
"Kamu mau menikah?" tanya Erdana saat Bojes mengajukan ijin selama 1 minggu.
"Iya tuan. 2 hari lagi. Akadnya pagi, siangnya langsung resepsi. Hanya acara kecil-kecilan saja. Gendis bilang kalau mau buat acara besar nanti buang-buang uang. Kan uangnya bisa di pakai untuk keperluan yang lain."
"Aku akan membiayai pestamu."
"Nggak perlu, bos. Lagi pula orang tua Gendis tetap nggak mau menerima aku. Ayah Gendis memang akan datang saat akad. Namun ibunya sama sekali tak mau."
"Buktikan kalau kau lelaki yang bisa membuat Gendis bahagia. Kalau akadnya 2 hari lagi, aku nggak bisa datang. 2 hari lagi kan ada tamu dari Thailand yang akan datang. Aku yang memang harus bersama mereka. lusanya ada acara syukuran rumah aku dan Mentari. Namun aku akan memberikan kamu hadiah. Mau bukan madu di mana?"
Bojes tersenyum malu. "Mungkin hanya ke Bali selama 3 hari."
"Aku akan memberikan hadiah hotel terbaik di sana. Semua biaya selama bulan madu, aku tanggung."
"Makasi tuan. Salam untuk nyonya Mentari ya? Bagaimana kesehatannya?"
Erdana tersenyum. "Sudah membaik. Ia hanya nggak boleh terlalu capek saja."
"Semoga tuan dan istri-istri tuan bahagia."
"Amin. Pesanku, jangan kayak aku ya? Cukup Gendis saja satu-satunya."
"Kenapa tuan?"
Erdana menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya. "Aku sangat mencintai Mentari. Kau tahu bagaimana perasaanku padanya. Namun pada saat yang sama juga aku menyayangi Yasmin. Dia memberikan warna yang lain dalam hidupku. Saat aku bersama Yasmin, aku melupakan Mentari. Saat aku bersama Mentari, aku melupakan Yasmin. Mereka berdua seperti penyihir yang membuat aku melupakan yang lain. Kadang saat aku sholat sendiri, aku sering bertanya, apakah aku bisa adil selamanya? Kadang aku pusing bagaimana harus membagi perhatian yang sama diantara mereka. Karena justru kedua istriku itu selalu saling mengalah untuk membuat aku bisa lebih punya banyak waktu dengan yang lain. Mereka berdua kayaknya nggak saling cemburu."
"Bagus kan, tuan?"
"Justru aku takut mereka menyimpan rasa itu sendiri. Aku takut menyakiti keduanya. Makanya, jangan cari istri dua ya?"
"Aku mana berani, tuan? Gendis bisa saja mencakar-cakar aku dengan kukunya yang panjang."
Erdana tertawa mendengar perkataan Bojes. Ia sungguh menyukai asistennya ini. Bojes adalah teman curhatnya. Sekalipun kadang Bojes hanya lebih banyak mendengar dan jarang memberi masukan, namun Erdana sangat suka curhat dengan pria ini.
**********
Yuda mengantarkan Jeslin sampai di depan pintu. Mereka baru saja selesai makan malam. Sekali lagi, Jeslin tak dapat menolak ajakan Yuda yang tadi pagi meneleponnya dan mengajaknya untuk keluar.
Saat makan malam tadi, Yuda mengajak juga Jeslin untuk berdansa. Sungguh romantis, Jeslin terbawa dalam suasana itu dan membuat jantungnya berdebar-debar saat tangan mereka saling menyatu dan tubuh mereka menjadi begitu dekat.
"Aku senang malam ini kau menerima ajakan ku." ujar Yuda saat mereka sudah di depan pintu.
"Terima kasih untuk makan malamnya yang lezat." Kata Jeslin sambil memasukkan anak kunci ke dalam lubang kunci yang ada. Pintu terbuka.
"Jes....!"
Jeslin membalikan badannya. Yuda sudah berdiri sangat dekat dengannya. "Bolehkah kapan-kapan kita jalan lagi?"
Jeslin mengangguk. Entah kenapa, pesona Yuda yang dulu sudah digantikan oleh Gading, kali ini membuat Jeslin dapat merasakannya lagi.
Wajah Yuda terlihat senang. Matanya bersinar. "Terima kasih ya, untuk malam ini. Mimpi yang indah." Dan tanpa terduga, Yuda mengecup bibir Jeslin. Sangat cepat namun sanggup membuat darah Jeslin berdesir.
Jeslin menatap kepergian Yuda dengan perasaan yang tak menentu. Ingin marah? Namun hatinya sungguh bergetar menerima ciuman itu. Dengan cepat Jeslin masuk ke dalam rumah. Setelah menutup pintu, ia menyandarkan punggungnya di pintu. Jeslin memegang dadanya kemudian menyentuh bibirnya yang dicium oleh Yuda.
Ini gila! Kenapa aku merasa seperti pertama kali dicium oleh Yuda saat kami pacaran? Ya Allah, ada apa dengan perasaanku ini? Mengapa aku sampai gemetar seperti ini?
"Bunda?"
Jeslin menoleh dengan kaget. "Mandrika?"'Ia terkejut melihat putri keduanya ada di rumah.
"Surprise!" Mandrika langsung berlari dan memeluk bundanya.
"Kenapa pulang nggak bilang-bilang? Duh, anak bunda ini." Jeslin membelai wajah putrinya.
__ADS_1
"Aku sengaja mau membuat kejutan untuk bunda. Aku sudah menyelesaikan studi S2 ku dan siap membantu bunda di perusahaan."
Jeslin tersenyum senang. "Akhirnya....!"
Mandrika memeluk bundanya kembali. "Kangen. Malam ini aku bobo dengan bunda ya?"
"Ok."
Keduanya melangkah bersama menuju ke kamar Jeslin. Untuk sementara, Jeslin berusaha melupakan Yuda dan pesonanya yang membuat Jeslin kembali bergetar. Ia ingin menikmati kebersamaannya dengan Mandrika, putri bungsunya.
************
Tak ada kabar sama sekali dari Nick. Ini sudah 3 bulan semenjak mereka berpisah di Singapura. Elmira menatap ponselnya. Berharap suatu hari ada telepon yang masuk dari nomor Nick. Namun semuanya percuma.
"El, ustad Ernes menghubungimu." ujar Jenika sambil menyerahkan ponselnya.
"Assalamualaikum, ustad." Sapa Elmira.
"Waalaikumsalam, El. Apa kabarmu?"
"Baik, ustad. Alhamdulillah."
"Kata Jenika besok jadwalnya kosong ya? Kalau berkenan, aku ingin mengundang El ke acara peresmian panti asuhan yayasan kami yang baru. Acaranya jam 3 sore."
Ermira menatap Jenika. "Eh....baiklah. Aku usahakan untuk datang." Elmira menutup percakapan mereka sambil menatap Jenika dengan sedikit kesal. "Jenika, kamu sengaja kan mendekatkan aku dengan Ernes? Jangan gitu dong. Aku nggak mau mempermainkan dia. Aku menghormatinya sebagai seorang ustad."
"Tapi dia menyukaimu, El. Aku dapat melihat itu setiap kali ia menatapmu. Apa sih yang kurang dari Ernes? Usia kalian hampir sama, dia berasal dari keluarga kaya yang terhormat, dia tampan dengan tubuh yang atletis. Apanya yang kurang? Sampai kapan kau harus menunggu si Nick yang nggak ada kabarnya itu? Bukankah kau sendiri yang sudah mengahiri hubunganmu dengannya?"
"Aku belum siap membangun hubungan dengan pria lain."
"Usiamu sudah cukup untuk menikah, El. Seorang wanita sukses di usia 27 tahun. Apalagi sih yang kamu tunggu? Ernes jelas tak akan pernah menyakitimu."
USTAD ERNES GUYS
"Nggak usah bingung. Kalau memang dia melamar kamu, terima saja. Fans mu sangat senang saat tahu kalau kalian dekat." Jenika meninggalkan Elmira sendiri di ruangannya. Elmira menatap wajahnya ke cermin. Ia memang ingin menikah saat usianya sudah 27 tahun. Ya Allah, aku harus bagaimana?
***********
"Papa....!" panggil As saat melihat Erdana yang baru saja datang. Erdana langsung melepaskan tas kerjanya di atas meja, ia tersenyum pada anaknya.
"Papa cuci tangan dulu ya, sayang?" Erdana melangkah ke wastafel lalu mencuci tangannya. Setelah itu, ia segera menuju ke box bayi As dan mengangkat anaknya itu dari sana. Ciuman bertubi-tubi Erdana berikan di pipi montok anaknya membuat As langsung tertawa geli.
Mentari tersenyum bahagia melihat interaksi Er dan As. Ia tahu kalau sekarang hari Kamis dan merupakan gilirannya untuk bersama Erdana.
"Mas....!" sapa Mentari lalu mendekati Erdana dan mencium tangan suaminya itu. Semenjak Mentari pindah ke rumah ini, ibunya memberikan dia saran untuk memanggil Erdana dengan sebutan 'mas'. Erdana pun menyukai panggilan itu.
"As semakin pintar saja." ujar Erdana sambil menatap putranya dengan bangga. Usia As kini sudah satu tahun enam bulan.
"Dia sudah bisa panggil papa, mama, kakek, nenek. Walaupun ucapannya belum terlalu jelas."
"Apakah dia sering membuatmu repot karena sekarang As sudah bisa berlari?"'
Mentari tersenyum. "Nggak juga. Aku justru bahagia bisa sekalian olahraga saat mengejarnya."
Erdana melepaskan As karena anaknya itu ingin turun. Setelah As berlari, pengasuhnya langsung mengejar dia. "Aku mau mandi dulu." kata Erdana sambil melingkarkan tangannya di bahu Mentari. Keduanya melangkah bersama menuju ke kamar.
"Ri, pengasuh As kan ada. Jadi kamu jangan terlalu capek mengurus As sendirian."
"Mas, kamu kan tahu kalau sebenarnya aku nggak mau pakai pengasuh. Hanya saja karena kamu, ayah Wisnu, ibu Naura dan bunda Jeslin terlaku mengkhawatirkan aku mengurus As sendirian, makanya aku akhirnya pakai pengasuh juga. Pada hal kan di sini ada bi wini, ada juga suaminya yang suka ikut menjaga baby As."
Erdana menatap istrinya. Ia menarik tangan Mentari agar keduanya kini saling berhadapan. "Kamu kan nggak boleh capek, sayang. Dokter selalu mengingatkan agar kamu banyak istirahat. Bagaimana kalau tumor itu datang lagi?"
__ADS_1
Mentari memegang pipi Erdana. "Aku akan sembuh secara total demi As, demi kamu Dan juga keluarga kita. Aku selalu minum obat tepat waktu. Jangan terlalu menghawatirkan aku, ya?"
Erdana memeluk Mentari dengan erat. "Aku nggak mau kehilangan kamu, sayang. Aku ingin kita membesarkan As bersama-sama." Lalu Erdana melepaskan pelukannya, ia menunduk dan langsung mencium Mentari dengan sangat lembut. Mentari menyambut ciuman itu dengan sama lembutnya. Namun tak lama kemudian, Mentari melepaskan pertautan bibir mereka. "Mas, bagaimana Yasmin?"
"Bagaimana apanya?"
"Apakah, Yasmin belum hamil juga?"
Erdana menarik napas panjang. "Belum. Dia baru saja selesai haid 3 hari yang lalu. Kenapa?"'
"Mas dan Yasmin tak memeriksakan diri ke dokter? Dulu kan Yasmin sempat hamil. Tapi bayinya meninggal. Kenapa nggak konsultasi saja agar tahu apa masalahnya sampai Yasmin tak hamil lagi?"
"Aku takut membicarakan masalah kehamilan dengannya. Dulu, kami sempat bicara. Namun Yasmin sepertinya masih trauma untuk hamil lagi. Aku tak mau menyakitinya dengan menanyakan kenapa ia belum hamil lagi."
"Yasmin nggak menggunakan alat kontrasepsi kan?"
"Nggak. Lagian dia sekarang sedang sibuk dengan masa koas. Semalam saja ia tak pulang karena ada pasien gawat dan dokter yang seharusnya jaga berhalangan untuk hadir."
"Jadi semalam mas sendiri?"
"Iya. Yasmin pulang jam 7 pagi. Kami hanya sarapan bersama terus ia mandi dan pergi ke rumah sakit lagi."
Bagaimana Yasmin bisa hamil jika mereka jarang bersama? tanya Mentari dalam hati.
"Mas mandi dulu ya? Setelah itu kita sholat Maghrib bersama. Aku sudah mandi tadi."
Erdana mengangguk. Ia segera mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi.
**********
Langkah Yasmin terhenti saat melihat siapa yang berdiri di depannya. Andre. Sudah beberapa bulan Yasmin dan Andre tak bertemu. Semenjak mereka sibuk menjelang tugas akhir, sampai akhirnya di wisuda, Yasmin memang tak bertemu Andre lagi.
"Andre?"
Andre mendekat dan secara tak terduga ia langsung menarik tangan Yasmin. "Ayo ikut dengan ku!"
"Andre, lepaskan !" Yasmin berusaha menarik tangannya dari genggaman Andre. Mereka ada di halaman parkir rumah sakit daerah tempat Yasmin melaksanakan koas dan ia tak mau orang lain melihat mereka dan salah menduga. Karena semua sudah tahu kalau Yasmin sudah menikah.
"Tidak...! Aku sudah cukup bersabar dengan kamu, Yasmin."
"Andre lepaskan, sakit!"
"Lepaskan dia!" Prayuda tiba-tiba saja muncul dan menarik tangan Yasmin dari genggaman Andre. Ia bahkan mendorong Andre agar menjauh dari Yasmin.
"Semua karena laki-laki ini kan? Dulu kamu sendiri yang bilang kalau kita harus menjaga jarak karena kamu sudah menikah. Sekarang mantan tunangan Erdana sudah bersamanya. Lalu mengapa kamu semakin menjauh dariku? Aku kan sudah bilang padamu, Yasmin. Aku mencintaimu. Aku siap menerima dirimu apa adanya asalkan kau cerai dengan Erdana." Kata Andre terlihat putus asa. Matanya bahkan sampai berkaca-kaca.
"Aku kan sudah bilang padamu, aku nggak mungkin cerai dengan kak Erdana."
"Sebaiknya kalian bicara untuk menyesuaikan semua ini." kata Prayuda.
"Aku nggak mau pergi berdua dengannya, kak." Yasmin menggelengkan kepalanya.
"Aku akan menemanimu." bisik Prayuda. Ia kemudian menatap Andre. "Katakan, di mana kalian akan bicara."
Andre menyebutkan satu tempat. Prayuda mengangguk setuju.
*********
Bagaimana semuanya akan berakhir?.
simak terus cerita ini ya guys
terima kasih yang masih setia mengikutinya
__ADS_1