
Sebulan sudah mereka kembali dari Lombok. Hari ini Yasmin semangat untuk kuliah karena semua nilainya di semester ganjil semakin bagus. Andre pun masih sering menemuinya. Yasmin akan pergi ketika Andre mengajaknya makan asalkan dengan teman-temannya yang lain.
Hari ini selesai kuliah, Yasmin mampir di sebuah mini market dekat dengan apartemen. Ia ingin membeli roti, susu dan makanan lainnya karena besok adalah hari Sabtu. Yasmin mampir sebentar di ATM untuk mengambil uang. Ketika ia mengecek saldo ATM nya, ia terkejut. Saldonya tak sampai 3
juta. Kalau begini terus uang tabunganku bisa habis. Bagaimana caranya ya? Aku kan kuliah sampai jam 2 siang. Apakah aku harus mencari pekerjaan? Apa minta uang sama ayah? Bukankah aku berbohong pada ayah dengan mengatakan kalau kak Erdana memberikan aku uang? Aku sudah membayar uang kuliahku dengan tabunganku sendiri, membeli semua bedak, cream wajah, sabun dan shampoo, semuanya dengan uang tabunganku.
Setelah mengambil uang sejumlah 300 ribu, Yasmin pun masuk ke supermarket itu. Hari Sabtu adalah hari tidur Yasmin yang paling menyenangkan. Karena ia bisa bangun siang tanpa takut terlambat kuliah.
Yasmin membeli 2 pak roti tawar, mentega, coklat dan 2 kotak besar susu UHT yang low fat.
Setelah membayar semuanya ia pun langsung naik ke mobilnya dan segera menuju ke apartemen.
Yasmin tiba di apartemen dan terkejut melihat ada ayah dan ibu mertuanya, Daffa dan juga Elmira dan bodyguard tampannya, Nick.
Yasmin langsung mencium tangan mertuanya dan menyapa kakak dan adik iparnya.
"Ada apa ini?" tanya Yasmin.
"Ulang tahunnya Erdana dan Elmira. Kamu nggak tahu? Erdana nggak bilang kalau ulang tahunnya dan El akan dirayakan di sini?" tanya Naura dengan wajah bingung.
Yasmin kaget. Memang, semenjak pulang dari Lombok, Erdana yang terkesan menjaga jarak darinya. Ia hanya bicara seadanya dan selalu pulang larut malam dari perusahaan. Ia sudah jarang memasak dan hanya selalu memesan makan malam dari cafe yang ada di samping kanan apartemen. Karyawan cafe akan mengantarkannya tepat jam 7 malam dengan menu yang berbeda setiap hari.
"Aku tadi berangkat kuliahnya agak pagi, bu. Aku pergi saat kak Erdana masih tidur." ujar Yasmin memberikan alasannya. Memang tadi pagi jam 6 ia sudah ke kampus karena ada tugas yang harus ia kerjakan.
Yasmin pun segera membantu ibu mertuanya menyiapkan meja makan. Sepertinya memang Naura sudah memasak dari rumah.
Sesekali Yasmin memperhatikan Elmira dan bodyguard nya yang sering curi-curi pandang. Ia memang sudah curiga saat mereka masih ada di Lombok. Dan itu berarti sudah 4 Minggu berlalu.
Tak lama kemudian Erdana datang. Setelah yang lain memberikan ucapan selamat pada Erdana, pria itu pun nampak bahagia Naura langsung mengajak mereka semua ke meja makan. Elmira duduk berdampingan dengan Nick.
"Eh, sebelum kita makan, ada sesuatu yang ingin aku katakan." Kata Elmira sambil berdiri.
Wisnu menatap putrinya. "Ada apa, nak?"
"Aku dan Nick berpacaran."
Nick terkejut. Ia tak mengira kalau Elmira akan mengatakannya sekarang.
Semua yang ada di sana terkejut kecuali Daffa. Ia tersenyum sambil menatap kakaknya. "Aku sudah bilang saat melihat Nick pertama kali, kakak pasti akan jatuh cinta padanya. Ia terlalu ganteng untuk menjadi bodyguard."
Nick tersipu mendengar perkataan calon adik iparnya itu.
Wisnu dan Naura saling berpandangan. Elmira memang begitu. Tak mau menyembunyikan hal apapun pada keluarganya. sangat berbeda dengan Erdana.
"Kalau memang kalian saling mencintai, dan ingin membangun hubungan yang serius, ayah dan ibu akan mendukung. Kami tak pernah memilih dengan siapa anak kami akan melabuhkan hatinya. Asalkan dia pria yang baik, taat pada agama dan mencintai Elmira dengan tulus. Itu saja." Ujar Wisnu diikuti anggukan kepala Naura. Ia tahu kalau Nick seorang pria yang soleh. Ia pernah beberapa kali ijin untuk sholat di mushola keluarga saat Elmira pulang ke rumah mereka.
Mendengar perkataan orang tua Elmira, hati Nick sangat lega. "Aku pasti akan mencintai El dengan segenap hati. Aku akan menjaganya seperti menjaga mataku sendiri."
Elmira pun tersenyum bahagia. "Terima kasih ayah, ibu."
Acara pun dilanjutkan dengan peniupan lilin bagi El dan Er. Semua nampak bahagia. Tak lama kemudian Lisa datang bersama suaminya dan kedua anaknya. Anak Lisa kini berusia 6 tahun dan 4 tahun. Keduanya laki-laki. Lisa menikah dengan lelaki keturunan Arab yang bernama Ahmad. Seorang pengusaha furniture.
"Nenek Kumala mana, bu?" tanya Erdana saat mereka sementara menikmati makan malam.
__ADS_1
"Nenek sedang tak enak badan. Dia memilih di rumah saja." Jawab Naura.
Yasmin ikut bahagia melihat bagaimana harmonisnya hubungan keluarga Furkan. Nick pun merasakan hal yang sama.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Elmira sambil memegang tangan Nick. Keduanya ada di balkon ruang tamu.
"Aku lega sekaligus bahagia. Bangga juga karena keluargamu sangat baik dan hangat."
"Sekarang, aku menunggu waktunya kau akan mengajak aku untuk ketemu dengan orang tuamu."
Nick tersenyum. Ia membelai wajah Elmira dengan penuh kasih. "Tunggu waktu yang tepat ya, sayang? Sekarang aku ingin kita benar-benar yakin dengan hubungan kita barulah aku akan membawa kau kepada mereka."
Elmira mengangguk walaupun sebenarnya ia agak kecewa. Ia memeluk Nick dengan erat. Merasakan damai setiap kali ada dalam pelukan lelaki itu.
***********
Semua sudah pulang. Ruang apartemen pun sudah bersih karena bunda Naura membawa 2 orang pelayan yang langsung membereskan peralatan makan yang dipakai dan membersihkan ruangan serta mengepel lantainya.
Yasmin batu saja selesai mandi dan ganti pakaian. Ia tak tahu harus memberikan kado apa pada Erdana. Pada hal di hari ulang tahunnya, Erdana memberikan dia hadiah.
Saat ia keluar kamar untuk membuatkan segelas susu baginya, ia berpapasan dengan Erdana yang sepertinya baru saja dari dapur. Keduanya saling bertatapan dan memberikan senyum tipis.
"Eh, kak.....!" panggil Yasmin.
"Ada apa?"
"Selamat ulang tahun!" Yasmin mengulurkan tangannya. Erdana menyambut tangan Yasmin dan menggenggamnya erat.
"Terima kasih."
"Tak masalah."
Tangan keduanya masih saling berpegangan. Yasmin yang lebih dulu melepaskannya. "A...aku mau ke dapur!" pamitnya dan langsung melangkah. Erdana hanya tersenyum dan langsung naik ke lantai dua. Semenjak pulang dari Lombok, Erdana memang memilih untuk tak lebih dekat dengan Yasmin karena ia tak mau Yasmin menganggapnya mesum jika harus mencium gadis itu lagi.
Saat Erdana tiba di kamarnya, ada pesan yang masuk. Erdana membukanya. Itu dari salah satu anak buahnya di Surabaya.
Mata Erdana langsung terbelalak melihat foto Mentari yang kini sudah menggunakan hijab. Hatinya rindu yang rindu menjadi semakin rindu saat melihat foto itu. Erdana langsung menelepon.
"Hallo, bagaimana Kevin? Apakah kau sudah mendapatkan alamatnya?" Tanya Erdana antusias.
"Aku sudah mendapatkan alamatnya. Namun saat aku pergi ke rumah itu, ternyata rumah itu sudah dihuni oleh orang lain. Katanya penghuni yang lalu pindah ke luar negeri. Aku juga sudah meminta keterangan pada RT setempat, Mentari memang sudah pindah dari sana."
"Kau tak bisa melacak dia ada di mana?"
"Mba Mentari sangat pintar menyembunyikan dirinya. Ia tak pernah menggunakan kartu kredit sehingga aku sendiri tak bisa tahu keberadaannya."
"Baiklah. Terima kasih. Tolong kabari aku jika ada perkembangan yang lain." Erdana mengahiri percakapan telepon nya. Kepalanya langsung pening.
Sepanjang malam, Erdana tak bisa tidur. Esok paginya, ia langsung ke rumah Jeslin. Dan ia sangat beruntung karena Jeslin ada di sana.
"Bibi, aku mohon, katakan di mana Mentari?"
Jeslin menggeleng. "Nak, lupakan Mentari. Sekarang kau sudah menikah. Cintailah istrimu. Jangan sakiti Yasmin. Mentari sudah bahagia dengan hidupnya. Ia bahkan sudah memiliki kekasih saat ini."
__ADS_1
"Kekasih? Secepat itukah Mentari melupakan aku? Aku ini masih suaminya."
"Nak, lupakan Mentari. Biarkan dia dengan kehidupannya sendiri. Apakah kau akan meninggalkan Yasmin saat kau bertemu Mentari? Tidak akan semudah itu kan? Jalanilah pernikahanmu dengan benar. Mungkin memang kau dan Mentari tak berjodoh."
Erdana pulang dengan rasa kecewa mendengar Mentari sudah memiliki kekasih. Ia segera menemui Naura di rumah mereka.
"Kalau memang Mentari tak menginginkan kamu lagi, maka kau pun harus menata hidupmu, nak. Memang melupakan kisah manis selama 7 tahun bukanlah perkara yang gampang. Namun ibu yakin kalau kamu pasti bisa." kata Naura sambil memegang tangan anaknya.
"Bu, aku dan Yasmin nggak mungkin menjalani pernikahan kami secara normal."
"Kamu harusnya berusaha. Ibu lihat kok kalau cara dia memandang mu sudah agak berbeda. Nggak penuh kebencian lagi seperti dulu."
"Entahlah, bu. Aku bingung." Erdana merebahkan tubuhnya di pangkuan sang bunda.
Naura hanya bisa membelai kepala anaknya. Erdana memang seperti ini tiap kali ia ada dalam masalah.
**********
Seharian Erdana mengabiskan waktunya di rumah orang tuanya. Saat menjelang sore, ia kembali pulang ke apartemen. Saat melewati kamar Yasmin, ia melihat Yasmin yang sedang naik ke atas meja belajarnya. Di atas meja belajar ada juga sebuah kursi plastik. Sepertinya Yasmin mau mengganti bohlam lampu yang sudah rusak.
"Eh....Yasmin....!" Erdana langsung berlari masuk ke dalam kamar saat dilihatnya kalau Yasmin kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Untung saja Erdana dapat menangkap tubuh Yasmin dan keduanya kembali jatuh ke atas lantai bersama.
Yasmin merasakan jantungnya hampir copot saat wajah mereka menjadi begitu dekat. Pandangan mata mereka bertemu. Dalam suasana kamar yang agak temaram, Erdana menatap Yasmin dengan sangat intens. Ia memang tak lagi menemukan tatapan mata penuh kemarahan yang pernah diberikan Yasmin padanya.
Yasmin menekan salivanya. Entah mengapa ia berharap agar Erdana menciumnya kali ini.
"Kamu nggak terluka?" tanya Erdana sambil berdiri. Ia membantu Yasmin untuk bangun dari lantai.
"Nggak."
"Nggak perlu pakai meja dan kursi untuk mengganti bohlam lampu. Aku punya alatnya." Erdana langsung ke gudang dan mengambil sebuah alat yang biasa digunakan untuk mengganti bohlam lampu di tempat yang tinggi.
"Sudah selesai." kata Erdana lalu segera meninggalkan kamar Yasmin.
"Eh, kak....!" panggil Yasmin.
"Ada apa?" Erdana berbalik.
Yasmin mengambil sesuatu dari dalam tas kuliahnya. "Hadiah ulang tahunnya. Maaf kalau kakak nggak suka."
Erdana membuka paper bag kecil itu. Ternyata sebuah dasi. "Terima kasih."
"Sama-sama."
"Aku suka." ujar Erdana lalu meninggalkan kamar Yasmin.
Yasmin tersenyum sambil memegang dadanya melihat punggung Erdana yang menghilang dibalik pintu. Kok aku senang melihat kak Erdana menyukai hadiah dari ku ya? Eh Yasmin sadar! Kalian tak saling mencintai!
********
Good morning guys
happy Sunday
__ADS_1
Jangan lupa dukung emak terus ya guys ?