CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Sama-sama Bingung


__ADS_3

Setelah Mentari selesai berganti pakaian, ia dan Erdana menuju ke ruangan dokter Kartika untuk mendengarkan pengarahan dari dokter itu.


Yasmin pun kembali ke ruangan UGD.


Kesibukan di ruangan itu membuat Yasmin lupa waktu. Ia nanti membaca pesan yang dikirimkan Erdana padanya saat waktu sudah menunjukan pukul 2 siang.


Yas, aku telepon tapi kamu nggak mengangkatnya. Lagi sibuk ya? Aku


dan Mentari sudah pulang. Jangan lupa makan siang ya? Asam lambung kamu kemarin kambuhkan?


Aku sudah menitipkan obatmu yang ketinggalan di kamar pada Prayuda.


Yasmin tersenyum membaca pesan dari Erdana. Walaupun Erdana sibuk dengan masalah Mentari, namun suaminya itu masih juga memperhatikannya. Mungkin obatnya yang ketinggalan di kamarnya itu yang membuat Erdana tahu kalau Yasmin mendapatkan serangan asam lambungnya lagi.


"Aku mau makan siang dulu ya?" pamit Yasmin pada suster jaga kemudian ia segera menuju ke ruangan Prayuda untuk mengambil obatnya.


tok....tok.....


"Masuk!"


Yasmin membuka pintu ruangan Prayuda saat mendengar sang pemilik ruangan mempersilahkan dia masuk.


"Kak....!" Kalimat Yasmin terhenti melihat Elif ada di sana. Keduanya sedang duduk di sofa saling berhadapan. Di atas meja ada rantang berisi makanan yang hampir habis. Sepertinya mereka baru saja makan siang bersama.


Hati Yasmin bagaikan dicubit melihat mereka nampak akrab satu dengan yang lain.


"Kak, maaf mengangganggu. Aku mau mengambil obat yang dititipkan kak Erdana." ujar Yasmin.


"Oh, itu ada di atas meja. Kamu belum makan siang?" tanya Prayuda tanpa menyembunyikan rasa khawatirnya.


"Belum, kak. Sejak tadi di UGD sangat ramai. Pasien yang masuk tak berhenti. Jadi baru sekarang ada kesempatan makan siang." Ujar Yasmin sambil melirik sebentar ke arah dokter Elif. Agak kesal juga karena sejak tadi dokter itu sudah menghilang dari UGD pada hal ada 3 pasien hamil yang membutuhkan penanganan khusus.


"Sekalipun sibuk, kamu seharusnya memikirkan kesehatanmu." Prayuda bangun dari tempat duduknya dan segera mendekati Yasmin. Secara tak terduga, ia mengambil tangan Yasmin dan memberikan pijatan diantara ibu jari dan telunjuknya. "Ini akan memberikan pertolongan pertama bagimu. Sakit kan?"


"Iya, kak." Jawab Yasmin sambil menahan desiran aneh yang muncul di seluruh permukaan kulitnya karena sentuhan Prayuda itu.


"Itu tandanya lambung mu sedang bermasalah. Biar aku pijat sebentar, baru kau minum obatnya."


Elif yang melihat hal itu membuat hatinya menjadi panas. Ia memang sudah melihat bahwa Prayuda sangat perhatian pada Yasmin. Walaupun Prayuda pernah mengatakan bahwa ia sudah mengenal Yasmin semenjak gadis itu kecil, karena ayah mereka sahabat baik, namun sebagai wanita dewasa, Elif dapat melihat ada sesuatu yang Prayuda sembunyikan dibalik tatapan itu.


"Erdana Furkan itu adalah suamimu kan, Yasmin? Dan Mentari itu istrinya juga? Jadi kalian berpoligami?" Elif akhirnya bertanya untuk memojokkan Yasmin.


Wajah Yasmin sedikit menjadi merah. Namun ia tersenyum juga. "Iya, dok. Aku istri kedua Erdana Furkan. Aku sangat menghormati kak Mentari sebagai istri pertama. Kami hidup bahagia walaupun berpoligami karena kak Erdana adalah suami yang adil dan tak pernah mengecewakan kami sebagai istri-istrinya." Yasmin menarik tangannya perlahan dari genggaman Prayuda. "Terima kasih, kak. Aku mau makan siang dulu." Lalu Yasmin mengambil obatnya yang ada di atas meja kerja Prayuda. "Permisi dokter Elif." Yasmin segera keluar tanpa menunjukan rasa kesalnya atas pertanyaan Elif yang kesannya ingin memojokkan Yasmin.


Elif menatap Prayuda. "Aneh ya? Dia cantik, masih muda, kok mau sih dipoligami? Memangnya kekayaan Erdana Furkan bagaimana besar sehingga mereka mau dipoligami?"


Prayuda menatap Elif dengan pandangan tak suka. "Dokter Elif, kita tak boleh menghakimi kehidupan seseorang tanpa tahu bagaimana mereka telah melaluinya dengan susah payah. Kita juga tak punya hak untuk mencampuri urusan mereka. Yang penting Yasmin, maupun suaminya tak melakukan sesuatu yang salah. Poligami kan nggak dosa?"


Elif tersenyum karena ia tahu Prayuda tak suka dengan sikapnya. Namun sebenarnya Elif ingin membuka mata Prayuda untuk tak melihat Yasmin lebih dari seorang adik.


"Aku mau mengecek pasien yang baru selesai di operasi tadi pagi. Terima kasih untuk makan siangnya." Ujar Prayuda lalu mengenakan jas putihnya kembali, memasukan ponselnya ke dalam kantong jas dan melingkarkan seteskop di lehernya. Ia pun keluar.


Elif mengepalkan tangannya. "Aku akan mendapatkan Prayuda bagaimana pun caranya. Mana mungkin aku kalah dengan perempuan bersuami itu?"


**********


"El, ustad Ernes kemarin datang ke rumah." ujar Naura membuat Elmira yang sedang menyuapi As menoleh dengan kaget.


"Ustad Ernes ke sini? Kok aku nggak diberitahu, sih?"

__ADS_1


"Beliau ada ceramah di masjid dekat rumah kita ini. Ketemu ayah di sana lalu ayah mengundang nya ke sini. Jadilah beliau bertandang ke rumah kita."


"Oh, gitu toh ceritanya."


"Beliau juga mengutarakan niatnya untuk membangun hubungan denganmu."


Elmira melepaskan piring makanan As yang isinya hampir habis. Ia memanggil pengasuh As agar membawa ponakannya itu untuk Rp mandi dan tidur siang.


"Maksud ibu, Ernes ingin melamar aku?"


Naura mengangguk.


"Lalu ayah bilang apa?"


"Ayah bilang terserah padamu. Ustad Ernes ingin menjalani ta'aruf denganmu. Itulah sebabnya ibu memintamu untuk datang ke sini. Jika memang kamu setuju, mereka ingin pernikahannya dilaksanakan sebelum bukan ramadhan."


"Secepat itukah?"


"Namanya juga ta'aruf, nak."


Elmira menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Ia dan Ernes memang tak pernah pergi berdua. Namun mereka banyak kali dipertemukan lewat berbagai acara keagamaan baik on air maupun off air. Elmira bahkan sudah dekat dengan beberapa keluarga Ernest yang memang sangat menyukainya. Fans Elmira bahkan mengatakan doa khusus agar artis terkenal dan ustad yang lagi naik daun itu bisa menikah secepat mungkin.


"Nak, ayah dan ibu tak pernah memaksa kamu untuk menikah dengan siapapun. Kami mendukung semuanya keputusan darimu karena kamu yang akan menjalaninya. Namun ayah dan ibu juga perlu mengingatkan usiamu yang sudah memasuki angka 27. Ustadz Ernes orangnya baik. Dia lelaki Soleh yang sudah pasti akan menjadi imam yang baik untukmu. Namun jika kau menikah dengannya, kau memang harus memikirkan baik-baik mengenai karirmu sebagai artis. Kau tak boleh sembarangan lagi menerima tawaran main film karena kau akan menikah dengan keluarga ulama. Kau mungkin harus berhenti menjadi artis. Soalnya ibu melihat beberapa artis yang menikah dengan seorang ustadz, akhirnya berhenti dari pekerjaannya dan mendukung suaminya."


Elmira menarik napas panjang Selama beberapa bulan ini, ia sudah cukup mengenal pribadi Ernest. Dia sangat gaul dan tahu bagaimana membuat para anak muda Beta mendengarkan ceramah nya yang panjang. Elmira merasa nyaman saat bersamanya. Namun, Elmira tak juga bisa membuang Nick dalam hidupnya.


"Kau masih belum melupakan Nick?" tanya Naura.


"Ibu, aku masih mencintainya. Walaupun aku sendiri yang memutuskan hubunganku dengannya namun kenyataannya aku tak bisa menghapus namanya begitu saja dari hatiku. Aku ingin menerima niat baik ustadz Ernes. Namun, aku tak mau menjadikan lelaki baik itu sebagai pelarian saja. Aku bingung, bu."


Naura memegang tangan putrinya. "Bertanya pada Allah, nak. Minta petunjuk padaNya dalam sholat mu."


***********


"Belum pulang?"


Yasmin terlonjak kaget mendengar suara Prayuda yang ada di belakangnya. Ia membalikan badannya. "Kak Pra, buat kaget aja."


"Ini sudah jam 8 malam."


"Aku tahu, kak. Kakak belum pulang juga?"


"Aku melayani pasien tadi."


"Oh..." Yasmin hanya mengangguk. Ia mengambil tas dan jas putihnya. "Aku mau pulang sekarang."


"Sudah makan? Aku dan E...." kalimat Prayuda terhenti saat terdengar suara Elif.


"Aku siap, dok." Elif tiba-tiba saja muncul. Ia sudah berganti pakaian dan terlihat cantik dengan dandanan nya.


"Elif mengajakku makan malam di cafe milik kakaknya yang baru saja di buka. Kau mau ikut?" tanya Prayuda.


"Lain kali saja. Aku capek dan sedikit mengantuk. Lagi pula tadi aku sudah makan bersama teman-teman. Makanannya diberikan oleh dokter Elif. Mungkin dari cafe yang sama." Yasmin menatap Elif sambil tersenyum. Ia kini tahu, tadi dokter Elif dengan sengaja menahan mereka untuk makan malam. Dia sengaja ingin menunjukan pada Yasmin bahwa ia dan dokter Prayuda ada kencan malam ini. Apakah perkiraan ku ini benar atau salah ya? Namun mengapa juga dia ingin menunjukan padaku bahwa dia akan pergi dengan kak Prayuda?


"Selamat bersenang-senang. Bye..." Yasmin langsung melangkah. Prayuda menekan perasaannya saat ia merasakan bahwa tatapan mata Yasmin sepertinya terluka melihat ia bersama Elif. Apakah Yasmin cemburu? Ataukah hanya perasaanku saja?


Yasmin duduk termenung di dalam mobilnya. Tadi Erdana sudah meneleponnya. Yasmin mengatakan kalau ia tak pulang karena akan bertugas di rumah sakit. Yasmin bohong agar Erdana bisa menemani Mentari. Dan kini Yasmin merasa kesepian. Ia merasa butuh Erdana.


************

__ADS_1


Elmira membuka pintu apartemennya. Ia kaget melihat Erdana yang datang. "Tumben ke sini? Ini sudah jam setengah dua belas. Sekarang kan giliran Yasmin? Ini hari Selasa kan?"


Erdana masih tanpa memperdulikan pertanyaan Elmira.


"Mau kopi?" Elmira menawarkan.


"Boleh."


Elmira membuatkan dua gelas kopi untuknya dan Erdana. Ia dan Erdana memang menyukai kopi hitam dengan sedikit gula.


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku. Kenapa ke sini?" tanya Elmira setelah menyerahkan gelas kopi Erdana.


"Nggak punya rumah untuk pulang."


Elmira tertawa. "Nggak punya rumah? Istri kamu dua, lho."


"Ini memang gilirannya Yasmin. Namun ia tak pulang karena akan bertugas sampai besok pagi di rumah sakit. Sementara Mentari tak mau menerima aku karena ia tahu malam ini masih giliran Yasmin. Kemana coba aku harus pergi?"


Elmira tertawa lagi. "Malangnya nasibmu, adikku."


"Poligami itu nggak enak. Banyak pria yang berpoligami pusing karena istri-istri mereka saling cemburu dan berlomba menarik perhatiannya. Kedua istriku justru berlomba agar aku lebih lama berada dengan yang lain dan bukan diri mereka sendiri."


"Kalau begitu jangan berpoligami."


"Aku sayang mereka berdua."


"Tapi mereka nggak sayang padamu, Er."


"Mereka sayang..."


"Kalau mereka sayang, pasti mereka akan berlomba untuk menarik perhatianmu."


"Yasmin dan Mentari punya cara yang sama untuk menyatakan cinta mereka. Dengan cara saling mengalah satu dengan yang lain. Tanpa mereka sadari, aku justru bingung harus bagaimana."


"Kau ingin tidur di sini?"


"Iya. Karena aku tahu kau juga butuh teman. Kata ibu, ustadz Ernes ingin melamarmu?"


"Iya."


"Kau mau?"


"Aku belum melupakan Nick."


"Jadi?"


"Aku juga bingung harus bagaimana."


Erdana tersenyum. "Kalau begitu, buat 2 gelas kopi lagi. Karena kita berdua akan butuh banyak waktu untuk menemukan jalan dari rasa bingung ini."


Elmira tersenyum. Ia memeluk Erdana dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih sudah datang malam ini."


Kedua saudara kembar itu merasa senang karena mereka berdua tetap ada untuk saling mendukung.


*************


Selamat pagi...


semoga happy reading ya?

__ADS_1


selamat weekend juga bersama keluarga masingmasing


__ADS_2