
Yasmin merasakan kalau ia masih mengantuk. Namun suara orang yang membacakan ayat suci Alquran sungguh menyejukkan hatinya. Yasmin tahu itu suara siapa. Perlahan ia membuka matanya. Pandangannya langsung tertuju pada warna putih di langit-langit dan dinding ruangan.
Seolah masih mengumpulkan memori tentang apa yang terjadi, hal pertama yang Yasmin lakukan adalah mencari asal sumber suara yang menyejukkan hatinya itu. Dan di samping kanan, Yasmin melihat ibunya sedang duduk, sambil memegang ponselnya dan melantunkan ayat-ayat suci itu.
"Ibu......!" panggil Yasmin perlahan.
Gayatri menoleh ke arah tempat tidur. Senyum manis wanita berhijab itu terlihat. Ia meletakan ponselnya di atas meja, lalu berdiri dan mendekati brangkar Yasmin. "Bagaimana perasaanmu, nak? Kau butuh sesuatu?"tanya Gayatri sambil membelai rambut anaknya.
"Aku haus!"
Gayatri mengambil gelas yang berisi air putih. Yasmin mencoba untuk bangun namun ia merasakan sakit di perutnya.
"Kenapa perutku sakit? Sepertinya ada luka." Yasmin mencoba meraba perutnya namun Gayatri menahan tangannya. Ia mengambil sedotan dan memasukannya ke dalam gelas agar Yasmin dapat meminumnya walaupun dalam keadaan tidur.
Selesai minum, Yasmin mencoba menyentuh kembali perutnya.
"Apa yang terjadi denganku, bu? Apakah aku dioperasi? Sesuatu yang buruk telah terjadi? Anakku? Apakah anakku terlanjur lahir?" Yasmin bertanya secara bertubi-tubi. Ia berusaha untuk duduk namun Yasmin menahan tangannya.
"Yasmin.....! Jangan dulu duduk. Lukanya masih terlalu basah."
Jantung Yasmin seakan berhenti berdetak. Ia mengingat kembali kejadian di dalam gedung olahraga.
"Bagaimana anakku?" teriak Yasmin sedikit histeris diantara Isak tangisnya.
Naura yang baru saja datang, langsung masuk saat mendengar tangis histeris Yasmin.
"Mengapa Allah mengambil anakku?" teriak Yasmin diantara Isak tangisnya.
"Yasmin sayang, istighfar, nak." ujar Naura sambil mendekat.
Dokter bersama dua orang perawat datang. Mereka langsung menyuntikan obat penenang bagi Yasmin. Tak sampai 3 menit, Yasmin langsung terbaring lemah. Walaupun ia terlihat masih menangis, namun ia tak lagi memberontak. Dan perlahan ia pun tertidur.
"Dia pasti sedih, mba. Walaupun awal kehamilannya, ia tak menginginkan kehadiran anak ini, namun seiring dengan berjalannya waktu, perasaan keibuannya pasti tumbuh. Aku juga sebenarnya sangat terpukul. Ayah dan ibu mertua baru saja meninggal. Eh, sekarang cucu kita pun meninggal." Gayatri terlihat sedih.
"Aku juga sedih. Tapi harus bagaimana lagi? Kita harus menjadi kuat demi anak-anak kita." Ujar Naura sambil mengusap punggung besannya itu. Gayatri langsung memeluk Naura sambil menangis. Ia bersyukur karena Naura sangat perhatian kepada keluarganya. Apalagi sekarang mereka sudah menjadi besan.
**********
Prosesi pemakaman sudah selesai. Erdana sebenarnya masih enggan meninggalkan makam anaknya. Hatinya sakit atas rasa kehilangan yang dalam. Namun karena ayah dan bapak mertuanya sudah memanggil dia, dengan langkah yang berat, ia pun mengikuti langkah mereka.
Karena hari sudah menjelang sore, mereka pun mampir di sebuah masjid untuk menunaikan sholat magrib.
Selesai sholat dan menikmati makan malam di sebuah restoran, Erdana memilih untuk singgah dan mandi di rumah orang tuanya. Satria sendiri langsung ke rumah sakit dan memilih mandi di sana karena rumah sakit tempat Yasmin dirawat adalah rumah sakit milik keluarga mereka.
Erdana pun setelah mandi dan ganti pakaian, langsung memutuskan ke rumah sakit.
Ketika ia tiba di ruangan perawatan Yasmin, istrinya itu masih tidur.
"Ayah dan ibu istirahat saja di rumah. Biar malam ini aku yang menjaga Yasmin." ujar Erdana.
"Tapi besok kamu kan harus kerja, nak. Kamu juga seharian ini pasti lelah karena mengurus pemakaman anakmu. Biar ibu saja yang menjaga Yasmin." ujar Gayatri.
"Aku sudah bawa baju ganti untuk ke kantor besok."
Melihat menantunya yang bersikeras untuk tinggal, Gayatri pun setuju. Ia dan Satria pulang malam ini dan akan datang besok pagi-pagi.
Sepeninggalan mertuanya, Erdana memilih merebahkan tubuhnya di sofa. Ia memang sangat lelah hari ini. Namun, entah karena apa juga, sepanjang hari ini ia memikirkan Mentari. Erdana merasa ada sesuatu yang terjadi dengan Mentari.
Lelah dengan semua yang terjadi, Erdana akhirnya tertidur.
__ADS_1
"Ibu......, bu.......!"
Suara Yasmin yang memanggil ibunya membangunkan Erdana. Dengan gerakan cepat ia bangun dan mendekati tempat tidur Yasmin.
"Ibu sama ayah sudah pulang untuk istirahat di rumah. Perlu sesuatu?" tanya Erdana sambil sekilas melirik ke arah jam tangannya yang menunjukan waktu pukul 10 malam.
Melihat Erdana yang datang, tiba-tiba saja tangis Yasmin langsung pecah. Ada perasaan bersalah yang menyeruak dari lubuk hatinya yang dalam atas kehilangan anak mereka.
"Kenapa menangis?" tanya Erdana bingung.
"Maafkan aku, kak. Aku tak sengaja membuatnya pergi. Aku sungguh menyesal." Yasmin menatap Erdana dengan tatapan penuh penyesalan.
"Jangan merasa bersalah. Ini sudah kehendak Allah. Kamu jangan menyusahkan dirimu sendiri."
"Andai saja aku tak pergi ke gedung olahraga itu."
Erdana memberanikan diri memegang tangan Yasmin. "Sst...., sudahlah!" Ia menghapus air mata Yasmin dengan ibu jarinya. "Kau harus kuat menerima semua ini. Menyesali sesuatu yang tak mungkin kembali tak ada gunanya."
Yasmin menarik tangannya dari genggaman Erdana.
"Tadi ibu berpesan, jika kamu bangun, harus makan. Nenek Kumala membuatkan bubur jahe. Ini pasti masih panas karena disimpan di termos makanan. Makan ya?"
Yasmin mengangguk walaupun sebenarnya ia tak begitu lapar.
Erdana menaikan bagian tempat tidur di bagian atas sehingga Yasmin tak perlu untuk duduk. Setelah merasa cukup dengan ketinggian yang akan membuat Yasmin merasa nyaman, ia pun menuangkan bubur di mangkuk yang sudah tersedia di sana, menarik sebuah kursi untuk diletakan di samping tempat tidur Yasmin.
"Boleh aku suapi?" tanya Erdana meminta ijin karena ia tahu bagaimana hubungan mereka selama ini.
Yasmin mengangguk karena ia tahu bahwa keadaan tubuhnya membuat ia belum bisa makan sendiri.
Saat suapan pertama masuk ke dalam tubuhnya, Yasmin merasakan bahwa bubur itu sangat enak.
"Enak?" melihat ekspresi wajah Yasmin membuat Erdana bertanya.
"Nenek Kumala memang sangat pintar membuat bubur dalam berbagai macam rasa."
Yasmin tersenyum tipis. Ia tahu bagaimana baiknya nenek Kumala. Sejak kecil Yasmin sudah mengenal wanita yang sangat pintar menari itu.
"Cukup!" kata Yasmin saat Erdana akan menyuapinya lagi.
"Tinggal sedikit. Habisin ya?"
Yasmin menggeleng dan Erdana pun tak mau memaksa. Ia meletakan mangkuk bekas bubur itu di atas nakas lalu mengambil air hangat untuk Yasmin dari dispenser yang tersedia di ruangan itu.
Yasmin meminumnya sampai setengah.
"Mau ku turunkan sandarannya lagi?" tanya Erdana.
"Begini dulu."
Erdana mengangguk. Ia duduk di kursi sambil melipat tangannya di dada. Tak lama.kemudian ia terlihat mulai mengantuk lagi.
"Tidurlah, kak!" kata Yasmin melihat Erdana yang nampak berusaha menahan kantuknya namun terlihat kalau ia memang sudah tak bisa .
"Bagaimana denganmu?"
"Aku juga mau tidur lagi."
Erdana pun menurunkan bagian tempat tidur yang dinaikannya tadi.
__ADS_1
"Panggil aku jika kau perlu sesuatu."
Yasmin hanya mengangguk. Erdana pun kembali ke sofa tadi. Tak lama setelah ia membaringkan tubuhnya, ia langsung terlelap. Yasmin pun kembali memejamkan matanya
***********
Pagi harinya, Gayatri dan Satria datang tepat pukul 7. Erdana pun mandi dan segera bersiap ke kantor karena ia ada pekerjaan penting.
"Er, nggak sarapan dulu? Ibu membawa nasi goreng." ujar Gayatri saat dilihatnya sang menantu sudah siap.
Merasa tak enak hati untuk menolak, Erdana pun menikmati nasi goreng buatan sang mertua. Setelah itu ia segera pamit untuk pergi ke kantor.
Satria berbicara dengan dokter kandungan dan ahli bedah yang menangani Yasmin. Mereka mengatakan kalau Yasmin sudah boleh turun dari tempat tidur pagi ini untuk menggerakkan badannya agar lukanya cepat sembuh.
Tak lama kemudian, Naura pun datang bersama Kumala. Yasmin mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang penuh dari semua keluarga yang membuat ia sejenak melupakan anaknya yang telah pergi.
Menjelang sore, Andrey Vita dan beberapa teman kampusnya datang. Vita nampak merasa bersalah karena ia yang mengajak Yasmin ke gedung olahraga.
"Sudahlah Vit. Jangan kau merasa bersalah. Aku sudah menerima ini dengan ikhlas. Aku bahkan meminta ayahku untuk tak menuntut dua orang cowok yang menabrakku."
Vita tersenyum mendengar perkataan Yasmin walaupun terlihat masih ada beban di raut wajahnya.
Andre pun mendekat. Ia membawakan kue nastar kesukaan Yasmin. Kue buatan mamanya Andre.
"Semoga cepat sembuh, Yas. Aku memeriksa buku mu yang ketinggalan. Aku sudah memasukan tugasmu."
"Makasi ya...." Yasmin merasa senang.
"Tas, dompet dan ponselmu juga disimpan oleh Vita saat kejadian itu. Ia juga sudah membawanya saat ini." Ujar Andre lagi dan Vita meletakan semua barang-barang Yasmin di atas meja.
"Terima kasih ya, semuanya."
Setelah puas bercakap-cakap, yang lain pun pamit pulang, meninggalkan Yasmin dan Andre sendiri. Gayatri sedang pulang mandi sedangkan Satria meninggalkan ruangan anaknya untuk memeriksa keadaan pasiennya ketika rombongan itu datang.
"Yas, bagaimana keadaanmu?" tanya Andre.
"Alhamdulillah. Sudah mulai membaik walaupun luka bekas operasinya masih sakit jika aku banyak bergerak."
"Aku sangat takut sesuatu yang buruk terjadi denganmu saat itu. Soalnya waktu aku mengangkat mu, aku bahkan tak bisa merasakan denyut nadi mu saat ku pegang. Mungkin aku yang terlalu gugup. Aku takut jika kau meninggal."
Hati Yasmin bergetar mendengar perkataan Andre. Namun ia berusaha menepis semua perasaan itu. Ia adalah wanita yang bersuami.
"Yas, aku.....!"
Pintu kamar Yasmin terbuka. Ternyata Erdana yang masuk. Ketiganya saling bertatapan dengan perasaan canggung. Erdana yang lebih dewasa berusaha untuk menetralkan suasana.
"Assalamualaikum!" sapanya sambil tersenyum.
"Waalaikumsalam!" balas Yasmin dan Andre kompak.
Suasana kembali menjadi canggung. Erdana pura-pura masuk ke dalam kamar mandi. Akhirnya Andre pamit pulang.
"Aku akan mengejar kamu kembali, Yas." kata Andre sedikit berbisik sebelum ia meninggalkan ruangan perawatan Yasmin.
Jantung Yasmin rasanya mau copot mendengar perkataan Andre. Bersamaan dengan Andre yang pergi, Erdana pun keluar dari kamar mandi.
**********
Bagaimana kisah ini berlanjut?
__ADS_1
Terima kasih karena sudah membacanya ya?
Jangan lupa dukung emak guys....