CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Anniversary


__ADS_3

Betapa senangnya Naura saat Daffa mengatakan kalau abangnya datang bersama Yasmin. Ia yang sedang membuat kue langsung meninggalkan pekerjaannya dan menuju ke ruang tamu.


"Wah, senangnya hati ibu mendengar kedatangan kalian. Kita bisa makan malam bersama sambil merayakan 1 tahun pernikahan kalian."


Yasmin terkejut mendengarnya. Ia tak menyangka kalau pernikahannya dengan Erdana ternyata sudah satu tahun berjalan.


Erdana mencium tangan ibunya demikian juga Yasmin melakukan hal yang sama.


"Ayah ke mana, bu?" tanya Erdana.


"Ayah sedang ke kebun. Mungkin sedikit lagi akan tiba. Kalian istirahat saja jika capek." Ujar Naura.


"Biar kopernya bibi bawa ke kamar." kata Saima.


"Eh, jangan bi." Erdana menahan tangan Saima yang akan menyentuh kopernya. Wanita itu hampir seumuran dengan neneknya. Namun ia begitu setia bekerja dengan keluarga ini. Sayangnya bibi Aisya sudah meninggal hampir 3 tahun yang lalu.


"Abang ini. Bibi masih kuat kok"


Erdana melingkarkan tangannya di bahu Saima. "Bibi sudah melayani aku sejak kecil. Sekarang aku sudah dewasa jadi aku sudah mandiri."


"Kalau begitu bibi berhenti saja kerja di sini." Saima jadi cemberut membuat Erdana langsung mencium pipi wanita tua itu dengan gemas.


Semua pun langsung tertawa melihat interaksi Erdana dan Saima. Dalam hati Yasmin merasa kagum dengan kebaikan hati Erdana.


"Nyonya, kuenya sudah hampir matang." kata Wiwit. Salah satu pembantu yang usianya masih muda. Keponakan dari BI Aisyah.


Naura bergegas ke dapur. Erdana membawa koper mereka ke atas sedangkan Yasmin hanya berdiri saja di dekat tangga.


Ia memejamkan matanya sesaat. Mengingat kejadian setahun yang lalu di rumah ini. Ada sesuatu yang menusuk hatinya. Yasmin berusaha membuang perasaan itu. Ia memilih keluar dari rumah.


Erdana yang baru saja memasuki kamar pun merasakan hal yang sama. Ia mengingat kejadian setahun yang lalu yang membuatnya harus menikahi Yasmin.


Kamar ini memang sudah dirubah desainnya. Cat dindingnya bahkan sudah berganti warna. Ranjangnya juga sudah diganti. Mungkin ibunya yang melakukan ini untuk menghilangkan kenangan buruk yang pernah Yasmin alami di sini.


Erdana melangkah ke arah balkon. Ia sebenarnya rindu dengan kamar ini. Pandangannya langsung tertuju pada perkebunan teh yang ada di depannya. Para pekerja sudah pulang. Saat Erdana akan membalikan badannya, ia melihat Yasmin yang sedang menuruni tangga. Sepertinya ia menuju ke bawah. Yasmin berhenti di depan pagar. Erdana melihat bahunya terguncang. Apakah Yasmin menangis?


Bergegas Erdana turun ke bawa. Ia melewati Daffa yang akan menyapanya. Kemudian keluar dari rumah dan menuju ke danau.


"Yasmin.....!"


Yasmin buru-buru menghapus air matanya dan membalikan badannya. "Ada apa, kak?"


"Kau baik-baik saja?" tanya Erdana. Ia dapat melihat hidung Yasmin agak merah menandakan bahwa perempuan itu menangis.


"Iya, kak."


"Kalau tempat ini hanya mengingatkanmu tentang kenangan buruk yang pernah terjadi diantara kita, lebih baik kita kembali saja ke kota."


"Nggak, kak. Aku...."


"Aku yakin ibu dan ayah pasti akan mengerti."


"Nggak. Aku hanya mengingatnya sebentar. Itu wajar kan? Ini pertama kali kita datang ke sini sejak peristiwa itu."


"Bagaimana caranya agar kau bisa melupakan semua itu? Itu pasti sangat menyakitkan bagimu." Erdana sekali lagi menyesali semua yang sudah terjadi.


"Sudahlah, kak." Yasmin menepuk lengan Erdana.


Keduanya saling bertatapan. Melihat senyum Yasmin, Erdana merasa lega.


"Terima kasih karena tak lagi menyimpan dendam untukku." ujar Erdana dan ia langsung menarik tangan Yasmin dan memeluk gadis itu dengan erat.


Yasmin terkejut. Namun ia membalas pelukan Erdana dengan hati yang bergetar.


"Memaafkan itu akan membuat luka di hati kita menjadi lebih cepat sembuh, kak."

__ADS_1


Erdana melepaskan pelukannya. Ia mengusap kepala Yasmin dengan lembut. "Ayo ke atas. Udara mulai dingin dan kita nggak memakai mantel."


Yasmin mengangguk. Keduanya pun melangkah bersama. Saat melewati villa, mata Yasmin menatap tempat itu. "Ini juga bagian dari rumah kalian?"


"Iya. Ibu dan ayah kadang menghabiskan waktu mereka seharian di tempat ini."


"Kak, kalau aku tidur di sini, boleh nggak?"


Erdana menghentikan langkahnya dan menatap Yasmin. "Kamu serius ingin tidur di sini?"


"Kita pasti akan diminta untuk tidur di kamar yang sama. Dan itu pasti di kamar kakak. Rasanya aku belum siap masuk ke kamar itu lagi."


"Baiklah. Aku akan bilang sama bibi Saima untuk menyiapkan kamar di villa ini untukmu."


Yasmin tersenyum senang. Ia pun melangkah kembali dengan hati riang.


**********


Elmira dan Nick ternyata datang juga ke desa. Naura dan Wisnu pun nampak bahagia karena semua anak-anaknya berkumpul.


Mereka pun makan malam dengan gembira.


"Happy anniversary buat Erdana dan Yasmin. Semoga kalian terus bersama dan mau saling membuka hati satu dengan yang lain." ujar Elmira membuat wajah Yasmin sedikit tersipu. Sedangkan Erdana hanya tersenyum tipis.


Sesudah acara makan malam, Wisnu mengajak anaknya untuk berbicara di teras depan.


"Bagaimana hubungan abang dengan Yasmin?"


Erdana menarik napas panjang sebelum menjawabnya. "Kami sudah mulai berkomunikasi dengan baik, ayah."


"Abang, belajarlah untuk melupakan Mentari. Kalau memang Mentari sudah memutuskan untuk menjauh dari abang, maka abang pun harus bisa menata masa depan bersama Yasmin."


"Aku mencintai Mentari, ayah."


"Lalu jika masih mencintai, apakah selamanya hubungan abang dan Yasmin nggak akan mengalami kemajuan? Abang harus ada usaha untuk mendekati Yasmin."


"Jangan menengok ke belakang lagi, bang. Lihatlah ke depan. Abang harus bertanggungjawab atas hidup Yasmin karena abang yang sudah merusaknya. Ayah dan ibu juga dulu menikah tanpa cinta. Namun ayah terus berusaha untuk mendapatkan hati ibumu. Ayah juga berusaha menumbuhkan cinta di hati ayah untuk ibumu. Dan ternyata ayah berhasil."


"Kami 7 tahun bersama, yah. Rasanya nggak muda untuk melupakan Mentari begitu saja."


Wisnu menceritakan tentang kisah cintanya bersama Dina. "Ayah dulu juga merasa tak mungkin mencintai wanita lain selain istri pertama ayah itu. Namun semua harus datang dari keinginan diri sendiri. Lama-lama juga pasti berhasil."


Erdana hanya mengangguk. Perkataan ayahnya membuat dirinya berpikir untuk masa depan hubungannya dengan Yasmin. Walaupun bagi Erdana sangat sulit untuk melupakan Mentari yang sudah begitu lama mengisi hatinya.


Percakapan itu pun berakhir saat Naura meminta Erdana untuk membawa selimut ke villa.


"Apa yang kalian percakapan?" tanya Naura saat Erdana sudah pergi.


"Aku hanya menasehatinya untuk menjalani pernikahannya dengan Yasmin secara benar. Lagi pula Yasmin sudah banyak berubah."


Naura mengangguk. "Aku memang sangat menyayangi Mentari. Dia adalah anak dari mendiang Gading. Pikirku, jika Erdana dan Mentari menikah, maka kita akan ikut menjaga Mentari melalui Erdana. Namun jalan ceritanya sudah seperti ini. Mau bagaimana lagi? Mentari sama persis dengan Gading. Selalu mengalah untuk kebahagiaan orang lain."


Wisnu mengangguk setuju. "Iya. Dia selalu menjaga persahabatan diantara kami dengan terus bekerja pada perusahaan ku. Pada hal keluarga Jeslin membutuhkan dia di perusahaan mereka. Entah di mana gadis itu berada. Jeslin pun sepertinya menjauh dari kita."


Naura meletakan kepalanya di bahu suaminya sambil melingkarkan tangganya di pinggang Wisnu. "Aku juga kangen dengan Jeslin."


"Kita berdoa saja agar Mentari menemukan kebahagiaannya. Sekarang kita masuk, yuk! Sudah semakin dingin." ajak Wisnu.


Naura mengangguk. Keduanya pun saling menautkan jari mereka dan melangkah masuk ke dalam rumah. Nick, Elmira dan Daffa nampak sedang bermain kartu. Naura dan Wisnu pun ikut bergabung bersama mereka.


**********


Erdana mendorong pintu masuk villa secara perlahan. Di luar langit sudah sangat gelap. Sepertinya hujan akan turun. Udara bisa menjadi sangat dingin.


Yasmin sedang duduk sambil menonton TV di ruang tamu. Ia menoleh ke arah pintu dan tersenyum saat melihat Erdana yang masuk.

__ADS_1


"Aku pikir kamu sudah tidur." ujar Erdana.


Yasmin tersenyum. "Belum mengantuk, kak. Lagi pula ini baru jam 9 malam."


"Selimutnya aku taruh di kamar ya." ujar Erdana lalu segera menuju ke kamar untuk meletakan selimutnya di atas ranjang.


Erdana kembali ke luar dan ikut duduk di dekat Yasmin. Gadis itu sedang menonton drama Korea rupanya.


"Kenapa ya para gadis sekarang tergila-gila dengan drama Korea?" tanya Erdana memulai percakapan.


"Jangankan para gadis, emak-emak pun banyak yang suka dengan Drakor. Mungkin karena jalan ceritanya romantis dan cowok-cowoknya banyak yang ganteng." jawab Yasmin tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV.


"Kalau kamu sendiri, apa alasannya suka drama Korea?"


"Ya alasannya seperti itulah. Cowok Korea ganteng."


"Kan cowok Indonesia banyak yang ganteng. Sinetronnya juga banyak."


"Mungkin karena sinetron Indonesia kelewat panjang. Akhirnya jadi bosan. Drama Korea kadang hanya 20 episode namun sangat puas dengan jalan ceritanya." Ujar Yasmin sambil sesekali melirik ke arah Erdana.


Setelah itu, keduanya saling diam. Tenggelam dengan jalan ceritanya. Sampai di mana ada adegan pemeran pria dan wanita jatuh bersama di lantai dan akhirnya saling berciuman. Mengingatkan tentang kejadian di kamar hotel saat mereka berada di Lombok.


Wajah Yasmin menjadi panas. Sedangkan Erdana kelihatan salah tingkah.


Bunyi guntur tiba-tiba saja terdengar diikuti dengan aliran listrik yang padam.


"Ah......!" Yasmin berteriak kaget sambil mendekat ke arah Erdana dan langsung memeluk pria itu dengan erat.


"Tenang, hanya suara guntur. Hujan kayaknya sudah mulai turun." ujar Erdana sambil mengusap punggung Yasmin agar gadis itu menjadi tenang.


"Aku takut, kak. Aliran listriknya lama nggak baru menyala?" tanya Yasmin sambil terus menenggelamkan kepalanya di dada Erdana.


"Biasanya sih nggak lama. Kalau di rumah utama ada genset. Di sini kayaknya nggak ada." Erdana akan berdiri namun Yasmin semakin erat memeluknya.


"Jangan pergi, kak."


"Aku hanya mau mencari lilin."


"ikut...!" Yasmin ikut berdiri. Ia tetap memeluk pinggang Erdana dan mengikuti kemana pun Erdana berjalan. Akhirnya Erdana menemukan lilin dan korek api di laci pantry. Erdana meletakan lilin itu di tempat lilin yang memang ada di sana.


Setelah lilin menyala, Yasmin perlahan melepaskan tangganya yang memeluk pinggang Erdana.


"Lebih baik tidur saja. Jika hujan begini, aliran listriknya kadang nanti pagi baru jadi." ujar Erdana.


"Aku tidur sendiri?" tanya Yasmin. Membayangkan dirinya sendiri di villa ini dalam keadaan mati lampu membuat buku kuduknya berdiri.


"Kamu ingin aku temani? Tapi dikamar nggak ada sofa."


"Kita bisa berbagi tempat tidur. Nanti pakai guling untuk batasnya. Ayo....!" ajak Yasmin sambil menarik tangan Erdana menuju ke kamar.


Sampai di kamar, Erdana meletakan lilin itu di atas nakas. Ia kemudian menutup tirai jendela lalu naik ke atas tempat tidur lagi.


Yasmin yang sudah berbaring tiba-tiba berteriak dan memeluk Erdana lagi saat suara guntur semakin kuat terdengar diikuti dengan suara angin yang bertiup kencang.


"Yas, nggak boleh kayak gini. Aku masih lelaki normal." ujar Erdana saat tubuh Yasmin semakin menempel di dada Erdana.


Yasmin mendongak. Di bawah cahaya lilin tatapan mereka bertemu. Bibir Yasmin yang terbuka itu begitu menggoda Erdana.


"Aku ingin mencium mu." ujar Erdana dengan suara yang serak dan langsung menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang lembut namun penuh hasrat yang tak terbantahkan.


*************


Hallo semua....


Apakah Er dan Yas akan saling menyatu malam ini?

__ADS_1


Dukung emak terus ya...


Kalau banyak yang like dan komen, aku mungkin bisa double up he...he....


__ADS_2