
Mentari mencoba mencari kehangatan karena tubuhnya merasa dingin. Ia tahu beberapa jam yang lalu, dia dan Erdana baru saja menikmati kepuasan dalam hubungan suami istri, dan mentari langsung tertidur tanpa mengenakan apapun. Ia tertidur sambil memeluk tubuh Erdana.
Perlahan ia membuka matanya. Ia tak menemukan kalau Erdana ada di sampingnya. Mentari pun bangun dan mencari pakaiannya yang berserakan di atas lantai. Setelah ia mengenakannya kembali, ia pun mencoba mencari keberadaan Erdana. Mata Mentari tertuju ke arah pintu balkon yang terbuka sedikit. Erdana sedang berdiri di sana, mengenakan kembali piyamanya. Ia berdiri sambil menatap jauh ke depan. Mentari tahu, ada sesuatu yang Erdana pikirkan.
Perlahan Mentari membuka pintu balkon tanpa mengeluarkan suara. Ia berdiri di depan pintu sambil terus memperhatikan Erdana.
"Mas.....!"
Erdana menoleh dengan kaget. "Mentari? Kenapa bangun?"
"Mas ada apa?" Mentari mendekat dan memeluk Erdana dari belakang. "Seharusnya mas kan tidur. Memangnya nggak capek naik pesawat dari Papua ke Jakarta? Belum lagi aktifitas kita yang tadi."
"Aku baik-baik, saja. Hanya ingin menikmati angin segar sebentar." Erdana membalikan tubuhnya. Menatap Mentari dengan rasa bersalah karena sudah membiarkan Mentari sendiri. "Ayo kita masuk. Udaranya dingin!" Erdana langsung mengajak Mentari masuk. Keduanya naik lagi ke atas ranjang. Erdana memeluk Mentari dari belakang.
"Tidurlah!" kata Erdana walaupun ia sendiri tak bisa memejamkan matanya.
************
"Good morning, Daddy!" As melompat ke pangkuan papanya.
"Good morning sayang. As sudah makan?"
"Sudah." As mencium pipi papanya lalu turun lagi dari pangkuan papanya.
"As mau ke mana?" tanya Erdana.
"Main sepeda." teriak As lalu mengikuti langkah satpam yang sudah mendorong sepada As. Erdana memang sedang duduk di teras samping.
"Mas....!" Panggil Mentari
"Aku di sini!"
Mentari tersenyum saat melihat suaminya. Walaupun hatinya sedih karena ada lingkaran hitam dibawa mata Erdana yang menunjukan bahwa ia memang tak tidur tadi malam.
"Ri, besokan tanggal merah, aku....aku mau tanya kepadamu, apakah aku boleh menggunakan hari itu untuk pergi dengan Yasmin?" tanya Erdana dengan sedikit rasa tak enak karena besok adalah hari Jumat dan itu masih harinya untuk bersama Mentari.
Mentari mengangguk dengan cepat. "Tentu saja boleh. Mas memang harus memiliki waktu luang untuk bersama Yasmin karena kalau hari-hari lain, mas sibuk, Yasmin juga sibuk. Sekalian aja mas liburan dengannya. Jumat, Sabtu dan minggu."
Erdana terkejut. "Tapi, waktu ku bersamamu?"
"Tenang saja, mas. Aku nggak akan pernah kesepian. Ada As yang selalu menemaniku. Aku senang karena mas ingin memiliki waktu khusus untuk Yasmin. Selesaikan masalah kalian dengan baik, ya?"
"Terima kasih."
Mentari bernapas lega walaupun jauh di lubuk hatinya sebenarnya ia ingin berlibur bersama Erdana juga. Tadi dia mencari Erdana karena melihat sebuah tempat wisata baru yang ada di Bandung. Namun saat Erdana mengutarakan maksudnya, Mentari memilih mengalah karena ia tahu Yasmin saat ini membutuhkan perhatian dari Erdana.
***********
"Maksud kamu apa sih, Andre? Kita kan diminta untuk mengerjakan proyek yang sama. Aku sudah melakukan apa yang ku kerjakan namun mengapa kamu sama sekali tak memasukan nama ku? Tadi dokter Arfan memanggilku dan memarahi aku." Yasmin membanting laporan yang diberikan dokter Arfan kepadanya. Dokter Arfan adalah paman Andre jadi Yasmin merasa Andre dengan gampangnya ingin merusak nama baiknya.
"Memangnya apa yang kamu kerjakan? Bukankah kemarin kamu ijin karena ingin merayakan ulang tahun istri pertama dari suamimu?" tanya Andre dengan nada sinis mengandung sindiran membuat beberapa pasang mata yang ada di situ langsung saling berbisik.
"Sekalipun aku ijin, namun sehari sebelumnya aku sudah menyelesaikan apa yang menjadi bagian ku. Aku sudah memasukan laporannya. Tanya saja pada Nuri!" Yasmin menunjuk Nuri yang memang ada di ruangan itu.
__ADS_1
"Aku sudah meletakan di dalam tas Andre laporan darimu." Ujar Nuri.
"Aku tak menemukan laporannya jadi aku nggak memasukan namamu di laporan kelompok kita."
Yasmin menatap Andre dengan penuh kebencian. Tak ada lagi rasa sayang dan kagum yang pernah dimiliki oleh Yasmin untuk pria itu. Ia juga menatap Nuri dengan hati yang kesal. Ia tahu, Nuri yang suka dengan Andre pasti sengaja melakukan semua ini.
"Terima kasih!" Kata Yasmin sambil menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia sebenarnya bisa saja melapor kepada ayahnya. Tapi ia tak mau mereka berpikir kalau ia menggunakan nama besar ayahnya untuk memuluskan langkahnya menjalani koas. Yasmin memilih untuk menjalani hukumannya. Ia harus jaga di rumah sakit dari hari Jumat sampai hari minggu.
Saat ia membanting pintu dan berjalan keluar, Yasmin sudah tak bisa menahan air matanya. Ia sedikit berlari untuk mencari udara segar di taman belakang.
Bruk.....!
"Aow.....!" Bukan hanya Yasmin yang berteriak seperti itu. Orang yang ditabraknya pun berteriak hal yang sama. Keduanya sama-sama jatuh ke lantai sambil memegang pantat mereka masing-masing.
"Apakah kamu tak punya ma....." Kalimat Yasmin terhenti saat melihat Erdana yang ada di depannya. "Kak Er?" Yasmin berdiri, membelakangi Erdana, menghapus air matanya secara cepat lalu berbalik lagi.
Erdana berdiri lalu membersihkan celananya. "Sayang, kamu nggak apa-apa kan?"
"Nggak."
"Mengapa kau seperti nya baru selesai menangis? Ada sesuatu yang membuatmu bersedih?"
"Kita ke taman aja, kak." Yasmin langsung menarik tangan Erdana untuk keluar.
Saat keduanya sudah berada di taman, Yasmin mengajak Erdana duduk di salah satu bangku beton.
"Kakak nggak kerja?" tanya Yasmin sambil melirik jam tangannya yang masih menunjukan pukul 11 siang.
"Nggak. Aku masih capek."
"Ada. Tapi Alhamdulillah, semua bisa ditangani dengan baik."
"Aku turut senang mendengar nya. Terus kakak ngapain ke sini? Ini kan masih harinya kak Mentari."
Erdana menatap Yasmin. "Ingin melihat kamu saja. Memangnya nggak boleh? Buktinya sekarang kamu terlihat ada masalah."
"Andre, kak."
"Mantan kamu itu? Kenapa memangnya?"
Yasmin menceritakan apa yang terjadi. "Aku yakin dia sengaja melakukan ini."
"Karena dia masih cinta padamu." Wajah Erdana terlihat merah menahan marah dan cemburu. "Kenapa nggak minta ayah Satria untuk mengeluarkan mu dari rumah sakit ini?"
"Harus pindah lagi? Aku kan baru sebulan ada di sini."
"Dari pada kamu harus berlawan dengan dia terus? Atau lapor saja kepada ayah Satria."
Yasmin menggeleng. "Aku nggak mau menggunakan nama besar ayah. Nanti kesannya kalau bukan karena ayah Satria, aku tak akan menjadi dokter. Aku terima saja hukumannya. Jadi mulai besok sampai hari minggu, aku ada tugas tambahan jaga di sini."
"Mulai besok? Apakah tak bisa ditunda hukumannya? Aku ingin mengajak kamu untuk liburan selama 3 hari."
"Aku nggak bisa, kak."
__ADS_1
Erdana nampak kesal. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran bangku beton itu sambil menarik napas panjang dan membuangnya secara kasar. "Aku ingin kita punya waktu khusus, Yas. Kita jarang bicara karena kesibukan kita masing-masing. Kau akan melanjutkan sekolahmu. Sebagaimana kau tahu bahwa aku pasti akan mendukungmu. Tapi pernahkah kau bertanya atau meminta ijin padaku? Nggak kan? Kau hanya sibuk meminta aku untuk memperhatikan Mentari sementara diri mu sendiri membutuhkan teman untuk bicara. Aku merasa ada yang berbeda denganmu, Yas. Sekuat apapun kau berusaha menutupinya, aku dapat merasakan itu."'
"Maafkan, aku kak. Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku tahu kalau kakak sudah cukup banyak masalahnya. Harus mengurus 2 perusahaan, dan membagi waktu antara aku dan kak Mentari. Makanya aku memilih untuk memutuskan semuanya sendiri."
"Dan kau menempatkan aku seolah-olah aku ini suami yang tak adil kan? Pada hal kau sendiri yang tak mau aku ada bersamamu. Dan akhirnya, orang lain mengisi ruang kosong di hatimu."
"Kak.....!" Yasmin memegang tangan Erdana.
Erdana hanya tersenyum getir. "Kamu sudah makan?"
"Belum."
"Kita makan siang bersama, yuk! Setelah itu aku akan kembali ke rumah."
"Aku ambil tas ku dulu, ya?"
Erdana mengangguk. Yasmin segera masuk ke dalam rumah sakit. Tak lama kemudian Yasmin keluar lagi. Keduanya pun pergi untuk makan siang bersama.
**************
"As sudah tidur?" tanya Mentari pelan saat ia membuka pintu kamar anaknya.
"Sudah, sayang. Baru saja ia terlelap beberapa menit yang lalu."
Mentari memandang putranya yang nampak lelap. "Dia senang sekali karena bisa pergi ke taman bermain dengan mas tadi sore."
"Sesekali aku memang harus meluangkan waktu untuk bermain secara quality time dengannya." Erdana menunduk lalu mencium dahi putranya.
"Ayo kita bicara di luar!" ajak Erdana lalu meraih tangan Mentari dan sama-sama keluar kamar As.
"Besok berangkatnya jam berapa? Apakah pakaiannya aku siapkan di sini atau Yasmin sudah menyiapkannya dari apartemen?"' tanya Mentari saat keduanya sudah duduk di ruang tamu.
"Kami tak jadi berangkat. Yasmin tetap harus masuk rumah sakit."
"Bukannya libur?"
Erdana menceritakan apa yang terjadi. Mentari nampak kesal juga. "Apa sih maunya si Andre? Dia pasti sengaja melakukan ini untuk menjatuhkan Yasmin."
"Dia belum move on dari Yasmin. Dan sialnya mereka harus ada di rumah sakit yang sama." Erdana menarik napas panjang. Sangat jelas terlihat kalau dia sedih. Mentari meraih tangan suaminya dan menciumnya lembut.
"Nanti cari waktu lagi ya?"
Erdana mencium dahi Mentari. "Sudah minum vitamin dan susu hamilnya?"
"Belum."
"Tunggu di sini aku akan siapkan." Erdana meninggalkan Mentari. Hati Mentari menjadi resah. Ia bingung apa yang harus dilakukan agar Erdana dan Yasmin dapat pergi berdua.
***************
Selamat pagi....
salam hangat bagi kita semua
__ADS_1
jangan lupa baca novel aku : RAHASIA CINTA yang sudah bisa dibaca mulai 10 Maret