CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Kejutan


__ADS_3

Prayuda menatap Erdana dengan seksama. "Er, kamu tahu tentang......"


"Yasmin tak pernah mengatakan apapun padaku. Aku sendiri yang mengetahuinya ketika kamu tertembak."


"Maafkan aku, Er. Aku tak bermaksud untuk menganggu hubunganmu dengan Yasmin. Aku juga tak mengerti mengapa perasaan ini hadir. Aku sudah berusaha untuk membuangnya, aku sadar siapa Yasmin. Namun semakin aku menjauh, semakin aku merindukannya. Tapi aku tak pernah mengatakan apapun pada Yasmin, Er. Aku tak pernah menyatakan perasaanku. Yasmin juga tak pernah mengatakan tentang perasaannya itu."


"Aku tahu."


"Kamu pasti merasa bahwa aku teman yang tak baik kan, Ed? Aku seperti orang yang menikam kamu dari belakang."


Erdana tersenyum. "Awalnya aku ingin marah padamu. Namun aku percaya kalau kamu bukan tipe perayu wanita. Kamu bukan seorang penggoda wanita. Kalian saling jatuh cinta karena situasi yang ada. Aku yang tak bisa hadir selalu untuk Yasmin karena kesibukan kami, membuat ia merasa nyaman dengan perhatianmu. Aku memang sedih karena Yasmin pergi. Namun aku akan menjadi lelaki egois jika hanya memikirkan perasaan ku dan tidak memikirkan perasaan Yasmin."


"Aku tak bisa bersama Yasmin, Er. Itu berarti aku akan berbahagia di atas penderitaan mu. Aku juga yakin kalau Yasmin memilih berpisah denganmu bukan karena ia ingin bersamaku. Melainkan karena ia ingin lebih fokus dengan sekolahnya."


Erdana menepuk bahu Prayuda. "Kali ini saja, kau ikuti kata hatimu. Pergilah menemui Yasmin. Kalau memang Yasmin tak memiliki perasaan untukmu lagi, maka kau harus melanjutkan hidupmu. Carilah gadis lain. Kau juga berhak bahagia, Pra. Usiamu kini sudah hampir 31 tahun. Mau sampai kapan kau akan menjomblo?"


"Yasmin memblokir nomorku, Er."


"Apakah Amerika terlalu asing bagimu untuk menemukannya?"


Prayuda tertawa. Tentu saja tak sulit baginya untuk menemukan Yasmin di sana karena ia tahu di mana Yasmin melanjutkan studinya. Hanya saja yang Prayuda takutkan adalah Yasmin yang tak mau menerimanya.


"Pergilah, Pra. Jangan biarkan Yasmin dimiliki orang lain. Sebab kalau itu terjadi, aku akan memukulmu dengan tinjuku." Ujar Erdana serius. Kedua pria tampan itu saling bertatapan. Prayuda akhirnya tersenyum.


**************


Nick mencium pipi putri kecilnya itu sebelum meletakkannya di dalam box bayinya. Kemarin, Nick harus membawa barang-barang bayi mereka dari kota ke desa. Elmira ingin beristirahat selama satu bulan di desa sebelum kembali ke kota.


Naura pun memutuskan untuk tinggal di desa menemani Elmira. Ia merasa bahwa tak perlu lagi mendampingi Mentari dan Erdana karena Mentari sudah benar-benar pulih. Ia juga kini sudah aktif kembali merancang pakaian walaupun pengobatannya masih terus dilakukan secara rutin.


"Honey, butuh sesuatu?" tanya Nick lalu mendekati ranjang tempat Elmira berbaring.


"Tidak. Semua sudah dilakukan olehmu dan ibu. Tugasku hanya menyusui putri kecil kita, makan, dan tidur. Aku bahkan belum pernah menggantikan popok anakku apalagi menggantikan bajunya. Semuanya sudah dikerjakan oleh mu dan ibu. Aku bisa bayangkan, sebentar lagi badanku akan melar."


Nick terkekeh. Ia membelai wajah Elmira. "Aku akan tetap mencintaimu, sebesar apapun tubuh kamu nanti."


"Ah, yang benar?"


"Benar sayang. Bagaimana mungkin aku akan mengkhianati kamu setelah melihat bagaimana perjuanganmu melahirkan anak kita? Saat kamu sedang berjuang untuk melahirkan anak kita, dalam hati aku berjanji pada Allah, bahwa aku tak akan pernah membuatmu bersedih sepanjang perjalanan pernikahan kita. Karena aku percaya kalau kamu adalah wanita terbaik yang memang sudah disiapkan Tuhan untukku."


Elmira memandang suaminya dengan perasaan yang terharu. "Sayang...., kau membuat aku ingin menangis saja."

__ADS_1


"Jangan menangis, ah " Nick mengecup dahi Elmira.


"Aku menangis karena terlalu bahagia. Aku merasa sangat dicintai olehmu. Anak-anak kita pasti akan sangat bangga memiliki ayah sepertimu."


"Anak-anak?" tanya Nick sambil mengerutkan dahinya.


"Iya. Anak-anak. Memangnya kamu tak ingin punya anak lagi dariku?"


"Tentu saja aku ingin sayang. Namun saat melihat kamu yang sedang kesakitan kemarin, aku tak berani berharap lagi."


Elmira menyandarkan kepala di bahu Nick. "Aku memang sangat kesakitan kemarin. Namun begitu melihat wajah anak kita, aku sudah lupa bagaimana sakitnya. Aku ingin putri kita cepat besar sehingga aku akan memberikan adik-adik baginya."


"Adik-adik? Kau sungguh ingin kita memiliki tiga anak?"


"Mungkin juga empat. Jika Allah mengijinkan."


"Ah, sayang. Aku tak sabar ingin menghamili mu lagi."


"Eh... Nick....!" Elmira menatap suaminya. "Kamu jangan dulu bermimpi untuk bercinta denganku. Kamu harus menunggu selama 2 bulan."


"Dua bulan?"


"Ya. Dan jika aku melahirkan lagi, aku ingin Prayuda yang harus menjadi dokternya."


"Karena dia sudah pernah melihat milikku yang paling berharga, maka dia harus bertanggungjawab untuk persalinan ku selanjutnya."


Nick tertawa. Ia langsung memeluk istrinya itu dengan penuh kehangatan cinta. Ia yakin bahwa hari-hati selanjutnya, ia pasti akan menikmati kebahagiaan dengan kehadiran anak-anak mereka.


************


Yasmin menatap butiran salju yang turun dari jendela apartemennya. Ia baru saja pulang dari rumah sakit dan sedang duduk di depan jendela kaca sambil menikmati secangkir coklat hangat.


Tak terasa, sudah satu tahun enam bulan ia ada di negeri Paman Sam ini. Di salah satu kota tersibuk di dunia New York.


Yasmin merindukan Indonesia. Rindu dengan kemacetan Jakarta dan suasana rumah sakit di sana. Ia tak memiliki akun FB, instagaram, atau Twitter lagi. Semua itu sengaja dihindari oleh Yasmin agar ia tak mendapatkan kabar apapun tentang Erdana, Mentari dan anak-anak mereka. Yasmin bukannya tak peduli. Ia justru takut akan merasa rindu saat melihat foto-foto mereka. Kabar yang ia dapatkan adalah, pernikahannya dengan Erdana sudah berakhir. Erdana memberikan apa yang menjadi hak Yasmin sebagai janda Furkan.


Melalui infotainment, Yasmin juga tahu kalau Elmira sudah melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Beberapa minggu yang lalu ada berita tentang keluarga kecil itu yang melakukan acara potong rambut bagi anak mereka. Selebihnya, Yasmin tak ingin tahu lagi.


Ia tenggelam dengan tugasnya yang lumayan banyak. Hari libur pun ia gunakan untuk praktek di salah satu rumah sakit kecil yang berada di dekat kampusnya.


Mengenai Prayuda? Ah, Yasmin berusaha membunuh semua rasa rindu yang ia miliki untuk pria tampan itu. Ia sengaja memblokir nomor Prayuda walaupun ia tahu kalau Prayuda tak mungkin akan menghubunginya.

__ADS_1


Di kampusnya, ada seorang pria bule yang mengejar Yasmin. Namanya dokter William. Ia seorang dokter ahli jantung yang sedang menyelesaikan studi S3 nya. Pria berusia 32 tahun. Mapan dan anak dari pemilik rumah sakit yang terkenal di New York ini. William penuh pesona dan sangat perhatian padanya. Namun semua sikap Cowok bule itu justru mengingatkan Yasmin pada Prayuda. William sangat manis dan selalu memberikan Yasmin kejutan-kejutan di setiap waktu. Seluruh kampus percaya kalau mereka pacaran karena William selalu memanggilnya "baby".


Bagaimana kabar Prayuda saat ini? Yasmin berharap agar Prayuda sudah menemukan seorang gadis yang baik untuk dia nikahi. Walaupun saat memikirkan Prayuda jalan dengan orang lain, hati Yasmin rasanya sakit.


Yasmin meletakan gelas di atas meja. Minumnya sudah habis. Ia berdiri semakin dekat di jendela, saat melihat ada seseorang yang turun dari taxi. Seorang pria yang tinggi, menggunakan jaket berwarna coklat. Ia sedang memegang sebuah koper kecil dan nampak memperhatikan gedung apartemen ini. Yasmin memang tinggal di lantai paling bawa.


Pria itu mengangkat wajahnya lalu melihat kertas yang ada di tangannya. Jantung Yasmin bagaikan berhenti berdetak saat ia mengenali wajah tampan pria yang nampaknya kedinginan itu. "Prayuda?"


Tepat di saat itu, Prayuda melihat ke arah jendela kaca tempat Yasmin berdiri. Keduanya pun saling menatap. Jantung keduanya sama-sama berdetak sangat kencang. Ada kerinduan yang tak bisa disembunyikan. Agak lama keduanya saling berpandangan sampai akhirnya Yasmin sadar, jika Prayuda terlalu lama di luar, maka ia bisa membeku. Yasmin langsung berlari keluar dari apartemennya. Ia membuka pintu lobby dengan kartu yang ada di tangannya.


"Kak, ayo masuk!" ajak Yasmin.


Prayuda mengangguk. Ia terlihat salah tingkah namun dengan cepat segera masuk ke dalam


"Ayo, kak." Yasmin segera membuka pintu apartemennya. "Buka saja sepatu kakak dan segera mendekat ke perapian. Kakak terlihat sangat kedinginan. Aku akan buatkan secangkir kopi hangat untuk kakak."


Yasmin bergegas ke dapur dan memanaskan air. Tangannya sampai gemetar saat mengeluarkan gelas dari kemari. Ia merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Sungguh sebuah kejutan yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Ada apa sampai Prayuda mencarinya?


Saat ia kembali ke ruang tamu, Yasmin meletakan kopi itu di atas meja. Prayuda nampak sedang berdiri di dekat perapian.


"Kak, minum dulu kopinya." ujar Yasmin.


Prayuda mengangguk. Ia pun berpindah tempat dan duduk di sofa.


"Aku terkejut melihat kakak yang datang."


"Apakah aku menganggu mu?"


Yasmin menggeleng. Tepat di saat itu bel pintu apartemennya berbunyi. Yasmin segera membukanya.


"William?" Yasmin terkejut melihat kedatangan William.


"Hi baby? Kenapa seperti melihat hantu? Aku membawakan makan malam untukmu." Ujar William lalu langsung masuk.


Prayuda terkejut melihat seorang pria bule yang tampan memasuki apartemen Yasmin dan terlihat mereka sangat akrab. Bahkan pria itu memanggilnya baby.


"Baby, kau punya tamu?" William pun terkejut melihat ada pria lain di apartemen Yasmin. Kedua pria itu berdiri berhadap-hadapan.


****************


Benar kata Erdana....

__ADS_1


bagaimana kalau ada pria bule yang berhasil mengisi kesepian Yasmin?


__ADS_2