CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Tak ingin Berhenti Mencium


__ADS_3

Waktu terus berlalu, tak terasa sudah 3 bulan semenjak mereka merayakan anniversary di desa, hubungan Yasmin dan Erdana menjadi makin akrab. Yasmin bahkan sudah beberapa kali membuat sarapan untuk dia dan Erdana. Walaupun rasanya masih berantakan namun Erdana menghargainya dengan memakan masakan Yasmin.


Setiap dua minggu sekali, mereka juga berziarah ke makam anak mereka sekaligus juga makan kakek dan nenek Yasmin yang memang letaknya berdekatan.


Seperti juga hari minggu ini, Yasmin sengaja bangun jam setengah enam untuk membuat pancake dan omelette untuk sarapan mereka.


Selama satu minggu ini ia selalu belajar membuat pancake setiap kali pulang kuliah. Ia merasa kalau kali ini ia bisa membuat pancake untuk sarapan mereka.


Selama satu jam lebih Yasmin sudah berkutat di dapur. Akhirnya, sarapan buatannya selesai. Kopi untuk Erdana dan susu untuknya.


Setelah semua selesai ia atur di atas meja, Yasmin segera menaiki tangga menuju ke kamar Erdana.


"Kak.....!" panggil Yasmin sambil mengetuk pintu kamar.


Pintu kamar terbuka. Ternyata Erdana baru selesai mandi. Yasmin langsung merasakan pipinya menjadi merah saat melihat Erdana yang masih mengenakan handuk putih yang menutup tubuh bagian bawahnya.


"Sarapannya sudah siap."


Erdana tersenyum. "Terima kasih. Aku ganti baju dulu."


"Ok." Yasmin akan membalikan tubuhnya namun Erdana memanggilnya.


"Yas, boleh tolong aku?"


Yasmin berbalik lagi. "Ada apa, kak?"


"Bisa tolong gantikan seprei di ranjang ku?"


"Boleh." Yasmin langsung melangkah masuk. Ia tersenyum menatap foto Mentari dan Erdana masih tergantung rapi di dinding. Demikian juga dengan foto yang ada di atas nakas.


Erdana masuk ke dalam walk in closet dan mengeluarkan seprei berwarna coklat tua kepada Yasmin setelah itu ia kembali masuk ke dalam walk in closet untuk ganti pakaian.


Yasmin dengan cepat mengganti seprei di ranjang Erdana. Saat ia selesai, Erdana juga sudah selesai ganti pakaian.


"Terima kasih ya?" Ujar Erdana sambil tangannya menyeka keringat di dahi Yasmin.


"Sama-sama, kak." dengan sedikit tersipu. Pada hal Erdana sudah seringkali melakukan hal itu padanya. Kadang saat mereka sedang jalan bersama, Erdana akan menyingkirkan anak-anak rambut Yasmin yang jatuh di dahinya. Erdana juga sering menautkan jari mereka setiap kali jalan berdua.


Selesai sarapan, Yasmin mandi dan segera ganti baju karena Erdana sudah menunggunya di ruang tamu.


"Oh, ya aku mau bilang kalau sarapan pagi ini sangat enak. Aku suka." ujar Erdana saat keduanya sudah ada dalam mobil.


"Benarkah?" Yasmin jadi senang.


"Iya. Takaran kopinya juga sudah pas."


Yasmin jadi senyum-senyum sendiri. Erdana yang meliriknya pun jadi ikutan senang.


Mereka tiba di area pemakaman. Setelah membeli bunga, keduanya melangkah bersama menuju ke makam anak mereka. Setelah menabur bunga, mereka juga ikut membersihkan makam kakek dan nenek Yasmin.


"Hari ini kita jalan, yuk!" ajak Erdana.


"Kemana, kak?"


"Kita ke pantai saja. Namun yang ada di pinggiran kota. Malas ke Ancol. Aku dengar ada lokasi wisata lantai yang baru dibuka. Mungkin perjalanannya satu jam dari sini."

__ADS_1


"Ok."


Sepanjang perjalanan menuju ke pantai, Yasmin dan Erdana saling bertukar cerita. Erdana banyak bertanya tentang kuliah Yasmin. Kadang mereka berdua mendiskusikan beberapa obat yang sedang viral.


"Wah, tempatnya sangat indah." ujar Yasmin saat mereka sampai. Setelah turun dari mobil Erdana mengajak Yasmin ke arah pantai yang agak sepi. Keduanya melangkah sambil bergandengan tangan. Yasmin beberapa kali meminta Erdana untuk mengambil gambarnya saat ia merasakan kalau lokasinya bagus.


"Kak, foto bareng yuk!" ajak Yasmin. Erdana mengangguk. Keduanya mengambil foto bersama dengan menggunakan kamera muka dari ponsel Yasmin.


Angin yang bertiup sepoi-sepoi, membuat rambut Yasmin sedikit berantakan. Erdana membuka jepit rambut yang Yasmin pakai.


"Kenapa kak?"


"Rambutmu jadi berantakan. Biar aku rapikan lagi." Erdana menyisir rambut Yasmin dengan jari-jarinya lalu menggulung kembali rambut Yasmin dan menahannya dengan jepit rambut itu.


"Sudah." ujar Erdana.


Yasmin memegang rambutnya. Ia jadi tersenyum. "Kakak bisa juga menata rambut."


"Aku dulu waktu kuliah di Amerika pernah gondrong rambutnya."


"Oh ya?"


Erdana mengeluarkan ponselnya dan menunjukan foto dirinya yang pernah gondrong. Yasmin jadi tertawa. "Ih, kak, nggak ganteng. Kayak mafia jadinya."


"Benarkah? Kalau Mentari justru suka kalau rambutku gondrong."


"Aku lebih suka cowok kalem dan rambutnya tertata."


Erdana menatap Erdana tepat di saat itu Yasmin juga sedang menatapnya. Erdana merasa gemas melihat wajah Yasmin yang nampak memerah karena terpapar udara pantai yang panas. Entah dorongan dari mana sampai Erdana akhirnya menarik tengkuk Yasmin dan mencium bibir gadis itu dengan sangat lembut.


"Manis." bisik Erdana saat ia melepaskan pertautan bibir mereka.


"Apanya yang manis?" tanya Yasmin sambil mengatur deru napasnya yang agak tak beraturan karena hampir saja kehabisan pasokan oksigen akibat ciuman mereka sayang sangat panjang itu.


"Bibirmu." ujar Erdana sambil mengusap bibir bawa Yasmin dengan ibu jarinya.


"Ih, kakak....!" Yasmin mencubit perut Erdana ia langsung membuang muka karena wajahnya terasa panas.


"Malu? Memangnya baru kali ini kita berciuman?" tanya Erdana. Dia ingin menggoda Yasmin.


"Kakak....!" Yasmin menjadi semakin merah. Ia tak berani memandang Erdana yang duduk di sampingnya.


Erdana menjadi semakin gemas. Tangannya langsung melingkar di pinggang Yasmin dan menarik gadis itu agar mendekat ke arahnya.


"Kak...!" Yasmin menjadi sedikit jengah dengan posisi mereka.


Erdana menunduk lalu mencium bahu Yasmin yang sedikit terbuka. Yasmin merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia menoleh ke arah Erdana dan bermaksud ingin mendorong kepala cowok itu, namun yang terjadi, Erdana justru menautkan kembali bibir mereka.


Ciuman itu berhenti karena perut Yasmin berbunyi. Keduanya tertawa bersama.


"Kamu lapar?" tanya Erdana.


Yasmin mengangguk.


Erdana mencubit hidung mancung Yasmin. "Ayo kita cari makan!"'

__ADS_1


Sambil bergandengan tangan keduanya mencari tempat makan yang ada di sekitar pantai itu.


Mereka pun menikmati makan siang yang romantis di tepi pantai.


"Pulang? Sudah mulai gerimis." ujar Erdana saat melihat langit yang gelap.


"Iya." Yasmin mengangguk setuju. Sedikit berlari keduanya menuju ke tempat parkiran mobil.


Saat keduanya sudah ada di dalam mobil, hujan pun turun dengan deras.


"Untung sudah di dalam mobil baru hujannya turun dengan deras. Tapi agak basah juha" ujar Yasmin sambil mengambil tissue dan membersihkan air hujan yang ada di wajahnya.


Setelah ia memberitahukan wajahnya dengan tissue, ia juga mengambil tissue yang lain dan membersihkan wajah Erdana. Jarak mereka yang dekat seperti itu membuat Erdana tak tahan untuk tak mencium bibir manis Yasmin yang selalu menggodanya itu.


Hujan yang turun deras di luar mobil seolah menjadi musik manis bagi keduanya yang sedang asyik berciuman di dalam mobil.


Saat ciuman itu terlepas, Erdana segera memakai sabuk pengamannya begitu juga dengan Yasmin. Keduanya nampak salah tingkah karena begitu panasnya ciuman itu.


Mobil pun melangkah meninggalkan are pantai. Keduanya masih diam. Masing-masing larut dengan pikiran mereka.


Namun, saat mobil harus berhenti karena lampu merah, Erdana kembali menarik tengkuk Yasmin dan keduanya kembali saling berciuman.


Akhirnya saat tiba di apartemen, ketika Erdana baru saja menutup pintu ketika keduanya masuk, Erdana kembali menarik tubuh Yasmin dan mencium gadis itu semakin panas. Ada gairah dalam tubuh Erdana yang rasanya tak sanggup ia tahan.


Yasmin pun demikian. Ia kini melingkarkan tangannya di leher Erdana. Keduanya saling membalas ciuman dengan hasrat yang harus segera dituntaskan.


"Yas, aku boleh meminta hak ku sebagai suami?" tanya Erdana sambil menatap Yasmin dengan mata yang telah dipenuhi kabut gairah.


"Kak, aku mau ta...pi, apakah sakit seperti waktu itu? A...ku takut akan pingsan lagi."


Erdana tersenyum. Ia mengerti dengan trauma yang pernah Yasmin rasakan. "Aku janji akan membuatmu sangat siap sebelum memasuki mu."


Yasmin mengangguk walaupun sebenarnya ia masih ragu. Erdana kembali mencium Yasmin sambil tangannya menarik resleting dress yang dipakai oleh Yasmin.


*********


Mentari mencium anaknya. Lalu ia memberikannya pada bundanya Jeslin.


"Jaga anakku dengan baik ya, bun. Aku akan menjalani operasi lagi besok. Doakan agar ini akan menjadi yang terakhir."


Jeslin memeluk cucunya dengan hati yang hancur. "Bunda akan menjaganya dengan baik


Asalkan kau berjanji kalau kau akan kuat dan kembali sehat."


Mentari mengangguk. "Baby As adalah kekuatan aku, bun. Aku ingin membesarkannya dengan tanganku sendiri."


Jeslin mengangguk. Ia kemudian menatap anaknya yang menarik kopernya untuk menuju ke rumah sakit. Jeslin mendekap baby As dengan linangan air matanya. Ya Allah, semoga ini menjadi operasi terakhir untuk anakku.


*********


teman-teman, ini sekedar dibagikan kutipan tentang nikah siri yang sempat kubaca. Kalau memang aku salah, mohon di maafkan ya...



Dukung emak terus ya guys

__ADS_1


__ADS_2