
Ada senyum kebahagiaan di wajah Mentari saat meletakan putranya di atas box bayinya setelah ia selesai memberikannya susu. Akhirnya, ia bisa membawa pulang baby As ke rumahnya.
Setelah menutup tubuh anaknya dengan selimut kecil, Mentari langsung naik ke atas tempat tidurnya. Ia mengambil ponselnya untuk sekedar mengecek beberapa butiknya yang ada di Jakarta, Surabaya dan Bandung.
Setelah puas melihat hasil penjualan hari ini, Mentari pun membuka halaman instagramnya. Ingin rasanya ia membagi foto baby As. Namun ia sangat takut jika Erdana melihat anaknya pasti akan langsung mengenali wajah baby As. Mentari masih menyimpan foto masa kecil Erdana dan dirinya. Wajah baby As sangat mirip dengan Erdana.
Ia tersenyum melihat postingan teman-temannya. Sampai akhirnya Mentari melihat dua postingan yang dikirimkan oleh Elmira Furkan hari ini. Hatinya bagaikan tertusuk sembilu melihat foto Elmira, Erdana, Bojes dan Yasmin. Tangan Erdana yang melingkar manis di bahu Yasmin membuat mereka terlihat sebagai pasangan yang sangat serasi dan bahagia.
Foto yang berikut, Elmira dan Yasmin. Sepertinya dalam jamuan makan malam. Gaun yang dikenakan oleh Yasmin sangat dikenal oleh Mentari. Itu hasil rancangan Mentari yang dibuatnya sebelum ia menjalani operasi pengangkatan tumor di kepalanya sekaligus juga operasi sesar untuk melahirkan baby As.
"Akhirnya hotel impianmu boleh selesai. Selamat ya, Er." guman Mentari sambil tersenyum. Saat hotel itu pertama kali dirancang, Mentari ada di sana. Menemani Erdana selama 5 hari sekaligus keduanya menikmati kemesraan di salah satu hotel yang ada di sana.
Tangis Mentari tiba-tiba saja pecah. Ia sangat merindukan Erdana. Namun ia tak bisa mengabaikan Yasmin. Mentari meletakan ponselnya kembali ke atas nakas. Di pandanginya wajah putranya yang sedang terlelap. Baby As adalah penghiburannya. Dia akan terus kuat demi anaknya ini.
***********
Yasmin yang awalnya kesal karena harus memakai kalung yang diberikan oleh Erdana, kini merasa bersyukur karena ia tak menjadi minder saat melihat penampilan istri-istri para dewan direksi dan pemegang saham yang berpenampilan glamor malam ini. Sepertinya jamuan makan malam ini sebagai ajang kontes perhiasan dan gaun malam.
"Permisi, gaun ini adalah rancangan Mentari kan? Aku melihat di pagelaran busananya beberapa bulan yang lalu." tanya salah satu istri pemilik saham.
"Iya. Ini rancangan Mentari." kata Yasmin dengan bangga.
"Wah, harganya pasti sangat mahal. Aku mendengar kalau gaun rancangannya memang sangat bagus."
Erdana yang mendengarnya pun ikut bangga. Sesaat terbersit kerinduan pada Mentari. Selama ini, Erdana sudah berupaya mencarinya. Namun Mentari bagaikan ditelan bumi. Ibu Jeslin pun seakan menutup akses untuk Erdana mengetahui di mana Mentari berada. Ibu Jeslin selalu meminta agar Erdana melupakan Mentari.
Kehadiran Elmira pun mampu membuat suasana menjadi semakin hidup. Kakak iparnya itu bahkan sudah memasukan foto kebersamaan mereka di halaman instagramnya. Elmira nampak menjadi bintang yang bersinar malam itu. Tentu saja dengan pandangan Nick yang tak pernah lepas pandangannya dari sang bintang. Nick takut ada fans gila yang akan menyerang Elmira seperti yang sudah-sudah.
Malam ini, Elmira meminta Nick untuk tak memakai seragam hitamnya. Entah mengapa, ia justru senang kalau orang mengira si pria tampan itu adalah pacarnya. Karena Para wanita yang hadir di sana, seakan enggan menatap Erdana lama-lama karena tahu kalau ia sudah menikah. Sedangkan Nick, menjadi incaran selanjutnya karena pria itu selalu memasang jarak aman dengan Elmira.
Setelah selesai makan malam dan basa-basi sebentar, Yasmin berbisik kepada Erdana untuk kembali ke kamar.
"Aku pamit dulu ya, mau mengantarkan istriku ke kamar." Pamit Erdana sambil melingkarkan tangannya di pinggang Yasmin. Kembali Yasmin merasakan kalau kulit tubuhnya memanas ketika tangan Erdana melingkar di pinggangnya.
Keduanya pun melangkah bersama meninggalkan halaman belakang hotel untuk masuk kembali ke dalam hotel.
__ADS_1
Saat mereka ada di lift, Yasmin langsung menjauh dari Erdana dan memalingkan wajahnya ke tempat lain.
Lift berhenti di lantai 7 tempat kamar mereka berada. Erdana berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu.
Saat keduanya sudah berada dalam kamar, Erdana langsung menggulung tangan kemejanya sampai ke siku lalu duduk di atas sofa dan sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Yasmin nampak kebingungan untuk melepaskan gaunnya. Ia juga bingung mau pamit pada Erdana untuk pergi.
Erdana yang melihat Yasmin hanya berputar-putar di depan kaca segera mendekati Yasmin.
"Butuh bantuan untuk membukakan resleting gaun mu?" tanya Erdana.
"Eh...ya...Tapi aku bisa sendiri." Yasmin tiba-tiba merasa gugup.
"Ya sudah!" Erdana akan kembali duduk kldi sofa namun tangan Yasmin secara refleks memang lengan Erdana.
"Eh...tolong di bukakan."
Erdana tersenyum sedikit menertawakan sikap Yasmin. Ia pun berdiri di belakang gadis itu.
"Tolong bukakan kalungnya juga."
Kalung itu terlepas, kini Erdana akan menurunkan resleting gaun Yasmin. Kembali lagi kulit tangan Erdana bersentuhan dengan kulit di bagian punggung Yasmin membuat Yasmin harus memejamkan matanya. Tanpa ia sadari, Erdana dapat melihat itu melalui pantulan kaca yang ada di depannya.
Acara menurunkan resleting gaun itu menjadi sangat lama karena Erdana berhenti saat punggung mulus Yasmin tersibak.
Yasmin menahan gaunnya yang hampir jatuh. "Su...sudah. Cukup!" Ujar Yasmin dengan detak jantung yang mulai tak beraturan.
"Aku mau ke luar dulu!" ujar Erdana.
"Eh, kak!" panggil Yasmin.
Erdana menghentikan langkahnya. "Ada apa?" tanyanya tanpa memandang Yasmin.
"Aku mau keluar bersama teman-temanku!'
"Terserah!" kata Erdana lalu segera meninggalkan kamar.
__ADS_1
Yasmin menatap wajahnya ke cermin saat gaun itu lolos dari tubuhnya. Ada apa dengan diriku? Apakah aku bergairah? Ini sudah gila. Bagaimana mungkin aku bergairah pada pria yang sangat ku benci? Tidak! Aku tak mungkin merasakan itu.
Yasmin buru-buru mengambil baju gantinya dan segera keluar kamar untuk menemui teman-temannya.
**********
"Ah.....!" Elmira hampir saja terjatuh dengan sepatu hak tingginya namun Nick dengan cepat memeluk pinggangnya sehingga gadis itu justru menempel di tubuh pria yang tampan itu. Elmira baru saja akan masuk ke dalam kamarnya namun entah karena apa, ia hampir saja jatuh.
Nick dengan cepat langsung mengangkat tubuh Elmira dan membawanya masuk ke kamar lalu dengan kakinya, ia menutup pintu itu. Perlahan Nick menurunkan tubuh Elmira di atas tempat tidur.
"Kakinya aku periksa, ya Nona?" Kata Nick lalu berlutut di hadapan Elmira. Ia melepaskan sepatu yang dipakai Elmira lalu menggerakan kedua kaki Elmira.
"Ada yang sakit?" tanya Nick sambil mendongak. Tatapan mata mereka bertemu dan Elmira hampir gila dibuatnya. Nick memang telah mencuri hatinya.
"Nona....!" Nick kembali bertanya karena dilihatnya Elmira hanya diam.
"Eh, ya...yang sebelah kiri agak sakit."
Nick mengambil handbody Elmira yang ada di atas meja rias, ia kemudian menuangkannya sedikit di tangannya lalu me dekati Elmira kembali. Tangan Nick mengurut kaki Mentari, dari pergelangan kaki sampai ke betisnya.
Deg! Sentuhan Nick di kulit kakinya membuat Elmira harus menahan napasnya. Sensasinya sangat aneh.
"Terima kasih, Nick." Kata Elmira saat Nick selsai mengurut kakinya.
Saat Nick akan berdiri, pada saat yang hampir bersamaan juga, Elmira akan berdiri. Akhirnya tubuh mereka saling bersentuhan dengan jarak wajah yang sangat dekat. Dengan pandangan mata yang saling mengikat satu dengan yang lain, Elmira dan Nick, entah siapa yang memulai, mempertemukan bibir mereka salam sebuah ciuman yang manis, lembut namun membuat hawa tubuh memanas.
Elmira langsung melingkarkan tangannya di leher Nick, sedikit berjinjit untuk mengimbangi tinggi tubuh Nick. Bibir mereka yang saling menempel seakan tak mau terlepas.
Elmira tersenyum saat Nick membalas ciumannya. Hatinya melayang saat tangan Nick melingkar di pinggangnya dan menarik Elmira untuk semakin menempel di tubuhnya.
Akankah sesuatu terjadi di kamar itu????
************
Selamat hari Selasa
__ADS_1
semoga suka dengan part ini ya guys