
Saat pagi hari Yasmin bangun, ia tak menemukan lagi Prayuda ada di ruang tamu. Ia hanya menemukan secarik kertas yang ditempelkan Prayuda di pintu kulkas.
Selamat pagi, terima kasih untuk tumpangannya. Aku sekarang mencari hotel. Nanti kita ketemu lagi jika kau sudah tak *sibuk. I l**ove you*.
Entah mengapa hati Yasmin bergetar membaca kalimat terakhir yang di tuliskan Prayuda. Selama ini, ia tak tahu kalau Prayuda adalah tipe pria kalem yang tak pernah mengeluarkan kata-kata manis. Atau mungkin ini sisi lain Prayuda yang selama ini tersembunyi.
Yasmin pun mengambil hp nya. Ia membuka nomor Prayuda yang selama ini diblokirnya. Kemudian ia menghubungi pria itu.
"Hallo, kak Pra? Sudah dapat hotelnya?"
"Sudah, Yas. Tak jauh dari apartemen mu. Sebuah hotel kecil namun lumayan juga. Kamar mandinya juga bersih."
"Baguslah. Kenapa kakak pergi tanpa menunggu aku bangun?"' tanya Yasmin.
"Soalnya jika aku sudah melihatmu, aku pasti tak akan jadi pergi."
"Ih..., kakak ini..." Yasmin jadi malu. Untung saja Prayuda tak ada di dekatnya.
Terdengar kekehan Prayuda dari seberang. Hati Yasmin menjadi semakin berbunga-bunga.
"Kak, aku mau bersiap dulu untuk ke kampus ya? Hari ini adalah hati terakhir ujian sekaligus hari terakhir masuk kampus. Kami akan libur musim dingin."
"Baiklah. Semoga sukses dengan ujiannya. Bye."
Yasmin meletakan ponselnya di atas meja. Ia menatap wajahnya pada cermin besar yang ada di sana. Mengapa aku menjadi seperti ini ya? Aku jadi ingat saat pertama kali jatuh cinta dengan Andre. Bawaannya ingin tersenyum saja. Kayak ABG saja.
*********
Yasmin tersenyum senang. Ia akan menikmati libur musim dingin selama satu bulan. Yasmin akan fokus tugas di rumah sakit. Namun kali ini, ia mengambil satu minggu untuk menikmati kebersamaannya dengan Prayuda. Yasmin jadi senyum-senyum sendiri memikirkan itu.
"Baby.....!" William tiba-tiba muncul dan langsung melingkarkan tangannya di bahu Yasmin.
"Hallo, Wil."
"Bagaimana ujiannya?"
"Lancar."
"Aku tak meragukan itu karena kamu memang sangat pintar. Kita pergi liburan yuk!" ajak William.
"Aku....."
"Mau tugas lagi di rumah sakit? Ayo dong, kita jalan-jalan dulu. Main sky atau pergi ke Swiss."
Yasmin tersenyum. William memang orangnya sangat asyik. Tak akan pernah habis bahan cerita jika bersama William. Namun Yasmin selalu menganggapnya sebagai teman. Tak mungkin lebih.
"Wil, aku....!" Ucapan Yasmin terhenti melihat siapa yang berdiri di ujung koridor kampus.
Tatapan Pra sangat tajam dan menusuk. Yasmin dengan cepat menurunkan tangan William yang masih melingkar di bahunya.
"Itu pria yang semalam kan? Memangnya dia..."
"Aku adalah pacar Yasmin." kata Prayuda menyela ucapan William. Yasmin sendiri terkejut mendengar apa yang Prayuda katakan.
"Pa...car?" William mengulangi kalimat Prayuda.
__ADS_1
"Iya. Aku dan Yasmin sudah jadian tadi malam." kata Prayuda membuat William semakin terkejut. Ia memandang Yasmin untuk meminta penjelasan pada gadis itu .
"Aku..." Yasmin bingung.
William terlihat kecewa. Namun ia mengerti. Sejak pertama ia kenal Yasmin, gadis itu sama sekali tak pernah memberikan dia harapan apapun. Yasmin hanya menganggapnya sebagai sahabat.
"Well, selamat ya? Namun kamu akan tetap menjadi baby ku. Bye..." William memeluk Yasmin lalu mencium pipi kanan dan kiri gadis itu.
"Bye...." Hanya itu yang Yasmin katakan saat melihat William yang berjalan meninggalkan mereka.
"Ini." Prayuda mengulurkan sapu tangannya.
"Untuk apa sapu tangan?" tanya Yasmin bingung.
"Hapus bekas ciumannya di pipimu."
"What?" Yasmin terkejut. Prayuda bisa posesif seperti ini?
Melihat Yasmin yang masih bengong, Prayuda langsung menyeka pipi Yasmin dengan sapu tangan yang ia pegang.
"Kak...., tunggu dulu." Yasmin menahan tangan Prayuda yang masih menyeka pipinya.
"Ada apa?"
"Semalam kan kakak bilang nggak mau pacaran denganku. Kenapa tadi mengaku kalau kita sudah jadian?"
"Ya supaya William tak menganggu kamu lagi. Kecuali memang kamu punya perasaan khusus untuknya." Kata Prayuda dengan wajah sedikit merah.
"Memangnya kenapa kalau William menganggu aku?"
"Kamu adalah milikku, Yasmin. Aku tak akan membiarkanmu bersama dengan pria lain."
"Bukankah semalam kak Pra mengatakan kalau akan pulang ke Indonesia jika jawabanku adalah tidak?"
Wajah Prayuda menjadi semakin tegang. "Setidaknya aku masih punya harapan sebelum waktuku untuk ada di sini berakhir."
Yasmin tersenyum. "Kakak cemburu kan?"
"Iya."
"Itu berarti kakak....." Kalimat Yasmin langsung terhenti karena Prayuda sudah menarik tubuh Yasmin untuk ada dalam pelukannya dan tanpa diduga Prayuda langsung mencium bibir Yasmin dengan sangat lembut. Yasmin terkejut mendapatkan serangan secara tiba-tiba seperti itu. Ciuman itu membuat tubuh Yasmin menjadi tegang. Tanpa sadar ia memejamkan matanya. Ia ingin menampar Prayuda karena sudah sembarangan menciumnya namun ciuman itu menyenangkan hatinya. Yasmin tak membalas dan tak juga menolak. Sampai akhirnya Prayuda melepaskan pertautan bibir mereka. Dengan wajah yang bahagia, Prayuda membelai bibir Yasmin dengan ibu jarinya.
"Sekarang kau sudah menjadi milikku."
"Kak, aku belum bilang iya." ujar Yasmin dengan wajah memerah.
"Mau ku cium satu kali lagi untuk membuktikan bahwa di hatimu hanya ada aku?"
"Tapi aku mau kita pacaran dulu, kak."
"Nanti saja kalau sudah menikah baru kita pacaran."
"Nggak seru, ah. Aku ingin menikmati masa-masa pacaran walau hanya sebentar."
Prayuda tersenyum. "Berarti kamu sudah menerimaku, kan?"
__ADS_1
"Sebagai pacar. Aku belum mau menerima lamaran kakak."
"Kenapa?"
"Aku ingin merasakan seperti yang lain, kak. Bagaimana indahnya kencan, marahan, baikan lagi, nonton bersama."
"Aku sudah terlalu tua untuk...."
"Saat...!" Yasmin meletakan jari telunjuknya di bibir Prayuda. "Siapa bilang kakak sudah tua?"
"Yas, sesungguhnya aku tak punya banyak pengalaman dalam hal berkencan. Aku dan Gisel juga dulu jarang melakukan hal-hal layaknya ABG yang pacaran. Kami hanya sesekali makan di luar selebihnya menghabiskan waktu di apartemennya atau apartemenku."
Yasmin menatap Prayuda. "Akan ku ajari cara berkencan yang romantis. Aku sudah banyak nonton drama Korea."
Prayuda tertawa. Entah mengapa hatinya sangat bahagia. Ia kembali memeluk Yasmin. "Aku mencintaimu, Yas. Sangat mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, kak."
Prayuda melepaskan pelukannya. Ia menangkup pipi Yasmin dengan kedua tangannya. "Benarkah?"
"Memangnya kakak tak dapat melihatnya?"
"Aku melihatnya. Cinta itu ada di pancaran matamu." Lalu Prayuda menunduk dan kembali mencium bibir Yasmin. Kali ini Yasmin membalasnya. Keduanya tak peduli dengan salju yang semakin deras turunnya. Mereka berdua merasa hangat oleh indahnya perasaan cinta yang kini tumbuh dalam hati mereka.
***********
Yasmin tersenyum bahagia saat Prayuda menggandeng tangannya ketika mereka keluar dari gedung bioskop di salah satu mall yang ada di New York ini.
"Filmnya romantiskan?" tanya Yasmin.
"Romantis. Tapi aku agak kesel dengan pasangan yang duduk di sebelah mu. Mereka sebenarnya mau menonton atau bermesraan sih?"
"Mereka asyik, kok. Terlihat saling menyayangi."
"Menyayangi apanya? Tadi saat si cewek ke toilet, aku melihat laki-laki itu menatapmu dengan penuh hasrat. Ingin rasanya aku menonjok wajahnya."
Yasmin menghentikan langkahnya. Di tatapnya Prayuda tanpa.melepaskan pertautan jari mereka. "Kakak ternyata sangat posesif dan pencemburu ya?"
"3 tahun aku menunggu sehingga akhirnya hari ini tiba. Aku bahagia sampai akan menjadi gila kalau ada pria lain yang memandangmu."
Yasmin mencium tangan Prayuda yang ada dalam genggamannya. "Aku tak akan berpaling darimu, kak."
"Terimalah lamaranku."
"Belum. Aku mau kita pacaran dulu. Sekarang kita pergi makan, ya?"
Prayuda mengacak rambut Yasmin. Lalu mengangguk dan segera melingkarkan tangannya di bahu Yasmin. Prayuda sendiri tak mengerti mengapa ia begitu takut kehilangan Yasmin saat ini.
*************
Selamat siang
pendukung Er Yas,
Nggak kecewa karena Yasmin nggak balikan sama Erdana kan? semoga bisa melihat bahwa Yasmin berhak menjadi satu-satunya dari pria yang baik seperti Prayuda.
__ADS_1