CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Akhirnya Setuju


__ADS_3

Yasmin melangkahkan kakinya memasuki rumah sakit. Hari ini ada kuliah khusus yang diminta oleh salah satu dosen untuk mereka ikuti di rumah sakit.


"Yasmin?"


Yasmin menolehkan kepalanya ke arah suara itu. "Dokter Prayuda?"


"Panggil saja kak Prayuda."


Yasmin tersenyum. "Kan sekarang Kakak sudah jadi dokter. Spesialisnya gimana?"


"Alhamdulilah semuanya lancar. Aku sudah mendapatkan gelar spesialis jantungku semenjak 3 bulan yang lalu."


"Wah, kakak hebat dong!" Yasmin mengangkat kedua jempolnya.


"Kamu juga akan menjadi dokter yang hebat. Apa kabar Erdana?"


"Kak Erdana ada di Singapura. Bersama kak Mentari." jawab Yasmin sedikit pelan sambil memperhatikan sekeliling mereka. Untungnya mereka ada di tempat parkir yang agak sepi.


"Apa?" Prayuda terkejut. Apakah akhirnya Erdana menemukan Mentari?


"Kok bisa bersama Mentari?" tanya Prayuda.


Yasmin menatap Prayuda. "Kakak kan sahabat terdekat kak Mentari. Kak Erdana juga bilang kalau kakak yang jadi saksi pernikahan siri mereka di Amerika."


"Kamu sudah tahu?"


"Kak Erdana menceritakan padaku."


"Jadi kalian?"


"Kami baik-baik saja, kak. Kak Erdana sementara membujuk kak Mentari untuk pulang ke Jakarta. Kak Erdana sudah tahu tentang baby As dan sakit yang pernah diderita kak Mentari."


Prayuda menatap Yasmin yang kelihatan biasa saat bercerita.


"Yas, kau tak cemburu saat Mentari bersama Erdana?"


Yasmin tersenyum. "Kak, kau kan tahu bagaimana pernikahan kami terjadi. Sebenarnya aku sudah mulai sayang pada kak Er. Namun sebelum perasaan sayang ini tumbuh, aku sudah meminta kak Er untuk mencari kak Mentari dan membawanya pulang."


"Jadi kalian akan berpoligami?"


Yasmin tersenyum. "Aku sebenarnya ingin melepaskan kak Erdana namun kak Mentari nggak mau. Kak Erdana juga terikat janji pada almarhum kakekku untuk terus menjaga aku."


"Poligami itu sering menyakitkan, Yas. Kamu lihat sendiri kan? Mamaku memilih pergi karena nggak tahan dimadu. Apalagi cinta papaku bukan untuknya."


"Semoga kak Er bisa adil. Kita doakan saja agar kak Mentari menerima kak Er dulu."


Prayuda hanya bisa mengangkat bahunya. Ia tak mengerti dengan jalan pikiran Yasmin.


"Aku masuk dulu, ya kak?"


Prayuda mengangguk. Ia menatap Yasmin sampai gadis itu menghilang di pintu masuk. Hati Prayuda menjadi resah. Apakah Mentari juga siap dipoligami?


************


Pesta ulang tahun Baby As yang pertama dilaksanakan disebuah panti asuhan yang letaknya bersebelahan dengan sebuah masjid. Baby As terlihat gembira saat tokoh kartun kesukaannya yakni Micky dan Minnie dihadirkan di sana.


Ada senyum kebahagiaan di wajah Erdana karena ia bisa melihat anaknya menikmati ulang tahun yang pertama walaupun sebenarnya ada sedikit penyesalan di hati Erdana karena tak mengenal baby As semenjak ia lahir.


Yasmin dan Elmira meminta Erdana untuk Videocall dan melihat acara itu secara langsung.


"Kak, sampaikan salam ku untuk baby As dan kak Mentari ya? Hadiah untuk As nanti saja kalau kalian sudah pulang." ujar Yasmin saat Erdana kembali menghubunginya ketika mereka sudah tiba di rumah.


"As sedang tidur. Dia kecapean karena biasa tidur sore sampai 3 jam, tadi hanya sekitar setengah jam. Begitu sampai rumah, ia langsung tidur."


"Oh gitu ya?"


"Kamu ada di mana?" tanya Erdana mendengar ada suara bising di dekat Yasmin.

__ADS_1


"Lagi di depan gerbang kampus. Sedang menunggu taxi online."


"Mobilmu ke mana?"


"Bannya kempes. Tadi pagi buru-buru mau berangkat. Jadi deh aku tinggalin. Namun sudah telepon sopir ayah dan memintanya untuk memperbaikinya."


"Oh gitu. Hati-hati ya? ini kan sudah malam. Kalau sudah sampai rumah, jangan lupa kabari aku."


"Ok, kak. Bye...."


Erdana memasukan ponselnya ke dalam kantong celananya. Saat ia membalikan badannya, Mentari sudah berdiri di belakangnya.


"Yasmin?" tebak Mentari.


"Iya. Baby As masih tidur?"' Erdana mengalihkan pembicaraan. Ia tak mau membahas Yasmin karena Mentari terlihat masih kurang nyaman. Erdana tahu bukan karena Mentari cemburu pada Yasmin namun karena ia merasa tak enak dengan Yasmin.


"Iya. Sepertinya ia akan tidur sampai besok pagi. Lagi pula sekarang sudah jam setengah delapan. Mungkin sebentar ia akan bangun hanya untuk minta susu."


Erdana mendekat dan langsung melingkarkan satu tangannya di pinggang Mentari sementara tangannya yang lain membelai wajah Mentari. "Kau sudah minum obatmu? Aku lihat dari pagi kalau kau sangat sibuk."


"Sudah. Baru saja ku minum. Kamu ingin makan malam?"


"Aku masih kenyang. Tadi kan di panti asuhan, aku makannya lumayan banyak."


"Kalau begitu, aku mandi dulu ya?" pamit Mentari lalu melepaskan diri dari pelukan Erdana.


"Aku juga mau mandi. Tolong siapkan air untukku juga."


Wajah Mentari menjadi merah. Sudah sangat lama ia tak pernah mandi bersama Erdana.


"Kita mandi bersama?"' tanya Mentari agak ragu.


"Iya. Kenapa sih? Kayak nggak pernah saja kita mandi bersama." Erdana menjadi heran sekaligus gemas melihat Mentari yang nampak malu.


"Ok." Mentari menelan salivanya. "Aku mau menyiapkan airnya dulu."


**********


"Yasmin!" Panggil Prayuda setelah menurunkan kaca mobilnya.


"Hai kak!"


"Mau kemana?"


"Mau pulang. Sedang menunggu taxi online."


"Ayo masuk! Aku antar saja kamu pulang."


"Tapi kak, taxi nya sebentar lagi akan datang."


Prayuda turun dari mobil. Ia membukakan pintu mobilnya buat Yasmin. "Batalkan saja. Ini sudah malam dan sudah mulai gerimis."


Yasmin pun tak enak hati untuk menolaknya. Ia segera masuk lalu mengeluarkan ponselnya untuk membatalkan taxi online yang memang sudah agak lama namun belum muncul juga. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memandang mereka tak suka. Tangannya bahkan mengeras saat memegang setir mobilnya.


"Kamu ada kuliah sampai malam?" tanya Prayuda setelah menjalankan mobilnya.


"Nggak. Kuliahnya hanya sampai jam 4. Tapi aku kan sementara mengerjakan proposal ku. Kalau nanti dikerjakan di apartemen keburu ngantuk. Makanya dari tadi aku di perpustakaan."


"Wah, tahun ini mau selesai ya?"


"Mudah-mudahan bisa kak. Kakak ngapain di kampus?"


"Baru selesai rapat dengan dewan fakultas."


"Kakak jadi dosen?"


"Iya."

__ADS_1


"Wah, kakak memang hebat."


Tiba-tiba perut Yasmin berbunyi.


"Kamu lapar?" tanya Prayuda.


"Iya, kak. Aku hanya makan tadi jam 11 siang. Nanti sampai rumah aku akan pesan makanan online saja."


"Kelamaan." Prayuda langsung membelokan mobilnya di sebuah restoran kecil.


"Lho kak, ngapain ke sini?"


"Makan malam. Aku juga sudah sangat kelaparan."


Yasmin pun tak bisa menolaknya karena memang ia juga sudah lapar.


Saat mereka masuk dan mencari tempat duduk, Prayuda terkejut melihat Gisel ada di sana.


Yasmin yang juga mengenal dokter Gisel sebagai pacarnya Prayuda menjadi salah tingkah saat Gisel menatapnya juga dengan wajah tak suka. Di depan Gisel ada seorang pria yang usianya terlihat agak dewasa. Mungkin usianya sudah kepala empat.


"Ayo duduk di sana!" ajak Prayuda sambil menunjukan sebuah meja kosong yang agak di sudut.


"Kak, itu kan pacar kakak?" tanya Yasmin setelah selesai memesan makanan.


"Mantan pacar. Gisel sudah menikah sebulan yang lalu."


"Oh...gitu ya? Kok bisa putus? Hubungan kalian kan sudah lama. Maaf ya kak, aku kepo." Yasmin terkekeh.


"Nggak apa-apa. Gisel selalu merasa bahwa aku tak mencintainya. Aku akui, memang waktuku banyak untuk Mentari karena saat itu Mentari sakit. Kami jadi sering bertengkar dan puncaknya 6 bulan yang lalu kami berpisah."


"Oh gitu ya? Tapi kakak jangan sedih, ya? Harus move on. Suaminya nggak sebanding dengan kakak yang tampan dan masih muda."


Prayuda tertawa mendengar Yasmin berusaha menghiburnya. "Terima kasih, Yas. Kau membuatku tertawa setelah seharian ini agak bete dengan suasana rapat. Kamu tenang saja, aku sudah lama move on. Suami Gisel memang sudah tua. Gisel kan sekarang usianya sama kayak aku 29. Kalau suaminya usianya 42 tahun. Suaminya itu direktur salah satu maskapai penerbangan."


"Pantas saja sudah kelihatan tua. Kakak harus cari wanita yang lebih cantik dari kak Gisel. Dan tentu saja lebih muda. Pasti banyak yang antri. Ya kan, kak?"


Lagi-lagi Prayuda hanya tertawa. Ia tak mungkin menceritakan pada Yasmin kalau jauh di lubuk hatinya, masih ada nama Mentari di sana.


***********


Mentari menggulingkan tubuhnya dari atas tubuh Erdana. Mereka baru saja menikmati keintiman sebagai suami dan istri setelah acara mandi bersama yang agak lama karena suasana kamar mandi yang menjadi panas karena keduanya saling membasuh tubuh. Ternyata setelah masuk kamar, Erdana masih meminta satu kali lagi.


"Capek?" tanya Erdana sambil menghapus keringat di wajah Mentari.


"Iya. Sudah ya? Jangan minta lagi." Kata Mentari sedikit memohon membuat Erdana terkekeh. Ia yang tidur menyamping segera menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.


"Iya sayang. Aku tahu kamu capek." Erdana mencium pipi Mentari. "Sayang, semalam ayah menelepon. Menanyakan kenapa aku belum pulang. Lusa ada rapat penting di perusahaan. Aku harus pulang."


"Pulanglah!"


"Bagaimana dengan kamu dan As? Rasanya aku tak mau meninggalkan kalian."


Mentari tersenyum. Ia ikut tidur menyamping dan menatap Erdana. "Pulanglah! Minggu depan kami akan menyusul mu ke Jakarta."


"Benarkah?"


Mentari mengangguk. Erdana langsung memeluk dan menciumnya dengan luapan kegembiraan. "Kita akan bersama lagi. Aku, kamu dan baby As."


"Jangan lupakan Yasmin, Er."


"Ya. Dan Yasmin. Tugasku sekarang adalah menjelaskan pada orang tuaku dan orang tua Yasmin. Namun aku menunggumu dan As hadir dulu di Jakarta."


Mentari mengangguk. Ia memejamkan matanya dan pura-pura tidur. Sebenarnya ia tak mengantuk. Ia hanya tak ingin Er melihat kegelisahan di matanya. Mentari yakin bukanlah suatu hal yang mudah untuk menjelaskan pada pada orang tua mereka tentang menjalani poligami. Ia sendiri tak tahu apakah Erdana sanggup untuk menjalankannya.


*************


Bagaimana reaksi Wisnu, Naura, Gayatri dan Satria saat tahu situasi pernikahan anak-anak mereka?

__ADS_1


Dukung emak terus ya guys....


__ADS_2