
Pembacaku sayang.....
di deskripsi cerita ini sudah aku jelaskan novel ini jenisnya apa. Jadi aku harap para pembaca memahami alur cerita ini akan seperti apa. Thanks.
***********
Yasmin menatap lengannya yang terus dipegang oleh Erdana. Badan Erdana masih panas dan sesekali ia mengigau.
"Jangan tinggalin aku, RI. Jangan pergi!" itu yang Erdana ucapkan secara berulang-ulang.
Akhirnya, Yasmin menelepon ayahnya dan memberitahukan keadaan Erdana sambil meminta ayahnya untuk mengirimkan obat ke apartemen Erdana.
Satu jam kemudian, pak Dino datang membawakan obat.
"Tuan dokter berpesan kalau sebaiknya tuan Erdana diberikan makanan yang lunak dulu seperti bubur. Jangan sembarangan memesan bubur, sebaiknya dibuat sendiri." Kata pak Dino sebelum pergi.
Yasmin tertegun di depan pintu masuk. Pak Dino sudah pergi namun ia masih ada di sana.
"Membuat bubur sendiri? Memangnya ayah tahu apakah aku bisa masak?" Yasmin bertanya pada dirinya sendiri. Ia bingung harus bagaimana. Akhirnya ia masuk ke dalam apartemen lagi.
Tak mungkin memberikan Erdana obat tanpa memberikannya makan.
Yasmin akhirnya membuka teritorial cara membuat bubur di internet.
Selama satu jam ia mencobanya dan akhirnya berhasil. jarinya melepuh, dapur nampak berantakan dan hasil bubur agak sedikit gosong.
"Ya Allah, apakah ini pantas dimakan?" Yasmin mencoba sedikit. "Lumayan juga." Ia kemudian membubuhi garam sedikit lalu membawanya ke ruang tamu.
"Kak...., ayo makan dulu!" Yasmin membangunkan Erdana.
Perlahan Erdana membuka matanya. "Aku tidak lapar, Ri."
Yasmin mengerutkan dahinya. RI? Apakah kak Erdana menganggap aku sebagai kak Mentari?
"Kak, makan dulu sedikit, selanjutnya minum obat."
"Suapi...!" kata Erdana sok manja tanpa membuka matanya.
Yasmin jadi kesal sebenarnya. Namun ia menyuapi Erdana juga.
"Kok buburnya nggak enak. Kamu kan sudah pintar membuat bubur seperti yang nenek Kumala ajarkan."
Tangan Yasmin sudah terulur untuk menjitak kepala Erdana namun ia berusaha sabar. Ia tak mengira kalau Erdana sangat manja kalau sakit. "Makan aja. Supaya bisa minum obat. Nggak baik minum obat tapi perutnya kosong."
Erdana membuka kembali mulutnya. Setelah empat suapan Erdana menggeleng kepalanya. "Aku nggak mau. Jadi mual. Buburnya nggak enak."
Yasmin memegangi dahi Erdana. "Masih panas. Dia terus menyangka kalau aku adalah kak Mentari. Biar saja, yang penting dia makan dan minum obat." Yasmin bergumam sendiri sambil menyiapkan obat untuk diminum oleh Erdana.
"Ayo di minum obatnya." Yasmin membantu Erdana untuk mengangkat kepalanya. Walaupun masih dengan mata yang terpejam, Yasmin akhirnya berhasil membuat Erdana menelan 3 butir obatnya.
Setelah itu, Erdana kembali tidur. Yasmin melihat kalau kemeja Erdana sudah basah dengan keringat.
"Kalau bajunya nggak diganti, nanti dia tambah sakit." Yasmin akhirnya menaiki tangga. Selama ini ia tak pernah ke lantai dua. Ini kali pertama ia menaiki tangga.
__ADS_1
Di lantai dua ternyata ada juga ruang tamu kecil yang hanya di alasi karpet dan beberapa bantai khusus lantai, ada juga TV dan alat sound sistem lainnya.
Langkah Yasmin berhenti di depan kamar. Perlahan ia membuka pintu kamar itu. Ia takjub dengan kamar bernuansa putih itu. Kamarnya sangat rapih, bersih dan harum. Yasmin memperhatikan isi kamar ini. Ada ranjang king size dengan seprei berwarna hijau lumut. Ada meja nakas di samping kanan dan kiri ranjang, di atasnya ada foto Yasmin dan Erdana yang sedang memakai kebaya dan jas. Lalu foto yang lain adalah foto Yasmin yang sedang berdiri di depan menara Eiffel.
Di bagaian lain kamar ini ada sebuah meja hias dan Yasmin dapat melihat ada peralatan make up perempuan di sana. Yasmin melangkah menuju ke sebuah pintu berwarna putih juga. Ternyata itu pintu walk in closet.
Erdana ternyata orangnya sangat rapih. Semua pakaiannya tertata dengan rapih demikian juga di laci ada koleksi jam tangan, dasi dan ikat pinggang.
Saat Yasmin mencari pakaian rumah Erdana di bagian lemari yang lain, ia melihat ada pakaian wanita di sana. Bahkan ada beberapa lingre, baju dalam wanita dan sepatu wanita.
Apakah semuanya ini milik kak Mentari? Apakah dia biasa menginap di sini? Apakah mereka sudah hidup bersama tanpa ikatan?
Yasmin buru-buru menggelengkan kepalanya. "Ini bukan urusanku. Sedalam apa hubungan mereka, biarlah mereka saja yang tahu." Dia akhirnya menemukan kaos rumahan Erdana. Ia mengambilnya 2 potong lalu segera keluar dari kamar itu.
Sesampainya di bawah, Yasmin pun dengan berat hati membuka kemeja yang Erdana kenakan. Cowok itu nampak tertidur lelap. Mungkin pengaruh obat yang diminumnya. Agak susah juga Yasmin mengeluarkan kemeja itu dari tubuh Erdana.
Tubuh Erdana nyaris sempurna sebagai seorang lelaki. Yasmin melihat ada alat gym di lantai dua. Pasti Erdana rajin berolahraga ditengah kesibukan pekerjaannya di dua perusahaan.
Yasmin mengambil handuk kecil untuk mengeringkan keringat di tubuh Erdana lalu ia memakaikan kaos oblong untuk Erdana.
Karena kondisi Erdana yang belum stabil, Yasmin memilih tidur di bagian sofa yang lain. Ia pun akhirnya terlelap karena sangat lelah.
**********
Erdana bangun saat Yasmin masih tidur. Ia terkejut mendapati dirinya sudah berganti pakaian bagian atas. Saat ia duduk dan mencoba mengingat apa yang terjadi, matanya menatap Yasmin yang ikut tertidur di bagian sofa yang lain. Pandangan di depannya membuat Erdana sedikit terusik.
Yasmin tidur hanya menggunakan celana pendek yang mengekspos paha mulusnya. Ia juga menggunakan kaos yang longgar namun sedikit sudah terangkat sebagian sehingga bagian perutnya juga sedikit terlihat.
Mata Erdana langsung terbelalak melihat dapur yang berantakan, bekas bubur yang mengotori kompor gasnya.
Jadi yang semalam aku bukan mimpi diberikan bubur sedikit gosong? Aku pikir Mentari yang menyuapi ku. Ternyata itu adalah Yasmin. Berarti dia yang mengurus aku, menggantikan bajuku dan memberikan aku obat.
Erdana langsung menuangkan air di gelasnya. Saat ia selesai minum, tangannya yang masih lemah tak sengaja menjatuhkan gelas saat akan diletakan di atas tempat cuci piring.
"Sial.....!"
Erdana akan mengambil sapu dan membersihkannya namun ia masih merasa pusing.
"Biar aku saja yang bersihkan!" Yasmin yang terbangun karena bunyi gelas yang jatuh segera mengambil sapu yang sudah dipegang oleh Erdana.
"Bersihkan juga dapurnya. Kau membuat bubur atau hendak meledakan dapur sih?" tanya Erdana sedikit mengejek sambil melangkah pelan menuju ke ruang tamu.
"Masih untung ku buatkan bubur. Dasar tak tahu berterima kasih." umpat Yasmin.
Erdana mencari ponselnya yang ternyata ada di atas meja. Ia segera menghubungi ibunya dan meminta seorang pelayan untuk datang ke apartemen.
Yasmin yang mendengar Erdana meminta ibunya datang bersama pelayan, merasa senang karena ia tak harus membersihkan dapur apalagi mengurus Erdana yang sakit dan sok manja.
**********
Dapur sudah berhasil dibersihkan. Pelayan yang datang bersama Naura kini sedang mencuci pakaian Yasmin dan Erdana.
Naura pun sudah membuat bubur jahe untuk putranya. Ia meminta Yasmin untuk duduk di sampingnya dan memperhatikan ibu mertuanya itu dalam menyiapkan bubur.
__ADS_1
Sebenarnya Yasmin ingin pergi ke kampus namun ia tak enak meninggalkan ibu mertuanya.
"Erdana memang kalau sakit sangat manja. Dulu saja ibu nggak boleh pergi dari sisinya saat ia sakit. Ia akan menangis." kata Naura membuat Yasmin mengerti kenapa Erdana bersikap seperti itu semalam.
Siang harinya Naura menyuapi Erdana yang kini sudah tidur di kamarnya.
Naura mengambil foto-foto Mentari dan memasukannya ke dalam laci nakas.
"Abang, kamu sudah menikah dengan Yasmin. Kenapa masih menyimpan fotomu bersama Mentari? Itu namanya kau tak menghargai dia sebagai istrimu." ujar Naura sambil menyuapi anaknya.
"Kami kan tidak tidur di kamar yang sama. Kami tak saling mencintai. Yasmin pasti juga nggak peduli foto Mentari ada di apartemen ini. Toh dia sendiri masih juga mencintai Andre."
"Abang....!" Naura menyentil dahi putranya.
"Sakit, bu." keluh Erdana.
"Apakah selamanya rumah tangga kalian akan seperti ini? Ibu tahu tak mudah bagimu melupakan 7 tahun kebersamaan mu dengan Mentari. Namun bukan berarti itu tak bisa abang lakukan."
"Yasmin sendiri juga tak mau membangun komunikasi yang baik denganku."
"Abang yang harus memulainya. Karena abang adalah kepala rumah tangga. Semalam kan Yasmin sudah mengurus abang. Itu kan sebagai tanda kalau Yasmin sudah sedikit berubah."
Erdana menolak suapan terakhir dari ibunya. "Aku mau tidur, bu. Masih pusing." Erdana beralasan. Sebenarnya ia pusing mendengar permintaan ibunya.
Naura pun akhirnya pamit untuk pulang setelah menyiapkan makan malam bagi anak dan menantunya. Sang pelayan yang bersamanya juga sudah selesai menyetrika pakaian yang tadi pagi di cuci nya.
"Yas, tolong bawa pakaian Er ke atas ya? Ibu mau pulang dulu!"
Yasmin menganggu lalu mengantar mertuanya sampai di depan pintu. Saat ia menutup pintu, ia pun segera menuju ke ruangan laundry untuk mengambil pakaian dan membawanya ke kamar Erdana.
Saat Yasmin masuk, dilihatnya Erdana masih tidur. Ia bersyukur karena tak perlu berbasa-basi dengan Erdana. Secara pelan Yasmin membuka lemari walk in closet lalu masuk ke dalam untuk mengatur pakaian Erdana.
Ketika semuanya sudah ia letakan di laci menurut jenis pakaiannya, Yasmin bermaksud akan menutup pintu lemari namun tangannya tak sengaja menjatuhkan sebuah kotak yang berisi kertas-kertas. Ternyata itu tanda bukti pembayaran kartu kredit Erdana. Cowok itu ternyata sangat teliti menyangkut pengeluaran sehingga ia menyimpannya. Yasmin memasukan kertas itu satu persatu ke dalam kotaknya sampai matanya menatap satu kertas bukti pembayaran pakaian di butik milik Mentari.
"Inikan jenis pakaian seperti yang dibelikan ibu mertua padaku. Tanggalnya juga sama. Apakah pakaian itu dibelikan Erdana namun ia meminta ibu mertuanya mengakuinya kalau beliau yang membelikan itu untukku?" Guman Yasmin. Ia menyimpan kembali kertas itu dan keluar dari dalam walk in closet. Di tatapnya Erdana yang nampak sedang terlelap.
Wajah tampan blesteran Turki itu nampak tenang.
Yasmin mengusap wajahnya saat hatinya mengakui ketampanan Erdana. Sial! Kenapa aku harus mengaguminya?
Dengan cepat Yasmin meninggalkan kamar Erdana. Aku membencinya!
**********
Mentari berdiri di depan kaca. Tangannya sedikit bergetar memegang kepalanya. Tak ada lagi rambutnya yang indah. Rambut yang sangat disukai Erdana. Kini kepala Yasmin sudah botak. Karena operasi yang harus dijalaninya.
**********
Nah, emak up dua kali kan hari ini?
Makasi sudah baca ya guys...
dukung emak terus ya......
__ADS_1