kerjaannya nggak sampai seminggu sudah selesai, kakak akan langsung pulang kan?" tanya Yasmin saat sudah selesai mengunci koper Erdana.
"Tentu dong." Erdana langsung melingkarkan tangannya di bahu Yasmin. "Sudah kangen ya?"
"Bukan. Hanya saja sudah terbiasa apartemen ini ada orang. Kalau kakak pergi rasanya sepi aja."
Erdana mengecup puncak kepala Yasmin. "Kenapa kamu nggak ikut aja?"
"Kan aku kuliah."
"Ijin saja."
"Kak, minggu ini aku ada ujian. Capek ah jika harus ikut ujian susulan terus."
"Selesai ujian kan masih bisa menyusul."
"Memangnya boleh?" Mata Yasmin langsung berbinar.
"Tentu saja."
"Akan ku lihat kalau ujiannya sampai kapan ya? Kalau sempat aku juga ingin pergi ke Singapura. Sudah lama aku juga nggak main ke sana."
Erdana mengangguk. Saat ia akan menunduk dan mencium Yasmin, gadis itu justru menjauh. Matanya tertuju pada foto Mentari yang ada di nakas. Entah mengapa Yasmin merasa enggan bermesraan dengan Erdana di kamar ini.
"Ada apa?" tanya Erdana.
"Kakak lupa ya kalau aku sedang datang bulan sejak kemarin?"
"Aku nggak lupa, Yas. Masa mencium saja nggak boleh."
"Aku siapkan makan malam dulu ya?" Yasmin mencium pipi Erdana dan segera meninggalkan kamar.
Dia memang nggak mau ku sentuh jika ada di kamar ini. Seolah ia merasa kalau kamar ini adalah kamar Mentari.
Erdana memilih untuk ke kamar mandi dan menyegarkan dirinya dengan shower sebelum besok pagi akan ke Singapura untuk menyelesaikan tugasnya di sana.
************
Hallo guys.....
Akankah Erdana dan Mentari bertemu di sana?
Dukung emak terus ya ....
__ADS_1
makasi untuk terus membaca novel ini