CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Menunjukan Rasa Cemburu


__ADS_3

Dua pria yang sama-sama tampan itu saling berhadapan dengan tatapan penuh selidiki. William yang memiliki tinggi 180 cm, tak berbeda jauh dengan Prayuda yang memiliki tinggi 178cm. Ayah Prayuda memang orang Indonesia asli namun ibunya masih memiliki darah bule dari Oma Prayuda yang berdarah Belanda. Apalagi sejak SD Prayuda sudah menyukai basket sehingga badannya termasuk tinggi untuk kalangan orang Indonesia.


*Siapa pria ini? Kenapa dia ke sini dengan membawa koper? Apakah ia akan menginap di sini? Dia saudara Yasmin atau dia adalah kekasihnya? Namun bukankah Yasmin mengatakan kalau dia jomblo? Hati William bertanya.


Apakah aku terlambat datang? Apakah lelaki ini adalah kekasihnya Yasmin? Mengapa ia memanggil Yasmin dengan sebutan baby? Ya Allah, haruskah aku patah hati lagi? Aku telah menempuh perjalanan yang sangat jauh. Haruskah aku pulang dengan tangan hampa? Pria ini terlihat sangat tampan dan mapan. Hati Prayuda pun berbicara dengan perasaan sakit*.


"Ayo, diminum kopinya." Ujar Yasmin. Ia juga terlihat salah tingkah. Entah bagaimana harus bersikap kepada William dan juga pada Prayuda.


"Baby, kau tak mau memperkenalkan kami?" tanya William.


"Oh, ini Prayuda. Temanku dari Indonesia. Dia dokter sekaligus dosen di salah beberapa fakultas kedokteran yang ada di Jakarta. Kami sudah saling kenal sejak kecil." ujar Yasmin sambil memperkenalkan Prayuda. "Pra, ini dokter William. Kami satu kampus namun dia mengambil studi S3. Seperti juga kamu, ayahnya adalah juga dokter, dosen dan pemilik salah satu rumah sakit yang terkenal di kota New York ini. Kami dan William bersahabat karena aku praktek di rumah sakit mereka."


Oh, hanya teman. Guman William dan Prayuda di hati mereka masing-masing.


"Aku....." Kalimat William terhenti saat ponselnya berdering. Ia melihat kalau itu panggilan dari asistennya. William pun mengangkatnya sambil berjalan menjauhi ruang tamu. Setelah itu ia kembali ke sana.


"Maaf, aku harus pergi. Salah satu pasienku drop. Baby nanti kita ketemu besok ya?" William dengan berat hati pamit.


"Aku pikir kalau dia adalah kekasihmu, dia memanggilmu baby dan dia terlihat begitu akrab denganmu. Dia bahkan mengantarkan makan malam." kata Prayuda dengan kalimat yang terdengar agak sinis.


Yasmin terkejut mendengar cara Prayuda berbicara padanya. Bukankah Prayuda selama ini tak pernah mengusik masalah pribadi Yasmin?


"William memang orangnya begitu. Dia hanya suka saja memanggilku dengan sebutan baby. Dia akrab denganku karena dia juga tinggal di apartemen ini. Unitnya ada di lantai paling atas. Lantai 7."


"Oh, kalian bahkan tinggal di apartemen yang sama. Berarti setiap hari ketemu dong."


"Wajarlah kalau ketemu. Kami kuliah di fakultas yang sama, bekerja di rumah sakit yang sama."


"Apakah kamu tertarik padanya? Kamu punya perasaan khusus padanya?"


Yasmin semakin terkejut. "Kak, kenapa bertanya seperti itu?"

__ADS_1


"Aku cemburu."


Mata Yasmin terbelalak. Jantungnya bahkan berdetak dengan sangat cepat. "Cemburu?"


"Ya. Aku cemburu. Apakah salah?"


"Kak.....!"


Prayuda menatap Yasmin dengan tatapan mata yang penuh cinta. "Aku ke sini dengan sejuta rasa cinta yang kumiliki untukmu. Yang lalu, aku tak dapat mengungkapkan karena statusmu sebagai istri orang. Aku memang salah karena tak langsung mencari mu begitu masa iddah mu selesai. Aku masih berpikir, apakah jika aku mengejar mu, aku tak akan menyakiti Erdana? Namun beberapa bulan yang lalu, ketika baby Azhra ulang tahun, Erdana mengatakan kalau ia merestui hubungan kita. Makanya aku menyiapkan segala sesuatunya. Termasuk keinginan ku untuk kuliah S3 di sini agar bisa dekat dengan mu. Aku ingin menikah denganmu, Yasmin. Namun jika memang perasaan yang pernah kau miliki untukku sudah tak ada, aku akan kembali ke Jakarta dan membuang semua harapan yang pernah aku miliki untukmu. Usiaku hampir 32 tahun. Aku nggak mau lagi membuang waktu untuk menanti sesuatu yang tak pasti."


Yasmin menatap Prayuda tanpa berkedip. Jantungnya masih berdetak sangat cepat. Pengakuan Prayuda membuat Yasmin bingung Ia memang merindukan Prayuda dan masih sering memikirkan pria itu. Tapi mendapat pengakuan secepat ini rasanya Yasmin masih bingung. Ia memang sudah melupakan Erdana dan merelakan mantan suaminya itu bahagia dengan Mentari. Namun Yasmin rasanya belum siap memulai suatu hubungan yang baru. Sebagaimana juga ia yang telah berulang kali menyatakan itu pada William.


"Yas, aku malakukan perjalanan hampir 30 jam ke tempat ini hanya untuk mendapatkan sebuah kepastian." Prayuda memberanikan diri menggenggam tangan Yasmin. Ditautkannya jari mereka berdua. "Yas, aku tahu kalau kamu mencintaiku. Sebagaimana kamu juga tahu kalau aku mencintaimu. Kita sudah melewati banyak hal untuk akhirnya bisa bebas mengungkapkan perasaan kita." Prayuda mengecup punggung tangan Yasmin secara lembut. Yasmin merasakan ada getaran di seluruh bagian kulitnya. Seolah ia tersengat aliran listrik yang sangat tinggi.


"Jadilah istriku."


"Kak, aku...., aku...." Yasmin bingung.


"Kak, tidak bisakah kita pacaran dulu?"' tanya Yasmin.


Prayuda terkekeh. "Mau pacaran sampai kapan? Kita akan tinggal di kota yang sama. Kita akan sering ketemu karena menjalin hubungan. Aku takut suatu saat kita akan khilaf dan melakukan kesalahan. Aku bukan pria yang masih perjaka. Aku sudah pernah merasakan nikmatnya sebuah hubungan intim saat pacaran dengan Gisel. Kamu juga sudah pernah menikah. Pasti sudah tahu bagaimana nikmatnya sentuhan raga yang saling memuaskan. Dalam diri kita ada bara api yang akan siap menyala karena haus akan belaian. Aku ingin segera memiliki semua yang ada padamu. Bukan karena napsu semata. Tapi karena aku sudah terlalu tua untuk mengenal kata pacaran." Prayuda membelai pipi Yasmin dengan punggung tangannya. "Aku ingin menjadi imam mu."


"Berikan aku waktu untuk berpikir, kak."


Prayuda mengangguk. "Kalau begitu, aku akan pergi. Aku akan mencari hotel untuk tempat menginap selama beberapa hari ini."


"Sekarang sudah malam, kak. Lagi pula di dekat sini nggak ada hotel. Besok saja kakak mencari hotel. malam ini, tidurlah di sini. Kakak boleh tidur di sofa ini. Nanti aku berikan selimut tebal agar kakak tak kedinginan."


"Memangnya boleh?"


Yasmin tersenyum. "Aku percaya kalau kakak tak akan melakukan apa-apa."

__ADS_1


Prayuda tersenyum senang. Bagaimana ia masih punya satu minggu untuk meyakinkan Yasmin agar menerima lamarannya.


*************


Mentari tidur di dada suaminya. Mereka baru saja melewati malam panas yang menyenangkan setelah Erdana kembali dari Singapura. Selama 1 minggu Erdana melaksanakan pekerjaannya di sana.


"Sayang, gaun rancangan kamu akan digunakan untuk film terbaru Elmira. Ia akan bekerja sama dengan produser asal Perancis untuk sebuah film dengan latar abad ke-16." ujar Erdana.


"Iya. El kemarin memberitahukannya padaku."


Erdana mencium pipi Mentari. "Tetap jaga kesehatanmu ya?"


"Iya sayang. Oh, ya apakah kamu sudah tahu kalau Prayuda akhirnya ke Amerika 2 hari yang lalu?"


Erdana tersenyum. "Akhirnya dia pergi juga. Pada hal aku sudah memintanya untuk menyusul Yasmin sejak 6 bulan yang lalu. Yasmin itu cantik. Pasti banyak pria yang mengincarnya."


Mentari mendongak. Menatap wajah suaminya. "Kamu benar-benar telah ikhlas kan, mas?"


"Alhamdulillah aku ikhlas. Yasmin berhak bahagia dengan pria baik seperti Prayuda. Masa sih Prayuda harus menjadi sad boy terus."


"Pra akan mencintai Yasmin. Aku yakin itu."


Erdana mengecup puncak kepala Yasmin. "Aku juga mencintaimu, sayang."


"Aku tahu." Mentari memejamkan matanya. Dapatkan kembali hati Yasmin, Pra. Kamu adalah pria baik. Sudah sewajarnya kamu bahagia. Batin Mentari sebelum rasa kantuk itu menyerangnya.


**********


Halo semua


semoga suka dengan part ini ya?

__ADS_1


__ADS_2