
Elmira menendang botol minuman yang ada di hadapannya dengan kesal. Hatinya sakit karena Nick bagaikan tak mengenalnya.
Ia pun masuk ke dalam mobilnya.
"Mau kemana, nona?" tanya sang sopir.
"Ke apartemen, pak. Saya mau istirahat."
"Baik, nona."
Mobil pun berjalan meninggalkan kompleks kantor milik Jenika.
Sesampai di apartemen, Elmira langsung meminta para bodyguart untuk pulang karena ia tak akan keluar lagi. Rencananya Elmira akan mengurung diri di apartemennya.
Ia pun membuka pintu apartemennya. Dilepaskannya sepatunya dan diganti dengan sandal rumah.Ia kemudian menyalakan lampu.
"Ha.....!" teriak Elmira hampir saja jantungnya copot saat melihat Nick yang sudah duduk di sofa ruang tamunya.
"Maaf mengagetkan mu." ujar Nick sambil tersenyum ke arah Elmira.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Bagaimana kamu bisa masuk?"
"Password apartemen nya belum diganti."
Elmira mendekat. Menetap Nick dengan wajah marah. Tak lama kemudian ia mengambil bantal kursi yang ada dan melemparkannya ke arah Nick. Untung saja Nick dengan sigap menangkapnya.
"Kamu keterlaluan, Nick. Berbulan-bulan nggak ada kabar. Sekali bertemu kayak nggak saling kenal. Mau kamu apa?" Air mata Elmira jatuh tanpa bisa ditahannya. Ada rasa kesal, kangen, ingin dipeluk yang kesemuanya menjadi satu.
"Aku kan sudah bilang. Akan kembali saat aku merasa layak untuk mendampingi mu. Mudah-mudahan saja aku nggak kalah cepat dengan ustadz Ernest."
"Kamu terlambat, Nick. Aku sudah menerima lamaran nya."
Nick terkejut. "Kok nggak ada media yang memberitahukannya?"
"Apakah semua harus dibuka di depan wartawan? Nggak kan? Sekarang kamu pulang sana! Bulan depan aku akan menikah dengan ustadz Ernest." Ujar Elmira dengan linangan air matanya.
Wajah Nick terlihat kecewa. Ia menarik napas panjang. "Ya, sudah. Aku pergi. Semoga kau berbahagia." Nick melangkah.
"Nick....!" Elmira kembali mengambil bantal kursi dan melemparnya kepada Nick. Kali ini mengenai punggung Nick. "Apakah seperti itu perjuangan mu untuk mendapatkan cintaku?"
"Lalu aku harus bagaimana, El? Menculik kamu agar tak jadi menikah dengan ustadz Ernest? Beliau kan orang baik. Dia juga seorang pengusaha yang sukses. Kalian cocoklah."
"Ya sudah! Pergi sana! Jangan lagi menemui ku. Anggap saja kita nggak saling kenal."
"Ok." Nick melangkah. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti dan kembali menatap Elmira. Diambilnya sebuah kotak dari kantong celananya. "Sebenarnya aku ke sini ingin melamar kamu. Namun karena kamu sudah menerima lamaran ustadz Ernes, aku nggak mau lagi menyimpan Cincin ini. Kau jual saja dan uangnya kasih ke anak yatim. Harganya lumayan." lalu Nick melangkah lagi.
Mata Elmira terbelalak. Ia segera meraih cincin kotak cincin yang diletakan Nick di atas meja.
"Nick....!" panggil Elmira.
Nick yang sudah memegang gagang pintu kembali menoleh. Elmira kini berdiri di hadapannya sambil memegang cincin itu.
"Aku nggak menerima lamaran ustadz Ernest. Aku bohong tadi karena kesal kamu mengacuhkan ku. Aku menerima lamaran mu, Nick."
Nick tersenyum bahagia. "Aku juga tak bermaksud akan menyerah begitu saja. Kalau memang kamu sudah terlanjut menerima lamaran ustadz itu, maka rencananya besok aku akan menculik kamu dan membawamu ke luar negeri. Masa bodoh jika juragan Furkan akan mengejarku."
Elmira tertawa. Ia langsung memeluk Nick dengan perasaan bahagia. "Aku benci kamu, Nick."
"Dan aku mencintai kamu."
Elmira melepaskan pelukannya. "Pasangkan cincinnya."
"Tentu saja cantik." Nick memasangkan cincin itu di jari manis Elmira. "Terima kasih mau menungguku dan menerima lamaran ku."
"Jadi kapan kita akan menikah?"
"Besok."
__ADS_1
"Kok besok?"
"Karena malam ini, aku nggak akan pulang dari apartemen mu."
Elmira terbelalak.
***********
Perlahan Yasmin melangkah mundur dan meninggalkan ruangan praktek Prayuda. Ia langsung menemui petugas keamanan.
"Tolong berikan file ini ke dokter Prayuda. Beliau sedang ada tamu kayaknya. Kalau beliau tanya katakan ini dari rumah sakit." ujar Yasmin lalu segera pergi meninggalkan gedung itu.
Yasmin merasakan pikirannya menjadi kacau. Ternyata, bukan hanya dia sendiri yang merasakan ini. Prayuda juga menyimpan rasa untuknya.
"Ya Allah, aku harus bagaimana? Ini nggak boleh terjadi. Ini nggak mungkin terjadi! " Guman Yasmin sambil memegang stir mobilnya.
Yasmin mengarahkan mobilnya ke rumah orang tuanya. Ia tak ingin pulang ke apartemen karena sekarang hari Kamis. Waktunya Erdana ada bersama Mentari. Sebenarnya Yasmin ingin bersama Erdana. Ingin menikmati belaian suaminya itu karena hanya dengan cara itu ia bisa melupakan Prayuda. Namun ia tak mau menganggu Mentari. Bagaimana pun Mentari sedang hamil dan ia lebih membutuhkan perhatian Erdana dibandingkan dengan dirinya.
Gayatri tersenyum ketika melihat anaknya masuk dari pintu depan.
"Sayang? Tumben kau datang ke sini tanpa menelepon ibu dulu." Gayatri langsung memeluk anaknya dengan penuh kerinduan. Semenjak Yasmin melaksanakan koas, ia tak pernah lagi datang ke rumah ini. Sesekali, Gayatri bahkan harus ke rumah sakit untuk bertemu dengan anaknya itu.
"Mana ayah, Bu?"
"Biasalah. Di tempat praktek. Pulangnya nanti jam 10 malam."
"Kak Noah?"
"Pergi kencan dengan pacarnya. Katanya mau nonton film di bioskop. Ayo duduk! Kamu sudah makan malam?"
Yasmin mengikuti ibunya duduk di meja makan. Gayatri nampak bahagia mengatur makanan di atas meja.
"Kebetulan ibu juga baru mau makan malam."
"Ibu sendirian di rumah?"
"Para pelayan sedang minta ijin hari ini. Sopir kita si Ujang menikah. Ibu sih tadi siang sudah hadir di acara akadnya. Malam ini resepsinya." Gayatri mengambil tempat duduk di depan anaknya. "Kalau tahu kamu akan datang, ibu akan memasak makanan kesukaanmu."
"Makanlah, nak."
Yasmin mengangguk. Ia berusaha untuk menikmati makan malamnya walaupun ia sendiri tak merasa lapar.
"Kok sedikit makannya?" tanya Gayatri melihat Yasmin sudah menutup sendok dan garpu nya.
"Aku belum terlalu lapar, bu."
Gayatri menatap putrinya. "Kamu punya masalah? Kemana Erdana? Kenapa kalian tak datang bersama?"
"Ini hari Kamis, bu. Waktunya kak Erdana untuk bersama kak Mentari."
Gayatri menatap putrinya dengan wajah sedih. "Nak, apakah kamu punya masalah karena pernikahan poligami ini? Erdana mungkin nggak bisa adil karena ia sangat mencintai Mentari. Apalagi mereka sudah punya anak."
"Kak Erdana adil kok, bu. Kak Mentari juga madu yang sangat baik. Ia bahkan sering mengatur kencan untuk aku dan kak Erdana. Namun aku punya masalah yang lain, bu."
"Masalah apa lagi?"
Yasmin tertunduk. Rasanya sangat berat untuk bicara namun hanya kepada ibunya ia bisa mencurahkan isi hatinya.
"Ibu, ini tak pernah ku rencanakan dalam hidupku. Aku pikir kalau aku akan bahagia bersama kak Er dan kak Mentari. Aku sudah membulatkan hatiku untuk menerima pernikahan poligami ini dengan ikhlas. Namun ternyata, aku jatuh hati pada pria lain."
Gayatri terkejut. "Pria lain? Andre maksudmu?"
"Bukan, bu."
"Siapa?"
"Kak...., kak..., Kak Prayuda, bu."
__ADS_1
"Prayuda anaknya dokter Yuda?"
Yasmin mengangguk.
"Ya Allah, nak. Kenapa bisa seperti itu?"
"Aku juga nggak tahu, Bu. Kami mulai dekat saat dia jadi dosen pembimbingku. Lalu menjadi dokter pengawas ku saat koas. Seringnya kami menghabiskan waktu bersama membuat aku sangat nyaman dengannya. Dia mampu mengisi rasa sepi dalam hatiku saat kak Er ada di tempat kak Tari. Entahkah, bu. Aku bingung mengartikan perasaanku padanya. Yang pasti, saat ia dekat dengan perempuan lain, hatiku sakit, bu."
Gayatri menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia menatap putrinya sambil menggelengkan kepalanya. "Nak, memangnya kamu nggak mencintai suamimu?"
"Aku mencintai kak Er, bu. Sejak aku menyerahkan diriku padanya, di malam itu juga, aku membuka hatiku untuknya. Hatiku terbagi, bu. Dan aku tak tahu harus bagaimana."
Gayatri berdiri dari tempat duduknya dan berpindah tempat di samping putrinya. Ia meraih tangan Yasmin dan menggenggamnya erat.
"Anakku, apakah Prayuda tahu perasaan mu padanya?"
"Tidak. Namun kak Prayuda juga punya rasa untukku." Lalu Yasmin menceritakan apa yang baru saja didengarnya tadi di ruangan praktek Prayuda.
"Astaghfirullah. Ini nggak boleh terjadi, nak. Ingat janjimu pada kakek mu. Lagi pula Erdana kan selama ini bersikap adil padamu dan Mentari. Jangan sampai kau berzinah."
Tangis Yasmin pecah. "Tolong aku, bu. Tolong aku untuk bisa lepas dari semua ini."Yasmin memeluk ibunya. Gayatri pun ikut menangis bersama anaknya.
"Kau sudah melewati ujian hidup yang besar, nak. Diperkosa, hamil namun kemudian anakmu meninggal. Kau bahkan ikhlas berbagi suami dengan wanita lain. Ibu pikir kini kau bahagia dengan pilihan hidupmu. Ternyata kau harus menderita lagi dengan sebuah perasaan yang salah."
"Aku harus bagaimana, bu?"
"Lepaskan perasaanmu itu. Jangan sampai Prayuda tahu kalau kau juga menyukainya. Itu akan berbahaya. Kalian berdua bisa selingkuh. Keluarga kita sudah saling kenal semuanya. Keadaan ini bisa merusak hubungan kekeluargaan diantara kita."
Yasmin semakin erat memeluk ibunya. Ia merasa lega sudah terbuka pada ibunya.
***********
Satria keluar dari kamar mandi. Ia sudah menggunakan piyamanya dan siap untuk tidur.
"Sayang...., ada apa?" tanya Satria sambil naik ke atas ranjang. Di lihatnya Gayatri masih duduk di atas tempat tidur sambil menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
"Mas, apakah mas bisa mengatur agar Yasmin koas di rumah sakit lain?"
"Bisa. Itu masalah mudah. Tapi kenapa? Apakah Yasmin ada masalah di rumah sakit yang sekarang?"
Gayatri nampak gelisah. Ia bingung harus jujur atau tidak mengenai masalah Yasmin.
"Yasmin. Dia ada di kamarnya."
"Tumben anak itu datang ke sini. Bersama Erdana?"
"Nggak."
"Apakah mereka bertengkar? Ah, sudah kuduga. Erdana tak akan pernah adil. Dia pasti lebih condong ke Mentari yang sudah punya anak." Satria terlihat kesal.
"Masalahnya bukan tentang Erdana atau Mentari. Tapi tentang anak kita yang jatuh cinta pada pria lain."
"Apa? Siapa? Andre yang adalah mantan pacarnya?"
"Prayuda."
"Prayuda? Prayuda anaknya sahabatku Yuda?"
Gayatri mengangguk.
Satria menyandarkan punggung di kepala ranjang. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Dia ingat dulu bagaimana hatinya begitu kuat terikat pada Naura sementara Naura mulai jatuh cinta pada Wisnu. Ia juga ingat, bagaimana Yuda yang tetap mencintai Jeslin walaupun ia sudah memiliki dua istri dan Jeslin sudah menikah dengan Gading.
Haruskah juga anaknya ada Slam lingkaran kisah cinta segi tiga ini.
**********
Selamat sore. ...
__ADS_1
selamat menikmati waktu bersama keluarga.
Ada yang bisa menembak? Bagaimana tindakan ayah Satria untuk putri kesayangannya?