CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Menyimpan Perasaan


__ADS_3

POV Mentari


Perlahan aku membuka mataku saat kudengar pintu kamar dibuka dan ditutup kembali. Mas Er pasti sedang keluar untuk membuat kopi. Aku sudah tahu kebiasaan Mas Er kalau lagi galau.


Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Mas Er terlihat sangat marah dan terluka. Namun apa yang membuatnya terluka? Aku nggak mungkin memaksa mas Er untuk bicara kalau dia sendiri memilih untuk menyimpan pertengkaran mereka.


Ah....., aku sungguh penasaran. Aku nggak mau hubungan Mas dengan Yasmin menjadi renggang. Bagaimana Yasmin bisa hamil? Apa yang harus aku lakukan ya? Apakah perlu bertanya langsung pada Yasmin? Nanti Yasmin tersinggung.


Aku turun dari tempat tidur dan memilih keluar ke balkon.


Seumur hidupku, aku hanya mengenal 3 lelaki. Ayah Gading, Mas Erdana dan Prayuda. Ayahku adalah cinta pertama dalam hidupku sampai aku jatuh cinta pada Erdana saat usiaku masih 10 tahun. Cinta di masa kecil yang ternyata terwujud indah saat menjelang kami lulus SMA, Er menyatakan cinta padaku. Bahagia? Tentu saja. Aku memang selama ini menutup mata pada semua pria yang mendekatiku, bahkan terhadap Prayuda yang selama ini baik padaku. Bagiku hanya ada Erdana, satu untuk selamanya.


Namun kini, aku harus berbagi suami dengan Yasmin. Awalnya hatiku selalu sakit walaupun aku berusaha tersenyum. Membayangkan pria yang kita cintai ada di pelukan wanita lain, rasanya boolshit kalau dikatakan kita tak cemburu.


Tapi, akhirnya, aku bisa ikhlas. Setiap kali aku sholat, aku semakin belajar menerima kenyataan hidup ini. Erdana adalah pria satu-satunya dalam hidupku dan aku bukan lagi wanita satu-satunya dalam hidupnya. Yasmin adalah perempuan yang baik. Aku percaya, bahwa dia tak akan bermain curang di belakangku. Kami bertiga bahkan bisa tertawa bersama. Aku ingin Yasmin juga hamil. Agar bisa memberikan keturunan buat Er. Tapi lagi-lagi, aku harus dikalahkan oleh suratan takdir. Kini, aku lagi yang hamil. Aku tak tahu bagaimana kelanjutan kehamilanku ini. Aku hanya berharap agar aku dapat melahirkan dengan selamat.


Pintu kamar terbuka. Erdana masuk dan langsung bisa melihatku yang ada di balkon. Ia langsung mendekat, memeluk ku dari belakang dan mencium bahuku dengan sangat lembut.


"Mengapa bangun?" tanya Erdana.


"Karena memang aku belum tidur."


Erdana membalikan tubuhku. Tatapan matanya langsung menusuk ke mataku. "Kenapa?"


"Kau bersusah hati, mas. Pasti masalahmu dengan Yasmin belum selesaikan?"


"Jangan berpikiran negatif. Aku hanya ingin minum kopi saja tadi." Ia membelai pipiku dengan punggung tangannya. Lalu ia tersenyum. Menatapku dengan sedikit kabut gairah yang ada. "Aku sudah dua malam di sini dan kau sama sekali belum memberikan jatah untukku."


Aku tersenyum. Aku tahu ini bentuk pengalihan Er agar aku tak bertanya lagi. Segera ku lingkarkan tanganku di lehernya, sedikit berjinjit ku cium bibirnya. Aku akan melayani suamiku malam ini. Walaupun aku tahu, separuh hatinya tak ada bersama ku malam ini.


**********


Mentari bernapas lega melihat Yasmin yang datang menggunakan kebaya berwarna gold, sama dengan yang digunakannya.


"Maaf kak, sedikit terlambat. Aku bangun kesiangan." ujar Yasmin.


"Nggak masalah. Ijab Kabul nya juga belum di mulai. Masih menunggu penghulunya."


"As mana?"


"Biasalah, langsung di ambil oleh aunty El. Tuh, sedang bersama Mas Er juga." Mentari menunjukan di mana anaknya berada. Pada saat yang sama Erdana melihat ke arah mereka. Pria itu tertegun melihat penampilan Yasmin yang tampak dewasa dengan kebaya nya. Erdana merasakan dadanya sesak melihat dua wanita cantik itu yang terlihat saling tersenyum namun sungguh membuat Erdana sering tak tenang jika harus bersama yang satu dan meninggalkan yang lain.


"Eh, itu Prayuda juga baru sampai. Pra...!" Panggil Mentari.


Prayuda menoleh. Sesaat ia dan Yasmin saling berpandangan. Yasmin mengagumi Prayuda yang datang dengan setelan jas berwarna hitam. Dan Prayuda juga mengangumi dandanan Yasmin yang membuat aura kecantikannya semakin menonjol. Tapi, bukankah seseorang yang kita cintai selalu terlihat tampan dan cantik?


Prayuda melangkah mendekati dua wanita cantik itu. Ia berusaha bersikap biasa saja. Yasmin kan tak tahu dengan apa yang dirasakannya.


"Duh, cantiknya dua wanita ini. Kebaya nya juga couple." puji Prayuda.


"Kamu juga sangat tampan. Sayangnya jomblo. Apakah Gisel telah membuatmu patah hati sampai tak mau melihat gadis lain?" tanya Mentari sambil tersenyum sedikit mengejek.


"Bukan begitu, Ri. Kamu kan tahu aku sibuk kerja."

__ADS_1


"Begitu sibuknya sampai lupa mencari teman hidup. Tuh kan dasinya saja masih nggak rapih." Mentari ingin merapihkan dasi Prayuda namun adiknya memanggil dia dan memintanya untuk melihat kebaya ibunya.


"Yas, tolong bantu Prayuda membereskan dasinya. Supaya ada gadis yang mau meliriknya." ujar Mentari laku segera melangkah menuju ke kamar ibunya.


Yasmin menelan salivanya. Ia merasakan jantungnya berdetak cepat. Apalagi aroma vanila yang kini tercium di hadapannya. Tenang Yas, Prayuda kan tak tahu kalau kamu menyukainya juga.


"Sini, kak. Aku rapikan dasinya."


Prayuda merasakan detak jantungnya menjadi dua kali lebih cepat. Mereka berdiri begitu dekat dan harum tubuh Yasmin sungguh memabukkan baginya.


Istighfar, Pra. Istighfar.....


Prayuda melafalkan kata itu dalam hatinya karena hatinya mendesak otaknya untuk segera menarik Yasmin pergi dari tempat itu dan mengatakan juga bahwa ia mencintai Yasmin. Seperti juga yang ia dengar dari percakapan Yasmin dan ibunya.


Satria dan Gayatri yang baru masuk langsung terpana melihat Yasmin yang merapikan dasi Prayuda.


"Mas...!" Gayatri mengeratkan pegangannya di lengan suaminya. Ia dapat melihat bagaimana putrinya yang sumringah saat berdekatan dengan Prayuda.


"Sudah rapi, kak." Kata Yasmin sambil mundur beberapa langkah.


"Terima kasih." kata Prayuda lalu menyentuh dasinya.


"Yasmin....!" panggil Gayatri. Ia ingin mengajak putrinya itu menjauh dari Prayuda.


"Ayah, ibu..." Sambut Yasmin dengan sedikit salah tingkah. Ia mengerti arti tatapan mata ayah dan ibunya.


"Selamat pagi tante, om...." sapa Prayuda penuh hormat.


"Selamat pagi, nak." Ujar Gayatri dan Satria secara bersamaan.


Sedangkan Satria dan Prayuda segera menuju ke ruangan tempat pelaksanaan akad, di mana Yuda sudah menunggu di sana dengan senyum kebahagiaan di wajahnya. Satria akan menjadi saksi pernikahan dari pihak mempelai laki-laki.


"Ibu, pelan-pelan dong. Aku pakai sepatu hak tinggi." Yasmin mengeluh.


"Yas, ibu kan sudah bilang padamu agar jangan dekat dengan Prayuda."


"Ibu, memangnya aku harus menghindar dengan cara apa? Kak Tari yang meminta aku memperbaiki dasinya kak Pra karena dia keburu dipanggil ke kamar ibunya. Masa aku langsung pergi begitu saja. Kak Pra akan curiga, bu."


Gayatri dan Yasmin berhenti di lorong menuju ke toilet.


"Ibu melihat tadi bagaimana wajahmu sumringah saat berdekatan dengannya. Ibu takut dengan perasaanmu itu, nak. Erdana bisa curiga."


Mentari yang sebenarnya baru saja muntah di toilet, sedang berjalan menuju ke luar. Langkahnya terhenti mendengar percakapan itu.


"Ibu, jangan terlalu kuat bicaranya nanti ada yang dengar."


Gayatri melihat sekelilingnya. Setelah merasa aman, ia bicara lagi. "Nak, perasaanmu sekarang sedang terguncang. Ibu nggak mau sampai kamu jatuh cinta beneran sama dia. Ingat, kamu itu wanita yang sudah menikah."


"Ibu, sudahlah. Dia juga kan tak tahu tentang perasaanku ini. Sikap ibu justru akan membuat dia curiga. Ingat, bu. Hanya aku sendiri yang tahu perasaan ini. Bahkan pada kak Erdana aku tak bilang siapa lelaki itu. Aku akan menghindar, bu. Aku juga tahu menjaga kehormatan suamiku." Kata Yasmin lalu segera pergi meninggalkan Gayatri sendiri.


Mentari terpana. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ya Allah, apakah Yasmin jatuh cinta pada orang lain? Apakah dia berselingkuh dari Erdana? Tapi siapa laki-laki itu?


***********

__ADS_1


Yuda dengan lantang mengucapkan ijab Kabul dalam satu tarikan napas. Ia memberikan seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan emas seberat 100 gram sebagai mahar pernikahannya.


Jeslin tak bisa menahan air matanya saat para saksi menyebutkan kata sah. Begitu juga dengan Yuda. Rona kebahagiaan terpancar di wajah pasangan pengantin itu. Mereka justru terlihat sangat muda walaupun usia sudah berkepala lima.


"Duh....cinta lama yang bersemi kembali. Namanya juga jodoh, ya? Tetap akan ketemu." Ujar Satria menggoda Yuda dan Jeslin. Mereka berdiri bersama. Yuda, Jeslin, Naura dan Satria.


"Jadi ingat masa-masa kuliah dulu. Yang sama sekali nggak berjodoh ya, Satria sama Naura." ujar Jeslin.


Satria menatap Naura. Perempuan itu pernah punya tempat khusus di hatinya. Walaupun tempat itu kini sudah diisi oleh Gayatri namun pesona Naura tetap saja selalu membuat Satria tersenyum.


"Jangan keras-keras, nanti juragan mendengar." kata Yuda. Mereka tahu kalau Wisnu orangnya sangat cemburuan kalau mengenai Naura. Siapapun pria yang melihat Naura, pasti akan dianggap sebagai musuhnya.


Dari jauh, Wisnu yang sedang mengambil makanan melihat keempat sahabat itu. Apakah dia masih cemburu pada Satria? Rasanya agak memalukan kalau itu terjadi. Bukankah Satria begitu bahagia bersama Gayatri? Anak mereka saja kini sudah menjadi menantu keluarga Furkan. Wisnu percaya kalau Naura hanya mencintainya.


Sedangkan Gayatri dengan sengaja membiarkan keempat sahabat itu bernostalgia. Ia juga percaya pada Satria. Walaupun Naura dulu pernah menjadi wanita yang membuat Satria patah hati dan enggan mencari wanita lain, nyatanya Satria bisa mencintainya. Dan selama pernikahan mereka, Satria tak pernah menduakannya.


Di sisi lain, ada Mentari, Yasmin dan Elmira yang duduk sambil menikmati makanan penutup.


"As mana?" tanya Yasmin.


"Dengan papanya. As mengantuk jadi Erdana membawanya ke kamar Mentari." ujar Elmira.


"Nick kemana?"'tanya Mentari. Seingatnya tadi Nick ada.


"Nick sudah pulang tadi selesai ijab Kabul. Ada pekerjaan. Mungkin juga ia merasa tak tenang karena ayah selalu menatapnya dengan sinis." Elmira nampak kesal.


"Sabar, ya. Aku yakin ada sesuatu dibalik sikap ayah Wisnu yang kayak gitu." kata Yasmin sambil menepuk bahu Elmira.


"Eh.... Pra...., ke sini dong! Dari tadi diam saja di sana." Mentari memanggil Prayuda yang sedang duduk menyendiri.


"Duh, aku kok kebelet mau pipis ya? Aku ke toilet dulu ya?" pamit Yasmin. Ia tersenyum ke arah Prayuda yang sedang melangkah mendekati meja mereka lalu segera menghilang dari sana sebelum mendapatkan tatapan tajam dari ibunya.


Prayuda duduk di samping Mentari. Sedangkan Elmira harus menerima telepon jadi dia menjauh dari meja.


"Pra, aku boleh tanya sesuatu nggak?"'tanya Mentari.


"Apa?"


"Di rumah sakit, apakah ada lelaki yang mendekati Yasmin atau terlihat dekat dengan Yasmin?"


Prayuda menatap Mentari dengan dahi berkerut.


"Maksudnya?"


"Aku percaya kalau kamu bisa menyimpan rahasia. Yasmin sepertinya menyukai orang lain. Dan Yasmin sudah berterus terang pada mas Er mengenai perasaannya itu. Kemarin mereka bertengkar. Tangan mas Er sampai luka karena menonjok pintu mobil. Kamu pasti tahu kan siapa lelaki yang dekat dengan Yas di rumah sakit?" tanya Mentari.


Prayuda langsung menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ya Allah, tolong kuatkan aku agar bisa menjawab pertanyaan ini dengan baik.


***********


Hallo good morning


bagaimana kabarnya?

__ADS_1


jangan lupa dukung emak ya


__ADS_2